NovelToon NovelToon
MENAGIH JANJI MASA KECIL

MENAGIH JANJI MASA KECIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.

“Kamu harus jadi pengantinku.”

Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.

Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.

Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.

Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?

Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI DI MASA KECIL.

Kesepakatan pahit itu akhirnya disahkan oleh takdir. Suasana di ruang utama yang semula mencekam perlahan mencair, meski ketegangan masih terasa di antara dua keluarga besar itu. Acara akad nikah dilanjutkan kembali dengan perubahan yang drastis. Kursi yang tadinya disiapkan untuk Lusi, kini ditempati oleh Arumi dengan anggun, meski wajahnya sedatar permukaan telaga di musim dingin.

Ariya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa martabatnya yang hancur. Dengan suara yang berat namun mantap, ia mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas, menggenggam tangan Erwin dengan erat.

"Sah!" seru para saksi secara serentak.

Ustadz Bahri segera menutup prosesi sakral itu dengan doa yang menyentuh kalbu. "Alhamdulillah. Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka, dan selalu mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan."

Setelah doa selesai, Fardiansyah memberikan instruksi agar kedua mempelai duduk di pelaminan. Arumi sempat melirik Ariya, memberi isyarat keberatan. Namun, ayahnya dan Fardiansyah bersikeras. Banyak rekan bisnis yang hadir dan mereka tidak ingin skandal kaburnya Lusi menjadi bahan gunjingan lebih jauh. Akhirnya, dengan bantuan perawat, kursi roda Ariya diletakkan tepat di samping kursi megah tempat Arumi duduk.

"Wah, akhirnya kalian menikah juga ya? Selamat ya, Bro. Selamat juga untuk Dokter Arumi. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan," ucap seorang pria yang baru saja naik ke pelaminan.

Ariya menoleh dan mendapati Bisma berdiri di sana dengan cengiran khasnya. Mendengar ucapan itu, bulu kuduk Ariya berdiri. "Eh, bicara apa kamu, Bisma! Bikin aku merinding saja. Ucapanmu itu terlalu berlebihan, tahu tidak?"

Bisma tertawa kecil, tidak merasa tersinggung. "Ayolah, Ar. Bukannya dijawab amin, malah dibilang berlebihan. Seharusnya kamu senang ada yang mendoakan pernikahanmu."

"Benar kata Bisma, Ar. Nikmati saja momen ini," timpal Ricko, rekan mereka yang lain yang menyusul di belakang Bisma.

"Terima kasih, Ricko. Setidaknya ada yang waras di sini," kata Bisma sambil menepuk bahu Ricko.

Ariya mendengus ketus. "Bisa diam tidak kalian berdua? Atau aku akan..."

"Akan apa, hah? Mau menendangku?" sela Bisma dengan cepat. Ia justru menyodorkan kakinya ke dekat kursi roda Ariya dengan nada menggoda. "Ayo, tendang saja kalau bisa. Sekarang tidak bisa lagi, kan?"

Melihat Ariya yang terdiam dengan rahang mengeras, Bisma melunakkan suaranya. "Nah, seharusnya kamu berpikir. Mungkin ini caramu diingatkan Tuhan karena dulu sering sekali menendangku waktu kita masih kecil. Tapi jujur, aku salut pada kalian berdua."

Arumi yang sejak tadi hanya menjadi pendengar pasif, kini menoleh. "Salut untuk apa, Dokter Bisma?"

"Karena pada akhirnya, kalian berdua menepati janji masa kecil itu," jawab Bisma dengan tatapan penuh arti.

Ariya mengerutkan kening, mencoba menggali memori di kepalanya yang terasa penuh. "Janji apa maksudmu?"

Bisma tidak langsung menjawab. Ia memandang Arumi, lalu beralih ke arah pelaminan yang megah itu. "Arumi, kamu masih ingat tidak? Waktu kita masih sekolah dasar, kita datang ke pesta pernikahan Ibu Hayati, guru kita. Kamu bilang ingin jadi pengantin secantik beliau. Dan saat itu aku memintamu menjadi pengantinku kelak. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang mengamuk."

Bisma melirik Ariya yang mulai tampak tidak nyaman. Ingatan itu perlahan menyeruak, seperti film lama yang diputar kembali di layar perak.

Delapan Belas Tahun yang Lalu

Gedung serbaguna itu tampak sangat megah bagi ukuran anak-anak. Di salah satu sudut, Arumi kecil yang baru berusia tujuh tahun duduk termangu. Matanya yang bulat berbinar menatap sang pengantin wanita yang duduk di pelaminan dengan gaun putih menjuntai.

"Hai, Rumi! Sedang apa sih? Kenapa diam saja di sini?" Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun menghampirinya sambil membawa segelas sirup. Itu Bisma kecil.

"Eh, Kak Bisma! Arum sedang lihat Bu Guru. Cantik sekali ya, Kak? Seperti putri raja di buku dongeng Arum," jawab Arumi kecil dengan suara imutnya.

Bisma duduk di sampingnya, ikut memandang ke arah pelaminan. "Itu namanya pengantin, Rumi. Nanti kalau kita sudah besar, kita juga akan jadi pengantin. Semua pengantin memang terlihat seperti pangeran dan putri."

Arumi kecil tersenyum lebar. "Kalau begitu, nanti kalau Arum sudah besar, Arum mau jadi pengantin juga biar cantik seperti Bu Hayati."

"Hmm, baiklah. Kalau begitu, nanti Kak Bisma saja yang jadi pengantin laki-lakinya ya? Biar Kak Bisma jadi pangerannya juga," balas Bisma polos.

Namun, sebelum Arumi sempat mengangguk, seorang anak laki-laki lain berlari mendekat dengan wajah merah padam. Itu Arya, nama kecil Ariya.

