NovelToon NovelToon
Kinan

Kinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Lain / Keluarga
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.

Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.

Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta dan Kenangan

Entah siapa yang menunjukan Laras menemukan Maya di kantin lantai dua.

Ia tahu wanita itu akan ada di sini—Dika, teman Raka, memberitahu dengan santai sambil mengaduk kopi. "Gue lihat Maya kembali mungkin dari kampung, tapi kayaknya dia bad mood, di kantin, sendiri."

Laras tidak ragu. Ini kesempatannya untuk apa, ia belum tahu karena Maya adalah penghalang, orang pertama selalu ada disisi Raka, menunggunya dengan sabar disaat kehilangan. Laras pernah seperti itu beberapa tahun lalu dan ia kalah melarikan diri.

Tapi untuk kali ini, tidak, tidak akan pernah.

\=\=\=

Maya duduk di sudut, menghadap jendela. Nasi goreng di depannya, tidak disentuh. Kopi hitam, setengah habis. Tatapan ke titik tak terhingga di luar—gedung-gedung yang sama, langit sama, hari berbeda.

"May?"

Ia menoleh tidak terkejut seolah sudah menunggu ini, menunggu kedatangannya sepert badai akan datang"Laras," Balasnya bukan sebuah pertanyaan atau pengakuan.

Gadis bertubuh tinggi langsing itu duduk di seberang tanpa diundang, lalu meletakkan tray salad dan jus jeruk—makanan orang yang peduli penampilan, peduli kesehatan, peduli citra, tapi tidak dengan kenyang. "Lo sendirian?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Sendirian," jawab Maya jujur. "Seperti biasa."

Laras tersenyum tipis, profesional, senyuman yang ia latih di depan cermin.

"Gue dengar lo baru balik dari kampung. Keluarga lo baik-baik aja?"

"Baik," kata Maya. "Lebih baik dari gue."

Laras tertawa kecil. "Lo lucu."

"Dan lo penuh perhitungan." Maya menatapnya lurus. "Gue tahu lo mau apa, Laras, gue nggak bodoh."

Senyum Laras tidak pudar. Tapi matanya—mata almond itu—menyipit, evaluasi, penyesuaian strategi.

"Gue cuma mau berteman, Maya, sama lo, Raka. Kita kan... kita punya masa lalu yang sama."

"Masa lalu?" Maya mengangkat alisnya. "masa lalu dengan Raka. Gue... gue apa? Gue cuma sahabat Kinan membersihkan rumahnya, memasak untuknya, menunggu di luar ICU saat dia pergi. Sementara lo... lo di mana waktu itu, Laras? Di mall? Di kafe? Di tempat yang tidak ada kematian?" Suaranya naik tanpa teriakan, tajam, lebih terkontrol dan berbahaya.

Laras menyesap jusnya membeli waktu."Gue nggak bisa mengubah masa lalu, May. Gue cuma bisa mengubah sekarang. Dan sekarang... gue di sini, gue yang nganterin obat saat dia sakit, membawa bekal tiap hari. Gue yang—"

"Gue hadir karena Kinan sahabat gue,"potongnya cepat. " Dan gue masuk rumah sekadar merawat peninggalan almarhum."

"Rumah?" Laras menatapnya. "Atau hatinya?"

Maya tersedak, Laras melanjutkan, suaranya tetap lembut, simpatik."Gue tahu lo sayang dia, May. Semua orang tahu. Tapi lo pergi ninggalin. Dan sekarang lo balik, dan lo marah karena ada orang lain? Itu... itu nggak adil, kan?"

"Adil?" Maya tertawa getir. "Lo ngomong adil? Lo yang dulu nyakitin dia, ninggalin dia, sekarang balik dan mau dianggap pahlawan?"

"Gue nggak mau menjadi pahlawan. Gue cuma..." Laras berhenti menatap sendu penuh arti "Gue nggak mau kalah dari Kinan. Dan sekarang... gue tidak mau lari dari kenangannya."

Maya menatap mencari-cari kebohongan, tidak ia temukan. Atau mungkin, terlalu lelah untuk mencari.

"Lo nggak akan menang," kata Maya pelan. "Bukan karena gue. Karena Raka sendiri. Dia... dia masih di sana ditempat Kinan tinggalkan. Lo bisa datang, tinggal, bahkan menikah. Tapi dia akan selalu liat gue—bukan lo, gue, Maya—di belakang, di sudut dalam bayangan istrinya."

Laras mengangguk perlahan seolah menerima."Mungkin lo benar, Tapi gue akan mencoba. Karena cinta—cinta sejati berusaha untuk memperbaiki."

Maya berdiri. Baki diambil, nasi goreng yang tidak disentuh dibuang ke tempat sampah.

"Cinta sejati," katanya berbalik. "Bukan cuma tentang berusaha, Laras, tapi mengerti kapan harus berhenti."

Ia pergi dengan langkah tegap tidak menoleh.

Laras duduk sendiri. Salad tidak disentuh, jus jeruk sudah dingin, mungkin saja—ia akan kalah lagi

 

Raka menemukan mereka berdua di lift.

Maya di sudut, menatap lantai. Laras berlawanan dalam diam, tegang seperti ledakan yang ditahan.

"May? Laras kalian berdua...?"

"Kebetulan," kata Maya dan Laras bersamaan saling pandang.

Lift berhenti di lantai tiga, pintu terbuka. Maya keluar pertama tidak menoleh. Laras keluar berhenti sejenak di samping Raka.

