"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Reuni Keluarga Lin
Sabtu pagi, hari yang ditunggu sekaligus ditakuti akhirnya tiba.
Suyin terbangun jam lima pagi bahkan sebelum alarm berbunyi. Jantungnya berdebar—bukan karena mimpi buruk, tapi karena kesadaran bahwa hari ini adalah hari itu.
Dia duduk di tepi tempat tidur, menarik napas panjang beberapa kali—teknik pernapasan yang diajarkan Xiao Zhen untuk menenangkan pikiran.
Satu... dua... tiga... empat... lima...
Hembuskan perlahan.
Lebih baik.
Suyin bangkit, sholat subuh dengan khusyuk lebih dari biasanya. Setiap sujud terasa lebih panjang, setiap doa terasa lebih dalam. Dia memohon perlindungan untuk dirinya, untuk Xiao Zhen, untuk tim, untuk keluarga besarnya yang tidak tahu apa-apa.
Setelah sholat, dia minum ramuan kedua dari Zhao Mei—botol hijau yang tersisa. Sensasi hangat yang sama menyebar di tubuhnya, kali ini lebih kuat. Qi-nya terasa lebih stabil, lebih kuat.
Mandi dengan air hangat, berpakaian dengan dress hijau muda yang sudah disiapkan—sederhana tapi elegan, tidak mencolok. Rambutnya dia ikat setengah ke belakang, makeup natural—hanya bedak tipis dan lipstik nude.
Di lehernya, liontin pelindung dari Xiao Zhen. Di pergelangan tangan kanan, gelang giok yang bersinar lembut. Di tas kecil selempang, kit ramuan darurat dari Zhao Mei.
Suyin menatap pantulannya di cermin.
Wanita yang menatap balik bukan lagi gadis yang tiga minggu lalu masih bingung dan ketakutan. Ini adalah wanita yang sudah belajar kultivasi, yang sudah membangun bisnis, yang sudah menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri.
"Kamu bisa," ucap Suyin pada pantulannya. "Kamu sudah siap."
Ketukan di pintu.
"Suyin, kamu sudah bangun?" Suara Xiao Zhen.
Suyin membuka pintu. Xiao Zhen berdiri di sana dengan setelan formal berwarna abu-abu gelap—tampan dan berkuasa seperti biasa, tapi ada sesuatu di matanya yang lebih lembut saat melihat Suyin.
"Kamu... cantik," ucapnya dengan nada yang sedikit terkejut.
Suyin merasa pipi memanas. "Terima kasih. Kamu juga tampan."
Xiao Zhen tersenyum tipis. "Sudah sarapan?"
"Belum. Ayo."
Mereka turun bersama ke ruang makan. Semua anggota tim sudah berkumpul—Wei Hao dengan kemeja putih formal, Chen Ling dengan dress hitam elegan, Zhang Wei dengan kemeja biru, Zhao Mei dengan blus krem. Semua terlihat seperti tamu undangan biasa—bukan kultivator yang siap bertarung.
Liu Peng sudah berangkat lebih dulu ke lokasi karena harus masuk shift katering pagi.
Sarapan berlangsung dalam suasana yang serius tapi tidak tegang. Semua orang makan dengan tenang, mengumpulkan energi untuk hari panjang yang menanti.
"Briefing terakhir," ucap Xiao Zhen setelah semua selesai makan. "Kita berangkat ke lokasi pukul sembilan. Acara mulai pukul sepuluh. Wei Hao dan Zhang Wei sudah di posisi sejak tadi pagi untuk cek ulang formasi. Chen Ling akan masuk sebagai tamu lima belas menit sebelum kita untuk pastikan area aman. Zhao Mei masuk bersamaan dengan kita tapi akan ambil posisi di area yang berbeda. Liu Peng sudah di dalam sebagai karyawan katering."
Semua mengangguk.
"Suyin dan aku akan masuk sebagai pasangan," lanjut Xiao Zhen—kata "pasangan" diucapkan dengan sangat natural sampai membuat beberapa anggota tim saling pandang dengan senyum tipis yang mereka sembunyikan. "Kita akan tetap bersama sepanjang acara kecuali ada situasi yang memaksa kita terpisah—tapi itu hanya kalau sudah sangat mendesak."
"Apa yang harus kulakukan kalau melihat anggota Organisasi Bayangan?" tanya Suyin.
"Jangan panik. Jangan menatap langsung. Pura-pura tidak tahu dan tetap lakukan aktivitas normal. Lalu beri tahu aku dengan cara yang natural—seperti berbisik sesuatu di telingaku." Xiao Zhen menatap Suyin. "Ingat latihan visualisasi kemarin. Tetap tenang."
