NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 - Galeri Arfan

Pagi itu di sekolah, suasana kelas XII terasa sedikit lebih ringan karena ada agenda kunjungan ke galeri seni. Guru seni mereka tampak begitu antusias menceritakan sosok pelukis muda yang sedang naik daun, yang kabarnya adalah alumni sekolah mereka juga. Aura hanya diam, ada perasaan tidak enak yang merambat di tengkuknya, namun ia mencoba menepisnya.

Begitu bus sekolah sampai di depan bangunan megah berpilar putih itu, Aura dan Zahra melangkah masuk. Namun, ketenangan Aura hancur seketika saat matanya tertuju pada sebuah kanvas raksasa di tengah aula.

"Ra... bentar, bentar. Kok lukisan ini... lo banget?" Zahra menarik lengan baju Aura, matanya membelalak menatap gadis berkerudung putih yang tersenyum tulus di dalam bingkai emas itu.

Aura terpaku. Itu senyumannya di perpustakaan. Detik itu juga, suara bariton yang sangat ia kenali menggema di ruangan.

"Selamat datang semuanya di galeri saya."

Arfan berdiri di sana, terlihat sangat sempurna dengan senyum formalnya. Aura merasa mual dan gemetar. Dunia seolah berputar. Tanpa pikir panjang, ia berbisik pada Zahra. "Zah, gue ke toilet bentar ya, mual banget." Wajahnya sudah sepucat kertas. Tanpa menunggu balasan Zahra, ia lari menghindari kerumunan, mencari udara segar yang seolah hilang dari paru-parunya.

Di sebuah lorong sepi yang aromanya tercium seperti campuran cat minyak dan mawar kering, Aura menghentikan seorang petugas. "Mas, toilet di mana ya?" tanyanya dengan napas yang memburu. Petugas itu, tanpa ekspresi, hanya menunjuk ke sebuah pintu kayu besar di ujung lorong.

Aura mendorong pintu itu, berharap menemukan

air dingin untuk membasuh wajahnya. Namun, begitu pintu tertutup, suara riuh dari galeri luar mendadak lenyap. Hening. Hanya ada suara detak jantung Aura yang berpacu liar.

Ia tidak berada di toilet. Ia berada di sebuah studio pribadi yang luas, namun gelap dan pengap. Aura memutar tubuhnya, hendak keluar, namun suara kunci yang diputar membuat dunianya runtuh seketika.

"Selamat datang di dunia saya, Aura."

Arfan muncul dari balik bayang-bayang kanvas besar. Ia berdiri di sana, sangat tenang, seolah penyekapan ini adalah hal paling wajar di dunia. Aura melangkah mundur, namun kakinya justru membentur sebuah penyangga lukisan. Ia menoleh, dan air matanya langsung luruh.

Di hadapannya, terpampang lukisan dirinya yang sedang menangis tersedu-sedu. Detailnya begitu nyata, mata yang sembab, bibir yang bergetar, hingga butiran air mata yang jatuh di atas pipinya. Itu adalah Aura di titik terlemahnya.

"Saya merindukanmu, Aura," ucap Arfan, suaranya lembut namun dingin, seperti embusan angin malam di kuburan. "Saya juga sangat merindukan senyumanmu kepada saya, melihat senyum yang murni, seperti yang saya abadikan di ruang depan. Dan sekarang, kamu sedang melihat karya terbaru saya."

Arfan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Aura terdesak hingga punggungnya menempel pada pintu yang terkunci.

"Mungkin nanti saya akan membuat lagi lukisan yang jauh lebih megah," Arfan mengulurkan tangan, jemarinya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aura yang gemetar. "Lukisan saat kamu memakai baju pengantin... putih, bersih, tanpa noda. Saat kamu akhirnya bersanding di pelaminan dengan saya nanti."

"Lo... lo gila, Kak! Buka pintunya! Gue mau keluar!" teriak Aura histeris. Ia mencoba meraih gagang pintu, mencoba mendobraknya dengan bahunya yang kecil.

Arfan dengan cepat mengunci pergerakan Aura. Ia menekan telapak tangannya ke pintu, tepat di samping kepala Aura, membuat gadis itu terperangkap di antara lengan tegapnya. Saat Aura memukul dada Arfan dalam upaya putus asa untuk melepaskan diri, Arfan justru memejamkan matanya, menghirup aroma ketakutan yang menguar dari tubuh Aura.

