NovelToon NovelToon
Disayangi Anak Mantan

Disayangi Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Duda
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?

Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Seketika mata Andin tersipu malu. Tatapan anak itu dan caranya merayu mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama hilang dari hidupnya. Namun gadis dewasa itu segera menyudahi ingatannya. Baginya lelaki itu telah pergi bersama kenangan pahit yang dulu menyalahkannya sepihak.

“Mbak kantin kenapa diam?” tanya bocah itu.

“Apa Mbak kantin takut berteman denganku? Sama seperti teman-temanku dulu yang sering menyebutku si pembuat onar,” lanjutnya lagi.

Andin segera tersadar dari lamunannya. Bukan maksudnya mendiamkan anak yang ada di hadapannya terlalu lama, hanya saja bayangan masa lalu itu sempat membuatnya lupa pada kenyataan yang sedang terjadi.

“Enggak, Dek,” sahut Andin cepat.

“Siapa yang bilang kamu pembuat onar? Mbak kantin percaya kamu anak yang baik,” katanya meyakinkan.

“Lalu… apakah Mbak kantin mau berteman denganku?” tanya Darrel lagi memastikan.

“Tentu dong,” jawab Andin sambil tersenyum.

Anak itu langsung tersenyum bahagia. Dua kalimat sederhana dari gadis dewasa di hadapannya itu seolah menjadi sesuatu yang sangat berarti. Terlihat jelas dari pancaran matanya, seakan untuk pertama kalinya ia menemukan seseorang yang mempercayainya.

“Mbak, makasih banyak ya sudah mau jadi temanku,” ucap Darrel sambil mengangkat tangannya mengajak tos.

Andin pun membalasnya.

“Sama-sama. Kamu anak yang pintar dan baik,” puji Andin.

Mendengar pujian itu, senyum Darrel kembali merekah. Seolah baru kali ini ia mendapatkan apresiasi dari orang dewasa.

“Mbak, kalau gitu aku makan nasi gorengnya ya,” izin Darrel.

“Oh iya, monggo,” sahut Andin dengan senang hati.

Darrel meraih piring di atas meja. Suapan demi suapan masuk ke mulutnya dengan lahap. Entah karena ia benar-benar kelaparan atau karena nasi goreng buatan Andin memang sangat enak.

“Mbak, nasi gorengmu enak sekali!” seru Darrel.

“Kalau enak dihabisin ya. Jangan buang-buang nasi, itu tidak boleh,” kata Andin.

“Ok, Mbak,” jawab Darrel sambil menghabiskan sisa nasi gorengnya.

Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Darrel pun bersiap kembali ke kelas.

“Mbak, makasih banyak ya. Ini uangnya,” kata Darrel sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribu rupiah.

Andin menerima uang itu. Ia baru saja hendak mengambil kembalian ketika Darrel segera mencegahnya.

“Nggak usah, Mbak. Kembaliannya buat Mbak saja,” ujar anak itu santai.

“Tapi—” Andin belum sempat melanjutkan ucapannya, Darrel sudah berlari pergi menyusuri lorong kelas.

“Ah, kok main pergi begitu saja,” gumam Andin pelan.

Setelah itu ia kembali sibuk melayani pembeli yang datang ke kantinnya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Di dalam kelas masih terdengar bisik-bisik anak-anak yang membicarakan kejadian di kantin tadi. Namun Darrel berusaha bersikap cuek. Baginya masalah itu sudah selesai.

Bisikan itu langsung mereda ketika guru masuk ke dalam kelas.

“Selamat siang, anak-anak!” sapa guru itu dengan penuh semangat.

“Selamat siang juga, Pak,” jawab para siswa serempak.

Setelah sapaan singkat itu, pelajaran Bahasa Indonesia pun dimulai. Darrel memperhatikan dengan cukup serius. Sesekali ia mencatat penjelasan guru tanpa perlu diperintah.

Sebenarnya Darrel termasuk anak yang pintar. Cara berpikirnya bahkan sering berbeda dari anak-anak lain seusianya.

“Anak-anak, sudah jelas dengan pelajaran yang Bapak terangkan?” tanya guru itu.

“Sudah, Pak,” jawab mereka bersamaan.

“Baiklah, kalau begitu kerjakan tugas di halaman dua belas,” perintah guru itu.

Para murid segera menunduk mengerjakan tugas mereka masing-masing.

Namun suasana berbeda terjadi di sudut kelas tempat Genta dan kawan-kawannya duduk. Meski baru saja mendapat hukuman, mereka tampak tidak kapok sama sekali.

Genta melirik ke arah seorang anak berkacamata yang duduk tidak jauh dari mereka.

“Hey, cupu… kasih contekanmu,” bisik Genta dengan nada mengancam.

Anak bernama Edo itu langsung menegang. Hampir setiap hari ia harus menghadapi ancaman seperti ini. Tidak ada yang berani membelanya. Semua anak takut pada Genta dan gengnya.

Tatapan Genta mulai tajam ketika Edo terlihat ragu.

“Cepat! Kerjakan tugas kami!” desaknya pelan namun penuh tekanan.

Darrel yang melihat kejadian itu mulai merasa terganggu. Biasanya ia memang tidak peduli dengan urusan orang lain. Tapi melihat seseorang ditindas seperti itu membuatnya tidak nyaman.

Darrel melirik ke arah Edo yang duduk tidak jauh darinya.

“Kamu punya hak untuk menolak,” ucap Darrel tenang.

Edo menoleh kaget. Seumur hidupnya, hampir tidak pernah ada yang berani membelanya ketika Genta mulai menekan.