"Mengerti."
Chen Ling menambahkan, "Aku sudah identifikasi wajah enam orang yang kemarin mengintai. Kalau ada dari mereka yang masuk, aku akan tahu. Tapi kemungkinan mereka kirim orang lain yang belum pernah terlihat untuk masuk sebagai tamu."
"Kita antisipasi itu," Wei Hao mengangguk. "Formasi akan mendeteksi siapapun yang membawa energi spiritual kultivator, wajah dikenal atau tidak."
"Bagaimana dengan keluarga Suyin yang bukan kultivator?" Zhao Mei bertanya hal yang juga ada di pikiran Suyin.
"Mereka dilindungi dengan cara mereka tidak menyadarinya," jawab Wei Hao. "Formasi lapis ketiga yang aku pasang di dalam rumah punya efek samping—membuat orang non-kultivator secara natural menjauh dari area konflik kalau terjadi pertarungan. Mereka akan merasa tiba-tiba ingin ke kamar mandi, atau tiba-tiba teringat sesuatu yang harus dilakukan di ruangan lain. Insting natural untuk menjauh dari bahaya."
Suyin menghela napas lega. "Itu bagus. Terima kasih."
"Satu lagi," Xiao Zhen menatap sekeliling meja. "Kalau situasi benar-benar lepas kendali dan ada ancaman yang lebih besar dari perkiraan—mundur. Keselamatan kita semua lebih penting dari apapun. Mengerti?"
Semua mengangguk dengan serius.
"Baiklah." Xiao Zhen berdiri. "Kita berangkat dalam tiga puluh menit. Persiapkan mental kalian."
Pukul sembilan pagi, tiga mobil keluar dari villa menuju kawasan Menteng.
Mobil pertama—Wei Hao dan Zhang Wei yang sudah duluan.
Mobil kedua—Chen Ling sendirian, akan masuk lima belas menit lebih awal.
Mobil ketiga—Xiao Zhen, Suyin, dan Zhao Mei.
Di dalam mobil, Suyin duduk di samping Xiao Zhen dengan tangan saling menggenggam di bawah—tersembunyi dari pandangan Zhao Mei yang duduk di depan.
Genggaman itu hangat. Menenangkan. Pengingat bahwa dia tidak sendirian.
"Bagaimana perasaanmu?" bisik Xiao Zhen.
"Gugup tapi siap," bisik Suyin balik.
"Bagus. Pertahankan itu."
Perjalanan memakan waktu dua puluh menit. Saat mobil memasuki kawasan Menteng dengan rumah-rumah tua bergaya kolonial yang megah, Suyin merasakan jantungnya berdebar lebih cepat.
Rumah keluarga besar Lin berdiri di ujung jalan—bangunan dua lantai bergaya Belanda dengan cat putih dan jendela-jendela besar, taman depan yang luas dengan pohon-pohon rindang.
Sudah ada beberapa mobil terparkir di depan. Tamu-tamu mulai berdatangan.
Mobil Xiao Zhen parkir di area yang strategis—dekat pintu keluar kalau perlu evakuasi cepat.
Mereka turun. Zhao Mei langsung berjalan terpisah dengan santai—seolah tamu yang datang sendiri. Xiao Zhen dan Suyin berjalan bersama dengan tangan Xiao Zhen di punggung bawah Suyin—gestur protektif yang terlihat seperti pasangan biasa.
Di pintu depan, beberapa keluarga Lin menyambut tamu. Paman Cheng—adik nenek Lin—langsung menghampiri Suyin dengan senyum lebar.
"Suyin! Lama tidak bertemu!" Paman Cheng memeluk Suyin dengan hangat. Lalu melirik Xiao Zhen dengan tatapan penuh tanda tanya. "Dan ini...?"
"Ini Xiao Zhen, Paman. Partner bisnis saya," jawab Suyin dengan tenang.
"Oh! Senang bertemu!" Paman Cheng berjabat tangan dengan Xiao Zhen—tidak menyadari bahwa pria yang dia jabat tangannya adalah kultivator tingkat tinggi yang bisa melemparnya sejauh lima puluh meter dengan satu jari.
"Senang bertemu juga, Paman," balas Xiao Zhen dengan sopan sempurna.
Mereka masuk ke ruang tamu yang sudah penuh dengan keluarga besar Lin—puluhan orang berbagai usia, dari kakek-nenek sampai anak-anak kecil. Suasananya ramai dan hangat—sesuatu yang membuat hati Suyin tersentuh tapi juga khawatir.
Semua orang ini dalam bahaya dan mereka tidak tahu apa-apa.