"Kita perlu ngomong," bisiknya nanti setelah kerjaan."

Raka mengangguk. Tidak yakin apa yang didengarnya

 

Sore, Laras menunggu di taman belakang gedung.

Raka datang tepat waktu—kebiasaan Kinan masih melekat. Ia selalu marah kalau Raka terlambat. "Waktu itu cinta, Ra. Cinta yang nggak bisa ditunda."

"Lo dan Maya," kata Laras, langsung tidak ada basa-basi. "Gue ketemu dia hari ini di kantin."

Raka menegang. "Lo bilang apa?"

"Yang seharusnya." Laras menatapnya larut "Gue bilang nggak akan mundur, dia harus tahu gue cinta pertama lo."

Laki laki itu mundur satu langkah. "Laras—"

"Gue tahu lo nggak siap," jawabnya pelan. Gue nggak minta jawab."Ia meraih tangannya perlahan, tapi pasti. "Gue cuma minta lo pertimbangkan. Maya... dia pergi, Ra. Dia yang ninggalin. Dan sekarang dia balik dan mau lo tunggu? Itu... itu nggak adil untuk lo."

"Dan lo?" tanya Raka. "Lo adil? Lo yang dulu pergi, sekarang balik dan gue mau terima tanpa syarat?"

Laras tersenyum getir. "Gue nggak bilang gue sempurna. Gue berusaha nggak akan pergi lagi."

Angin bertiup. Daun-daun berguguran di antara mereka. Musim gugur tidak pernah benar-benar ada di kota ini—tapi terasa selalu terasa.

"Gue butuh waktu."

"Gue punya waktu, tapi nggak selamanya."

 

Payung Laras masih di sudut. Kertas tersimpan didalam dompet tidak terjawab. Andi dan Dika selalu bertanya "Lo baik-baik aja, bro?"

Ia duduk di lanta di tempat dan keheningan yang sama.

Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda, bau —lemah, hampir tidak ada—tapi familiar Vanila, Mawar dan Kinan.

"Nan?" panggilnya. "Kamu ada di sini?"

Tidak ada jawaban, secarik kertas atau tanda, tapi di sudut mata ia melihat seperti bayangan kecil di kursi teras duduk, menatap. dan tersenyum.

Raka menatap lurus dan bayangan itu menghilang. Tapi senyumnya—senyum yang selalu ia kenal—tetap ada di udara hangat dan nyata.

"Mas bingung, Nan," bisiknya "Mas nggak tahu harus pilih siapa. Maya... dia tulus, sayang dia pergi. Laras... dia ada, tapi mas nggak tahu apakah itu cinta atau cuma... cuma kebiasaan. Dan kamu... di mana, Nan? di sini? Atau sudah pergi jauh ? "

Angin bertiup lembut, membawa suara samar jauh, " Aku masih di sini Mas, tapi aku sedih jika hatimu terluka. Pilih lah dengan hatimu, bukan kenangan, perasaan, atau cinta yang mati."

Raka menatap kekosongan, dan tanpa sebab air matanya mengalir tidak tahu kenapa, untuk siapa.

"Tapi kamu yang membuat Mas hidup, Nan" bisiknya rintih, "membuat mas lebih dari segalanya."

Tidak ada jawaban, angin mereda, bau mawar menghilang.

Raka tidur di lantai dengan ponsel di tangan. dua nama di layar satu hati terbelah tiga.

\=\=\=

Di Ruang Tunggu, Kinan menatap jendela dengan air mata jiwa. Energinya hampir habis, tubuhnya transparan, hampir tidak terlihat bahkan di sini, di tempat yang seharusnya tak terbatas.

"Kamu sudah memberi semua yang bisa, tapi sekarang... istirahat."

"Aku nggak bisa, Mas Raka masih bingung. Dia masih... masih mencari Kinan."

"Dia akan selalu mencari mu, Itu namanya cinta. Tapi kamu harus biarkan dia menemukan jawaban sendiri setelah diberi petunjuk.

Kinan menatap jendela. Raka tidur di lantai, meringkuk seperti anak kecil saat ia masih dapat memeluk, menenangkan, mengatakan "Mas sini sayang, Kinan peluk."

Tapi sekarang, hanya kabut, kenangan, cinta yang terlalu kuat, egois, dan manusiawi.

" Aku cinta dia walaupun nanti aku punah dia akan melupakan."

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kok AQ serem sih baca nya 😌
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: aq gak berbakat nulis ..enak baca aja 🤣
total 4 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
Raka yang terpuruk dan Maya yang simpati karena ada maksud 🤭...
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: idih 🤣🤣
total 2 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
seperti nya maya mencintai Raka ...dan yang dia lakukan untuk mencari simpati ke Raka ...aah kebanyakan sahabat seperti itu sih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: nama pasaran malah wkwk
total 6 replies
Soraya
mampir thor
Ddie: terimakasih banyak ya dk
total 1 replies
falea sezi
nyesek bgt baru jg baca/Shame/
Ddie: cinta sejati itu selalu ada dimana pun dk ..walau hidup dalam dimensi lain, kematian
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
aku masih di sini dekap hampa di hati....
mampir 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: yups betul sekali 🤣
total 2 replies
Ddie
mengapa engkau pergi membawa cinta jika membuatku kehilangan? Kematian bukanlah takdir tapi mimpi panjang menghadap Tuhan. Disini aku melihatmu tanpa bisa menyentuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!