NovelToon NovelToon
Janda Miskin Kesayangan Tuan Mafia

Janda Miskin Kesayangan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Janda / Selingkuh
Popularitas:97.5k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.

Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.

Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.

Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 30

Bleiz kembali terdiam.

Namun pikirannya bekerja.

Ia mengenal Max bukan hanya sebagai pemimpin, tapi sebagai pria yang dibentuk oleh luka. Luka yang tak pernah dibicarakan, tapi selalu terasa dalam caranya memandang dunia.

Dan kini, untuk pertama kalinya, Max jatuh hati.

Ironisnya… pada wanita yang telah bersuami.

Bleiz menatap bayangan tuannya di kaca spion.

Apakah ini kebetulan?

Atau pola?

Pikirannya melayang pada masa lalu Max—pada kisah yang hanya segelintir orang tahu. Tentang ibunya. Tentang rumah besar yang terlihat sempurna dari luar, tapi retak di dalam.

Max kehilangan ibunya bukan karena kemiskinan.

Bukan karena penyakit.

Tapi karena pengkhianatan.

Ayahnya berselingkuh.

Skandal itu bukan hanya menghancurkan pernikahan. Ia menghancurkan mental seorang wanita yang terlalu setia. Ibunya Max perlahan runtuh—harga diri terkikis, hati patah, hingga akhirnya sakit yang ia pendam menjadi kehancuran yang tak bisa diperbaiki.

Dan sejak hari itu, Max membenci satu hal lebih dari apa pun—

Pria yang mengkhianati wanita yang setia.

Bleiz menghela napas pelan.

Apakah karena itu?

Apakah Max melihat Zayna sebagai bayangan ibunya?

Wanita yang terluka oleh suami yang tidak menghargainya?

Wanita yang bertahan dalam ikatan yang justru menyakitinya?

Mungkin.

Atau mungkin lebih dari itu.

Mungkin bagi Max, ini bukan sekadar cinta.

Ini pembuktian.

Bahwa ia berbeda dari ayahnya.

Bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan wanita yang terluka.

Bahwa ia bisa menjadi pelindung… bukan penghancur.

Namun ironinya tetap ada.

Jika ia mencintai wanita bersuami…

Bukankah itu berarti ia berdiri di posisi yang dulu ia benci?

Bleiz tahu Max bukan pria yang hidup dalam kebetulan.

Jika ia melangkah, itu karena ia sudah memilih.

Tapi sebagai orang yang melihat Max sejak muda, Bleiz sadar satu hal—

Kadang luka masa lalu tidak hanya membentuk kekuatan. Ia juga membentuk arah hati.

Dan kali ini, arah itu bisa membawa Max pada perang yang lebih pribadi daripada bisnis mana pun yang pernah ia jalani.

“Aku ingin menemuinya…” pinta Max.

“Baik Tuan.” Kata Bleiz namun kedua matanya beberapa kali melirik ke arah spion.

Matahari siang bersinar terang, memantul di kaca-kaca gedung dan permukaan aspal yang berkilau. Lalu lintas tampak normal—deretan mobil bergerak teratur, suara klakson sesekali terdengar, dan pejalan kaki berlalu-lalang tanpa menyadari apa pun yang akan terjadi.

Di balik kemudi mobil hitam itu, Bleiz tampak tenang seperti biasa. Namun matanya tidak pernah benar-benar santai. Ia melirik beberapa melirik ke spion tengah.

Dua kendaraan berada di belakang mereka. SUV abu-abu di baris pertama. Sedan hitam beberapa meter di belakangnya. Terlalu konsisten. Terlalu teratur.

Bleiz memperkecil jarak pandangnya dengan sedikit memiringkan kaca spion samping. Mobil itu tetap di sana. Tidak mendahului. Tidak tertinggal.

Sudut bibirnya menegang tipis.

“Tuan,” ucapnya rendah.

Max yang duduk di kursi belakang menatap layar ponselnya, ia melihat foto-foto Zayna yang sedang tertidur di pelukannya, Max mengambilnya secara diam-diam, ia tahu Zayna bukan wanita yang mudah di foto.