Ia membenarkan kacamatanya, lalu menatap Darrel yang hanya memberi anggukan kecil seolah menyemangatinya.

Di sisi lain, Genta mulai tidak sabar.

“Kamu mau kerjakan atau mau cari masalah dengan kami?” ancamnya lagi.

Edo menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar. Namun sekali lagi ia menoleh ke arah Darrel yang masih menatapnya seakan berkata jangan takut.

Akhirnya Edo menarik napas dalam.

“Untuk kali ini… aku tidak akan mengerjakan tugas kalian lagi,” katanya tegas.

Sontak Genta dan kawan-kawannya terdiam. Penolakan itu seperti tamparan bagi mereka.

Tatapan Genta langsung beralih pada Darrel.

Anak itu menyipitkan mata, lalu tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak terlihat bersahabat.

“Ooh… jadi kamu yang ngajarin dia berani, ya?” gumam Genta pelan.

Darrel membalas tatapannya tanpa gentar, karena baginya ini sungguh tidak adil untuk Edo yang setiap hari harus mengerjakan tugas Genta dan kawan-kawannya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Jam pelajaran akhirnya hampir berakhir. Satu per satu murid mulai mengumpulkan tugas mereka dengan tertib. Kertas-kertas jawaban itu ditumpuk rapi di meja guru.

Berbeda dengan Genta dan kawan-kawannya. Setelah gagal mendapatkan contekan, mereka hanya mengisi jawaban dengan asal-asalan sebelum akhirnya ikut menumpuk tugas di bagian paling akhir.

Setelah memastikan semua murid telah mengumpulkan tugasnya, Pak Irwan mulai memeriksa lembar jawaban itu satu per satu. Ia ingin langsung memberikan penilaian.

Namun saat matanya sampai pada kertas milik Genta, dahinya langsung berkerut. Hampir semua jawaban terlihat ditulis sembarangan. Dari nomor pertama hingga terakhir, tidak satu pun yang benar.

“Genta,” panggil Pak Irwan.

“Iya, Pak,” sahut Genta pelan sambil menunduk.

“Sini, ke depan,” perintah Pak Irwan.

Genta bangkit dari kursinya. Sebelum melangkah maju, ia sempat melirik tajam ke arah Edo. Seolah-olah semua ini terjadi karena anak itu menolak memberinya contekan.

Ketika ia sudah berdiri di depan meja guru, Pak Irwan menatapnya dengan serius.

“Kamu ini sebenarnya mendengarkan atau tidak saat Bapak menjelaskan? Masa semua jawabanmu asal seperti ini?”

Beberapa murid langsung tertawa kecil melihat kertas jawaban itu.

“Sudah, diam! Ini bukan lelucon,” tegur Pak Irwan tegas.

Suasana kelas kembali hening.

Pak Irwan kembali menatap Genta.

“Bagaimana Bapak mau memberi nilai kalau jawabanmu seperti ini?”

“Maaf, Pak,” ucap Genta lirih.

“Bukan hanya minta maaf. Mulai sekarang kamu harus lebih rajin belajar. Bapak tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi.”

Genta mengangguk pelan, seolah mengerti. Namun di dalam hatinya, rasa malu bercampur dengan amarah yang perlahan tumbuh.

“Sudah, sekarang kamu duduk kembali,” perintah Pak Irwan.

Genta kembali ke bangkunya. Langkahnya terlihat tenang, tetapi tatapannya dingin. Matanya bergantian menatap Edo dan Darrel.

Dua anak yang, menurutnya, telah membuat dirinya dipermalukan di depan seluruh kelas.

Tanpa mereka sadari, di dalam benak Genta mulai tumbuh sebuah rencana. Rencana yang kali ini tidak akan sesederhana sebelumnya.

Bersambung .....

Selamat Pagi semoga suka ...

1
Soraya
lanjut
Lisa
Lembutkan hatimu Andin..Nathan sekarang sudah berubah..
kaylla salsabella
lanjut
ria rosiana dewi tyastuti
luka andin msh menganga ya.....
kaylla salsabella
syukur
Oma Gavin
sukurin rasakan kamu nathan makanya jgn goblok dipelihara percaya sama fitnah ibu mu makan itu derajat dan nama baik
Bunda Bagaz
bagus tpi syg up ny dikit.
Lisa
Nathan skrg menyesal tp itu tdk dpt mengembalikan nama baiknya Andin..gmn y hubungan mrk selanjutnya
Nar Sih: moga mereka clbk aja kak
total 1 replies
kaylla salsabella
penyesalan mu tiada artinya nathan🤣🤣
Soraya
lanjut thor
Nar Sih
ahir nya semua terungkap kan ,dan ibu mu dalang dri semua mslh mu dgn andin ,semagat nathan💪
Nar Sih
,saat nya ngk bisa ngelak lgi vivian🤣
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
nah lo vivian🤣🤣
Lisa
Good job Nathan..biar kebenaran terungkap..bahwa ibumu yg memfitnah Andin..
Lisa
Pasti wanita itu disuruh oleh ibunya Nathan..ayo Nathan kamu harus bertindak tegas terhadap ibumu..
Oma Gavin
mampusss kamu vivian kali ini kepercayaan nya nathan terhadap diri mu sudah musnah
Mira Hastati
bagus
kaylla salsabella
eh kemana tuh ular betina tadi...... enak aja main pergi
Ayumarhumah: gak pergi cuma mundur
total 1 replies
Oma Gavin
nah diusut juga kejadian pagi ini pasti juga ulah ibumu jgn terus bodoh dikadalin ibumu kamu nathan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!