NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dingin

Sepanjang perjalanan pulang, perasaan tidak nyaman itu terus menggelayuti hati Sebria. Aroma bunga di dalam mobilnya yang biasanya menenangkan, kini justru terasa menyesakkan. Ia terus terbayang wajah kaku Delia dan peringatan tajam yang dilontarkannya. Benarkah ia terlalu akrab?

Sesampainya di toko bunga miliknya, Sebria tak langsung bekerja. Ia duduk di kursi kayu di sudut ruangan, menatap kosong ke arah deretan mawar yang baru datang. Keceriaan yang ia rasakan saat makan siang bersama Byan dan Jehan tadi menguap tanpa bekas, berganti dengan rasa cemas dan rendah diri. Ia merasa seperti pengganggu yang baru saja diperingatkan untuk menjauh dari kehidupan yang bukan miliknya.

...----------------...

Sebria meletakkan tasnya di meja makan, lalu terdiam menatap tangannya sendiri. Tangan yang tadi siang dengan spontan menyuapi Byan. Saat itu, tindakan tersebut terasa begitu alami dan penuh kasih, namun sekarang setelah peringatan tajam sang sekretaris, ia merasa tindakan itu seperti sebuah kesalahan memalukan yang melampaui batas.

Ia menghela napas panjang, mencoba memejamkan mata, namun bayangan wajah kecil Byan yang ceria dan tatapan dalam Jehan justru membuatnya semakin tidak nyaman. Ada keraguan yang mulai tumbuh. Apakah ia harus menjauh?

Sebria merasa seperti penyusup yang baru saja tertangkap basah. Malam itu, bukan aroma bunga yang menemaninya tidur, melainkan rasa cemas bahwa kehangatan singkat yang ia rasakan tadi siang hanyalah sebuah kekeliruan yang tidak boleh diulang lagi.

Tangannya meraba bantal yang dingin, seolah menegaskan bahwa kesendirian adalah satu-satunya realitas yang aman. Ia mulai menyusun dinding pembatas dalam benaknya, berjanji untuk kembali menjadi sosok yang tak tersentuh, agar esok hari, jika kehangatan itu tak lagi menyapa, ia tidak akan merasa kehilangan apa pun.

...----------------...

Gemerincing lonceng di pintu toko bunga biasanya menjadi suara yang paling dinanti, namun kali ini suaranya terdengar seperti sebuah peringatan. Byan muncul dengan binar mata yang sama, namun sang pemilik toko tak lagi menyambutnya dengan pelukan hangat atau sekadar usapan di kepala.

Sebria tetap menyibukkan diri dengan gunting stek, memangkas batang-batang mawar dengan gerakan yang kaku. Bayangan sekretaris kantor kemarin kembali muncul di benaknya sosok yang dengan angkuh menata ulang realitanya bahwa ia hanyalah orang asing yang tak punya hak atas keluarga itu. Kalimat tajam tentang 'Tidak seharusnya' membuat setiap senyum bocah di depannya kini terasa seperti sebuah kesalahan.

"Tante, hari ini bunganya cantik sekali," sapa Byan polos.

Sebria hanya memberikan anggukan tipis tanpa berani menatap mata sang bocah, takut jika ketulusan di sana akan meruntuhkan pertahanan diri yang sedang ia bangun dengan susah payah untuk menjauh dari kehidupan mereka.

"Byan, nanti siang toko tante tutup jadi kamu tidak bisa kesini. Tante ada urusan di luar tidak apa-apa ya nunggu di depan sekolah."

Byan terdiam, tangannya yang mungil menggantung di udara saat hendak menyentuh kelopak lili. Ia merasakan ada tembok tak kasat mata yang tiba-tiba berdiri kokoh di antara mereka. Kehangatan yang biasanya ia temukan di toko ini yang bahkan tak ia dapatkan di rumahnya yang besar kini menguap, berganti dengan suasana canggung yang menyesakkan.

