NovelToon NovelToon
HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / BTS
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: V dan Skalpel Tersembunyi

Udara di dalam laboratorium forensik pagi ini terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Suara dengung mesin pendingin mayat yang monoton seolah menjadi melodi latar bagi keheningan yang mencekam. V—atau dokter Kim Taehyung bagi staf rumah sakit lainnya—berdiri di depan lemari penyimpanan instrumen bedah yang terbuat dari baja antikarat. Matanya yang tajam memicing, menatap barisan nampan yang tersusun rapi di balik kaca.

Ia tidak bergerak selama hampir lima menit. Jemarinya yang panjang dan lentik sesekali mengetuk pinggiran meja metal, menciptakan bunyi detak yang konstan. V adalah pria yang terobsesi dengan keteraturan. Ia tahu persis di mana setiap alat diletakkan, berapa jumlah helai benang bedah yang tersisa, dan sudut kemiringan setiap gunting jaringan.

"Satu, dua, tiga..." gumamnya rendah.

Ia membuka pintu lemari dengan tarikan pelan. Tangannya meraih sebuah nampan berisi set skalpel (pisau bedah) nomor 11 dan 15. Di sana, ada satu celah kosong pada bantalan busa hitam. Sebuah skalpel bergagang titanium dengan mata pisau karbon—alat paling tajam dan paling mahal yang mereka miliki—telah hilang.

V menarik napas panjang. Masker bedah yang menggantung di lehernya tampak berayun kecil seiring dengan embusan napasnya yang berat. Ia tahu ini bukan sekadar kelalaian staf. Prosedur pembersihan alat di lab ini sangat ketat. Setiap alat harus dihitung sebelum dan sesudah autopsi.

"Sheril," suara V terdengar datar namun menuntut saat wanita itu masuk ke ruangan dengan wajah yang tampak sangat pucat.

Sheril tersentak, hampir menjatuhkan papan klip yang dibawanya.

"Ya, V? Kau mengagetkanku."

V tidak menoleh. Ia hanya menunjuk ke arah celah kosong di nampan instrumen.

"Skalpel nomor 11 kita hilang. Versi titanium yang baru saja kita kalibrasi minggu lalu."

Sheril mendekat, dahinya berkerut.

"Hilang? Mungkin tertinggal di ruang sterilisasi atau salah letak saat pembersihan semalam?"

"Aku sudah memeriksa log sterilisasi. Suster Kim mencatat semua alat lengkap pukul delapan malam tadi," V akhirnya membalikkan badan, menatap Sheril dengan mata yang sulit dibaca.

"Artinya, seseorang mengambilnya di antara jam delapan malam sampai jam enam pagi tadi. Saat hanya ada petugas keamanan dan... beberapa orang yang punya akses kartu identitas."

Sheril merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Ia teringat Jungkook yang sering pulang terlambat, atau bahkan tidak pulang sama sekali karena alasan yang terdengar biasa. Ia juga teringat bagaimana Jungkook sangat mahir menggunakan pisau. Namun, ia mencoba menepis pikiran itu jauh-jauh.

"Mungkin ada residen yang meminjamnya untuk latihan?" Sheril mencoba memberi alasan logis.

"Tanpa izin? Itu pencurian, Sheril," potong V. Ia melangkah mendekati Sheril, suaranya merendah hingga hampir seperti bisikan.

"Kau tahu apa yang paling menakutkan? Skalpel nomor 11 dirancang untuk sayatan yang sangat dalam, sempit, dan presisi. Sama persis dengan pola luka pada korban kedua yang kita autopsi minggu lalu. Pelakunya tidak hanya ahli memotong, dia ingin alat yang mampu meniru pekerjaan kita."

V menatap lurus ke dalam mata Sheril, seolah mencari sesuatu di sana.

"Siapa saja yang kau beri akses masuk ke lab ini selain aku?"

"Tidak ada, V! Kau tahu aku sangat menjaga privasi ruang kerja kita," jawab Sheril sedikit defensif.

"Jin sering kemari. RM juga. Dan..." V menjeda kalimatnya,

"...kekasihmu. Dia sering mengantarkan makanan untukmu sampai ke depan pintu lab, bukan?"

"Jungkook tidak pernah masuk ke dalam, V! Dia tahu aturannya," suara Sheril mulai bergetar.

V hanya mendengus tipis, senyum miring yang sarkastik tersungging di sudut bibirnya.

"Cinta bisa membuat seseorang menjadi buta, tapi di ruangan ini, hanya fakta yang punya mata. Aku akan melaporkan ini pada RM. Jika ada orang dalam yang membantu 'monster' itu mendapatkan alat, aku akan menemukannya."

Di saat yang sama, di ruang IT markas kepolisian, Suga sedang melakukan hal yang sama gilanya. Ia tidak lagi mencari data transaksi, melainkan meretas sistem keamanan rumah sakit tempat Sheril bekerja. Matanya yang merah menatap rekaman CCTV lorong rumah sakit jam dua pagi.

Ia melihat sesosok pria mengenakan jaket hoodie gelap dan masker. Pria itu berjalan dengan sangat tenang, sangat tahu di mana letak kamera pengawas. Ia berhenti di depan pintu lab forensik, menempelkan sebuah kartu, dan pintu itu terbuka.

Suga memperbesar gambar pada layar. Jam tangan yang dipakai pria di CCTV itu... ia mengenalinya. Itu adalah jam tangan yang pernah ia lihat dipakai Jungkook dalam sebuah foto lama di ponsel Sheril.

