Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Gudang Harta Darah dan Peta Kulit Manusia
Istana Colosseum, Ruang Harta Rahasia.
Pintu besi hitam setebal satu meter itu meleleh perlahan di bawah sentuhan tangan Ye Chen yang dilapisi Api Inti Bumi Ungu. Dengan Inti Emas-nya yang telah pulih (meski baru Tingkat 1), Ye Chen kini bisa mengakses kembali teknik-teknik elemennya, meskipun skalanya belum sedahsyat saat dia berada di puncak.
CLANG!
Sisa pintu besi jatuh ke lantai. Ye Chen melangkah masuk, diikuti oleh Lilith yang memegang lentera dari tengkorak bercahaya.
"Zagan adalah pengumpul sampah yang rajin," komentar Ye Chen saat melihat isi gudang itu.
Ruangan itu penuh sesak dengan tumpukan senjata berkarat, zirah pecah, dan tulang belulang makhluk langka. Namun, di antara sampah itu, ada gunungan Batu Roh Iblis (Demon Spirit Stones) yang memancarkan aura merah pekat.
"Sepuluh juta batu," taksir Ye Chen. "Cukup untuk membiayai perjalananku ke Utara."
Ye Chen mengibaskan tangannya. Cincin Awan Putih-nya menyedot semua batu roh itu dalam sekejap.
"Kau rakus sekali," Lilith terkekeh, bersandar di dinding. "Kau tidak menyisakan sedikit pun untuk 'sekutu' barumu?"
"Kau mendapatkan kota ini dan pasukan gladiatornya," balas Ye Chen tanpa menoleh. "Itu lebih berharga daripada batu."
Ye Chen berjalan ke bagian belakang gudang. Di sana, di atas sebuah pedestal batu obsidian, terdapat sebuah kotak kayu tua yang disegel dengan mantra darah.
Ye Chen merasakan resonansi samar dari kotak itu. Bukan resonansi Kunci, tapi resonansi... Peta.
"Buka," perintah Ye Chen.
Lilith maju. Dia mengiris ujung jarinya, meneteskan darah bangsawan Succubus-nya ke atas segel itu.
ZING!
Segel terbuka.
Di dalam kotak, terdapat gulungan yang terbuat dari kulit manusia yang disamak halus.
Ye Chen membuka gulungan itu. Itu adalah Peta Wilayah Utara Alam Iblis.
Tapi peta ini bergerak. Tinta darah di atasnya mengalir seperti sungai, menunjukkan pergerakan pasukan dan benteng secara real-time (nyata). Ini adalah artefak navigasi tingkat tinggi: Peta Darah Hidup.
"Lihat ini," Ye Chen menunjuk ke sebuah gunung berbentuk tengkorak di bagian utara peta.
Gunung Tengkorak (Skull Mountain).
Di sekitar gunung itu, tinta darah berkumpul sangat padat, membentuk simbol Mata Tiga.
"Mo Luo sedang mengumpulkan pasukan," kata Ye Chen serius. "Dan lihat di sini... di lembah di bawah gunung itu."
Ada simbol lain yang berkedip lemah di peta. Simbol Jangkar Emas yang patah.
Itu adalah sisa energi dari Kunci Laut/Jangkar yang hancur saat ledakan dimensi dulu. Ternyata pecahannya jatuh di sana.
"Pecahan Kunci Laut ada di tangan Mo Luo," simpul Ye Chen. "Dia pasti mencoba memperbaikinya atau menggunakannya untuk membuka gerbang lain."
"Mo Luo sedang membangun Altar Pemanggil," kata Lilith, wajah cantiknya berubah serius. "Mata-mataku bilang dia ingin memanggil Induk Iblis (Demon Mother) dari kedalaman Abyss. Jika dia berhasil, seluruh Alam Roh Sejati akan dimakan."
Ye Chen menggulung peta itu dan menyimpannya.
"Kalau begitu, kita harus merusak pestanya."
Ye Chen berbalik dan berjalan keluar gudang.
"Lilith, siapkan kendaraan tercepatmu. Kita berangkat sekarang."
"Kita?" Lilith mengangkat alis. "Aku ikut?"
"Kau pemandu jalanku. Dan darahmu berguna untuk membuka segel-segel iblis di jalan," kata Ye Chen datar. "Selain itu... jika kau tetap di sini sendirian, bawahan Zagan yang setia akan membunuhmu saat tidur."
Lilith tersenyum miring. "Kau benar-benar tahu cara merayu wanita."
Satu Jam Kemudian. Gerbang Utara Kota.
Sebuah kereta perang yang ditarik oleh empat ekor Kuda Mimpi Buruk (Nightmare Horses)—kuda hitam dengan surai api biru—telah siap.
Ye Chen duduk di depan sebagai kusir, sementara Lilith duduk di dalam kereta yang tertutup tirai sutra.
Ribuan gladiator dan budak yang telah dibebaskan (atau lebih tepatnya, berganti majikan ke Lilith) berkumpul untuk melepas kepergian mereka.
Bulla si Minotaur maju ke depan kereta. Dia membawa kapak besar baru.
"Tuan Ye," kata Bulla dengan suara berat. "Izinkan saya ikut. Saya berhutang nyawa. Saya bisa menjadi perisai Anda."
Ye Chen menatap Bulla. Minotaur ini setia dan kuat (Nascent Soul Tingkat 9).
"Tidak," tolak Ye Chen. "Kau punya tugas lain. Jaga kota ini untuk Lilith. Latih para budak menjadi tentara. Saat aku kembali nanti, aku butuh pasukan, bukan sekadar gladiator."