"Tidak boleh!" teriak Arya kecil dengan suara lantang. "Arum itu punya Arya! Jadi hanya aku yang boleh jadi pengantin laki-lakinya Arumi! Ingat ya, hanya Arya! Pergi sana, Bisma!"

Bisma kecil yang kaget hanya bisa mengerjapkan mata. "Galak sekali sih kamu, Arya. Iya, iya, aku pergi. Maaf ya, Tuan Muda Kecil." Bisma segera melesat pergi sebelum Arya semakin marah.

Arumi kecil merengut kesal. "Arya! Kenapa marah-marah begitu pada Kak Bisma? Dia kan cuma bercanda."

"Biarkan saja! Pokoknya Arum tidak boleh bicara dengan dia lagi. Kalau masih bicara dengan Bisma, nanti dia aku buat menghilang!" ancam Arya sambil melipat tangan di dada, menunjukkan sifat posesifnya yang sudah ada sejak dini.

"Ih, apa sih! Sudah, jangan bahas itu lagi," sahut Arumi sambil membuang muka.

Arya kecil kemudian duduk di depan Arumi, menatap gadis kecil itu dengan serius. "Baiklah, tapi Arum harus janji dulu pada Arya."

"Janji apa?" tanya Arumi penasaran.

Arya mengulurkan jari kelingkingnya yang mungil ke depan wajah Arumi. "Janji kalau sudah besar nanti, Arum harus jadi pengantinku. Hanya jadi pengantin Arya. Bagaimana? Arum mau bersedia?"

Arumi kecil menatap jari kelingking itu, lalu tersenyum tipis. Ia mengaitkan kelingkingnya sendiri ke kelingking Arya. "Baiklah, Arum janji akan jadi pengantin Arya. Tapi Arya juga harus janji, akan jadi pangeran yang baik untuk Arum."

"Janji! Arya akan jadi pengantin laki-lakinya Arum selamanya!"

Kembali ke masa sekarang, Arumi dan Ariya saling pandang. Kilasan memori itu terasa begitu nyata, namun kini terasa begitu ironis. Janji yang mereka ucapkan dengan kepolosan anak-anak, justru terpenuhi di tengah situasi yang penuh dengan keterpaksaan dan luka.

"Jadi, janji itu sudah lunas sekarang, kan?" tanya Bisma, membuyarkan lamunan mereka.

Ariya membuang muka ke arah lain, sementara Arumi menunduk dalam, mencoba menyembunyikan getaran di matanya. Janji masa kecil itu memang telah terpenuhi, namun rasanya jauh dari bayangan indah "putri raja" dan "pangeran" yang mereka impikan delapan belas tahun yang lalu.

"Itu hanya janji anak kecil, Bisma. Tidak perlu dianggap serius," gumam Ariya dingin.

Arumi hanya diam, namun dalam hati ia bertanya-tanya. Jika ini adalah jawaban dari janji mereka, mengapa rasanya justru seperti awal dari sebuah kutukan?

1
NP
sudut ya
Uba Muhammad Al-varo
Ariya........ sekarang Arumi udah memberikan kesempatan pergunakan dengan baik
Neng Salwa
bagus cerita nya juga seru
Uba Muhammad Al-varo
sekarang Ariya tugasmu berjuang untuk mendapatkan cintanya Arumi lebih berat kalau memang cintamu tulus jangan sampai kamu menyerah Ariya
tiara
semoga Lusi dan mamanya cepat dipenjara biar hidup Arumi dan ayahnya tenang
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya Erwin tahu kejahatan yang dilakukan oleh Rina dan Lusi, sekarang cepat ambil tindakan ceraikan Rina dan jebloskan ke penjara
Uba Muhammad Al-varo
mungkin ini jalan untuk kamu membuktikan cinta tulusmu dengan melindungi Arumi dari kekejaman ibu tirinya dan menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Rina ibu tiri Arumi
Pujiastuti
makin seru aja ceritanya, lanjut kak semangat upnya 💪💪
Uba Muhammad Al-varo
itulah tugas terberatmu Arya membentengi diri dan menjaga Arumi dari kejahatannya lusi dan ibunya serta menyakinkan Arumi dengan kesungguhan cinta mu
tiara
semoga mereka dapat melalui semua ujian dimasa yang akan datang dengan tetap bersama selalu
tiara
semoga Arumi lekas pulih kembali ingatannya
tiara
akhirnya mereka dipertemukan kembali
tiara
semoga Arumi lekas ditemukan Ariya dan kakek juga tidak kesepian lagi
Uba Muhammad Al-varo
Ariya....... kalau kamu benar' tulus mencintai Arumi, tunjukkan kesungguhan dan kasih sayang ke Arumi
Nanik Arifin
Karmamu terbalas Ariya... dlu kau benci Arumi, sekarang Arumi tak mengingatmu sama sekali. sesuatu yg ingin dilupakan pasti terhapus saat hilang ingatan
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pertemuan antara Ariya dan Arumi terjadi semoga ini awal Arumi bahagia dan Ariya mencintainya dengan tulus
Uba Muhammad Al-varo
semoga Ariya bisa menemukan Arumi, kasihan Arumi hidupnya selalu sedih dan Ariya juga mengajak kakek nenek untuk hidup bersama
Nanik Arifin
di Sumatra tapi nenek memakai kosa kata bahasa Jawa ( cah ayu, nduk ) asalmu dr Jawa atau keturunan Jawa ?
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra
Uba Muhammad Al-varo
si Rina otaknya oleng, kalau ngomong asbun Percis kaya si Lusi anaknya, memang enak kena mental dari Ferdiansyah /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!