"Bodoh," desis Suga. Ia memukul meja.

"Kau benar-benar meninggalkan jejak sejelas ini?"

Namun, saat ia hendak menyimpan potongan video itu sebagai bukti, ia melihat sesuatu yang aneh. Pria di CCTV itu berhenti sejenak di depan kamera, lalu sedikit mendongak, memperlihatkan sorot mata yang penuh ejekan—seolah ia tahu Suga sedang menonton.

Itu bukan tatapan Jungkook yang lembut. Itu adalah tatapan yang dingin dan penuh kegilaan.

Suga segera mengalihkan tab pencariannya ke data log kartu identitas. Dan jantungnya hampir berhenti saat melihat nama pemilik kartu yang digunakan untuk membuka pintu lab malam itu: KIM SEOKJIN.

"Jin Hyung?" gumam Suga tak percaya.

"Tidak mungkin. Kartu Jin Hyung pasti dicuri."

Suga segera mengambil ponselnya, hendak menghubungi Sheril, namun ia ragu. Jika ia memberitahu Sheril bahwa kartu kakaknya sendiri yang digunakan untuk mencuri alat bedah, Sheril akan hancur. Dunia wanita itu akan runtuh karena dua pria paling penting dalam hidupnya kini masuk ke dalam lingkaran setan yang sama.

Sore harinya, Sheril memutuskan untuk mampir ke restoran Le Lapin sebelum pulang. Ia ingin memastikan sesuatu. Ia ingin melihat Jungkook, ingin merasakan kehangatan pria itu untuk meyakinkan dirinya bahwa V salah.

Restoran itu tampak tenang. Jungkook sedang berdiri di depan mesin kopi, membersihkan meja bar dengan kain putih bersih. Saat melihat Sheril, wajahnya langsung cerah.

"Sayang! Kamu datang lebih awal," Jungkook menghampirinya, melepas apronnya dan langsung memeluk Sheril. Ia mencium puncak kepala Sheril dengan lembut.

"Ada apa? Kamu terlihat sangat lelah."

Sheril membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada Jungkook, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang.

"Hanya hari yang panjang, Kook. Kami kehilangan satu alat di lab."

Jungkook terdiam sejenak. Tangannya yang mengusap punggung Sheril berhenti bergerak selama satu detik, sebelum melanjutkan gerakannya.

"Alat? Alat apa?"

"Pisau bedah. Skalpel titanium nomor 11," Sheril mendongak, menatap mata Jungkook.

"V sangat marah. Dia pikir ada orang dalam yang mengambilnya."

Jungkook tersenyum kecil, senyum yang entah mengapa kini terasa sedikit asing di mata Sheril.

"Mungkin hanya terselip, Sayang. Rumah sakit adalah tempat yang sibuk. Lagipula, siapa yang mau mengambil pisau kecil seperti itu? Orang-orang lebih takut pada pisau dapurku daripada pisau kecilmu."

Jungkook kemudian menuntun Sheril duduk di kursi bar. Ia membuatkan segelas cokelat panas dengan taburan kayu manis di atasnya.

"Minumlah. Aku akan menyiapkan makan malam spesial di rumah. Aku baru saja mendapatkan daging segar hari ini."

"Daging apa?" tanya Sheril tanpa sadar.

Jungkook berhenti menuangkan susu, lalu menoleh perlahan. Matanya berkilat di bawah lampu bar yang temaram.

"Hanya daging sapi kualitas terbaik dari pemasok langgananku. Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Sheril menggeleng cepat. "Tidak, hanya bertanya."

Saat Jungkook kembali ke dapur untuk mengambil tasnya, Sheril tanpa sengaja melihat ke arah kantong sampah besar di sudut dapur yang belum sempat dibuang. Di sana, di antara tumpukan kulit sayuran dan sisa makanan, ada selembar kain kasa yang bercak merahnya tidak terlihat seperti darah hewan. Warnanya terlalu terang, terlalu segar.

Dan di atas meja dapur, tepat di samping pisau koki besar milik Jungkook, Sheril melihat sebuah gagang logam kecil yang berkilau terkena cahaya lampu. Itu adalah gagang titanium dengan ukiran laser kecil: RS PUSAT SEOUL - LAB FORENSIK.

Sheril merasa dunianya gelap seketika. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan jeritan yang hampir keluar.

"Sudah siap pulang?" suara Jungkook terdengar dari belakangnya.

Sheril berbalik dengan cepat, mencoba menyembunyikan wajahnya yang gemetar.

"I-iya. Mari kita pulang."

Jungkook merangkul bahu Sheril, menariknya mendekat dan mencium pelipisnya.

"Aku sangat mencintaimu, Sheril. Ingat itu, ya? Apa pun yang terjadi, semua yang kulakukan adalah agar kita tetap bisa bersama."

Di bawah langit Seoul yang mendung, mereka berjalan beriringan menuju mobil. Jungkook tampak seperti kekasih yang sempurna, melindungi Sheril dari rintik hujan dengan jaketnya. Namun di dalam saku jaket itu, tangan Jungkook menggenggam erat mata pisau karbon nomor 11 yang baru saja ia asah hingga mampu membelah sehelai rambut di udara.

...****************...

1
Lilyyanaa
ternyata member bts lengkapp🤭
sabana: iyah, semoga suka🙏
total 1 replies
sabana
Ini Fanfic idol lagi ya, minjam nama-nama personil BTS ya, semoga suka
李慧艳
mampir...semangatk kak
李慧艳: tolong AP???
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!