Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Lampu-lampu kristal di ruang tamu utama keluarga Hudson di Beacon Hill berpendar mewah, namun suasananya sedingin makam. Di hadapan Rose Moore, duduk sepasang suami istri yang selama dua tahun ini ia panggil "Ayah" dan "Ibu" dengan ketulusan seorang anak yatim piatu.
Arthur dan Eleanor Hudson duduk dengan punggung tegak, seolah-olah pengkhianatan yang mereka rancang adalah sebuah prestasi bisnis yang patut dibanggakan. Di samping mereka, Asher menunduk lesu, sementara Mia Ruller—istri rahasia itu duduk di kursi sudut dengan senyum kemenangan yang tipis.
"Rose, Sayang," Eleanor memulai dengan suara yang dikalibrasi sedemikian rupa agar terdengar penuh empati, namun Rose bisa mendengar desis ular di baliknya. "Kau wanita yang cerdas. Kau sukses. Tapi kau harus mengerti posisi keluarga kami. Kami butuh penerus yang... tidak memiliki beban masa lalu. Asher butuh istri yang 'utuh' secara sejarah keluarga."
Rose merasakan dadanya berdenyut perih. Ia teringat bagaimana ia memasakkan sup saat Eleanor sakit, bagaimana ia menemani Arthur bermain catur hingga larut malam. Ia telah memberikan hatinya yang tak punya orang tua kepada mereka, hanya untuk dibelah menjadi dua oleh kenyataan bahwa mereka tahu tentang masa lalunya di Texas dan menggunakannya sebagai senjata untuk menyingkirkannya.
"Jadi, karena aku bukan lagi perawan saat menikahi putra kalian, dan karena aku seorang yatim piatu tanpa silsilah yang kalian anggap 'bersih', kalian memaksa Asher menikahi wanita ini secara siri?" Rose bertanya, suaranya setenang permukaan danau yang membeku.
Asher mendongak, matanya kemerahan. "Rose, tolong mengerti. Aku terjepit. Aku tidak pernah ingin meninggalkanmu. Aku ingin kau tetap menjadi istriku di mata publik, di rumah kita. Mia hanya... dia hanya untuk memberikan cucu bagi orang tuaku. Kita bisa tetap seperti dulu. Aku mohon, jangan pergi."
Rose menatap suaminya. Pria yang selama tiga bulan ini menolaknya di tempat tidur dengan alasan lelah, ternyata sedang menghemat energinya untuk wanita lain atas restu orang tuanya sendiri. Sebuah penghinaan yang begitu sistematis hingga rasa sakitnya berubah menjadi sesuatu yang dingin dan keras di dalam perut Rose.
Mia Ruller menyela, suaranya melengking manja. "Lagipula, Rose, kau sudah punya karier. Kau punya Moore Designs. Kau tidak butuh uang keluarga Hudson. Biarkan aku yang mengurus kebutuhan batin dan biologis Asher serta keluarganya, Kalian bisa bercerai."
Rose terdiam cukup lama. Ruangan itu menjadi sangat sunyi hingga suara detak jam kakek di sudut ruangan terdengar seperti hantaman palu.
Lalu, perlahan, bibir Rose Moore tertarik ke atas. Bukan senyum manis yang biasa ia berikan, melainkan sebuah senyum miring yang tajam, senyum yang biasanya ia gunakan saat sedang menghadapi klien konglomerat yang mencoba menawar harga berliannya.
"Bercerai?" Rose bergumam, seolah sedang menimbang kata itu. "Tidak. Itu terlalu mudah bagi kalian."
Eleanor mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Aku menerima pernikahan ini," ucap Rose lantang.
Asher terbelalak, ada binar harapan bodoh di matanya. Arthur dan Eleanor saling berpandangan, merasa kemenangan mereka sudah mutlak. Namun, mereka tidak menyadari bahwa Rose sedang menghunus belati di balik kata-katanya.
"Aku akan tetap menjadi Nyonya Rose Moore Hudson. Istri sah di atas kertas, di depan hukum, dan di depan seluruh pergaulan kelas atas Boston," lanjut Rose, melangkah perlahan mengelilingi ruang tamu itu. "Kalian ingin cucu dari 'darah murni'? Silakan. Tapi ingat ini, di mata hukum negara bagian Massachusetts, setiap aset yang dibeli Asher selama pernikahan kita adalah harta bersama. Setiap sen yang masuk ke rekeningnya adalah milikku juga."