"Kamu menyentuh saya lagi, Aura?" Arfan berbisik tepat di telinga Aura, membuat gadis itu merinding hebat. "Apakah sentuhan ini adalah tanda bahwa kamu ingin segera menikah dengan saya? Jujur, saya sangat ingin memelukmu sekarang, meredam tangis itu di dada saya. Tapi saya tahu batasan. Kita belum halal, dan saya tidak ingin merusak kesucianmu."

Aura terisak hebat. "Kesucian apa? Lo lagi hancurin hidup gue, Kak! Buka!"

Arfan hanya tersenyum tipis, sebuah senyum penuh rahasia yang mengerikan. Ia merogoh kunci dari sakunya, namun tidak langsung membukanya.

"Nanti saya akan memberikan kado yang menurut saya sangat indah untukmu, Aura. Sesuatu yang akan memastikan kamu tetap berada di sini, dalam jangkauan saya. Tapi mungkin... kamu akan menangis setelah menerimanya."

Klik.

Pintu terbuka. Cahaya dari lorong masuk, menyinari wajah Aura yang hancur.

"Silakan pergi, Aura. Teman-temanmu sudah menunggu," kata Arfan sambil memberi jalan dengan gestur yang sangat sopan, seolah-olah dia baru saja melakukan perbuatan baik. "Tapi ingat, kado itu akan segera sampai."

Aura lari sekuat tenaga, mengabaikan Mawar yang memanggilnya di ujung lorong sana.

"AURA!"

Gadis itu berdiri di sana dengan jilbab yang sedikit berantakan. Wajahnya basah kuyup oleh air mata yang terus mengalir tanpa suara. Bahunya gemetar hebat. Ia melihat semuanya. Ia mendengar setiap kata obsesif yang keluar dari mulut Arfan.

Arfan keluar dari ruangan itu dengan santai, merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut. Langkahnya terhenti saat melihat Mawar. Tak ada rasa bersalah di matanya, hanya ada sorot mata dingin yang penuh peringatan.

"Mawar?" suara Arfan terdengar begitu lembut, namun tajam seperti sembilu.

Mawar tersentak, ia mundur selangkah sambil menutup mulutnya, mencoba menahan isak tangis agar tidak pecah. Ia menatap Arfan dengan sorot ketakutan yang mendalam, sebuah ketakutan yang sepertinya sudah ia simpan terlalu lama.

Arfan melangkah mendekati Mawar, tangannya terulur untuk merapikan sedikit helaian kain jilbab Mawar yang berantakan, sebuah gestur yang terlihat penuh perhatian tapi sebenarnya sangat mengintimidasi.

"Jangan menangis seperti ini, Mawar. Kalau wajahmu sembab, nanti Abah akan sedih melihatnya," ucap Arfan pelan.

Mendengar kata Abah, tubuh Mawar seolah kaku seketika.

"Kamu tahu sendiri kan, Abah sangat bangga padamu. Beliau seorang Kyai yang sangat dihormati," Arfan melanjutkan, nadanya kini terdengar seperti sebuah ancaman terselubung. "Saya tidak ingin Abah jatuh sakit karena memikirkan putrinya yang tidak bisa menjaga rahasia kecil kita. Kamu ingin Abah tetap tenang di pesantren sana, bukan?"

Mawar hanya bisa menunduk dalam, air matanya jatuh membasahi lantai galeri. Ia tidak mampu menjawab. Arfan tahu persis di mana titik lemahnya. Nama ayahnya, reputasi keluarganya, dan pengabdiannya di pesantren adalah taruhannya.

"Hapus air matamu. Kembali ke depan dan temani teman-temanmu seolah tidak terjadi apa-apa," perintah Arfan dengan nada final.

Tanpa kata, Mawar berbalik dan berjalan cepat meninggalkan lorong itu.

Sementara itu, Arfan menatap punggung Mawar yang menjauh dengan senyum tipis yang mengerikan. Semuanya masih dalam kendalinya. Tidak ada yang boleh merusak rencana yang sedang ia buat untuk masa depan Aura.

Bersambung.......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!