Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 — Pagi yang Baru
Pagi itu Isya terbangun lebih awal dari biasanya.
Jam masih menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Meski tubuhnya terasa lelah karena tidur larut malam, Isya tetap bangun dengan tekad yang kuat. Ia perlahan duduk di atas tempat tidur, lalu menatap langit-langit kamar kecilnya.
“Bismillah…”
Ia berwudu dan berdiri untuk melaksanakan shalat di sepertiga malam.
Bagi Isya, hanya kepada Allah-lah ia menggantungkan harapan. Ia yakin, hanya Sang Pencipta yang mampu memudahkan setiap jalan hidupnya.
Malam sebelumnya memang berat, tetapi hatinya tetap tenang ketika bersujud.
Setelah selesai shalat, Isya duduk sejenak sambil berdoa dengan khusyuk.
Biasanya setelah shalat Subuh, ia tidak tertidur.
Namun kejadian beberapa hari lalu masih teringat jelas. Hari ketika ia terlambat ke sekolah.
Waktu itu ia tertidur setelah Subuh karena terlalu lelah. Biasanya tidak masalah karena isya memang rajin bangun dini hari dan andai kesiangan ada nenek yang membangunkannya.
Tetapi saat itu nenek sedang tidak berada di rumah.
Akibatnya… ia kesiangan.
Kali ini Isya tidak ingin mengulanginya.
Setelah Subuh, ia memilih tetap terjaga.
Sambil duduk di ruang kecil rumahnya, ia membaca dzikir pagi dengan pelan.
Lalu setelah itu, Isya mulai senam kecil di rumah.
“Tu wa… tu waa…”
Gerakan sederhana yang ia buat sendiri.
Tiba-tiba dari balik selimut terdengar suara pelan.
Ba'daa yang masih tertidur bergumam.
“Nenek lampir kenapa lagi sih…”
Lalu ia menarik selimutnya lebih rapat.
Isya yang mendengar hanya tertawa kecil.
Pagi mulai terasa hidup.
Seperti biasa, Isya mulai membersihkan rumah, menyapu lantai, lalu memasak sarapan sederhana.
Meski matanya masih sedikit berat karena kurang tidur, ia tetap melakukannya dengan semangat.
Tiba-tiba—
“Isyaaa… Isyaaaa!”
Ada suara memanggil dari luar.
Isya terkejut.
“Eh siapa pagi-pagi begini?”
Ia membuka pintu.
Dan ternyata—
“Ayinnn!”
Sahabatnya berdiri di depan rumah dengan tas sekolah di punggungnya.
Isya langsung tersenyum lebar.
“Hee kangen!”
Ayin tertawa.
“Seakan-akan baru ketemu setahun.”
“Ngaco… baru kemarin juga ketemu.”
“Hehe iya.”
Isya mengerutkan dahi.
“Eh ngapain pagi-pagi ke sini? Kemasukan apa kamu?”
Ayin langsung menunjuk Isya.
“Ini gara-gara kamu!”
Isya bingung.
“Hah?”
“Coba bayangin… wanita paling rajin, pintar, imut, paham aga—”
“STOP!”
Isya langsung menutup mulut Ayin dengan tangannya.
“Jangan puji-puji! Biasa saja!”
Ayin tertawa.
“Ya memang kamu begitu kok.”
Lalu ia berkata lagi,
“Eh jangan lupa bawa baju olahraga hari ini.”
“Oh iya!”
Isya menepuk dahinya.
“Siap!”
“Aku mandi dulu ya.”
Ayin tersenyum jahil.
“Sana… aku gangguin Ba'daa dulu.”
Isya langsung menatapnya.
“Hei jangan!”
Namun Ayin sudah masuk ke dalam.
Beberapa menit kemudian—
“HEIII!”
Teriakan Ba'daa terdengar dari kamar.
“Kenapa sih! Harga diri laki-laki lagi tidur digangguin!”
Ayin tertawa puas.
Sementara Isya hanya menggeleng sambil tertawa kecil.
Tak lama kemudian mereka berangkat ke sekolah.
“Pamit dulu yaa!”
Ba'daa hanya menggerutu dari dalam rumah.
“Huu… dua nenek lampir…”
------------------------------------------------------------------------
Di tengah perjalanan, Isya tiba-tiba berhenti.
Ayin bingung.
“Kenapa?”
Isya menunjuk ke arah kardus di pinggir jalan.
“Yin… lihat.”
Seekor anak kucing kecil muncul.
“Ahh mpuss!”
Isya tersenyum.
“Ini namanya Kuro.”
Ayin tertawa.
“Kuro?”
“Iya. Mirip karakter kucing di film.”
Isya mengeluarkan sedikit makanan dari tasnya.
“Nih buat kamu.”
Kucing kecil itu makan dengan lahap.
“Yang banyak ya.”
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke sekolah.
Di dekat lapangan sekolah, seseorang tampak berdiri.
Itu Aksan.
Atlet bola sekolah.
Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.
Isya dan Ayin tidak menyadarinya karena terlalu asyik mengobrol.
Saat mereka hampir lewat—
“Eh mbak!”
Isya berhenti.
“Eh?”
Ayin berbisik.
“Siapa itu?”
Isya langsung mengenali wajahnya.
“Eh… kamu manusia bola!”
Aksan tersenyum canggung.
Ayin bingung.
“Manusia bola?”
Isya menjawab santai,
“Iya Yin. Dia suka makan bola.”
