Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilabrak RT dan RW
"Mbak? Boleh kami bicara? Kami adalah pengurus RT sama RW disini," Tanya Lelaki itu lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari Indira.
"Eh boleh Pak, silahkan masuk," Ucap Indira yang baru tersadar dalam lamunannya.
Keduanya langsung dipersilahkan untuk masuk kedalam rumah, dan mempersilahkan keduanya untuk duduk di kursi yang ada diruang tamu rumah tersebut. Namun Indira tidak ikut duduk bersama dengan mereka, Indira lebih memilih untuk berdiri sambil menatap kearah mereka berdua.
"Jadi perkenalkan saya ketua RW disini, dan yang ini ketua RT nya." Ucap Pria yang berbadan besar sekaligus menakutkan dan menyeramkan.
Dari ucapan keduanya Indira mengetahui bahwa keduanya bukanlah orang biasa, setelah memperkenalkan bahwa keduanya adalah ketua RT dan RW hal itu membuat Indira mengetahui identitas keduanya. Entah mengapa keduanya tiba tiba datang kemari, dan datang disaat adzan magrib sekaligus.
Indira sendiri dibuat bingung oleh kedua orang itu, ia tidak tau hal penting apakah yang ingin keduanya bicarakan dengannya. Mungkin apa yang dikatakan oleh Ibunya sebelumnya memang benar, dan ada seseorang yang mengadukan sesuatu kepada warga setempat sehingga membuatnya disalahkan dalam hal ini.
Indira juga merasa yakin bahwa hal ini ada kaitannya dengan Ayah dan Ibunya yang datang kemari untuk merawatnya ketika ia sakit, karena hanya dua orang itu saja yang pernah datang ketempat tersebut. Karena yang lainnya lebih memilih untuk bertemu diluar rumah, dan hanya mereka saja yang masuk kedalam rumah.
"Disini itu ada aturan Mbak, jangan seenaknya kamu tinggal disini! Kalo kamu tidak bisa mematuhi peraturan disini, kamu saya usir dari sini dan nggak boleh tinggal disini," Tiba tiba suara lelaki dengan tubuh kekar itu meninggi begitu saja, sehingga Indira pun langsung kaget mendengarnya.
"Loh saya salah apa, Pak? Saya baru pulang loh, nggak tau apa apa saya Pak," Tanya Indira kebingungan.
Indira sendiri tidak tau kesalahan apa yang telah dirinya lakukan saat ini, bahkan ia saja baru pulang dari organisasinya dan masih belum bisa mencerna maksud kedatangan dari dua orang itu. Keduanya tiba tiba datang dan marah marah ditempat itu, dan siapa yang tidak kaget jika langsung dibegitukan disana.
Indira merasa bahwa dirinya sama sekali tidak melakukan kesalahan disana, dan bahkan ia sendiri juga tidak tau salahnya dimana dan kenapa tiba tiba dirinya dimarahi seperti ini. Indira yang memang pendiam itu pun tidak bisa berkata apa apa, ia sendiri mencoba untuk memikirkan hal yang telah ia lakukan sehingga membuat keduanya terlihat marah seperti ini.
"Kamu sejak kapan tinggal disini?"
"Sudah 3 bulanan, Pak."
"Kamu itu bandel ya kalo dibilangin, kalo mau tinggal disini itu harus patuhi aturan disini,"
"Pak dengerin penjelasan saya ya, saya tidak seperti apa yang dikatakan orang orang disini. Yang biasanya datang kemari itu Ayah saya, meskipun bukan Ayah kandung tapi dia sangat baik sama saya," Ucap Indira to the point.
Sebelumnya Indira juga sudah diberitahu oleh Ibunya mengenai masalah ini, sehingga ia berpikir bahwa kedatangan dari dua orang itu juga karena masalah tersebut. Oleh karenanya Indira langsung mengatakan hal itu kepada mereka, keduanya langsung termenung mendengar pernyataan dari Indira.
Padahal sebelumnya mereka tidak memberitahu tujuan mereka datang kemari, namun Indira dapat menebak dengan sangat tepat bahwa kedatangan mereka kemari karena masalah itu. Indira merasa sangat yakin bahwa mereka akan membahas hal tersebut nantinya, sebelum semuanya dibahas Indira ingin menjelaskan bahwa apa yang mereka katakan itu salah.
Indira sama sekali tidak pernah mengajak pacarnya untuk datang ke sana, apalagi posisi pacarnya sekarang berada di Jakarta. Sehingga sangat tidak memungkinkan untuk pacarnya datang menemuinya, oleh karenanya ia berani berkata hal tersebut kepada kedua orang itu.