Bulla terdiam, lalu memukul dadanya hormat. "Siap, Jenderal!"
Ye Chen memacu kuda-kuda itu.
"Hyaa!"
Kereta perang melesat meninggalkan kota, menuju padang tandus yang membentang ke Utara.
Tiga Hari Perjalanan.
Mereka melewati gurun tulang, hutan jamur beracun, dan sungai darah. Sepanjang perjalanan, Ye Chen tidak berhenti berkultivasi. Dia duduk di atas atap kereta sambil menyerap Qi Iblis di udara, memurnikannya dengan Mutiara, dan memperkuat Pondasi Iblis Asura-nya.
Inti Emas Tingkat 1... Puncak.
Inti Emas Tingkat 2... Awal.
Kecepatannya lambat dibandingkan saat dia menyedot Raja Iblis, tapi fondasinya semakin kokoh.
"Berhenti."
Suara Ye Chen tiba-tiba memecah keheningan malam di hari ketiga.
Dia menarik tali kekang. Kuda-kuda api itu berhenti mendadak, meringkik gelisah.
"Ada apa?" Lilith menyembulkan kepalanya keluar dari tirai.
"Ada yang menghalangi jalan," kata Ye Chen, matanya menatap kegelapan di depan.
Jalan setapak di depan mereka terputus oleh sebuah jurang yang tidak ada di peta. Dan di seberang jurang, berdiri sebuah gerbang torii (gapura) yang terbuat dari tulang rusuk raksasa.
Di atas gerbang itu, duduk sesosok makhluk kecil.
Seorang Imp (Iblis Kecil) dengan kulit hijau dan sayap capung. Dia memegang seruling tulang.
"Kikiki... Tamu agung," Imp itu terkikik. "Jenderal Mo Luo sudah menunggu kedatanganmu, Asura."
"Dia tahu aku datang?" Ye Chen tidak terkejut.
"Tentu saja. Mata Tiga melihat segalanya," Imp itu meniup serulingnya.
Tuiiittt...
Suara seruling itu melengking tajam.
Tiba-tiba, tanah di sekitar kereta Ye Chen meledak.
BOOM! BOOM!
Bukan bom. Tapi monster yang keluar dari tanah.
Empat ekor Cacing Pasir Kematian (Death Sand Worms) raksasa muncul. Mulut mereka bundar penuh gigi berputar, ukurannya sebesar rumah.
Tingkat Kekuatan: Setengah Langkah Spirit Severing (Half-Step Spirit Severing).
"Jebakan," desis Lilith, mengeluarkan cambuknya. "Cacing ini kulitnya kebal sihir!"
"Kebal sihir?" Ye Chen berdiri di atas kereta. Dia mencabut Pedang Naga Langit dari punggungnya.
"Tapi tidak kebal pedang."
Cacing pertama menerjang dari kiri, mulutnya menganga siap menelan kereta beserta kudanya.
Ye Chen melompat.
Langkah Kilat Hantu.
Dia muncul di udara, tepat di samping kepala cacing itu.
Pedangnya menyala dengan Api Ungu.
"Tebasan Pembuka Jalan!"
CRASS!
Ye Chen membelah kepala cacing itu horizontal. Darah hijau membanjiri pasir.
Cacing kedua dan ketiga menyerang dari bawah tanah, mencoba menggigit kuda-kuda.
"Lindungi kudanya, Lilith!" teriak Ye Chen.
Lilith melempar jaring energi merah muda. Jaring Pesona! Cacing-cacing itu bingung sesaat, terkena ilusi.
Ye Chen mendarat kembali di tanah. Dia menancapkan pedangnya ke pasir.
"Mutiara Penelan Surga... Getaran Tanah!"
Ye Chen menyalurkan Qi Guntur ke dalam tanah melalui pedangnya.
BZZZZZTTT!
Listrik biru merambat di bawah pasir, menyengat cacing-cacing yang bersembunyi.
Mereka melompat keluar kesakitan.
"Sekarang!"
Ye Chen berputar. Pedang raksasanya menjadi baling-baling maut.
SPLAT! SPLAT!
Dua cacing terpotong-potong.
Cacing terakhir, melihat teman-temannya mati, mencoba kabur kembali ke dalam tanah.
"Jangan lari."
Ye Chen melempar pedangnya seperti tombak.
JLEB!
Pedang itu menembus ekor cacing itu, memakunya ke tanah.
Ye Chen berjalan santai mendekati cacing yang meronta itu, mencabut pedangnya, dan mengakhiri nyawanya.
Dia menoleh ke arah Imp di atas gerbang tulang.
Imp itu gemetar, serulingnya jatuh. "M-Monster..."
Ye Chen mengarahkan pedangnya ke Imp itu.
"Sampaikan pesan pada Mo Luo. Katakan padanya aku tidak suka disambut dengan cacing. Siapkan sesuatu yang lebih besar."
Imp itu terbang kabur secepat kilat, ketakutan setengah mati.
Ye Chen kembali ke kereta.
"Jalan," perintahnya.
Lilith menatap Ye Chen dengan kagum. "Kau membunuh empat monster setengah langkah Spirit Severing dalam dua menit? Kekuatanmu pulih lebih cepat dari dugaanku."
"Belum cukup," kata Ye Chen, membersihkan darah hijau dari pedangnya. "Mo Luo pasti sudah menyiapkan Jenderal Iblis lainnya di Gunung Tengkorak. Perjalanannya baru saja dimulai."
Kereta kuda melanjutkan perjalanan menembus malam, semakin dekat ke sarang musuh bebuyutan.
(Akhir Bab 7)