NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Arya kembali menatap sekeliling kamar kos itu dengan perasaan yang sulit ia definisikan. Dindingnya tipis, catnya sedikit mengelupas di beberapa sudut, dan aroma lembap bercampur wangi sabun murah masih menggantung di udara. Tempat ini jauh dari kata layak untuk seorang wanita muda, apalagi untuk seseorang yang tanpa ia sadari telah menyeret dirinya masuk ke dalam pusaran hidupnya yang kacau dan keras. Untuk pertama kalinya sejak lama, dada Arya terasa sesak bukan karena amarah atau hasrat menguasai, melainkan karena sesuatu yang lebih asing: dorongan untuk melindungi.

Ia melangkah pelan, memperhatikan detail-detail kecil yang sebelumnya tak pernah ia pedulikan. Tumpukan buku di sudut meja, sebagian sudah usang, beberapa diberi catatan kecil dengan tinta biru. Sebuah foto lama terjepit di cermin gambar Nadia bersama ayahnya, tersenyum polos di depan rumah sederhana. Arya berhenti menatap foto itu lebih lama dari yang seharusnya. Senyum Nadia di foto itu berbeda dengan yang sering ia lihat sekarang. Lebih ringan. Lebih hidup.

“Jadi… ini duniamu,” gumamnya pelan.

Pikirannya melayang pada cara Nadia bertahan hidup selama ini. Tidak ada pelayan, tidak ada perlindungan, tidak ada jaring pengaman. Hanya dirinya sendiri, bekerja dari pagi hingga malam, memeras tenaga demi bertahan satu hari lagi. Kesadaran itu membuat sesuatu di dalam diri Arya bergetar. Ia yang terbiasa memerintah, mengendalikan, dan menghancurkan tanpa ragu, mendadak merasa kecil di ruangan sempit itu.

Bunyi langkah kaki mendekat memutus lamunannya.

Nadia muncul dari dapur kecil membawa dua mangkuk mie instan. Uap panas mengepul dari permukaannya, aroma bumbu yang tajam segera memenuhi ruangan. Nadia meletakkan kedua mangkuk itu di atas meja dengan sedikit kasar—bunyi porselen beradu dengan kayu membuat Arya tersentak kembali ke realitas.

“Ini,” kata Nadia singkat.

Arya menatap isi mangkuk itu. Mie instan. Kuah kekuningan dengan telur setengah matang dan potongan sayuran sederhana. Sesuatu yang sama sekali asing baginya. Selama hidupnya, Arya tidak pernah menyentuh makanan semacam ini. Ia terbiasa dengan hidangan mahal, disiapkan oleh koki profesional, disajikan di meja panjang dengan peralatan perak. Melihat mie instan di depannya membuatnya mengernyit tanpa sadar.

“Tidak ada makanan lain?” tanyanya, nada suaranya terdengar refleks merendahkan.

Nadia mendelik. “Sudah malam. Kedai tutup. Di rumah hanya ini.”

Ia menarik kursi dan duduk, lalu tanpa menunggu tanggapan Arya, langsung menyesap kuah mie itu. Wajahnya terlihat lelah, tapi gerakannya cepat, seolah perutnya sudah lama menuntut haknya. Dalam hitungan menit, separuh mangkuknya sudah kosong.

“Ini yang saya makan setiap hari,” lanjut Nadia datar, seakan sengaja menancapkan kata-katanya ke kepala Arya. “Kalau tidak suka, silakan pulang. Minta pelayan anda masak apa pun yang anda mau.”

Arya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada sisa kebiasaan merendahkan di sana, tapi juga ada keterkejutan yang tak ia sangka. Nadia tidak menunggu reaksinya. Ia menghabiskan mie itu sampai tetes terakhir, lalu berdiri dan membawa mangkuk kosong ke dapur untuk dicuci.

Ketika kembali, mangkuk milik Arya masih utuh. Tidak tersentuh.

Nadia berhenti di depannya. “Kenapa tidak dimakan?”

Arya tidak langsung menjawab. Aroma kuah mie itu menusuk hidungnya semakin kuat, membuat perutnya bergejolak aneh. Ia tidak terbiasa dengan bau rempah tajam semacam itu.

“Tidak higienis?” tanya Nadia dengan nada sinis. “Atau terlalu rendahan untuk lidah anda?”

Ia tertawa kecil tanpa humor. “Saya hanya wanita miskin. Makanan seperti ini yang membuat saya bertahan hidup. Kalau anda jijik, pintu di sana.”

