Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Gadis Nakal
Hu Lian sama sekali tidak menyadari bahaya yang sedang menghampirinya. Dia masih dengan penuh semangat bahkan sedikit nakal menari di atas panggung, tubuh kecilnya bergerak dengan gaya yang sangat personal dan menarik perhatian.
Pinggangnya yang kecil bergoyang dengan irama musik, sementara bentuk tubuhnya yang cantik semakin menonjol karena pakaian yang dikenakannya.
Beberapa pria di bawah panggung mulai bersorak riang, sesekali melempar gerakan ciuman di udara atau memberi tepuk tangan yang penuh kagum.
Saat Hu Lian mengibaskan rambutnya yang terikat kuncir kuda dengan gerakan santai, para pria di bawah semakin heboh dan menggila.
Bahkan teman-temannya sendiri yang berdiri di dekat panggung tidak menyangka bahwa Hu Lian bisa tampak begitu menawan dan percaya diri seperti ini.
Namun di sudut jauh lantai bawah, Bai Xuning berdiri dengan tubuh yang kaku menyaksikan semua itu. Wajahnya sudah tidak bisa lebih gelap lagi—mata nya menyala dengan amarah yang membara, dan tangannya yang menyilang di dadanya terkepal rapat hingga buku tangannya memucat.
Setiap sorakan para pria dan setiap gerakan Hu Lian hanya membuat amarahnya semakin memuncak.
Dia melihat bagaimana beberapa pria mencoba mendekat lebih dekat ke panggung, bahkan ada yang mencoba menarik perhatian Hu Lian dengan suara teriakan.
Hal itu membuat darahnya semakin mendidih—bagaimana bisa gadis yang dia cintai begitu bebas menari di depan banyak orang seperti ini, bahkan setelah mengatakan bahwa dia sedang tidur!
Tanpa bisa menahannya lagi, Bai Xuning berjalan dengan langkah cepat menuju arah panggung. Langkahnya kuat dan penuh tekanan, membuat beberapa orang yang menghalangi jalan terpaksa menyilang untuk memberi jalan padanya..
Bai Xuning memiliki kaki yang panjang membuatnya hanya butuh beberapa langkah untuk sampai tepat di depan Hu Lian.
Wajahnya dingin tanpa ekspresi, mata tajamnya terpaku penuh pada gadis di depannya.
Gerakan Hu Lian tiba-tiba terhenti.
Senyum yang dulu menerangi wajahnya perlahan turun, digantikan oleh wajah penuh keterkejutan. Matanya melebar lebar saat melihat sosok pria itu yang seharusnya berada di kota B untuk pekerjaan.
"Kenapa kamu ada di sini?! Bukankah kamu harus di kota B?" bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar, bibirnya sedikit terbuka karena kejutan.
Jantungnya mulai berdebar kencang—bagaimana mungkin dia bisa bertemu dengannya di tempat ini, terutama setelah dia baru saja berbohong mengatakan bahwa dia sedang tidur!
Di bawah panggung, teman-temannya juga mulai menyadari kehadiran Bai Xuning. Wei Zhe, Xie Fifie, dan yang lainnya berdiri dengan wajah bingung, tidak tahu harus melakukan apa.
Suasana yang tadinya meriah mulai mereda sedikit, beberapa penari lain bahkan berhenti bergerak untuk menyaksikan apa yang akan terjadi.
Bai Xuning tidak menjawab pertanyaannya langsung. Dia hanya mengangkat tangan kanannya dengan perlahan, lalu meraih pergelangan tangan Hu Lian dengan kuat namun tidak menyakitkan.
"Kita perlu bicara," ucapnya dengan suara rendah namun jelas terdengar di tengah musik yang mulai dikurangi volume oleh penyelenggara bar yang merasa ada sesuatu yang tidak biasa terjadi.
Hu Lian hanya bisa menatapnya dengan mata penuh kebingungan dan Dia tidak berdaya saat Bai Xuning menariknya perlahan turun dari panggung, meninggalkan teman-temannya yang masih terkejut di tempat itu.
Bai Xuning dengan langkah mantap membawanya ke lantai atas, wajahnya tetap dingin tanpa sedikit pun ekspresi yang menunjukkan kelonggaran.
Zhang Fei hanya bisa mengikuti dari belakang dengan wajah khawatir, tidak berani mengeluarkan suara apapun.
Saat sedang naik tangga, Hu Lian dengan cepat mengambil ponsel dari saku jaket kulitnya. Dia mengetik pesan singkat untuk teman-temannya Setelah mengirimnya, dia menaruh kembali ponselnya dan mengikuti Bai Xuning dengan hati yang berdebar kencang.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan sebuah ruangan tertutup. Bai Xuning membuka pintunya dengan cepat dan mendapati Wang Yihan masih duduk di sana sambil menikmati minumannya.
Pria itu segera bangkit dengan terkejut ketika melihat kedatangan mereka berdua, namun sebelum dia bisa berkata apa-apa, Bai Xuning mengangkat tangannya dengan nada tegas.
