NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu dari Masa Lalu

Malam itu, hujan turun membasuh Jakarta dengan rintik yang konsisten, menciptakan suasana melankolis di balik jendela-jendela tinggi mansion Arkananta. Namun, di dalam ruang makan utama, atmosfer terasa jauh lebih dingin daripada udara di luar. Meja panjang dari kayu jati yang biasanya tampak megah, kini terasa seperti arena gladiator. Lilin-lilin aromatik dinyalakan, menyebarkan bau cendana yang berat, mencoba menutupi ketegangan yang merambat di antara setiap orang yang duduk di sana.

Alana duduk di sisi kanan Arkan, jemarinya bertautan erat di bawah meja. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru dongker yang elegan namun tertutup—pilihan yang disarankan Arkan untuk memberikan kesan "aman". Namun, di hadapannya, duduklah Bianca Adiwangsa.

Bianca adalah definisi sempurna dari wanita kelas atas. Ia mengenakan gaun merah menyala yang memamerkan bahunya yang tegas, rambut hitamnya disanggul modern yang sangat rapi, dan sepasang anting berlian di telinganya seolah-olah berteriak tentang kekayaan keluarganya yang tak berseri. Sejak Bianca melangkah masuk ke rumah ini, Alana merasa seperti sebuah lukisan palsu yang sedang dipajang di samping mahakarya asli.

"Arkan, kau hampir tidak berubah sama sekali," suara Bianca terdengar merdu, namun ada nada kepemilikan di dalamnya. Ia menyesap wine merahnya dengan gerakan yang sangat halus. "Masih tetap kaku, masih tetap dingin, dan masih tetap menawan seperti saat kita di London dulu."

Arkan hanya menanggapi dengan anggukan singkat, wajahnya tetap datar seperti batu karang. "Waktu berjalan, Bianca. Banyak hal yang berubah."

"Oh, benarkah?" Bianca mengalihkan pandangan tajamnya kepada Alana. Senyumnya melebar, namun matanya tidak menunjukkan keramahan sedikit pun. "Termasuk pilihan istrimu? Aku harus jujur, Elena... kau tampak sangat berbeda dari yang kuingat. Terakhir kali kita bertemu di pesta amal di Singapura, kau hampir menumpahkan sampanye ke gaunku karena kau terlalu mabuk untuk berdiri tegak. Sekarang? Kau tampak begitu... tenang. Terlalu tenang untuk seorang Elena yang kukenal."

Jantung Alana berdegup kencang. Ia teringat instruksi Arkan: Jangan biarkan dia memancing emosimu.

"Manusia belajar dari kesalahan, Bianca," jawab Alana dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. "Kecelakaan yang kualami memberikan banyak waktu untuk merenung. Aku menyadari bahwa hidup yang sia-sia tidak akan membawaku ke mana pun, terutama saat aku memiliki suami seperti Arkan yang harus kudukung."

Tuan Besar Arkananta, yang duduk di kepala meja, mengangguk puas. "Itulah yang kusukai darimu sekarang, Elena. Kau sudah dewasa."

Bianca tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting kaca yang pecah. "Dewasa atau... berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda? Arkan, kau pasti sangat hebat dalam mendidik istrimu."

Bianca meletakkan gelasnya dan mencondongkan tubuh ke depan, menatap Alana dengan tatapan yang seolah hendak menembus tengkoraknya. "Ngomong-ngomong soal masa lalu, Elena... apakah kau masih menyimpan kotak musik antik dari pengagum rahasiamu di Swiss? Kau pernah bilang padaku bahwa itu adalah benda yang paling kau benci tapi tidak bisa kau buang."

Alana tertegun. Kotak musik? Dalam berkas Arkan, tidak ada penyebutan tentang kotak musik dari pengagum rahasia. Ia melirik Arkan dari sudut matanya, namun Arkan sedang memotong steaknya dengan presisi, seolah-olah tidak peduli dengan percakapan itu.

"Aku sudah membuang banyak barang lama pasca kecelakaan, Bianca. Memori yang menyakitkan hanya akan menjadi beban untuk masa depan," jawab Alana diplomatis, mencoba bertaruh.

"Membuangnya?" Bianca mengangkat alisnya, lalu menatap Arkan. "Sayang sekali. Padahal kau bilang kotak itu sangat penting untuk... menjaga rahasia tertentu."

Arkan meletakkan garpu dan pisaunya dengan bunyi denting yang cukup keras di atas piring porselen. "Bianca, kau datang ke sini untuk membicarakan rencana merger antara Adiwangsa Group dan Arkananta, atau hanya untuk bernostalgia tentang barang-barang sampah yang sudah tidak ada?"

"Tentu saja untuk bisnis, Arkan," Bianca tersenyum manis, namun sorot matanya tetap berbahaya. "Ayahku sudah menyetujui draf awal. Merger ini akan membuat kita menguasai pasar properti di seluruh Asia Tenggara. Tapi Kakek Arkananta pasti setuju, bahwa bisnis yang besar membutuhkan stabilitas keluarga yang besar pula. Aku hanya ingin memastikan bahwa mitra bisnisku tidak sedang membangun istananya di atas pasir yang mudah runtuh."

