MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 10, Part 1 [VOLCANIC CASTLE]
Setelah beberapa jam-jam tertidur, mereka terbangun oleh sebuah suara:
"Selamat datang di halaman Vulkanik Kastil, silahkan berbelanja di toko kami sebelum melanjutkan perjalanan".
Ucap sosok misterius. Ternyata sosok yang menawari mereka berbelanja adalah seorang NPC dengan perawakan gadis kecil yang berusia sekitar 10-11 tahun.
"Siapa kamu!" ucap Meriel kaget.
Marva lalu mengeluarkan pedangnya untuk berjaga-jaga.
Gadis itu lalu menjelaskan. "Maafkan aku, jika membuat kalian kaget petualang. Aku adalah NPC yang berjaga disekitar sini, kalian bisa memanggil ku Merry..... Merry Boulderom".
"NPC yang berada dilantai Bos?" ucap Marva tidak percaya.
"Yups betul sekali, aku diciptakan oleh GOF yang ada dilantai ini," lanjut Merry.
"Apakah kamu menjual senjata?" tanya Marva yang masih ragu.
Lalu Merry mengeluarkan tasnya, tas yang sangat, sangat besar. Sangking besar nya, Meriel dan Marva menjadi terheran-heran. Mengetahui Merry adalah NPC, tentu ini adalah skill unik miliknya, fikir Marva dan Meriel. Satu persatu senjata dan perlengkapan dikeluarkan.
Gear Hammer [Tier D-, lv. 15, Dmg. 67, Aspd. 12, Acc. -8, Req Lv. 10] >>>>>> 15.000 XILO
Iron Hammer [Tier D+, lv. 23, Dmg. 100, Aspd. 15, Acc. -6, Req Lv. 18] >>>>>> 23.000 XILO
Golden Hammer [Tier C, lv. 34, Dmg. 198, Aspd. 20, Acc. -5, Req Lv. 19] >>>>> 45.000 XILO
Mithril Hammer [Tier C+, lv. 40, Dmg. 246, Aspd. 32, Acc. -5, Req Lv. 35] >>>> 57.000 XILO
Iron Shield [Tier D+, lv. 25, Def. 126, Aspd. -14, Acc. 20, Req Lv. 15] >>>>>>>> 18.000 XILO
Light Shield [Tier C, lv. 30, Def. 177, Aspd. -18, Acc. 28, Req Lv. 25] >>>>>>>> 37.000 XILO
Black Blade [Tier B, lv. 50, Dmg. 335, Aspd. 35, Acc. 30, Req Lv. 45] >>>>>>> 107.000 XILO
Thunder Blade [Tier B, lv. 54, Dmg. 377, Aspd. 40, Acc. 35, Req Lv. 50] >>>>> 132.000 XILO
"Wauw, liat semua senjata ini Lead....... " Meriel takjub dengan semua item yang dijual oleh Merry.
Marva lalu membuka jendela statusnya, hal yang sudah tidak pernah ia lakukan lagi, sejak pertarungan guild terjadi.
“MARVA RAVARA”
Level : 55
Job : Warrior
HP : 3.420/4.210
MP : 890/1.450
Overheat: 26%
Fatigue : 2%
Di sampingnya, Marva melihat status Meriel.
“MERIEL KOSIN”
Level : 43
Job : Support
HP : 1.890/2.340
MP : 620/1.100
Overheat: 8%
Fatigue : 0%
"Ternyata level Meriel masih jauh dibawahku, bagaimana kalau GOF kali ini lebih kuat? Kami hanya berdua," Marva mulai khawatir.
Tapi setelah memperhatikan item yang dijual, Marva sadar. Menara sepertinya sengaja menawarkan item yang sesuai dengan job mereka.
"Meriel, kamu bisa memakai shield kan?" tanya Marva.
"Betul Lead, hanya Job Tanker dan Support yang bisa menggunakan Shield. Tapi job support memiliki keuntungan untuk menggunakan senjata juga, itulah kenapa aku memilih job ini," jawab Meriel sambil menjelaskan.
"Analisis yang cerdas Meriel," puji Marva.
"Hehehehe, makasih Lead. Ini demi mendukung mu agar bisa bertarung sekaligus bertahan," lanjut Meriel.
Marva lalu mengalihkan pendangan nya. "Meriel, liat semua item ini. Sangat cocok dengan kita, apakah menara sudah mempersiapkan ini?"
Meriel juga sadar. "Betul Lead. Merry menjual shield yang bisa kupakai, sedangkan senjata utama ku adalah Palu. Dan dia juga menjual Pedang yang sangat cocok dengan Job Warrior," tanya Marva.
"Tapi Bos, seperti kamu tidak butuh senjata baru selama ada aku," ucap Leo sombong.
"Jangan sepelekan aku, api sialan!" Aquarius menyaut pelan.
Meriel tertawa liat Para Cincin bertengkar, Marva juga. Walaupun Aquarius masih terjebak oleh Debuff elemen api. Hal itu tidak serta merta membuat Aquarius bungkam.
