Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan
Sore itu kelas akhirnya selesai. Lara baru saja merapikan bukunya ketika ponselnya bergetar.
Axel:
Lara maaf, hari ini aku nggak bisa nganter. Ada urusan mendadak.
Lara membaca pesan itu sebentar, lalu membalas singkat,
Oh oke, hati-hati.
Tidak ada rasa kecewa yang berlebihan, hanya… sedikit kosong. Pulang ke apartemen terasa terlalu cepat, dan ia akan kesepian disana. Akhirnya Lara memutuskan berbelok arah menuju perpustakaan kampus.
Setidaknya di sana, kesunyian terasa lebih masuk akal.
Yang Lara tidak sadari, dari kejauhan Revan memperhatikan langkahnya. Awalnya ia hanya berniat menyapa. Tapi entah kenapa, niat itu berubah menjadi refleks aneh—kakinya justru mengikuti Lara dengan jarak aman, seperti sedang mengamati sesuatu yang menarik tanpa ingin ketahuan.
Perpustakaan sore itu sepi. Hanya ada tiga orang mahasiswa yang tenggelam dalam catatan masing-masing. Heningnya hampir terasa sakral.
Lara masuk perlahan, lalu mulai menelusuri lorong demi lorong rak buku. Jemarinya menyusuri punggung buku, matanya fokus membaca judul.
Hingga ia tiba di lorong yang lebih dalam.
Langkah Lara melambat. Alisnya mengerut. Dari balik rak terdengar suara yang… tidak seharusnya ada di perpustakaan. Bisikan pelan, tawa tertahan, dan suara kecupan yang jelas bukan ilusi.
Lara terdiam. Ragu untuk lanjut. Mundur juga terasa canggung.
Di saat itulah—
tep.
Sebuah tepukan ringan mendarat di pundaknya.
“AH—”
Belum sempat suara Lara keluar sempurna, refleks tubuhnya bekerja lebih cepat dari otaknya. Ia langsung menarik tangan orang di belakangnya dan… menunduk.
Revan nyaris kehilangan keseimbangan.
Dalam satu detik, mereka sudah berada dalam posisi jongkok di antara rak buku, jarak mereka terlalu dekat untuk disebut aman. Revan bisa melihat ujung rambut Lara, bisa mencium aroma sabun yang samar.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena takut—tapi karena kaget… dan entah kenapa,rasanya deg-degan.
Revan membuka mulut, berbisik, “Ken—
“Shhhtt!” Lara langsung memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibirnya.
Ia lalu menunjuk ke balik rak buku.
Revan melirik ke arah yang ditunjuk… dan seketika paham.
“Oh,” bisiknya singkat.
Lara masih belum menyadari satu hal penting—tangannya masih menggenggam lengan Revan dengan erat. Bahkan, tanpa ragu, ia menyeret Revan menjauh dari lorong itu, berjalan setengah jongkok, setengah berjinjit, seperti agen rahasia amatiran.
Revan hanya bisa mengikuti. Patuh. Bingung. Dan sedikit… terhibur.
Baru setelah mereka berada di lorong lain yang lebih aman, Lara berhenti. Ia berdiri tegak, menghela napas lega—lalu menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
Dan di situlah Lara akhirnya sadar.
Tangannya… masih di lengan Revan.
Matanya membesar. Ia langsung melepas genggamannya seolah tersetrum.
“Eh—maaf! Refleks!”
Revan menahan senyum. .
“Tenang aja,” katanya pelan. “Gue nggak merasa diculik kok.”
Lara memerah. “Aku cuma nggak mau ganggu orang pacaran di perpus…”
Revan terkekeh kecil. “Justru mereka yang ganggu suasana belajar.”
Untuk sesaat, keheningan kembali menyelimuti mereka. Tapi kali ini bukan hening yang canggung—melainkan hangat, dengan sisa tawa kecil yang menggantung.
Dan tanpa mereka sadari, jarak yang tadinya asing… barusan saja menyempit.
Keheningan kecil itu akhirnya pecah ketika Revan menggaruk tengkuknya sendiri, ekspresinya agak kikuk—sesuatu yang jarang terjadi padanya.
“Ehm… karena barusan situasinya agak… ekstrem,” katanya sambil melirik rak buku di belakang mereka, “kayaknya aneh kalau kita belum kenalan secara resmi.”
Lara mengangkat wajahnya. “Oh… iya juga.”
Revan tersenyum, kali ini lebih santai. “Gue Revan.”
“Lara,” jawabnya cepat, lalu menambahkan, “yang kemarin… nabrak kamu.”
Revan tertawa kecil. “Oh jadi itu pengakuan resmi ya? Kirain gue yang menabrak.”
“Maaf,” Lara meringis malu.
