Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takhta di Atas Pasir
Keheningan di kediaman Jakarta Selatan itu kini bukan lagi keheningan yang menindas bagi Gendis, melainkan keheningan yang fungsional. Gendis duduk di ruang tengah, lampu utama sengaja ia matikan, menyisakan lampu sudut yang berpendar temaram.
Di pangkuannya, sebuah laptop menyala dengan tingkat kecerahan rendah. Jemarinya menari di atas trackpad, membuka satu per satu mutasi rekening koran yang berhasil ia akses melalui portal perbankan prioritas yang selama ini ia abaikan karena percaya penuh pada Indra.
Sebagai mantan analis kredit korporat, mata Gendis adalah pemindai yang mematikan. Ia melihat pola yang sangat rapi, namun sekaligus ceroboh bagi mata yang terlatih. Ada penarikan tunai konsisten setiap hari Jumat di ATM yang berdekatan dengan area Senopati dan Kemang. Ada pula pembayaran kartu kredit untuk tagihan di butik-butik kelas menengah atas yang Gendis tahu persis ia tidak pernah menginjakkan kaki di sana.
"Tiga puluh juta untuk tas brand Paris di bulan lalu? Dan aku masih memakai tas yang sama sejak pernikahan kita tahun kedua," bisik Gendis pada kegelapan.
Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang getir. Indra tidak hanya berselingkuh secara fisik, ia melakukan korupsi domestik. Dana yang seharusnya menjadi simpanan masa depan, atau mungkin dana pendidikan anak yang selama ini mereka tangisi ketidakhadirannya, justru mengalir ke urat nadi kehidupan malam seorang wanita bernama Cindy.
Gendis menutup laptopnya perlahan saat mendengar suara notifikasi pesan masuk di ponselnya. Pukul setengah sebelas malam.
“Dis, sepertinya meeting-nya lanjut sampai subuh. Klien Jepang ini bersikeras untuk ditemani ke karaoke dan setelah itu ada jamuan makan pagi sekalian tanda tangan MoU. Aku tidak pulang ya, Sayang. Capek sekali, mungkin aku akan langsung mandi di kantor saja besok pagi. I love you, sleep tight.”
Gendis menatap layar itu tanpa ekspresi.
"Love you," katanya datar, menirukan tulisan itu dengan nada mengejek. Ia tidak membalas. Ia ingin membiarkan Indra merasa bahwa Gendis sudah tertidur pulas dalam kepatuhan yang membosankan.
Di sisi lain kota, di dalam kabin mobilnya yang mewah, Indra menyandarkan punggungnya dengan helaan napas lega. Ia melemparkan ponselnya ke dasbor. Di sampingnya, Cindy duduk dengan gaun merah ketat yang memamerkan lekuk tubuh yang berani. Aroma parfum vanilla sintetis yang manis dan memuakkan kini memenuhi kabin mobil, namun bagi Indra, itu adalah aroma kebebasan.
"Gimana, Sayang? Istri di rumah sudah aman?" tanya Cindy dengan suara manja yang dibuat-buat, jemarinya yang berkuku panjang dan dicat emas mengelus rahang Indra.
Indra tertawa, tawa seorang pria yang merasa telah berhasil menaklukkan dunia dan seisinya.
"Aman. Gendis itu wanita baik-baik, Cin. Saking baiknya, dia agak sedikit polos. Dia percaya saja kalau aku bilang meeting sampai pagi. Baginya, aku adalah pahlawan yang bekerja keras demi keluarga."
"Kasihan ya," cetus Cindy sambil terkikik, meskipun matanya hanya tertuju pada jam tangan mewah yang melingkar di tangan Indra, jam yang sama yang akan ia minta sebagai hadiah bulan depan. "Tapi kamu juga kerja keras kan buat aku?"
Indra mencubit pipi Cindy dengan gemas. Malam ini, egonya melambung setinggi langit. Di rumah, ia merasa tertekan. Setiap sudut rumah mewahnya seolah mengingatkannya pada kegagalan menjadi seorang ayah.
Tatapan lembut Gendis seringkali ia terjemahkan sebagai tuntutan bisu akan keturunan. Keheningan rumah itu seperti hakim yang terus-menerus menjatuhkan vonis bahwa hidupnya tidak sempurna.
Namun bersama Cindy, Indra merasa menjadi Raja. Di kelab malam, dengan uang yang ia hamburkan, ia mendapatkan pemujaan instan. Cindy tidak pernah bertanya kapan mereka akan punya anak. Cindy tidak pernah menanyakan laporan keuangan atau masa depan. Cindy hanya memberikan kesenangan tanpa syarat, selama kartunya masih bisa digesek.
"Malam ini kita ke apartemenmu saja, ya? Aku malas kalau harus bangun pagi-pagi di hotel," ujar Indra.
"Tentu, Sayang. Apa pun buat kamu," jawab Cindy, menyandarkan kepalanya di bahu Indra.
Indra memutar kemudi menuju kawasan apartemen elit di Jakarta Barat, tempat yang ia sewa atas nama perusahaan fiktif yang ia buat setahun lalu. Di kepalanya, ia merasa berada di atas angin. Ia merasa telah melakukan "kejahatan sempurna".
Ia punya istri yang setia dan suci di rumah untuk menjaga citranya sebagai pria berkeluarga yang sukses, dan ia punya pelarian yang panas untuk memuaskan egonya.
Ia tidak sadar, bahwa di saat ia merasa paling berkuasa, Gendis baru saja mengirimkan draf surel ke sebuah firma hukum ternama milik sahabat karib ayahnya.