Ayin langsung tertawa.
Aksan panik.
“Hei bukan begitu!”
Isya tertawa kecil.
“Iya iya… ada apa?”
Aksan menggaruk kepala.
“Aku mau minta maaf soal kemarin.”
“Maaf lagi? Emang sudah lebaran?”
“Bukan… kemarin aku belum minta maaf dengan benar.”
Ia kemudian mengulurkan tangannya.
Isya langsung melompat mundur.
“Heeey!”
Ayin langsung tertawa keras.
“Hahaha! Salah orang kamu!”
Aksan bingung.
“Kenapa?”
Isya langsung mulai “ceramah”.
“Ish ish ish…”
“Bagaimana mau jadi bapak rumah tangga kalau begini?”
Aksan makin bingung.
“Eh?”
Isya bertanya,
“Agamamu apa?”
“Islam.”
“Nah itu.”
Isya lalu berkata serius.
“Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Sungguh jika kepala seseorang ditusuk dengan jarum dari besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.’
Ayin tertawa sampai memegang perut.
“Hahaha! Dia cocoknya jadi ibu rumah tangga, Isya yang bapak rumah tangga!”
“Hei ngaco!”
Aksan hanya bisa diam diceramahi.
Lalu ia berkata pelan,
“Kalau begitu… ajarin aku agama.”
Isya langsung tertawa.
“Malu dong kalau cewek yang ngajarin.”
“Belajar sana yang rajin… biar jadi imam yang baik buat Ayin.”
“HEH!”
Ayin langsung protes.
“Ngaco!”
Isya tertawa.
“Sudah ah ayo masuk.”
“Biarkan manusia bola makan bola.”
Mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
Aksan buru-buru bertanya,
“Eh… nama kamu siapa?”
Ayin menarik tangan Isya sambil berjalan.
Angin pagi berhembus lembut.
Isya menoleh sedikit.
Dengan senyum lembut ia berkata,
“Isya.”
Senyumnya begitu hangat hingga membuat Aksan terpaku.
------------------------------------------------------------------------
Selanjutnya pelajaran berjalan seperti biasa hingga jam olahraga.
Isya dan Ayin berjalan menuju ruang ganti sambil berpegangan tangan.
Dimas melihat mereka.
“Kalian ini seperti gula dan semut saja.
Nempel terus.”
Isya tertawa.
“Iya dong. Kalau Isya pasti gula.”
“Ayin semutnya.”
“Heh! Kamu saja yang semut!”
Mereka tertawa bersama.
Di lapangan olahraga, guru meniup peluit.
“Baik anak-anak! Seperti biasa, olahraga yang baik!”
“Kalau selesai, kembalikan bola ke tempatnya!”
“Siap pak!”
Namun Isya dan Ayin malah duduk di bangku panjang.
Ayin bertanya,
“Kamu tidak main?”
Isya langsung menggeleng cepat.
“Tidak!”
Ia masih ingat kejadian sebelumnya.
Saat bermain voli—
SMASH!
Bolanya malah mengenai wajah orang.
Saat main badminton—
Semua orang menonton.
Saking malunya, raketnya tidak kena bola sama sekali.
Jadi Isya lebih memilih duduk saja.
Ayin setia menemani.
Beberapa saat kemudian Ayin bertanya,
“Sya…”
“Nanti setelah lulus kamu mau jadi apa?”
Isya berpikir.
“Hmmm…”
Ia menggaruk kepala.
“Tidak tahu.”
“Semakin dipikir malah semakin bingung.”
“Kalau Ayin?”
Ayin tersenyum.
“Aku mau jadi dokter.”
Isya langsung bersinar.
“Wah berobat gratis!”
“Enak saja! Kalau Isya bayar dua kali lipat.”
“Ya sudah kalau begitu ngutang saja.”
“Bayarnya nanti di akhirat.”
Ayin tertawa keras.
“Curang itu!”
Mereka tertawa bersama.
Beberapa saat kemudian Isya berkata pelan,
“Mungkin… Isya mau sembunyi saja.”
Ayin bingung.
“Hah?”
“Kenapa sembunyi?”
Isya tersenyum kecil.
“Kadang rasanya kalau menghilang itu tenang.” “Tidak ada beban.”
Ayin menggeleng.
“Tapi itu cuma perasaan sesaat.”
Isya mengangguk.
“Iya.”
“Tapi Isya ingin berguna untuk banyak orang… tanpa diperhatikan.”
Ayin tiba-tiba mendapat ide.
“Kalau begitu…”
“Isya boleh menghilang.”
“Tapi harus ditemukan lagi.”
Isya tertawa kecil.
“Ditemukan bagaimana?”
Ayin tersenyum.
“Dengan Bismillah.”
Isya penasaran.
“Kenapa Bismillah?”
Ayin menjawab sambil tersenyum nakal.
“Karena untuk mendapatkan seseorang seperti kamu…”
“Harus lewat jalan yang baik dan halal.”
“Kamu ini susah didekati dari dulu.”
“Pengagummu banyak, kamu saja yang tidak peka.”
Isya tertawa.
“Ah ada-ada saja kamu.”
Ayin menatapnya sambil tersenyum.
“Jadi kalau kamu menghilang…”
Isya menatap langit biru.
Angin lembut berhembus.
Ia tersenyum menenangkan.
Lalu berkata pelan.
“Kalau begitu…”
“Temukan aku dengan Bismillah.”
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