"Iya tapi di sini itu ada aturannya, kalau kamu mau tinggal di sini kamu harus patuhi aturan yang ada di sini. Paham kamu?"
"Iya Pak Saya tahu bahwa di sini itu ada aturannya, setiap tempat yang dihuni itu selalu ada aturannya sendiri sendiri. Saya tidak pernah bawa cowok masuk ke rumah, yang masuk biasanya itu Ayah saya, karena saya sakit jadi dia yang datang kemari buat ngasih sarapan ke saya,"
Indira terus berusaha meyakinkan bahwa cowok yang datang ke rumah tersebut adalah Ayahnya, entah percaya atau tidaknya Indira tidak tahu soal itu, yang terpenting dirinya menjelaskan apa yang ada di dalam isi kepalanya saat ini.
Mungkin karena Indira yang tinggal di sana sendirian sehingga siapapun yang datang harus dicurigai oleh mereka, entah siapa yang menebarkan sebuah fitnah itu kepada mereka sehingga Indira yang didatangi oleh mereka. Indira sendiri tidak tahu dan tidak mengenal siapapun yang tinggal di sana, ia hanya mengenal Budenya saja.
"Saya bisa lo Mbak, ngusir kamu dari sini. Kalo nggak bisa diatur jangan tinggal disini, kalo terus terusan begini ya mending kamu jangan tinggal ditempat ini,"
"Iya Pak,"
Mendengar kata usir membuat Indira kembali terbayang masa lalunya, apakah ia memang tidak pantas untuk tinggal di dunia ini, sehingga orang orang terdekatnya selalu ingin menyuruhnya pergi dari sana. Indira sendiri tidak tahu kesalahan apa yang telah ia lakukan, entah mengapa semua orang rasanya seperti membencinya.
Indira bahkan tidak pernah menyinggung perasaan siapapun, iya sendiri jarang berkomunikasi dengan orang lain kecuali orang lain tersebut mengajaknya berkomunikasi terlebih dahulu. Rasanya Indira bisa tahan lama untuk tidak berbicara, karena selama ini dirinya kebanyakan diam dan tidak pernah bercerita kepada siapapun.
Apakah tiada tempat yang bisa ia tinggali di dunia ini, bahkan di saat dirinya tidak melakukan kesalahan apapun orang lain tetap saja membencinya. Mungkinkah dirinya tidak pantas untuk dicintai, bahkan di saat dia terpuruk sekalipun orang lain tetap saja menyakitinya dan tidak membiarkan dirinya mengutarakan perasaannya.
Allah adalah Maha Kaya, kekayaannya mencakup bumi dan alam semesta. Tapi mengapa rasanya seperti Indira tidak diperkenankan untuk tinggal di dunia ini, padahal Indira sendiri diperintahkan oleh Allah untuk lahir di dunia ini namun ia seperti tidak diizinkan untuk tinggal.
"Kamu itu penduduk baru di sini, jadi kalau ada apa apa kamu harus lapor sama RT RW, jangan diam saja. Kamu kan sudah lama tinggal di sini, kok nggak pernah ada laporan?"
"Saya sudah tinggal di sini sebelum Bude saya pindah ke rumah sebelah sana, jadi saya tidak tau apa apa Pak,"
Indira sendiri juga tidak tahu apa apa soal hal itu, dulu dirinya hanya diminta oleh Budenya tinggal di sini, namun tidak ada yang memberitahu kepadanya mengenai setiap peraturan yang ada di desa itu. Indira sendiri kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh kedua orang itu, bahkan rasanya Indira tidak memahami mengenai ucapan keduanya.
"Apapun alasannya, kalo mau tinggal disini itu harus patuhi aturan disini juga,"
"Iya Pak."
"Ya udah nanti saya akan bilang sama Bude mu,"
"Iya Pak, silahkan bilang saja."
Sejak tadi yang berbicara hanyalah pria yang bertubuh kekar, sementara pria yang satunya lagi hanya bisa diam sambil tersenyum tipis dan entah apa yang membuatnya sedemikian. Nada bicaranya seolah olah Indira telah melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar, dan seakan akan dirinyalah yang berkuasa di tempat itu.
"Lain kali Mbak kalau ada apa apa langsung lapor sama RT, jangan diam saja seperti inilah,"
"Iya Pak," Indira benar benar tidak tahu apa yang dikatakan oleh mereka, ia hanya mengatakan iya agar masalah yang ia hadapi cepat selesai.