Ia mengerutkan kening, merasa terganggu karena Sebria yang biasanya cerewet menceritakan filosofi bunga, kini hanya diam membisu dengan wajah datar. Dengan keberanian yang hanya dimiliki seorang anak kecil, ia menarik ujung celemek cokelat wanita itu, memaksa sebuah interaksi kecil di tengah keheningan pagi.

"Tante marah, karena mengantar aku ke kantor Papa kemarin?" tanyanya dengan suara serak, tanpa tahu bahwa yang sebenarnya bersalah adalah lisan orang dewasa di sekeliling ayahnya.

Sebria menghentikan gerakannya, namun tetap menolak untuk membalas tatapan tulus sang bocah. Ia menarik napas panjang, menelan kembali segala penjelasan yang nyaris tumpah dan memilih untuk bersikap formal. Sebuah jarak paling aman yang bisa ia ciptakan.

"Sudah hampir jam tujuh, Sayang. Kamu harus segera ke sekolah sekarang," Ucapnya datar, suaranya terdengar asing di telinga anak itu. Ia tidak lagi memanggilnya dengan sebutan akrab, melainkan dengan nada yang penuh batasan.

Byan sempat terpaku, mencari celah kehangatan di mata sang pemilik toko, namun yang ia temukan hanyalah kesibukan yang dipaksakan. Dengan langkah berat dan hati yang penuh tanda tanya, Byan akhirnya berbalik arah. Sebria hanya bisa memandang punggung kecil itu menjauh dari balik kaca, menyadari bahwa peringatan sang sekretaris telah berhasil mengubahnya menjadi orang asing yang paling dingin demi menjaga sisa harga dirinya.

...----------------...

Meja makan yang biasanya penuh celoteh tentang sekolah kini sunyi senyap. Byan hanya mengaduk-aduk supnya tanpa minat, matanya yang biasa berbinar kini tampak redup dan kosong. Perubahan drastis itu membuat suasana rumah terasa jauh lebih dingin bagi Jehan.

Jehan mencoba menawarkan es krim favorit atau membacakan buku cerita, Byan hanya menggeleng pelan dan memilih untuk masuk ke kamar lebih awal. Ia meringkuk di balik selimut, merasa bahwa dunia orang dewasa tiba-tiba menjadi tempat yang tidak ramah dan penuh rahasia yang tak ia pahami.

Kebingungan Jehan berubah menjadi kekhawatiran yang nyata. Ia tahu, jika putranya yang ceria bisa berubah semurung ini, pasti ada sesuatu yang sangat melukai hatinya di toko bunga tadi pagi. Ia pun berdiri di depan jendela, memandang ke arah jalanan kota, bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga dampaknya menghancurkan kebahagiaan kecil putranya.

Di tempat lain. Sebria berdiri mematung di balkon, membiarkan angin malam yang menusuk menyentuh kulitnya tanpa perlawanan. Matanya menatap kosong ke arah lampu-lampu kota, namun pikirannya tertahan pada wajah murung Byan yang ia usir secara halus tadi pagi. Ada sesak yang tak kunjung hilang antara rasa bersalah karena menyakiti hati seorang anak dan luka harga diri yang ditorehkan sang sekretaris.

Keona yang baru saja pulang, menyadari ada yang tidak beres. Ia bersandar di pintu balkon, mengamati punggung kakaknya yang tampak begitu rapuh dan terbebani. Biasanya, sang kakak akan sibuk menceritakan jenis bunga baru atau tingkah lucu sahabat kecilnya, tapi malam ini hanya ada keheningan yang menyesakkan.

"Kak, bunga di toko bisa layu kalau pemiliknya kehilangan nyawa seperti ini," Celetuk Keona pelan, mencoba memecah suasana dengan humor tipis. Namun, ketika kakaknya hanya menghela napas panjang tanpa menoleh, sang adik tahu bahwa masalah ini jauh lebih serius daripada sekadar bunga yang tak laku. "Ada apa?"

