Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Siang itu, cuaca di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya. Freya dan anggota kelompok KKN lainnya sedang sibuk menyelesaikan salah satu program kerja utama mereka: memasang papan penunjuk arah dan peta desa di pertigaan jalan utama.
"Ayo, Frey! Pegangin kayunya yang lurus, gue mau paku nih!" seru Bimo, ketua kelompok mereka yang bertubuh atletis dan hobi memakai kaos tanpa lengan.
Freya, yang wajahnya sudah coret-moret terkena cat kayu dan keringat, tertawa lebar. "Sabar, Bim! Ini berat tahu, lo kira gue kuli bangunan?"
"Sini, gue bantu pegangin dari belakang biar nggak goyang," sahut Bimo lagi. Ia berdiri tepat di belakang Freya, tangannya ikut memegang tiang kayu yang sama agar posisinya stabil sebelum dipaku.
Dari kejauhan, Jihan iseng mengambil ponselnya. "Wih, estetik nih! Calon Ratu lagi kerja bakti bareng rakyat jelata. Cekrek!"
Jihan langsung mengunggah foto itu ke Instagram Story dengan caption: "Semangat KKN hari ke-15! Pak Ketua dan Bu Pelukis lagi duet maut nih 🔨🎨 #KKNSukamaju #TeamSolid"
Di saat yang sama, sekitar sepuluh jam perjalanan dari sana, Kaisar sedang duduk di ruang rapat dewan. Suasana sangat formal, namun pikiran sang Pangeran Mahkota sedang tidak fokus. Ia berulang kali mengecek ponselnya, menunggu laporan "rahasia" dari tim keamanannya di desa.
Tiba-tiba, ada notifikasi masuk. Bukan dari intel, melainkan dari akun Instagram Jihan yang memang sengaja ia follow (menggunakan akun rahasia) untuk memantau Freya.
Begitu layar ponsel menampilkan foto tersebut, napas Kaisar seolah terhenti. Matanya terpaku pada posisi tangan Bimo yang berada sangat dekat dengan tangan Freya pada tiang kayu yang sama. Ditambah lagi, di foto itu Freya sedang tertawa lepas menatap Bimo.
"Pangeran Mahkota? Apakah ada masalah dengan pasal ekspor ini?" tanya salah satu menteri yang bingung melihat wajah Kaisar yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin, seolah suhu di ruangan itu turun sepuluh derajat.
Kaisar tidak menjawab. Ia perlahan meletakkan ponselnya di meja dengan dentuman kecil yang membuat semua orang terdiam.
"Rapat kita tunda sepuluh menit," ujar Kaisar dengan suara rendah yang mematikan.
Ia langsung keluar ruangan dan menghubungi Ethan.
"Ethan! Kamu lihat apa yang di-posting Jihan?" suara Kaisar terdengar seperti guntur.
Di seberang telepon, Ethan langsung tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Gue baru mau telepon lo, Kak! Wah, gila sih itu si Bimo. Berani banget dia nempel-nempel gitu sama Kak Freya. Mana mukanya lumayan ganteng lagi, tipe-tipe cowok petualang yang disukai cewek seni."
"Ethan, aku tidak sedang bercanda," desis Kaisar.
"Sabar, Kak! Itu kan cuma kerja bakti. Tapi ya... kalau gue jadi lo sih, gue nggak bakal bisa tidur tenang. Siapa tahu besok-besok mereka cinlok gara-gara sering makan mi instan bareng di posko," goda Ethan, makin memanasi suasana.
Di Desa Sukamaju, Freya baru saja hendak beristirahat dan meminum es teh plastiknya saat ponsel satelit pemberian Kaisar bergetar hebat. Ada satu pesan masuk.
Kai Robot: Siapa pria berbaju hitam tanpa lengan itu? Dan kenapa dia harus berdiri tepat di belakangmu? Apakah tiang kayu itu seberat itu sampai harus dipegang oleh dua orang dalam jarak sedekat itu?
Freya tersedak es tehnya. Ia terbatuk-batuk sampai mukanya merah. "Aduh, mampus gue. Dia liat IG Jihan!"
Freya segera mengetik balasan dengan tangan gemetar.
Freya: Kai, itu Bimo! Ketua kelompok aku. Itu emang berat, kayunya kayu jati asli desa sini! Kita cuma kerja bakti, jangan mikir macem-macem deh!
Tak sampai satu menit, balasan kembali masuk.
Kai Robot: Aku sudah mengirimkan tim untuk membawakan alat paku otomatis dan penyangga besi sore ini ke desamu. Jadi kamu tidak perlu bantuan pria itu lagi untuk memegang kayu. Dan Freya... jangan tertawa seperti itu pada pria lain. Aku tidak suka.
Freya hanya bisa melongo menatap layar ponselnya. Benar saja, dua jam kemudian, sebuah mobil bak terbuka datang membawa berbagai alat konstruksi canggih, lengkap dengan dua orang "tukang" berbadan tegap yang sebenarnya adalah anggota pasukan khusus.
"Mbak Freya, ini alat-alatnya. Biar kami saja yang selesaikan papannya, Mbak istirahat saja," ujar salah satu "tukang" itu dengan nada bicara yang sangat formal.
Malam harinya, saat Freya sedang melakukan panggilan video (setelah ia mencari titik sinyal di atas bukit), wajah Putri Sherena muncul di layar bersama Kaisar.
"Frey, kamu tuh ya," ujar Sherena sambil geleng-geleng kepala. "Gara-gara foto kamu sama cowok KKN itu, Kak Kaisar seharian ini nggak mau makan dan bikin semua pelayan istana gemeteran. Kamu kalau mau selingkuh, mbok ya jangan diunggah ke medsos temen kamu."
"Sher! Gue nggak selingkuh!" teriak Freya frustrasi.
Kaisar kemudian mengambil alih ponsel itu. Ia menatap Freya dengan tatapan posesif yang sangat kental. "Sabtu ini aku akan datang lebih awal. Dan aku akan pastikan Bimo itu tahu bahwa tiang kayu bukan satu-satunya hal yang bisa 'diamankan'."
Freya menghela napas panjang, namun dalam hati ia merasa geli sekaligus tersanjung. Sang Pangeran Mahkota yang dingin itu ternyata bisa berubah menjadi sangat kekanak-kanakan hanya karena sebuah foto kerja bakti.
"Iya, Pangeran Posesif. Dateng aja, tapi jangan bawa tank ke desa ini ya!" canda Freya.
"Kita lihat saja nanti," jawab Kaisar singkat sebelum menutup telepon.
Freya tersenyum menatap langit desa yang penuh bintang. Ternyata, jarak sepuluh jam dan sinyal yang sulit justru membuat bumbu-bumbu cemburu ini terasa jauh lebih manis daripada kehidupan tenang di istana.