Makan malam itu berlangsung selama dua jam yang terasa seperti dua abad bagi Alana. Setiap kata yang keluar dari mulut Bianca adalah jebakan. Wanita itu sengaja memancing detail-detail kecil masa lalu yang hanya diketahui oleh Elena yang asli. Beberapa kali Alana harus berpura-pura pening atau batuk untuk menghindari pertanyaan yang terlalu spesifik.

Setelah makan malam selesai, Tuan Besar mengajak Bianca ke ruang cerutu untuk mendiskusikan angka-angka merger. Arkan dan Alana akhirnya memiliki waktu untuk menyendiri di balkon samping.

Alana menyandarkan tubuhnya di pagar balkon, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang panas. "Dia tahu, Tuan. Bianca tahu aku bukan Elena. Cara dia menatapku... dia sedang bermain dengan mangsanya."

Arkan berdiri di belakangnya, meletakkan tangannya di atas pagar, secara tidak langsung mengurung Alana di antara tubuhnya dan pagar balkon. "Dia tidak tahu pasti. Dia hanya curiga. Bianca selalu suka memprovokasi orang untuk melihat reaksi mereka. Jika kau tetap tenang, dia tidak akan punya bukti."

"Tapi dia menyebut soal kotak musik itu! Jika aku salah menjawab satu kali lagi, semuanya akan hancur," Alana berbalik, menatap Arkan dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa Anda tidak memberitahuku bahwa akan ada orang seperti dia yang datang?"

Arkan menatap Alana dalam-dalam. Ada kilat penyesalan di matanya yang biasanya keras. "Karena aku sendiri berharap dia tidak pernah kembali ke Indonesia. Bianca... dia adalah bagian dari rencana Kakek yang gagal karena aku memilih untuk menikahi Elena. Dia punya dendam pribadi."

"Dia mencintai Anda?" tanya Alana pelan.

Arkan tidak menjawab secara langsung. "Dia mencintai kekuasaan yang bisa kudapatkan jika kami bersatu. Dan dia menganggap Elena adalah penghalang."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu balkon. Bianca berdiri di sana, memegang sebuah tas kecil yang elegan. Ia menatap posisi Arkan dan Alana yang sangat dekat dengan senyum yang sulit diartikan.

"Maaf mengganggu momen romantis kalian," ucap Bianca tenang. "Aku hanya ingin berpamitan. Kakekmu sudah setuju dengan poin-poin utamaku, Arkan. Aku akan sering berada di kantor mulai minggu depan sebagai konsultan pengawas merger."

Bianca melangkah mendekati Alana, lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Alana sendiri. "Elena yang asli tidak pernah menatap Arkan dengan rasa takut seperti yang kau lakukan sekarang. Kau... kau adalah aktris yang menarik, tapi ingat, panggung ini akan segera runtuh."

Setelah Bianca pergi, Alana merasa seluruh tubuhnya gemetar. Bianca bukan hanya sekadar rival bisnis; dia adalah predator yang cerdas.

Malam itu, Alana tidak bisa memejamkan mata. Ia merasa terjepit di antara dua sisi. Di satu sisi, ada Elena yang asli di paviliun yang membencinya setengah mati. Di sisi lain, ada Bianca yang mulai mengendus kebohongannya. Dan di tengah-tengah, ada Arkan—pria yang ia cintai namun tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan.

Ia memutuskan untuk berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Namun, saat melewati lorong menuju paviliun belakang, ia melihat pintu paviliun sedikit terbuka. Penjaga yang seharusnya berjaga di sana tidak terlihat.

Dengan jantung yang berdebar, Alana melangkah mendekat. Ia melihat sosok wanita berdiri di balkon paviliun, menatap ke arah gedung utama mansion dengan mantel wol besar.

"Elena?" bisik Alana.

Wanita itu berbalik. Itu memang Elena, tapi wajahnya tidak tampak marah seperti siang tadi. Ia tampak tenang, namun ketenangan itu justru jauh lebih menakutkan.

"Kau dengar itu, Alana?" Elena menunjuk ke arah malam yang sepi. "Suara keretakan. Bianca sudah datang, bukan? Aku mengenalnya lebih baik dari siapa pun. Dia adalah ular yang berbisa."

Elena melangkah mendekati adiknya, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. "Dia akan menghancurkanmu. Dan saat dia melakukannya, Arkan tidak akan bisa menyelamatkanmu. Karena pada akhirnya, Arkan hanya mencintai apa yang bisa diberikan oleh nama Arkananta, bukan kau, dan bukan aku."

"Kau salah, Elena," Alana mencoba membela diri, meski suaranya bergetar.

"Kita lihat saja nanti," Elena tersenyum miring. "Tapi sebelum Bianca menghancurkanmu, aku punya hadiah untukmu. Besok, carilah kotak musik yang dia sebutkan tadi. Kotak itu ada di bawah lantai kayu di bekas kamar lama kita di rumah Ibu. Jika kau ingin selamat dari Bianca, kau harus tahu apa yang ada di dalamnya."

Elena kemudian berbalik dan masuk kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Alana dalam kegelapan. Alana menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam permainan yang jauh lebih besar dari sekadar penyamaran. Ada rahasia di dalam kotak musik itu—rahasia yang mungkin menjadi kunci untuk mengalahkan Bianca, atau justru menjadi senjata yang akan menghancurkan Arkan selamanya.

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!