Gendis tidak tidur. Ia bangkit dari sofa, berjalan menuju dapur, dan menuangkan segelas air putih. Ia menyesapnya perlahan, membiarkan rasa dingin menyegarkan pikirannya.
Ia mulai menyusun daftar prioritas. Langkah pertama tentu saja pemisahan aset. Gendis tahu, jika ia langsung menggugat cerai sekarang, Indra yang licik pasti akan menyembunyikan sisa hartanya atau mengalihkan aset-aset strategis. Ia harus bergerak seperti siluman.
Langkah kedua mengumpulkan bukti perzinaan. Di Indonesia, bukti visual dan saksi adalah kunci. Ia butuh bukti bahwa Indra tinggal satu atap dengan wanita lain, bahkan jika itu hanya untuk satu malam.
Gendis mengambil ponsel keduanya, sebuah ponsel lama yang ia aktifkan kembali. Ia membuka aplikasi pelacak yang diam-diam ia pasang di ponsel Indra saat suaminya itu mandi dua hari lalu. Titik merah di layar ponselnya menunjukkan keberadaan Indra di sebuah kompleks apartemen di Jakarta Barat.
"Apartemen Park View," gumam Gendis. "Jadi di sana kamu menyembunyikannya, Mas."
Gendis merasa ada bagian dari dirinya yang hancur setiap kali ia menemukan fakta baru, namun bagian lain yang lebih besar justru mengeras.
Rasa sakit itu kini bermutasi menjadi kekuatan kalkulatif. Ia teringat kembali masa-masanya di bank. Saat menghadapi debitur nakal yang mencoba menyembunyikan jaminan, Gendis tidak pernah menyerang dari depan.
Ia akan memotong jalur likuiditas mereka terlebih dahulu. Ia akan membuat mereka terjepit hingga tidak punya pilihan selain menyerah.
Ia berjalan ke arah lemari besi di ruang kerja Indra. Ia tahu kombinasi angkanya, tanggal lahir ibu Indra, sosok yang selalu dipuja suaminya itu. Klik. Pintu brankas terbuka.
Di dalamnya, terdapat beberapa sertifikat tanah, buku tabungan, dan paspor. Gendis tidak mengambil semuanya. Ia hanya mengambil paspor Indra dan beberapa dokumen kepemilikan aset yang belum dipindahkan ke nama perusahaan. Ia memotret setiap lembar dokumen itu dengan presisi tinggi.
"Kamu bilang aku polos, Mas?" bisik Gendis sambil menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding ruang kerja. "Aku hanya memberimu tali yang cukup panjang untuk kamu gunakan menjerat lehermu sendiri."
Pukul tujuh pagi. Matahari kembali muncul, menyinari Jakarta dengan cahaya yang sama menindasnya seperti kemarin. Namun bagi Gendis, cahaya ini adalah lampu sorot yang akan mengungkap semua kebusukan.
Indra pulang pukul sembilan dengan langkah yang dipaksakan tegak.
Ia sudah berganti pakaian. Rupanya ia menyimpan cadangan baju di apartemen Cindy atau di kantornya. Ia tampak segar setelah mandi, namun matanya yang merah tak bisa berbohong bahwa ia kurang tidur karena aktivitas lain.
"Pagi, Sayang," sapa Indra, mencoba mencium pipi Gendis.
Gendis sedikit menghindar dengan gerakan natural, seolah ia sedang sibuk menata meja makan.
"Pagi, Mas. Wah, segar sekali. Jadi meetingnya sukses?"
Indra duduk, menyesap jus jeruk yang sudah disiapkan.
"Sangat sukses. Klien Jepang itu sangat puas. Mungkin bulan depan aku akan dapat promosi ke posisi Direktur Regional. Bayangkan, Gendis, kita bisa pindah ke rumah yang lebih besar lagi."
Gendis tersenyum manis. Senyum yang kini menjadi topeng paling sempurna.
"Wah, hebat ya. Rumah yang lebih besar? Mungkin kita juga butuh asisten rumah tangga yang lebih banyak kalau begitu. Atau mungkin kita butuh penghuni baru agar rumahnya tidak sepi?"
Indra tersedak sedikit. Ia merasa Gendis sedang menyindir soal anak, pembicaraan yang paling ia hindari.
"Iya, iya, kita lihat nanti ya. Aku mau istirahat sebentar sebelum ke kantor lagi jam sebelas."
"Tentu, Mas. Istirahatlah. Kamu pasti sangat lelah melayani klien semalam," kata Gendis dengan nada yang sangat datar namun mengandung makna ganda yang tajam.
Indra tidak menangkap sinyal itu.
Baginya, Gendis tetaplah Gendis yang membosankan, yang dunianya hanya berputar di sekitar vas bunga dan daster. Ia merasa sangat aman. Ia merasa bisa terus melakukan permainan dua wajah ini selamanya.
Saat Indra melangkah naik ke lantai atas untuk tidur sejenak, Gendis mengambil tas tangannya. Ia telah membuat janji temu dengan seorang detektif swasta dan pengacara perceraian paling tajam di Jakarta.
Ia berhenti di depan pintu, menoleh ke arah tangga di mana suaminya baru saja menghilang.
"Nikmati kemenangan sementaramu, Indra," gumam Gendis. "Karena saat aku selesai denganmu, bahkan bayanganmu sendiri pun tidak akan mau menemanimu."
Gendis melangkah keluar rumah dengan kepala tegak. Blazer hitamnya yang tajam kini terpasang kembali di tubuhnya, menutupi daster yang ia lepaskan di dalam kamar. Singa betina itu telah bangun, dan ia siap untuk merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
..