“Nggak apa-apa. Kalau nggak ditabrak, gue nggak bakal ketemu cewek aneh yang buang rokok orang tanpa izin,” balas Revan santai.
Lara refleks menutup mulut, menahan tawa. “Itu refleks juga.”
“Refleks kamu bahaya,” Revan menggeleng. “Tapi… unik.”
Entah kenapa, kata itu membuat Lara tersenyum.
Tak lama kemudian, mereka keluar dari perpustakaan. Suasana sore terasa lebih ringan. Revan melirik jam di ponselnya lalu bertanya, “Laper nggak?”
Lara ragu sejenak. “Nggak juga sih… tapi haus.”
“Kantin masih buka. Minum jus doang nggak melanggar aturan kan?” katanya setengah bercanda.
Akhirnya mereka duduk berhadapan di salah satu meja kantin yang mulai sepi. Dua gelas jus dingin mendarat di meja—jeruk untuk Lara, alpukat untuk Revan.
“Gue baru sadar,” Revan bersandar santai, “tadi di perpus itu kayak adegan film. Bedanya, kita pemeran figuran.”
“Figuran yang hampir ketahuan,” Lara terkikik.
“Dan yang paling panik malah kamu,” Revan menunjuknya pelan.
“Karena kamu ngagetin!” protes Lara.
“Padahal niat gue cuma mau nyapa,” balas Revan, tertawa lepas.
Obrolan mereka mengalir ringan. Revan ternyata jauh dari kesan dingin yang ia tunjukkan di kampus. Ia kocak, suka melempar komentar absurd, dan tidak segan menertawakan dirinya sendiri—termasuk saat menceritakan ekspresi bengongnya ketika Lara merampas rokoknya pagi tadi.
Lara tertawa sampai matanya menyipit. Dan hari itu, dadanya terasa lebih lapang.
Tanpa disadari, kejadian canggung di perpustakaan berubah menjadi cerita lucu yang mereka ulang berkali-kali, masing-masing dengan versi yang dilebih-lebihkan.
sore itu, di meja kantin yang sederhana, perkenalan singkat berubah menjadi tawa yang terasa… nyaman.
Sesuatu yang awalnya tak direncanakan, justru terasa seperti awal dari sesuatu yang penting.
Malam itu kamar Revan terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ia bersandar di kepala ranjang dengan punggung menempel pada dinding, satu kaki tertekuk sementara yang lain terjulur sembarang. Lampu kamar tidak ia nyalakan sepenuhnya—hanya cahaya temaram dari lampu meja belajar yang menyisakan bayangan samar di sudut ruangan.
Ponselnya tergeletak begitu saja di samping bantal. Tidak ada notifikasi yang ia tunggu, tapi pikirannya justru terlalu ramai untuk sekadar memejamkan mata.
Entah kenapa, wajah Lara kembali muncul begitu saja.
Cara gadis itu merampas rokok dari tangannya tanpa ragu. Cara ia menyodorkan permen dengan ekspresi polos, seolah itu keputusan paling masuk akal di dunia. Dan yang paling absurd—cara Lara menarik tangannya di perpustakaan, menyeretnya berjongkok bersama tanpa sempat memberi peringatan.
Revan menghembuskan napas pelan, lalu tertawa kecil sendiri.
“Aneh,” gumamnya lirih.
Bukan dalam arti buruk. Justru sebaliknya.
Lara bukan tipe gadis yang berusaha menarik perhatian. Ia tidak terlihat dibuat-buat, tidak berusaha tampil mengesankan. Tapi setiap tindakannya meninggalkan kesan—seperti coretan kecil yang tanpa sadar menetap di kepala.
Revan menatap langit-langit kamar, matanya kosong tapi pikirannya penuh.
Baru hari ini. Hanya beberapa jam. Namun Lara sudah berhasil membuatnya mengingat banyak hal yang seharusnya sederhana, tapi terasa hangat.
Dan di antara semua pikiran itu, satu nama lain muncul tanpa bisa ia cegah.
Axel.
Revan terdiam lebih lama kali ini.
Ia teringat senyum Axel saat menyapa Lara di kantin. Keakraban mereka yang terlalu alami untuk sekadar kebetulan. Cara Lara terlihat nyaman—
Perasaan di dada Revan tidak serta-merta berubah menjadi cemburu. Tidak juga marah. Yang ada justru sebuah kesadaran yang datang pelan, tapi jelas.
Jika Axel menyukai Lara…
itu hal yang wajar.
Revan mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri.
Gadis itu memang berbeda. Dan siapa pun yang mengenalnya sedikit lebih dekat, hampir mustahil untuk tidak tertarik.
Revan menutup mata sejenak, lalu tersenyum tipis.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Tidak tahu di mana posisinya nanti.
Yang ia tahu, satu hal sudah pasti— Lara bukan gadis yang akan mudah dilupakan.
tahun 2009 oparasi nya