Rose berhenti tepat di depan Mia. Ia menatap wanita itu dari atas ke bawah seolah melihat cacat pada batu permata murah.
"Kau ingin menjadi istrinya, Mia? Silakan. Jadilah istri simpanan yang bersembunyi di bayang-bayang. Kau akan melahirkan anak yang secara hukum akan menyandang status sebagai anak dari suami 'orang lain'. Kau tidak akan pernah bisa mendampingi Asher di gala amal Boston Public Library. Kau tidak akan pernah bisa masuk ke klub-klub elit di mana namaku sudah terukir sebagai anggota tetap."
Rose beralih ke mertuanya. Tatapannya kini penuh kebencian yang murni.
"Ayah, Ibu... terima kasih telah memperlakukanku seperti sampah setelah semua kasih sayang yang kuberikan. Karena aku 'kotor' menurut standar kalian, maka aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi menantu yang manis, bukan?"
"Rose, jaga bicaramu!" bentak Arthur.
"Atau apa?" tantang Rose. "Kalian akan menceraikan ku? Silakan. Aku adalah desainer perhiasan paling dicari di pantai timur. Jika berita tentang poligami paksaan dan pernikahan siri ini sampai ke telinga pers Boston, bayangkan apa yang terjadi pada saham firma pemasaran Asher. Bayangkan reputasi keluarga Hudson yang sangat kalian jaga itu hancur dalam semalam."
Asher memegang tangan Rose, "Rose, aku mohon, jangan begini..."
Rose menepis tangan itu seolah-olah tangan Asher adalah bara api. "Kau ingin aku mengerti, Asher? Aku mengerti sekarang. Aku mengerti bahwa kesetiaanmu bisa dibeli dengan warisan. Jadi, aku akan tinggal. Aku akan tetap di apartemen Back Bay. Aku akan menggunakan setiap fasilitas, setiap sen, dan setiap koneksi nama Hudson untuk memperbesar kerajaanku sendiri."
Ia berjalan menuju pintu keluar, namun berhenti sejenak untuk menoleh.
"Mulai malam ini, Asher, jangan pernah berharap bisa masuk ke kamarku lagi. Bukan karena kau lelah, tapi karena aku merasa jijik. Kau bisa tidur dengan 'kewajibanmu' itu di tempat lain. Tapi ingat, setiap kali kau tampil di publik, kau akan berdiri di sampingku. Kau akan berakting sebagai suami yang memuja istrinya, atau aku akan memastikan tidak ada satu pun firma di Boston ini yang mau memakai jasamu lagi."
Rose melangkah keluar dari rumah besar itu menuju mobilnya. Angin Boston malam itu terasa menyegarkan, bukan lagi dingin yang menyiksa.
Di dalam mobil, ia menggenggam kemudi dengan erat hingga buku jarinya memutih. Air mata sempat mengalir, namun ia segera menghapusnya. Rasa sakit karena dikhianati oleh orang-orang yang ia anggap keluarga tidak akan hilang begitu saja, namun ia menolak untuk menjadi korban yang menangis di pojokan.
Jika mereka menganggap masa lalunya di Texas sebagai noda, Rose akan menunjukkan bahwa noda itu telah mengeras menjadi baja. Ia tidak akan bercerai. Ia akan membiarkan Asher tercekik dalam kebohongannya sendiri. Ia akan membiarkan Mia Ruller merana dalam status "istri kedua" yang tidak akan pernah diakui dunia. Dan ia akan memastikan Arthur serta Eleanor Hudson melihat menantu yang mereka benci ini mengambil alih semua yang mereka cintai: reputasi dan kendali.
Pernikahan ini bukan lagi tentang cinta. Ini adalah tentang strategi. Rose Moore bukan lagi gadis yatim piatu yang melarikan diri dari masa lalu. Ia adalah seorang ratu yang sedang membangun singgasana di atas puing-puing pengkhianatan.
Malam itu, di bawah langit Boston yang gelap, Rose Moore Hudson pulang ke rumahnya. Rumah yang kini menjadi medan perangnya. Ia akan melayani Asher, bukan dengan tubuhnya, tapi dengan kehancuran perlahan yang terbungkus dalam senyuman paling elegan yang pernah dilihat kota itu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