"Tenang saja, selama kalian ada. Aku tidak akan membeli atau menggunakan senjata lain kok," ucap Marva menengahi.
Dalam hati, Meriel mulai mengagumi dan terobsesi dengan para cincin Dewa. "Andai saja aku punya satu saja Cincin Dewa."
"Sudah berapa uang kita Meriel?" tanya Marva.
Seketika menyadarkan Meriel dari lamunan nya.
"Heh cincinnya aku mau satu!"
"Cincin apa Meriel ?!?!!" Marva balik bertanya.
"Eh tidak Bos, tadi kamu tanya apa?"
"Sudah berapa uang kita."
Meriel cepat-cepat membuka inventory nya dan melihat jumlah Xilo yang mereka miliki sebanyak:
76.544 Xilo.
Marva lalu mengangguk, "Entah kenapa, aku punya firasat buruk kali. Meriel kamu ingin membeli palu baru atau coba memakai shield?"
Leo lalu nyeletuk. "Kenapa tidak dua-duanya saja Bos?"
Mata Meriel dan Marva langsung bertemu, seperti memikirkan hal yang sama. Mereka pun menyelesaikan pembelian.
"Terima kasih telah berbelanja, sampai ketemu lagi," ucap Merry sambil meninggalkan mereka.
Hari itu mereka melakukan persiapan sangat matang, skill poin yang sudah mereka dapatkan sejak dari lantai 8. Dipakai untuk membuka beberapa skill baru dan menambah Statistik mereka.
Leo dan Aquarius juga telah naik lv.
[RING OF LEO – LEVEL UP]
Current Level: 6
[RING OF AQUARIUS – LEVEL UP]
Current Level: 4
Dengan semua persiapan itu, mereka memantapkan diri untuk masuk dan bersiap menghadapi Guardian of Floor 10th.
Pintu kastil terbuka perlahan bahkan sebelum mereka menyentuhnya.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada monster.
Hanya lorong panjang dari batu hitam mengkilap. Dindingnya memantulkan cahaya merah samar. Setiap langkah mereka menggema.
Meriel berbisik, “Terlalu tenang untuk ukuran Lantai Bos.”
Di ujung lorong, ruangan besar terbuka luas. Aula singgasana. Lantai marmer hitam. Di tengah ruangan berdiri singgasana tinggi.
Dan di atasnya—
Seseorang berdiri tegak seperti sedang menunggu mereka.
Jubah hitam panjang.
Rambut tersisir rapi.
Tatapan lurus.
Dia adalah Daraz Boulderom.
Levelnya menyala terang di atas kepala.
DARAZ BOULDEROMM — Lv. 65
Guardian of Floor — Level 10
Marva dan Meriel menelan ludah.
“Itukan Senior kita!” ucap Meriel.
Daraz menuruni dua anak tangga dengan langkah tenang. Tidak terburu-buru. Tatapannya langsung tertuju pada Marva bukan pada Meriel.
“Marva Ravara.”
Nada suaranya sama seperti di sekolah. Terkontrol tapi tegas.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada kemarahan.
Hanya penilaian.
“Berhasil juga kau sampai di sini.”
Marva menatapnya tanpa berkedip.
“Daraz Senpai.......” Daraz lalu berhenti, tepat tiga meter dari mereka.
“Kenapa dengan tatapan itu? Baru melihat Guardian of Floor adalah kenalan kalian? Menjadi Player tidak menarik.”
Sunyi beberapa detik.
Meriel ingin bicara, tapi Marva menahannya.
Daraz melanjutkan: “Kalian memilih menjadi Player, berarti kalian telah siap menerima risikonya. Aku memilih menjadi Guardian of Floor, yang tidak akan pernah mati. Walaupun berkali-kali dikalahkan, aku tetap akan muncul disini dan mengawasi Lantai ini. Kerajaan ku akan KEKAL …..!!!!! Hahahahahahah!!!!”
Leo berbisik dalam benak Marva. “Bos… aku ingat bagian ini. GOF akan selalu Respawn walaupun telah dikalahkan berkali-kali, Menara telah mengunci jiwa mereka. Walaupun risiko yang harus diterima adalah selama nya berada dilantai ini.”
Marva kini paham, kenapa beberapa dari mereka, ada yang memilih menjadi GOF ada juga yang memilih sebagai GOT. Setiap pilihan memiliki risiko dan kebebasan nya sendiri.
Daraz lalu mengangkat tangannya pelan.
Seluruh aula menyala lebih terang.
Retakan di lantai mulai bergerak membentuk pola melingkar.
“Lantai ini milikku.”
“Setiap suhu.”
“Setiap retakan.”
“Setiap percikan api.”
Di sekeliling ruangan, dinding berubah. Beberapa bagian naik. Beberapa bagian turun.
Arena mulai terbentuk. Meriel mundur setengah langkah. “Apakah pertarungan akan dimulai?”
[BERSAMBUNG]