NovelToon NovelToon
Asisten Magang TUAN MESUM

Asisten Magang TUAN MESUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Balas Dendam
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,

Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.

Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,

"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,

Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.

Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita penghibur

WARNING 21+

HARAP BIJAK DALAM MEMBACA DAN MEMILIH BACAAN.

_________________________________________

Prang!

Dengan sengaja, Ana mendepak gelas berisi minuman dari atas meja.

Seketika membuat laki laki itu mendongak, menghentikan gerakan jarinya.

"Maaf! Biar saya bereskan dulu..." sontak Ana, beranjak pergi.

Namun lengan kekar itu, masih sigap melilit pinggul langsing Ana. Membuatnya kesulitan bergerak,

"Kamu sangat pintar, melarikan diri. Tapi tenang saja, kali ini...aku tidak akan melepaskanmu,"

Telunjuk Max menerobos masuk, membelai lembut kutikula perut. Rasa risih yang membebani benaknya, membuat tekad Ana semakin bulat.

"Permisi, saya harus pergi." tegas Ana menatap dingin,

Mendorong kuat lengan yang telah lancang menyentuhnya.

"Jika Tuan ingin ditemani, saya bisa panggilkan pelayan lain."

"Aku mau kamu yang menemaniku!"

Telapak tangannya beralih, menangkup rahang gadis itu. Membuat Ana menoleh, menatap kemurkaan serta sorot tajam yang Max lontarkan padanya.

"Ada apa dengannya? Apa ada yang membuatnya marah?" batin Ana kebingungan,

"Permisi...saya mau pergi," Ana menepis tangan Max.

TET!!!!

Suara bising terdengar dengan lampu merah menyala. Max baru saja menekan tombol khusus yang hanya dimiliki pelanggan VIP,

Jika tombol itu ditekan, maka manager bar itu yang langsung datang demi menenangkan pelanggan mereka.

Selang hitungan detik, datang pria bersetelan jas hitam, melangkah masuk dengan raut cemas.

Ana panik, berusaha menjelaskan, bagaimanapun dia membutuhkan pekerjaan ini.

"Pak manager. Saya-" kalimatnya terhenti, tak dihiraukan.

Manager itu langsung menunduk rendah di hadapan Max.

"Maaf Tuan. Apa ada sesuatu yang mengganggu anda?"

Wajahnya dipenuhi keringat dingin. Merasa bersalah mesti tak tahu apa-apa,

"Lihatlah. Apa yang pelayan ini lakukan," gumam Max tak acuh, sembari mendepak beberapa pecahan kaca di bawahnya.

"Kamu...Cepat kemari!" pekiknya, menarik tangan Ana dengan kasar.

Memaksa Ana duduk bersimpuh di atas lantai.

"Maaf Tuan. Sekarang juga, saya akan pecat dia!"

"Hah! Pecat? T-tunggu Pak."

"S-saya ga sengaja. Beri saya kesempatan," ujar Ana memohon.

Tak rela kehilangan pekerjaan yang susah payah didapat. Apalagi saat keluarganya tengah mengalami krisis,

"Tidak. Kesalahanmu tidak dapat dimaafkan!"

"Kamu akan aku pecat-"

"Tunggu." timpal Max datar, beranjak dari tempat duduk.

"Bukankah. Pelayan disini bekerja dengan sistem kontrak?"

"Iya, betul Tuan." sahut manager, merendahkan suara.

"Kalau begitu. Berapa ganti rugi yang akan kuterima?"

"Ng, itu tergantung seberapa parah kesalahannya. Biasanya pemilik bar yang menentukan..."

"Apa lagi yang dia rencakan?" batin Ana mengernyit,

"Temui asistenku, dia ada di luar sana. Urus semua berkas dan tentukan harganya, detik ini juga aku akan ambil alih bar ini." tambah Max, menatap tajam pria yang berdiri di samping Ana.

"B-beli?"

"Iya. Apa kamu tuli? Atau perkataanku kurang jelas?" timpalnya, dingin.

"T-tidak. Saya sudah paham, semuanya akan saya urus sekarang!"

Pria itu berlari keluar, meninggalkan Max bersama dengan mangsa kecilnya.

"Kamu dengar tadi? Mulai sekarang akulah pemilik tempat ini. Itu berarti...aku adalah bosmu!"

"Bodo amat! Aku mau mengundurkan diri!" pekik Ana merasa muak,

"Mengundurkan diri?"

