NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Pukul empat pagi, lorong IGD sudah mulai sepi. Suara mesin monitor jantung dan langkah kaki perawat yang sesekali lewat menjadi latar belakang kesunyian yang mencekam. Aku terbaring lemah dengan selang infus yang terasa dingin di pembuluh darahku. Efek obat penurun panas membuat kesadaranku mengambang, antara terjaga dan mimpi.

Danesha tampak tertidur pulas di kursi tunggu kayu di samping ranjangku, kepalanya bersandar pada dinding kusam rumah sakit.

Tiba-tiba, pintu geser IGD terbuka pelan. Seseorang masuk dengan langkah yang sangat berhati-hati, seolah takut memecah kesunyian. Sosok itu mengenakan jaket hoodie hitam, tudungnya menutupi sebagian wajah, namun aku tidak butuh mata yang terang untuk mengenalinya. Aroma parfum woody yang bercampur dengan bau hujan yang mengering itu adalah milik Baskara.

Ia berhenti tepat di kaki ranjangku. Aku memejamkan mata rapat-rapat, berpura-pura masih terlelap dalam pengaruh obat. Aku tidak ingin dia tahu aku sadar. Aku tidak ingin melihat tatapan bencinya di tempat sekeramat ini.

Aku merasakan hembusan napas panjang yang berat. Baskara melangkah mendekat ke sisi kepalaku. Tangannya yang besar dan hangat—tangan yang dulu selalu menggenggamku dengan sabar—terulur ragu. Ia sempat berhenti di udara, sebelum akhirnya memberanikan diri menyentuh keningku sebentar untuk memastikan suhu tubuhku.

"Bodoh," bisiknya sangat lirih, hampir tidak terdengar. "Kenapa selalu keras kepala dan menyiksa diri sendiri, Aruna?"

Suaranya tidak lagi dingin seperti di kantor. Ada gema kerapuhan yang sangat nyata di sana. Ia membenahi letak selimutku yang sedikit merosot, menyelipkan ujungnya ke bawah bahuku dengan gerakan yang sangat familiar. Gerakan yang selalu ia lakukan selama dua tahun kami bersama.

"Dulu aku yang sakit karena kamu abaikan," suaranya kembali terdengar, kali ini lebih berat. "Sekarang melihatmu seperti ini... kenapa rasanya masih sama sakitnya?"

Aku menggigit bibir bagian dalamku, berusaha sekuat tenaga agar air mataku tidak lolos. Gema rasa bersalah ini terasa mencekik. Dia di sini, di jam sepagi ini, diam-diam datang hanya untuk memastikan aku baik-baik saja, sementara di rumah sana ada wanita lain yang menunggunya.

Baskara berdiri di sana cukup lama, hanya menatapku dalam diam. Ia tidak menyentuhku lagi. Ia hanya berdiri seperti penjaga yang sedang berpamitan pada sesuatu yang sudah lama hilang.

Tepat saat Danesha bergerak dalam tidurnya, Baskara langsung menarik diri. Ia melangkah mundur dengan cepat dan keluar dari IGD secepat ia datang. Pintu geser itu tertutup dengan bunyi desis pelan.

Aku membuka mata, menatap langit-langit IGD yang putih pucat. Air mataku akhirnya jatuh, membasahi bantal rumah sakit yang keras. Baskara masih peduli, namun kepeduliannya adalah racun bagi rasa bersalahku. Aku baru menyadari bahwa memaafkan diri sendiri jauh lebih sulit daripada menerima kebencian dari orang lain.

Suara desis pintu yang menutup di balik kepergian Baskara masih menyisakan getaran di dadaku saat tirai di sekeliling ranjangku disingkap. Aku segera menyeka air mata dengan punggung tangan yang tidak terinfus, berusaha memasang wajah datar sebelum seorang dokter paruh baya dan seorang perawat mendekat.

"Selamat pagi, Mbak Aruna. Sudah bangun?" sapa dokter itu sambil memeriksa papan jalan di tangannya.

Danesha tersentak bangun, mengusap matanya dengan bingung sebelum segera berdiri di sampingku. "Dok? Bagaimana hasilnya? Panasnya sudah turun sedikit, kan?"

Perawat di samping dokter memeriksa suhu tubuhku dengan termometer dahi. "38,5 derajat. Masih demam, tapi sudah jauh lebih baik dibandingkan saat datang tadi yang mencapai 40 derajat," lapor perawat itu.

Dokter itu mengangguk, lalu menatapku dengan serius. "Mbak Aruna, hasil laboratorium menunjukkan ada infeksi pada saluran pernapasan yang diperparah dengan kondisi fisik yang sangat kelelahan—atau exhausted. Tubuh Mbak sedang memberi sinyal bahwa stres dan kurang istirahat sudah mencapai batasnya."

Aku hanya terdiam, mendengarkan gema diagnosa itu yang terasa sangat tepat sasaran. Batas fisikku mungkin baru saja runtuh, tapi batas mental dan rasa bersalahku sudah lama hancur.

"Kami akan memberikan antibiotik melalui infus dan Mbak harus diobservasi setidaknya sampai sore nanti. Jika stabil, Mbak boleh pulang dengan catatan: istirahat total. Tidak boleh ada tekanan pekerjaan, apalagi sampai kehujanan lagi," lanjut dokter itu dengan nada tegas.

"Dengar itu, Na? Istirahat total," Danesha menyindirku sambil menatapku tajam. "Nanti saya pastikan dia tidak menyentuh laptopnya, Dok."

Setelah dokter dan perawat pergi, Danesha menghela napas panjang. Ia menatapku dengan tatapan menyelidik. "Tadi... sepertinya ada orang di sini sebelum dokter datang. Aku seperti mendengar suara pintu dan langkah kaki."

Aku membuang muka, menatap cairan infus yang menetes lambat satu per satu. "Mungkin perawat lain, Dan. Aku tidak tahu."

Aku memilih untuk merahasiakan kehadiran Baskara di jam empat pagi tadi. Biarlah kepedulian diam-diam itu terkubur bersama dinginnya ruang IGD. Aku tidak ingin memberi harapan pada rasa bersalahku sendiri, karena semakin aku tahu dia masih peduli, semakin aku merasa tidak pantas untuk sekadar bernapas di dekatnya.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!