Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke desa terlupakan
Ling Xu-mei mengulurkan sepotong roti ke tangan kecil yang gemetar, satu per satu anak-anak itu menerima dengan mata berbinar penuh harap. Setelah semua terisi, dia mengajak mereka, "Ayo, tunjukkan aku tempat kalian tinggal." Kelima anak itu saling berpandangan lalu mengangguk serempak, menarik tangan Ling Xu-mei dengan erat seolah takut jika dia berubah pikiran.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang semakin menjauh dari hiruk-pikuk istana, hingga tiba di sebuah desa kecil yang tampak lusuh dan terlupakan waktu. Rumah-rumah reyot dengan dinding berlumut dan atap bocor berdiri berderet, sementara tanah di sekitarnya kering retak tanpa setitik makanan. Suasana sunyi, hanya terdengar suara angin yang mengibas dedaunan kering. Jantung Ling Xu-mei berdegup kencang, dadanya sesak menahan perasaan pilu yang merayap masuk.
"Kalian tinggal di sini?" tanyanya dengan suara bergetar.
Anak-anak itu mengangguk pelan, mata mereka tampak lelah namun penuh kepercayaan pada Ling Xu-mei. Dengan penuh rasa iba, mereka menariknya menuju sebuah gubuk kecil yang berisi orang tua yang terlihat kurus dan lelah, menatap kedatangan Ling Xu-mei dengan harapan yang hampir padam.
"Nyonya, ini bukan rumah, ini seperti tempat pengasingan, tapi di tempat pengasingan saja masih lebih baik dari tempat ini." kata Yura. dia menatap ngeri tempat yang dia datangi. melihat pemandangan gersang yang ada di depannya membuat jantung Yura terasa sakit, melihat wajah kecil anak-anak kelaparan ketika mereka berebut roti yang dibelikan oleh Ling Xu-mei.
""Heh..." suara helaan nafas Ling Xu-mei pecah saat pandangannya menelusuri tanah berdebu yang kini menjadi pijakannya. Pondok tua itu tampak reyot, dengan kulit kayu yang mengelupas dan atap yang hampir roboh. Dari balik pintu kayu yang hampir terlepas, satu per satu wanita muncul. Wajah mereka kurus, penuh bekas luka kehidupan, namun mata mereka memancarkan haru yang tak tertandingi.
Tak hanya wanita, beberapa pria yang ikut keluar segera berlutut dan bersujud di hadapan Ling Xu-mei, suara mereka bergetar saat mengucapkan terima kasih.
“Kami sudah bertahan berhari-hari tanpa makan, hanya minum air saja... Nona, terima kasih... terima kasih atas kebaikanmu,” kata seorang wanita dengan suara serak, air matanya mengalir deras, membasahi pipi yang keriput.
Tubuh mereka yang lemah dan bergetar itu seolah mewakili rasa syukur yang dalam, mengalir deras tanpa bisa dibendung. Ling Xu-mei menatap mereka dengan mata berkaca-kaca, hatinya tersentuh oleh penderitaan yang tersembunyi di balik senyum sederhana mereka. Di tengah keheningan yang penuh makna itu, hanya suara isak tangis dan desiran angin yang menemani, menggambarkan betapa besar arti kebaikannya bagi mereka yang hampir putus asa.
Dari balik pohon, Gu Yanzel mengerutkan kening, matanya tak lepas mengawasi Ling Xu-mei. "Apa-apaan sih yang dia lakukan? Kok bisa berubah begini, ya?" gumamnya penuh tanda tanya. Pria itu terperangah, ingat betapa dulu wanita yang disebut permaisuri itu dingin dan tanpa ampun. "Dulu, dia tuh gak punya belas kasihan sama sekali. Kedudukannya di istana, perhatian Kaisar Han, itu aja yang dia pikirin. Kalau dulu, dia pasti cuek bebek sama orang lain," pikir Gu Yanzel. Dia menghela napas dalam. "Tapi sekarang...? Ini bukan Ling Xu-mei yang dulu, ini orang lain! Kenapa tiba-tiba dia jadi peduli? Apa ada sesuatu yang berubah dalam hatinya?" suara hatinya bergetar, campur penasaran dan tak percaya. Gu Yanzel pun menatap lebih tajam, berusaha mengerti rahasia di balik perubahan drastis itu. "Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa aku merasa dia menyimpan sesuatu yang selama ini tersembunyi?" tanyanya dalam hati, menyiapkan diri untuk menyelidiki lebih jauh.