Max menarik tangan Ana, membuat tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Max.

Max menyangga punggung Ana. Mendekatkan kepala, menyentuh leher jenjang dan mulai mengendus kuat,

Membaringkan tubuh gadis itu ke atas sofa. Max tersenyum puas, menatap rona merah yang menghiasi kedua pipi Ana.

"Dasar pria mesum!!!"

Ana meronta mendorong wajah pria itu agar menjauh. Tapi jemarinya malah tersesat masuk ke dalam mulut Max,

Max hanya diam, lanjut menyesap lembut.

Dia menindih tubuh Ana, memberikan kecupan singkat lalu melumat kuat bibir ranum itu. Kedua matanya terpejam erat, merasakan lidah mereka bertaut dan saling bertukar saliva.

Nafasnya mulai terengah engah, jemari Ana mencengkram erat pinggiran sofa. Perlahan kesadarannya mulai kembali,

"Tidak!" pekik Ana, mendorong paksa dada bidang Max.

Membuat tubuh Max terdorong ke belakang,

Ana mengusap keras bibirnya, mencoba menghapus bekas ciuman tadi.

"Sial. Kenapa aku malah menikmatinya! Ingat, dia ini pamanmu!" batin Ana menghardik diri sendiri,

Gadis itu mengalihkan pandangan tak berani menatap, masih menutupi bibir dengan punggung tangannya.

Max yang sedikit bingung, tak menghiraukan ucapan Ana. Tangan kekar itu membelai kembali paha putih mulus dari sela kain,

"Jangan!" tolak Ana, menekan tangan yang ingin bergerak semakin dalam.

Set.

Laki laki itu menatap tajam, rautnya berubah begitu dingin sampai membuat Ana tak berkutik. Berbeda dari sebelumnya, dengan cepat dia beraksi.

Merogoh benda yang tersembunyi di balik celana ketat. Sedangkan tangan yang lain sibuk menjamah tubuh atas, meremas kuat salah satu gundukan.

"Sh..." gadis itu berdesis, merasa cengkraman yang menerkam kuat buah dadanya.

Kelima jari yang terasa begitu hangat, berhasil merogoh masuk ke dalam celana milik Ana. Menggosok pelan permukaan yang mulai terasa basah,

"Katakan siapa mengirimmu kesini?" tanya Max sambil melanjutkan aksi,

"Tidak ada yang menyuruhku. Aku memang bekerja disini,"

"Bohong!" amuk Max,

Menjejal paksa jarinya ke dalam tubuh, sampai membuat Ana kesakitan.

"Tidak..." benak Ana dengan mata terpejam, dia dapat dengan jelas merasakan jari kekar itu tengah mengoyak bagian dalam tubuhnya.

"Cepat katakan. Malam itu, siapa yang menyuruhmu?"

"Sudah kubilang. Aku salah masuk kamar!" dusta Ana,

Tanpa melepas aksinya, Max beralih posisi. Dengan kedua lutut yang berpijak di atas sofa, tangan lain membuka kancing pengait kemeja.

Kulit putih Ana mulai terlihat jelas, Max sigap meraih pengait di bagian punggung. Mendepak sangkar dari kedua gundukan itu,

Terlihat jelas dua puncak dada yang membulat sempurna karena aksinya. Meraup gundukan yang terasa cukup pas dalam genggaman,

Memberikan pijatan kasar, sengaja membiarkan gadis tadi menahan nyeri sambil menggigit bibir bawahnya.

Max memutar dan memilin kuat puncak gundukan yang semakin mengeras,

Ana menggeliat tak menentu, merasakan sentuhan yang membuat hawa panas menjalar ke setiap bagian tubuhnya.

"Sakit sekali!" rintih Ana tersiksa,

Max mengarahkan dada bidang ke tubuh langsing Ana. "Malam itu, kamu mengaku sebagai keponakanku!"

"Hh! Bagaimana dia bisa tahu?" batin Ana terbelalak,

"Berani-beraninya mengaku sebagai Reta. Katakan siapa yang menyuruhmu?!" bentaknya naik pitam,

Membuat gadis itu tertegun heran. Ternyata sikap aneh dan kemarahan Max disebabkan karena ada orang yang berani menyamar sebagai Reta. Tapi kenapa?

1
Lili
Untung cuma om tiri naa😍🤣
Anonymous
Tuan Maxime😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!