Mata Suyin mencari-cari. Chen Ling duduk di sudut ruangan dengan secangkir teh, tersenyum ramah pada beberapa bibi yang mengajaknya ngobrol. Di area servis makanan, Suyin melihat sekilas Liu Peng dengan seragam katering membawa nampan.
Wei Hao dan Zhang Wei tidak terlihat—mereka di luar, mengawasi perimeter.
Semuanya di posisi.
"Suyin!" Suara familiar. Meifeng berjalan mendekat dengan suami dan dua anaknya. Wajahnya pucat, mata sedikit sembab—jelas dia tidak tidur nyenyak semalam.
"Kak Meifeng," sapa Suyin dengan nada netral.
Meifeng melirik Xiao Zhen dengan tatapan penuh pertanyaan dan sedikit takut—mungkin merasakan aura yang berbeda dari pria ini.
"Ini Xiao Zhen," perkenalkan Suyin singkat.
"Senang bertemu," ucap Meifeng gugup.
Xiao Zhen hanya mengangguk sopan.
"Bisa kita bicara sebentar? Di teras belakang?" tanya Meifeng pada Suyin.
Suyin melirik Xiao Zhen—mencari persetujuan. Xiao Zhen mengangguk hampir tidak terlihat.
"Baiklah. Tapi sebentar saja."
Mereka berjalan ke teras belakang yang lebih sepi. Xiao Zhen mengikuti dari jarak beberapa meter—cukup dekat untuk melindungi tapi cukup jauh untuk tidak mendengar percakapan mereka.
Di teras, Meifeng langsung menatap Suyin dengan mata berkaca-kaca.
"Suyin, aku—"
"Jangan sekarang, Kak," potong Suyin lembut. "Nanti. Setelah hari ini selesai dengan aman. Sekarang, Kakak harus lakukan apa yang sudah kusampaikan—tetap di area ramai, jangan sendirian, jangan ikut orang asing ke mana pun."
Meifeng mengangguk cepat. "Iya. Aku mengerti. Aku sudah bilang ke suami juga."
"Bagus. Sekarang kembali ke dalam dan bersama keluarga."
Mereka kembali ke ruang tamu. Acara dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Paman Cheng—untuk mengenang seratus hari wafatnya nenek Lin.
Suyin duduk di barisan depan dengan Xiao Zhen di sampingnya. Saat doa berlangsung, dia memejamkan mata dengan tulus—tidak hanya berdoa untuk keselamatan hari ini, tapi juga mengucapkan terima kasih untuk nenek yang sudah memberikan hadiah terbesar dalam hidupnya.
Setelah doa selesai, acara berlanjut dengan makan bersama. Hidangan tradisional Tionghoa tersaji di meja panjang—dimsum, bebek peking, nasi hainam, sup sirip ikan.
Suyin tidak banyak makan—perutnya terlalu penuh dengan kecemasan. Tapi dia memaksa diri makan sedikit untuk menjaga tenaga.
Xiao Zhen duduk di sebelahnya dengan postur yang terlihat santai tapi mata yang terus memindai ruangan.
"Ada apa?" bisik Suyin saat melihat mata Xiao Zhen berhenti sebentar di salah satu sudut.
"Tidak ada. Hanya memastikan," bisik Xiao Zhen balik.
Tapi Suyin tahu—dia merasakan sesuatu.
Pukul sebelas siang, saat acara sudah berlangsung satu jam, Suyin merasakan getaran kecil di liontin pelindung yang tergantung di lehernya.
Peringatan.
Dia melirik Xiao Zhen—pria itu juga merasakan sesuatu. Matanya menyipit, pandangannya tertuju ke arah pintu depan.
Seorang pria paruh baya berjas hitam masuk dengan langkah tenang. Wajahnya biasa saja—seperti tamu undangan pada umumnya.
Tapi Suyin merasakan sesuatu yang berbeda dari pria itu. Aura yang dingin. Tidak ramah.
Chen Ling yang duduk di sudut mengangkat cangkir tehnya—kode bahwa dia juga mendeteksi sesuatu.
Xiao Zhen menyentuh tangan Suyin di bawah meja—tiga ketukan ringan. Kode yang artinya: tetap tenang, semuanya terkendali.
Suyin menarik napas perlahan, mengingat latihan visualisasi kemarin.
Pria berjas hitam itu berjalan dengan santai, mengambil piring, mengisi makanan, lalu duduk di meja yang agak jauh dari tempat Suyin dan Xiao Zhen duduk.
Tapi matanya—sesekali melirik ke arah Suyin. Melirik ke gelang giok di tangannya.