Ada yang memang melaporkan Indira aneh aneh kepada RT RW, sehingga dirinya langsung didatangi oleh kedua orang yang sama sekali tidak ia kenal itu. Untung saja Indira sudah memiliki persiapan sebelumnya, sehingga dirinya bisa lebih tenang daripada jika dirinya tiba tiba didatangi oleh kedua orang itu.
Entah mengapa masalah yang dia hadapi rasanya tidak pernah berhenti, selalu ada saja masalah yang membuatnya terlibat dalam hal itu. Entah masalah kecil ataupun masalah yang sangat besar, selalu saja dirinya disangkut pautkan dengan masalah masalah tersebut yang entah apa yang telah ia lakukan.
"Sudah apa, Pak?" Tanya lelaki berbadan besar kepada lelaki berbadan kecil.
"Sudah, habis ini acara pengajiannya dimulai juga. Kalo kita lama lama disini nanti terlambat," Jawab temannya itu.
"Baiklah kalo begitu."
Masih ada acara yang harus keduanya hadiri saat ini, mendengar hal itu membuat Indira merasa sangat lega karena sebentar lagi mereka akan pergi dari rumah tersebut. Jika terus terusan berada di posisi seperti ini, inilah sendiri tidak tahu sampai kapan dirinya bisa tahan dengan sisa sisa tenaga yang dia miliki.
Rasanya tenaganya seakan akan terkuras dengan habis ketika mengobrol dengan seseorang yang sama sekali tidak ia kenal, Indira sendiri tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi kepadanya dan ia sendiri juga kebingungan. Namun ia juga merasakan lemas apabila berhadapan dengan orang yang tidak ia kenal, dan rasanya seperti dirinya yang sedang diintimidasi oleh orang lain.
"Baiklah Mbak kalau begitu saya pamit dulu, kalau ada apa apa segera lapor sama Pak RT atau Pak RW, dan ingat lain kali jaga sikap juga jangan semena mena di sini. Setiap tempat ada aturannya sendiri sendiri, Kamu tinggal di sini itu artinya kamu juga harus patuhi aturan yang ada di sini."
"Iya Pak,"
"Kalo mau apa apa harus izin dulu sama RT nya, jangan langsung begitu lain kali, kayak kamu nggak menghormati saya sama sekali,"
"Iya Pak."
Kedua orang itu langsung bangkit dari duduknya, sementara Indira sendiri sejak tadi hanya berdiri sambil menghadap keduanya. Keduanya langsung berjalan menuju kearah pintu rumah itu, diikuti oleh Indira dibelakangnya sambil mengantar keduanya untuk pergi dari sana.
"Kalo ada apa apa harus laporan sama Pak RT,"
"Iya Pak,"
"Sudah tau rumah Pak RT kan?"
"Belom,"
Semenjak tinggal disana, Indira memang belum pernah datang ataupun hanya sekedar mengetahui rumah dari ketua RT disana, sehingga hingga sampai saat ini dirinya sendiri juga tidak mengetahui dimana rumahnya. Ketika ditanya pun ia menjawab memang tidak mengetahuinya, karena memang dirinya tidak tau.
"Rumahnya itu ada di gang depan, nah perempatan sana itu belok ngiri. Nanti ada rumah dipojok sana, nah itu rumahnya," Ucap pria berbadan besar sambil menunjuk kearah rumah yang dimaksud itu.
"Iya Pak,"
Meskipun ditunjuk seperti itu, Indira sendiri juga tidak paham dimana keberadaan dari rumah tersebut, dirinya hanya ingin segera menyelesaikan urusan itu sehingga hanya menjawab iya saja.
Indira benar benar lelah hari ini, karena setelah pulang bekerja dirinya langsung menuju ke organisasi yang ia ikuti, dan dirinya baru sampai rumah di jam segini ditambah lagi ada RT dan RW yang memarahinya tanpa tau kesalahannya dimana.
"Kalo rumah saya, perempatan belok nganan dan hanya ada satu rumah disana yang di kiri jalan, nah itu rumah saya,"
"Yang depan itu toh Pak?" Tanya Indira.
"Iya. Itu rumah saya, kalo ada apa apa kamu bisa datang kesana,"
"Baik Pak,"
Kalau belok nganan dirinya tau karena rumah Budenya juga belok nganan dan ia juga tau bahwa memang hanya ada satu rumah saja yang berada di kiri jalan karena semua rumah berada di kanan jalan. Dan rumah itu sendiri juga sedikit kelihatan dari tempat dimana Indira berada, namun beberapa bulan lagi rumah itu akan tertutup oleh sebuah bangunan.
"Baiklah Mbak, kalo gitu kami pamit dulu,"
"Iya Pak,"
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam."
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.