Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tiba jadi orang lain
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Luna masih terjaga dengan kacamata yang bertengger diatas hidungnya. Matanya sebenarnya sudah menyipit tapi masih ia usahakan tetap terbuka.
"Kurasa ini sudah benar semua," katanya menilik satu persatu lembaran kertas lalu menyamakannya dengan data di laptopnya.
Lama-kelamaan mata Luna sudah tidak bisa diajak kompromi. Kepalanya terjatuh diatas meja diantara tumpukan tugasnya. Ia memejamkan mata merasakan nyamannya tidur. Mulutnya sedikit terbuka tanpa sadar.
Tepat pukul dua belas malam, jam dindingnya berdenting. Pelan namun cukup mengejutkan. Luna yang dalam tidurnya bisa mendengar suara jam tersebut bermaksud bangun namun matanya masih terpejam dan sulit dibuka.
Ia ingin bergerak namun ia merasa tubuhnya jatuh. Dalam hati ia bersiap akan merasakan sakitnya benturan di lantai.
Dan benar saja, dalam hitungan detik ia merasakan tubuhnya sakit semua terutama di bagian dada dan perutnya juga terasa diaduk-aduk.
Luna membuka matanya, sesak di dadanya tidak tertahankan. Dalam benaknya berpikir jika jatuh bukankah bagian belakangnya yang sakit ?
"Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan," sebuah suara mengejutkan Luna. Ia yang sudah membuka matanya begitu terlonjak saat melihat pria tampan di depannya. Duduk sangat dekat dengannya.
Luna menatap kesana dan kemari. Sebuah ruangan asing yang bau apek ia lihat. Mana kamarnya yang penuh pernak-pernik gadis berwarna merah muda. Tidak ada lonceng keberuntungannya di dekat jendela, juga meja belajar tempatnya tidur terakhir kali.
Ia yakin ini mimpi, ia belum sepenuhnya sadar dari tidurnya yang tidak disengaja. Namun genggaman tangan pria di depannya menyadarkannya.
"Annette, kau kenapa ?" tanyanya sembari mengelus pipi Luna.
Luna menatap pria itu. Pria yang begitu tampan dengan rahang tegas dan alis tebal. Hidungnya mancung dan kulitnya putih. Rambut blondenya yang acak-acakan itu menambah ketampanannya.
"Si siapa kau ?" tanya Luna terlonjak. Ia bangun dari tempatnya tidur lalu tidak sengaja terjatuh ke bawah ranjang.
"Aduh..." adunya merasakan tubuhnya yang semakin nyeri.
"Annette, hati-hati. Apa yang kau lakukan ?" pria itu menghampiri Luna lalu mengangkatnya kembali keatas tempat tidur.
'Annette ? Siapa Annette ? Aku Luna kan ?' gumam Luna berperang dengan pikirannya sendiri.
"Aku akan mengambil sarapan untukmu," pria itu berlalu setelah memastikan Luna baik-baik saja.
Setelah pria itu pergi, Luna bangkit dari tempat tidur. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia berjalan tertatih kesana-kemari memutari ruangan kecil seperti kamar ini.
Hanya ada ranjang kayu tempatnya tidur yang sudah reot dan berbunyi saat dinaiki. Lemari kayu yang hampir lapuk, dinding kayu yang terdapat beberapa sarang laba-laba di beberapa sudut serta lantainya, apa ini. Luna tidak tau ini tanah yang dipadatkan ataukah batu yang dihancurkan.
Ada sebuah jendela yang cukup lebar mengarah keluar. Luna membuka kain penutup nya yang hanya dipasang menggunakan paku.
Angin segar menyapu wajah Luna. Bau kebebasan tercium di hidungnya. Pemandangan yang ia lihat adalah hamparan tanah yang yang luas serta tumbuhan ilalang dan rumput liar. Di beberapa tempat terlihat seperti sayuran timun dan wortel yang mulai berbuah.
"Aku dimana ? Aku tidak mungkin terdampar di dimensi waktu yang lain kan ?" tanya nya mencerna kebingungan. Ia tidak percaya dengan hal semacam itu. Semua itu hanya ada dalam drama dan novel saja.
"Cermin," ia mengingat satu hal. Ia belum melihat wajahnya sama sekali. Ia melihat tubuhnya memakai gaun sederhana yang cukup bagus ala-ala abad ke 19 yang biasanya ia lihat di teater. Para wanita zaman dulu sangat anggun mengenakan gaun seperti ini.
"Bagus juga gaun ini," katanya berputar-putar. Ia senang melihat bagian bawah roknya yang membentuk gelombang.