"Keluar" ucapnya singkat namun jelas.
Zhang Fei yang baru saja sampai segera mengerti dan dengan cepat menyeret Wang Yihan keluar dari ruangan, bahkan menutup pintunya dengan hati-hati agar mereka bisa menyelesaikan masalah secara pribadi.
Di dalam ruangan yang kini sunyi dan hanya dihiasi oleh lampu meja yang lembut, Bai Xuning berbalik menghadap Hu Lian.
Dia menyilang tangan di dadanya, matanya yang tajam tetap terpaku pada wajah gadis itu yang terlihat sedikit bingung namun tak ada rasa takut sama sekali.
"Kamu bilang sedang tidur," ucapnya dengan suara rendah namun penuh dengan emosi yang terkendali.
"Seharusnya kamu berada di kota B untuk pekerjaan?"tanya Hu Lian dengan suara yang tegas.
Bai Xuning terdiam sejenak sebelum menjawab, matanya tetap tidak bisa melepaskan pandangannya dari Hu Lian...
Pada akhirnya pembicaraan mereka menemui jalan buntu yang tak terhindarkan. Hu Lian melirik Bai Xuning dengan tatapan yang sedikit dingin, kemudian melihat ke arah meja yang dipenuhi botol-botol anggur yang belum habis diminum.
"Sepertinya kamu juga sedang bersenang-senang di sini ya?" ucapnya dengan nada yang sedikit menyiratkan rasa tidak cibiran.
Kata itu seolah menusuk langsung ke hati Bai Xuning, membuatnya kehilangan seluruh kesabarannya yang telah dia kendalikan dengan susah payah.
"Lalu bagaimana denganmu?! Apa kamu begitu senang menari di depan begitu banyak pria yang melihatmu seperti hidangan penutup yang bisa mereka nikmati sesuka hati?!"teriaknya dengan suara yang jauh lebih keras dari biasanya, tangannya yang menyilang tiba-tiba terbuka.
Wajah Hu Lian langsung memucat mendengar kata-kata itu.
Dia menoleh menatap Bai Xuning dengan ekspresi tidak percaya, rasa sakit dan kemarahan tiba-tiba muncul dalam dirinya.
"..Bai Xuning! Aku hanya menari apa masalahnya denganmu?! Aku bahkan tidak meminum alkohol sama sekali! Kamu punya hak apa untuk menyebut aku seperti itu?!"jawabnya dengan suara yang naik daun, matanya mulai berkaca-kaca karena emosi yang meluap.
".......Kamu bilang ingin mengejar aku kembali, tapi kamu tetap saja melihatku seperti benda yang harus kamu kuasai!" ucapnya dengan suara yang mulai bergetar.
Bai Xuning berdiri terkejut mendengar kata-katanya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tadi seolah membuatnya sendiri terkejut.
Dia ingin berkata apa-apa untuk membenarkan diri, namun bibirnya hanya bisa terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara apapun...
Hu Lian segera berbalik dan berjalan menuju pintu dengan wajah yang masih memerah karena kemarahan.
Dia benar-benar tidak ingin bertemu lagi dengan pria ini,Namun sebelum dia bisa membuka pintu, tangan besar Bai Xuning dengan cepat menahannya dari belakang.
Tanpa banyak berpikir, Bai Xuning mengangkat tubuhnya dengan lembut dan memeluknya erat erat di dalam pelukannya—posisinya bahkan seperti menggendong bayi kecil, membuat Hu Lian tidak bisa bergerak sama sekali.
"Bai Xuning!" Teriak Hu Lian berusaha untuk menjauh darinya.Suara pria itu terdengar serak dan penuh dengan rasa menyesal di telinganya.
"..Maaf... jangan marah.. aku tidak sengaja berkata seperti itu..." bisiknya dengan suara yang hampir terputus-putus, wajahnya menyembunyikan diri di leher Hu Lian yang membuatnya bisa merasakan getaran suara dan napas hangatnya.
"......." Hu Lian hanya bisa terdiam dengan nafas terengah-engah ,wajah yang semakin memerah—karena kemarahan atau mungkin rasa malu, dia sendiri tidak tahu.
Bajingan ini... kenapa harus menggendongku seperti ini?! pikirnya dengan hati yang berdebar kencang.Dia mencoba untuk bergerak dan melepaskan diri, namun pelukan Bai Xuning semakin erat.
"Aku hanya takut kehilanganmu lagi..." lanjut Bai Xuning dengan suara yang lebih pelan,"Ketika melihatmu menari di depan banyak orang, aku merasa sangat takut... takut kamu akan menemukan orang lain yang lebih baik dariku dan pergi meninggalkanku lagi..."
Hu Lian terdiam mendengarnya, gerakan untuk melarikan diri perlahan berhenti. Meski masih merasa tersakiti oleh kata-katanya tadi, dia bisa merasakan betapa tulusnya rasa khawatir Bai Xuning.