Ketika Bleiz memanggilnya, wajahnya tetap dingin seperti biasa. “Ya?”

“Kita sedang diikuti.”

Max mengangkat pandangan perlahan. “Pengawal?”

Bleiz menggeleng pelan. Ia memperlambat mobil saat lampu lalu lintas berubah kuning, lalu kembali melaju saat hijau menyala. Dua kendaraan itu melakukan hal yang sama—tanpa ragu.

“Bukan pengawal kita,” jawab Bleiz tenang. “Formasinya berbeda. Pengawal kita menjaga jarak di sisi kanan dan kiri, bukan lurus di belakang seperti itu.”

Ia mengambil jalur kiri secara mendadak, seolah ingin menyalip kendaraan di depan. SUV abu-abu ikut berpindah. Sedan hitam menyusul dengan jeda yang presisi.

Bleiz kini benar-benar yakin.

“Dua kendaraan di belakang bukan bagian dari tim keamanan,” katanya tegas. “Mereka mengikuti kita sejak keluar dari kawasan kantor.”

Cahaya matahari menyorot wajahnya, menegaskan sorot mata yang kini tajam dan penuh perhitungan.

Di dalam mobil, suasana yang awalnya tenang berubah menjadi tegang meski tidak ada kepanikan. Hanya kewaspadaan.

Max masih terlihat tenang.

“Seberapa serius?”

Bleiz mengamati lagi lewat spion. “Mereka profesional. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Tapi terlalu konsisten untuk disebut kebetulan.”

Bleiz menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, lalu berbelok ke jalan alternatif tanpa memberi tanda lebih awal. Kedua mobil itu kembali mengikuti.

Bleiz menarik napas pelan.

“Perintah Anda, Tuan?” tanyanya rendah, tetap mengendalikan mobil dengan stabil meski situasi mulai berubah.

Di bawah terik matahari siang yang tampak damai, bayangan bahaya justru bergerak terang-terangan—mengikuti tanpa rasa takut, seolah ingin terlihat.

Bleiz tidak langsung menunggu jawaban Max, sikap diam Max sudah dimengerti.

Begitu melihat celah di persimpangan berikutnya, ia membelok tajam ke jalur servis yang jarang digunakan—jalan sempit di antara bangunan gudang tua dan tembok beton tinggi. Area itu nyaris tak dilalui warga. Sepi. Terlalu sepi untuk siang hari.

Mobil melaju masuk ke kawasan tersembunyi itu, jauh dari keramaian jalan utama.

“Area kosong,” gumam Bleiz pelan. “Jika mereka ingin bergerak, ini tempatnya.”

Max tidak terlihat panik. Ia justru menyilangkan kaki dengan tenang, tatapannya tajam menembus kaca depan.

Beberapa detik kemudian—

SUV abu-abu muncul dari tikungan.

Disusul sedan hitam.

Bleiz memperlambat mobilnya secara sengaja. Jalan di depan buntu—hanya pagar besi tinggi yang terkunci. Ia memang memilih jalur itu. Ruang terbuka, tapi terkunci dari segala sisi.

Mesin mobil mereka masih menyala ketika SUV mendadak memotong dari sisi kiri, berhenti melintang. Sedan hitam mempercepat laju dan menutup sisi kanan.

Terkepung.

Bleiz mematikan mesin dengan gerakan tenang.

Pintu SUV terbuka lebih dulu.

Empat pria turun. Berpakaian kasual, namun gerakannya terlalu terlatih untuk disebut orang biasa. Dua lainnya keluar dari sedan. Total enam orang.

Mereka menyebar. Setengah lingkaran terbentuk, mengurung mobil Max dari depan dan samping.

Tidak ada warga. Tidak ada saksi.

Hanya suara angin siang yang menerpa pelan, dan gema langkah sepatu di atas aspal kasar.

Bleiz melirik spion sekali lagi, memastikan tidak ada kendaraan lain. Tangannya turun ke bawah setir, menyentuh sesuatu yang tersembunyi.

“Tuan,” ucapnya rendah, suaranya tetap stabil. “Enam orang. Terlatih. Tidak bersenjata terbuka… tapi itu tidak berarti mereka kosong. Bisa saja senjata mereka sembunyikan.”