"Kakak baru saja mematahkan hati seorang anak kecil," Bisik Sebria pelan tanpa mengalihkan pandangan dari kegelapan. Sang adik terdiam, menunggu kelanjutan kalimat yang terasa sangat berat itu. Dengan suara bergetar, ia akhirnya menumpahkan segalanya tentang kata-kata sekretaris di kantor kemarin yang memperingatkannya. Sebria menceritakan bagaimana tajamnya kata-kata itu hingga ia merasa rendah dan bagaimana pagi tadi ia terpaksa bersikap dingin serta mengusir anak itu agar tidak ada lagi kalimat menyakitkan yang menyerangnya.

"Kakak tidak ingin dianggap pengemis cinta, Keo," Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi melihat mata Byan yang bingung tadi pagi... rasanya kakak justru menjadi orang jahat yang paling pengecut."

Sang adik mengepalkan tangan, geram mendengar kakaknya direndahkan seperti itu. Ia menyadari bahwa kakaknya sedang terjebak dalam dilema antara menjaga kehormatan diri dan kasih sayang tulus yang sudah terlanjur tumbuh untuk anak itu.

1
Lisa
Senangnya akhirnya Bria menerima lamaran dr Jehan..
Ayuwidia
Berada di posisi Bria itu nggak mudah. Ada Luka tak kasat mata yang sulit untuk sembuh, apalagi ketika melihat foto dan vidio Ayusa. Ah Sebria, terbuat dari apa hatimu?
Ririn Rira: Iya kak kalau kata Keona ada cermin masa lalu di antara Jehan sama Sebria
total 1 replies
Lisa
Bria sayang banget sama Byan..moga kalian menjadi 1 keluarga yg utuh y..amin..
Ririn Rira: semoga ya kak
total 1 replies
Ayuwidia
Selalu berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa
Percayalah pdJehan Bria..dia sungguh2 mencintaimu dan menerimamu apa adanya
Ayuwidia
Itu artinya... kamu melamar Bria, Je?
Ayuwidia: tho the point dia, nggak mau kehilangan lagi 😄
total 2 replies
Ayuwidia
Bener banget, Jehan
Ayuwidia
Keliatan banget si Delia cembokur
Lisa
Wah Jehan secara tidak langsung melamar Sebria nih 😊
Ririn Rira: Gercep si Jehan 🤭
total 1 replies
Lisa
Syukurlah akhirnya sudah ditemukan penyebab kekacauan..moga Bria mau membuka hati lg utk Byan
Lisa
Kasihan Byan..ayo Bria jgn terpengaruh dgn ucapan sekretaris itu..dia ada hati sama Jehan makanya berkata spt itu..
Lisa
Sok banget si Delia itu..ngapain dia ikut campur urusannya Bria & Jehan..pasti dia naksir Jehan..
Ririn Rira
Deric mulai muncu ya kak 🤭
Ayuwidia
Betoel kata Kanaga. Dan asal kamu tau, Ric... berlian yang sudah dibuang tidak bisa dipungut lagi
Lisa: Bener banget Kak Ayu
total 1 replies
Ayuwidia
Pemandangan yang hangat dan indah. Semoga hati Sebria terbuka lebar lagi untuk Jehan. Menerimanya sebagai pasangan hidup, dan menjadikan Byan seperti anaknya sendiri 🥰
Lisa
Papa & anak kompak nih 😊
Ayuwidia
Selalu nyesek tiap keinget kisah 'Luka Sebria'. Ada Ayusa di antara Jehan & Sebria. Masih berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa: Benar Kak Ayu..aku jg berharap seperti itu.
total 1 replies
Ayuwidia
Keona... dia sosok adik yang teramat sayang pada kakaknya. Dia tidak ingin dan tidak rela kakaknya kembali terluka. Makanya, dia super tegas. Tugas Jehan menaklukan hati Keona
Lisa
Wah Keona benar² protektif nih
Ayuwidia
Bagus banget. Kisahnya bikin baper. Semangat berkarya Kak Author ✍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!