"Itu salah satu dari mereka," bisik Xiao Zhen sangat pelan. "Tetap tenang. Lakukan seolah tidak tahu apa-apa."
Suyin mengangguk hampir tidak terlihat. Dia mengambil sumpit, makan sedikit—tangan tidak gemetar walau jantung berdebar keras.
Lima menit kemudian, dua orang lagi masuk. Seorang wanita muda dengan dress merah, seorang pria muda dengan kemeja batik. Keduanya juga memancarkan aura yang sama—dingin, berbeda dari tamu lain.
Liontin di leher Suyin bergetar lebih kuat.
Tiga orang dari Organisasi Bayangan sudah di dalam ruangan.
Dan mereka baru saja mulai bergerak.
Pukul sebelas tiga puluh, saat sebagian besar tamu sedang asyik ngobrol dan anak-anak berlarian di taman, pria berjas hitam berdiri dari tempat duduknya.
Dia berjalan dengan santai—terlalu santai—menuju ke arah Suyin.
Xiao Zhen langsung berdiri, menempatkan dirinya di antara pria itu dan Suyin.
"Maaf, Anda siapa? Saya tidak ingat pernah melihat Anda di acara keluarga sebelumnya," ucap Xiao Zhen dengan nada sopan tapi dingin.
Pria itu tersenyum—senyum yang tidak sampai ke mata.
"Saya kerabat jauh dari cabang utara. Hanya ingin menyapa Nona Lin—saya dengar dia pewaris langsung almarhum Nyonya Lin."
"Nona Lin sedang tidak ingin diganggu. Silakan kembali ke tempat duduk Anda."
Ketegangan mulai terasa—beberapa tamu yang duduk dekat mulai menoleh dengan bingung.
Pria itu tidak bergerak. Tatapannya melewati Xiao Zhen, langsung ke Suyin—atau lebih tepatnya, ke gelang giok di tangan Suyin.
"Gelang yang indah," ucapnya dengan nada yang membuat bulu kuduk Suyin berdiri. "Pasti sangat berharga."
"Terima kasih," jawab Suyin dengan suara yang lebih tenang dari yang dia rasakan. "Ini warisan keluarga."
"Pasti ada cerita menarik di balik gelang itu."
"Ada. Tapi itu cerita keluarga pribadi." Suyin berdiri, berdiri di samping Xiao Zhen. "Maaf, saya harus ke kamar mandi sebentar."
Dia berbalik—tapi langkahnya tiba-tiba tersandung. Tidak, bukan tersandung—ada sesuatu yang menahannya. Energi tak kasat mata yang mencengkeram kakinya.
Kultivator.
Xiao Zhen langsung bereaksi—melepaskan energi spiritual yang memutus cengkeraman itu dalam sepersekian detik.
Pria berjas hitam itu mundur satu langkah, senyumnya menghilang.
"Jadi memang ada penjaga," ucapnya dengan nada berbeda—lebih dingin, lebih berbahaya.
Di seluruh ruangan, tamu-tamu mulai merasa ada yang tidak beres. Obrolan melambat. Beberapa orang mulai berdiri, tidak nyaman.
Formasi Wei Hao mulai bekerja—orang-orang non-kultivator secara natural mulai bergerak menjauh dari area Suyin, Xiao Zhen, dan pria berjas hitam. Mereka tidak tahu kenapa, tapi mereka merasa harus ke ruangan lain, atau ke taman, atau ke mana saja selain di sini.
Dalam dua menit, ruang tamu yang tadi ramai mulai mengosong.
Hanya tersisa: Suyin, Xiao Zhen, pria berjas hitam, wanita dress merah, pria kemeja batik—dan Chen Ling yang masih duduk di sudutnya dengan tenang, Zhao Mei yang berdiri di dekat jendela seolah sedang melihat pemandangan, dan Liu Peng yang keluar dari dapur dengan posisi siaga.
Pintu depan tertutup dengan sendirinya—formasi Wei Hao mengaktifkan mode pertahanan penuh.
Pria berjas hitam tertawa pelan.
"Klan Xiao rupanya. Tidak heran." Dia melepas jasnya—di bawahnya ada simbol yang diukir di lengannya. Simbol Organisasi Bayangan. "Tapi kami sudah siap menghadapi kalian."
Dari pintu samping, empat orang lagi masuk. Semua memancarkan aura kultivator—dan yang di depan, seorang wanita berambut panjang dengan mata tajam, memancarkan aura yang jauh lebih kuat dari yang lain.
Kultivator tingkat menengah.
Total tujuh kultivator Organisasi Bayangan di dalam rumah.
Dan pertarungan baru saja dimulai.