Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.4 Saudari yang Tak Terikat Darah
Malam itu asrama Akademi Luminiella sudah sepi. Lampu-lampu koridor dimatikan satu per satu, meninggalkan hanya cahaya samar dari obor dinding yang berjarak jauh. Kamar Cae terletak di ujung sayap utara, ruangan kecil dengan satu jendela menghadap taman dalam. Jendela itu terbuka sedikit, membiarkan angin malam masuk membawa aroma bunga malam dan embun.
Cae duduk bersila di atas tikar lantai. Ia mengenakan jubah tidur sederhana berwarna abu-abu muda. Rambut biru tuanya terlepas dari ikatan, jatuh menutupi bahu. Di depannya ada mangkuk kecil berisi teh herbal yang sudah mulai dingin. Uap tipis masih naik dari permukaannya. Ia memegang mangkuk itu dengan kedua tangan, tapi tidak minum. Hanya memandang permukaan teh yang bergoyang pelan setiap kali ia bernapas.
Ely dan Nyx duduk di hadapannya. Ely bersandar ke dinding, kakinya dilipat, katana diletakkan di samping kanan. Nyx duduk dengan lutut ditekuk ke dada, ekornya melingkar di sekitar kaki. Telinganya bergerak kecil setiap kali mendengar suara samar dari koridor.
Kamar itu tidak besar. Hanya cukup untuk tiga orang duduk saling berhadapan tanpa merasa sempit. Cahaya dari lampu minyak di sudut ruangan membuat bayangan mereka memanjang di dinding kayu. Suasana terasa hangat meskipun udara malam dingin.
Cae menatap keduanya bergantian. Ia menarik napas pelan. “Terima kasih sudah mau datang malam ini. Aku… ingin bicara. Bukan tentang proyek. Tentang kita.”
Ely mengangguk kecil. Ia tidak bicara. Hanya menunggu. Nyx memiringkan kepala sedikit. Ekornya bergerak pelan, seperti sedang menunggu juga.
Cae menatap mangkuk tehnya. Jari-jarinya mengelilingi pinggir mangkuk. “Aku tahu kita baru saja mulai latihan proyek. Tapi aku merasa… kita sudah lebih dari sekedar kelompok tugas. Kalian berdua sudah banyak membantu aku. Tidak hanya dalam tugas. Tapi dalam hal lain juga.”
Ia berhenti sejenak. Dada terasa sedikit sesak. Ia menarik napas lagi. “Di akademi ini, aku sering merasa sendirian. Banyak siswa yang ramah di permukaan, tapi aku tahu mereka melihatku sebagai ‘putri keluarga Fulvus’. Bukan sebagai Caeril. Aku selalu merasa harus membuktikan sesuatu. Harus sempurna. Harus tidak membuat kesalahan. Tapi dengan kalian… aku tidak perlu membuktikan apa-apa. Kalian menerima aku apa adanya.”
Ely menatap Cae dengan mata yang tenang. Ia mengangguk pelan. “Kau tidak perlu membuktikan apa-apa pada kami. Kami sudah tahu siapa kau.”
Nyx mengangguk cepat. Ia menggeser posisi lebih dekat. Ekornya menyentuh lutut Cae. “Kak Cae baik. Kak Cae selalu peduli pada kami. Aku senang punya Kak Cae. Dan Kak Ely.”
Cae tersenyum kecil. Senyum yang lemah tapi tulus. Ia menatap Nyx. “Kau sudah berubah banyak sejak pertama kali aku bertemu. Tapi kau tetap sama. Kau tetp gadis yang suka tersenyum meskipun takut. Kau tetap gadis yang selalu berusaha melindungi orang lain. Aku… aku belajar banyak darimu.”
Nyx menunduk. Pipinya sedikit merona. Ekornya melengkung lebih erat. “Terima kasih, Kak Cae. Aku juga belajar banyak dari kalian berdua. Dari Kak Ely yang selalu tenang. Dari Kak Cae yang selalu berusaha keras.”
Ely tersenyum tipis. Ia mengusap rambut Nyx pelan. “Kita bertiga sudah melewati banyak hal bersama. Nocturne. Festival. Latihan. Kita sudah seperti keluarga.”
Cae menatap Ely. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia cepat mengusap mata dengan punggung tangan. “Aku… aku juga merasa bgitu. Kalian berdua sudah menjadi saudari bagiku. Saudari yang tidak terikat darah. Tapi terikat hati.”
Ruangan terasa lebih hangat. Lampu minyak berkedip pelan. Cahaya oranye menerangi wajah mereka bertiga. Mereka diam sejenak. Hanya mendengar suara angin malam yang masuk dari celah jendela. Suara daun yang bergesekan. Suara napas masing-masing.
Cae menarik napas lagi. Ia menatap keduanya. “Aku ingin kita berjanji. Apa pun yang terjadi di masa depan, apa pun tugas atau masalah yang datang, kita tetap bersama. Kita tidak meninggalkan satu sama lain. Kita saling melindungi. Seperti saudari.”
Ely mengangguk pelan. Ia mengulurkan tngan kanan. “Aku janji.”
Nyx mengulurkan tangan kanannya juga. “Aku janji.”
Caeril mengulurkan tangan kanannya. Tangan mereka bertiga bertemu di tengah. Genggaman itu hangat. Kuat. Tapi lembut.
“Kita bertiga selamanya,” kata Cae pelan. Suaranya hampir berbisik.
Ely tersenyum kecil. “Selamanya.”
Nyx tersenyum lebar. Ekornya melengkung tinggi. “Selamanya!”
Mereka diam sejenak. Genggaman itu tidak langsung dilepas. Mereka hanya duduk bersama. Mendengar suara angin malam. Mendengar suara napas masing-masing. Mendengar suara hati mereka yang berdetak hampir bersamaan.
Cae merasa dada terasa lebih ringan. Rasa sesak yang selama ini ada mulai hilang. Ia tahu… ia tidak lagi sendirian. Ia punya Ely. Ia punya Nyx. Ia punya saudari yang tidak terikat darah.
Ia menatap mereka berdua. Ely yang tenang. Nyx yang skarang lebih tinggi tapi tetap sama. Mereka sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bagian yang tidak bisa ia lepaskan.
Ia tersenyum kecil. Senyum yang tulus.
Malam masih panjang. Tapi kali ini, ia tidak merasa takut.
Karena ia punya mereka.
Dan mereka punya dia.