"Aduh duh..." gerakannya terhenti ketika merasa dadanya sakit lagi. Dan ia terpaksa duduk dilantai bata.
"Annette, ini makanan mu," pria tadi datang membawakan Luna makanan. Luna melihat ada roti gandum yang diberi olesan mentega diatasnya, kentang yang dikukus dan secangkir teh dengan aroma buah.
"Kau siapa ?" tanya Luna mencoba berdiri. Ia menahan rasa sakit yang terus menyerang dadanya.
Pria itu mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Luna. "Aku Leon. Aku suamimu. Apa kau Lupa ?" jawabnya seraya menyentuh pipi Luna kembali.
"Suami ?" teriak Luna tidak percaya.
"Cermin. Dimana cermin ?" tanya Luna terburu-buru.
Leon meletakkan nampan berisi makanan lalu pergi ke depan lemari dan meraba atasnya. Ia menyerahkan sebuah cermin kecil dengan bingkai kayu yang sedikit buram pada Luna.
"Ini cermin ?" tanya Luna tidak percaya. Bagaimana melihat wajahnya dengan jelas. Pantulan nya sangat buram. Tapi sedikit demi sedikit Luna bisa melihat ini adalah wajahnya.
Matanya, bibirnya yang tipis, hidungnya yang sama mancungnya, namun pipinya sedikit tirus dari miliknya sebelumnya juga tidak ada tahi lalat dibawah mata kirinya.
"Ini aku ?" gumamnya dengan pelan. Tangannya meraba wajahnya yang memang mirip wajahnya.
"Aku dimana ?" ucapnya lagi sambil menangis.
"Annette, kau mengatakan sesuatu ? apa dadamu terasa sakit lagi ?" tanya Leon. Ia merangkul Luna dan mengajaknya mendekati tempat tidur.
"Ini dimana ?" tanya Luna dengan suara tersendat.
"Ini di rumah kita. Maaf ini di rumah perkebunan. Kita sudah menikah selama dua bulan. Apa kau lupa ?" tanya Leon heran.
'Apa penyakit yang di derita Annete semakin parah sampai melupakan beberapa hal,' gumam Leon.
"Namaku Annette ?" tanya Luna memastikan. Sebab sejak tadi pria itu memanggilnya dengan nama Annette.
"Iya, namamu Annette. Aku Leon suamimu. Kenapa tiba-tiba kau lupa ?" tanya Leon heran. Tapi ia tetap menjelaskan agar istrinya mengerti.
Luna mengangguk. Jadi sekarang ia berada di dalam tubuh seorang wanita bernama Annette dan dia sudah bersuami.
Diam-diam Luna tersenyum, Leon sangat tampan benar-benar membuat mata Luna menjadi segar.
"Aww.." teriak Luna ketika merasa dadanya semakin sakit.
"Annette, kau merasa sakit lagi" Leon mengelus dada Luna dan itu membuat jantung Luna berdebar tidak karuan.
"Aku kenapa ?" tanya Luna pelan. Ia merasa tenggorokannya juga panas. Apa ia sedang menderita suatu penyakit dan segera tiada ?
'Sayang sekali jika aku mati meninggalkan suami setampan ini,' gumam Luna bersedih. Ia bertanya-tanya untuk apa ia terlempar ke dimensi yang berbeda jika akan tiada.
"Kau sakit sejak satu minggu yang lalu, Annette. Tapi kau selalu menolak tiap ku ajak berobat," kata Leon.
Leon menjelaskan semua yang terjadi selama satu minggu terakhir. Tepatnya ketika Annette mulai merasakan sakit. Karena Leon berpikir mungkin Annette melupakan semua itu karena sakitnya.
Luna mendengarkan penjelasan Leon. Matanya menyipit ketika menangkap sesuatu yang janggal.
Beberapa ingatan seperti potongan film mulai bermunculan di benaknya. Tentang seorang wanita yang bernama Vivian tersenyum sinis padanya. Seorang wanita yang lebih muda lagi bernama Emilie yang selalu memprovokasi nya.
"Leon, aku diracun. Bagaimana bisa kau tidak tau ?" sentak Luna saat ia mengingat jika satu minggu yang lalu ia makan makanan yang diberikan oleh Vivian, ibu tirinya.
...
Assalamualaikum teman-teman othor yang baik. Ini novel transmigrasi othor yang kedua ya. Lagi pingin bikin cerita era abad ke-19.
Mohon maaf kalau banyak salahnya. Semua kritik dan saran akan othor tampung semua, tolong sampaikan dengan bahasa yang baik. Makasih🫶☺️😍😍♥️
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