Ada kepuasan kecil di wajah Nadia saat melihat Arya terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit menang. Sedikit saja. Cukup untuk mengobati harga dirinya yang selama ini diinjak.

“Sayang sekali,” lanjut Nadia, lalu dengan gerakan yang mengejutkan ia mengambil sendok dari mangkuk Arya dan mengarahkannya ke mulut pria itu. “Padahal hangat dan enak.”

Arya refleks menahan napas. Aroma kuah itu semakin dekat, membuat dadanya mual. Wajahnya menegang, keringat dingin muncul di pelipisnya.

“Jauhkan,” perintahnya tertahan.

Nadia terheran, lalu tersenyum tipis. “Kenapa? Takut?”

Mual itu menyerang tiba-tiba. Arya berdiri mendadak, menepis tangan Nadia, lalu berbalik dan muntah di dekat wastafel dapur. Tubuhnya yang besar terguncang hebat, napasnya tersengal. Nadia terpaku beberapa detik, tak menyangka reaksinya akan separah ini.

“Pak?” panggilnya ragu.

Arya membungkuk lagi, muntah sekali lagi. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras menahan rasa tidak nyaman. Dalam kondisi setengah sadar, ia berteriak memanggil satu nama.

“Melia!”

Namun tak ada jawaban. Nadia baru teringat Arya sendiri yang menyuruh Melia berjaga agak jauh dari kos ini.

Arya menggeram pelan. “Sial…”

Nadia menghela napas panjang. Kemenangan kecil yang tadi ia rasakan menguap begitu saja, digantikan rasa kesal dan sedikit panik. “Laki-laki menyebalkan,” gerutunya, meski tangannya sudah bergerak menopang lengan Arya.

Ia memapah Arya menuju ranjang kecil itu dengan susah payah. Berat badan pria itu jauh melebihi perkiraannya. Setiap langkah terasa seperti menyeret beban. Setelah berhasil membaringkannya, Nadia mundur beberapa langkah, memperhatikan wajah Arya yang pucat dan napasnya yang masih tidak teratur.

“Dasar manja,” gumamnya.

Ia membuka jendela lebar-lebar, berharap aroma mie instan yang menyengat bisa keluar bersama udara malam yang lembap. Angin dingin masuk, membuat tirai tipis berkibar.

Nadia kembali ke sisi ranjang dan mengambil minyak aroma terapi kecil dari tasnya barang murah yang biasa ia gunakan saat pusing. Ia menyodorkannya ke arah Arya.

“Ini bisa bantu,” katanya.

Arya menggeleng lemah. “Jangan baunya membuatku mual.”

Nadia mendecak. “Repot.”

Arya membuka mata setengah, menatap Nadia. “Ganti bajumu.”

“Apa?” Nadia langsung menegang.

“Bajumu… baunya,” kata Arya dengan suara lemah tapi tetap menyebalkan. “membuatku pusing.”

Nadia menarik bajunya dan mengendusnya. Benar saja, aroma bumbu mie cukup kuat menempel. Ia mendengus kesal. “Dasar.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Nadia mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan pakaian yang lebih bersih dan sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai sedikit lembap.

Ia kembali ke sisi ranjang. “Teh hangat apakah anda bisa meminumya?”

Arya tidak menjawab, matanya terpejam tapi alisnya berkerut. Nadia menghela napas, lalu pergi ke dapur. Ia menyiapkan secangkir teh hangat dengan gerakan pelan. Dari jarak beberapa meter, ia melirik ke arah ranjang.

Tubuh besar Arya memenuhi ranjang mungil itu hampir sepenuhnya. Pemandangan itu aneh pria yang biasanya terlihat tak tersentuh, kini terbaring lemah di tempat sederhana miliknya.

“Jadi dia masih manusia biasa, aku kira adalah malaikat pencabut nyawa,” gumam Nadia pelan.

Ia membawa teh itu kembali, duduk di tepi ranjang, dan membantu Arya minum sedikit demi sedikit. Tidak ada ejekan kali ini. Hanya keheningan dan suara hujan yang kembali turun di luar.

Dalam diam, Nadia menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa berat  sekejam apa pun Arya, di saat seperti ini, ia tetap manusia yang bisa sakit, lemah, dan membutuhkan orang lain. Dan tanpa ia sadari, malam itu menanam benih perasaan yang rumit bukan simpati penuh, bukan pula kebencian murni sesuatu di antaranya, yang kelak akan membuat segalanya semakin sulit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!