"Apa yang terjadi kepada kalian?" tanya Yura yang terlihat mendekati salah satu wanita. wanita itu terlihat pucat dengan pipi yang sudah mulai mengeriput.
"Kami kelaparan nona, kami kelaparan. Selama beberapa hari ini kami jarang makan, kami mengalami kelaparan sudah banyak dari kami yang meninggal karena kelaparan." jawab salah satu wanita beberapa wanita yang lain memegang roti sembari meneteskan air matanya.
Ling Xu-Mei mengerutkan dahinya, tatapannya tertuju pada desa yang sunyi dan terisolir itu. Berbeda sekali dengan desa di dekat istana, di sana pejabat-pejabat berperut buncit sibuk lalu lalang dengan senyum penuh kepuasan. Tapi di sini, banyak anak-anak dan orang dewasa menatapnya dengan mata sayu, perut mereka jelas kelaparan.
“Kalian ini bagian dari Kerajaan Hanzo, kan?” suara Ling Xu-Mei sedikit berat, ia duduk perlahan sambil memangku salah satu bocah laki-laki yang tubuhnya kurus kering. “Kalau begitu, kenapa desa kalian bisa sampai begini? Kenapa tidak minta bantuan ke istana?”
Orang-orang di desa itu hanya diam, wajah mereka tertunduk. Hening memenuhi udara, sampai akhirnya salah satu pria, dengan suara serak dan sedikit gemetar, angkat bicara, “Pimpinan wilayah kami… dia ambil pajak terlalu tinggi. Semua hasil panen kami disita. Kami tidak punya apa-apa lagi…”
“Jadi itu penyebabnya?” Ling Xu-Mei menghela napas. “Lalu, kalian tidak berani melawan?”
Pria itu menunduk dalam-dalam, “Bagaimana kami berani? Kami takut kehilangan nyawa…” Ling Xu-Mei mengatupkan bibirnya.
“Kalau begitu, aku akan membantu kalian. Tidak boleh ada yang kelaparan di bawah mata Kerajaan Hanzo.”
Anak-anak dan warga desa mulai menatapnya penuh harap. Ada secercah harapan yang mulai tumbuh di tengah keputusasaan mereka.
"Tidak di duniaku tidak di sini Mereka sama saja, kalau masalah uang mereka matanya berbinar." ucap Ling Xu-mei yang membuat Yura kebingungan.
Setelah melihat kondisi mengenaskan desa itu Ling xu-mei berpikir keras untuk membantu mereka, malam itu Ling Xu-mei kembali ke istana, dia dan Yura membicarakan mengenai tempat yang mereka datang tadi. Sedangkan Gu Yanzel, dia juga tidak tahu kalau di kerajaan Hanzo ada desa yang benar-benar begitu mengenaskan, penduduknya seperti zombie yang sangat kelaparan.
Brakk!!
Ling xu-mei ada di kamarnya tiba-tiba dia menggebrak meja dengan sangat keras hal itu membuat Yura yang mau minum itu dia langsung terkejut. "Nyonya Apa yang kamu lakukan Kamu mengejutkanku." ucap Yura yang kemudian mengusap wajahnya yang tersiram air yang dia bawa.
"Maaf maaf aku tidak sengaja, lagi pulang aku sempat berpikir ketika kita berada di pasar tadi pantas saja para pejabat yang ada di wilayah itu perutnya seperti perut sapi perut babi dan perut kerbau. ternyata mereka mengambil pajak tinggi hingga membuat banyak orang menderita seperti itu." kata Ling xu-mei yang kemudian menuang air putih di cangkir.
"Apa nyonya mau membantu mereka?" tanya Yura.
Ling Xu-mei menatap Yura, Dia kemudian menghela nafas dengan cukup dalam. "Mereka berani mencuri dari orang-orang itu, bagaimana kalau kita mencuri dari mereka?" tanya Ling Xu-mei yang membuat Yura langsung mendelik. dia tentu saja tidak akan pernah berpikir kalau junjungannya akan berencana merampok ke tempat para pejabat.
*Bersambung*
semangat berkaryaa