Max membuka pintu mobil perlahan.

Bleiz menoleh cepat. “Tuan—”

Namun Max sudah keluar lebih dulu, berdiri tegak di bawah cahaya matahari. Wajahnya tenang, bahkan nyaris tak terganggu.

Salah satu pria maju selangkah.

“Max,” ucapnya dingin. “Akhirnya kita bisa berbicara tanpa pengawal.”

Bleiz keluar dari sisi pengemudi, berdiri sedikit di depan Max—posisi protektif, namun tidak mencolok.

“Jika ingin berbicara,” jawab Max datar, “cara kalian cukup dramatis.”

Pria itu tersenyum tipis. “Kami hanya memastikan Anda tidak lari.”

Udara terasa berubah. Tegang. Padat.

Bleiz mengamati setiap gerakan tangan, setiap perubahan napas lawan. Jarak mereka sekitar lima meter. Cukup dekat untuk serangan mendadak.

“Perintah?” bisiknya pelan tanpa menoleh pada Max.

Max tetap menatap lurus ke pria di depannya.

“Tidak perlu terburu-buru,” jawabnya tenang. “Biarkan mereka berbicara.”

Namun Bleiz tahu.

Pengepungan seperti ini bukan untuk percakapan biasa.

Bersambung

1
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
negeri-negeri sedap ya....kalo punya pasangan kek gini. berasa di cintai tapi langkah kaki terbatas. dan yang lebih adalah setiap gerakan diawasi. bahkan bernapas juga mungkin di awasi. sebenarnya ini tu baik apa gak ya....
di satu sisi ok. tapi disisi Laen, kebebasan terampas.
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
licik nya tu licik banget si mas max ini.
Tapi salut sama Darwin. Dia berani dan lantang. gak kek bapaknya, yang gampang takut 🫣
Natsa
halah dasar tukang bucin 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
graver el mubarak
next
graver el mubarak
up
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
manis²nya dulu sebelum badai menerjang, Awas aja max kena jebakan nevari. dia ke rs dan drake masuk ke mansionnya max🤦‍♀️
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
sekalian dipasang pelacak.
eva nindia
nah sering² kya gini max biar zayna mkin nempel 🤭
tuan nelson hrs pnjng umur dlu biar dia bsa jelsin ke max yg sbnar.a
Maulidina
drake kan masa lalu zayna max.. kau lah masa depannya 😄
Hanima
ahhh sweet cekallli 😍🤭
Mita Paramita
lanjut yang banyak Thor 🔥🔥🔥
🎀𝔸ᥣᥙᥒᥲ🎀
coba max bilang gini dulu.
aku mencintaimu zayna, mari kita mulai semua dari awal. lupakan masalalu dan sambutlah masa depan denganku. gimana tanggapan Zayna nanti🤣
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
sampai sini, masih ku telaah dan ku baca berulang. jadi ..... para penghianat Nelson bersekutu dengan Nevari yang notabene adalah musuh Nelson. Dan.... Nelson menikahi Nevari, sebagai alasan karna tau Nevari pasti akan balas dendam dgn mengincar max. ada rahasia antara nelson dan Nevari. hemmmmm rumit ya.......
wiliss
kepotong thorr mau tau di balik uap itu knp ahahah
eva nindia
Namun dibalik uap apa thor ?
astaga zayna 🤐
diboongin lgii perihal hp 🙊 moga kdpan.a pasangan ni bsa sling jjur dlm kmunikasi 😁
Hanima
Lanjut Thorrrr
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
pen ku getok palanya Drake pakek linggis. bisa ya....bilang kek gitu. biniknya kek gitu juga kena dia. otaknya geser kek nya ni lakik
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
Jika ada penghargaan 🏆 citra, maka max, masuk salah satu kategori Pendukung pria terbaik 😂✋
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
pinter juga ya dia😂. mencari kelemahan zayna untuk ke untngan yang lebih gede. patut di contoh bang ✋
Dari awal baca, bletz itu ku pikir perempuan 😂. ternyata lelaki. karna tmnku juga namanya bleitz tapi cewek✋
graver el mubarak
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!