(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemberontakan yang Tertunda
Di dalam kabin kapten yang gelap dan berbau amis obat, Han Luo sedang terbakar dari dalam.
Kesadarannya terjebak dalam pusaran mimpi buruk. Dia merasa lengan kirinya masih ada, tapi lengan itu terbuat dari magma yang mendidih, membakar kulitnya hingga mengelupas. Setiap kali dia mencoba bergerak di alam mimpinya, suara logam bergesekan dengan tulang bergema di telinganya.
Nyeri Bayangan. Otaknya menolak menerima bahwa lengannya telah hilang, sementara jaringan tubuhnya di dunia nyata sedang berjuang melawan infeksi dari besi rongsokan yang dipaksa masuk ke tulang selangkanya.
Suhu tubuhnya melonjak tinggi, membuat keringat membanjiri tempat tidur kayunya. Sutra Hati Es Abadi yang biasanya berputar otomatis kini tersendat-sendat, bertarung melawan demam parah yang memakan sisa-sisa Qi di meridiannya.
Di luar kabin, di geladak kapal Sang Gerhana, situasinya tidak kalah memanas.
Angin laut yang kencang mengibarkan layar hitam kapal. Xiao Ling berdiri di anjungan kemudi, matanya yang buta terpejam, tangannya memegang erat kristal kendali formasi kapal. Wajah gadis kecil itu pucat pasi, namun dia menolak untuk istirahat.
Di depan pintu kabin Han Luo, Long Tian berdiri seperti patung batu. Zirah Besi Tulang Naga-nya yang retak belum dia lepas. Tangan kanannya bertumpu pada gagang pedang di pinggangnya. Matanya yang memerah karena kelelahan menatap tajam ke depan.
Di seberangnya, duduk bersandar di pagar geladak, adalah Su Qingxue.
Gadis iblis itu sedang memainkan belatinya dengan santai. Dia sudah mengganti pakaiannya yang robek dengan jubah sutra biru yang dia curi dari lemari kapal. Penampilannya kembali elegan, menyembunyikan sifat iblisnya dengan sempurna.
"Kau terlihat tegang, Anjing Besar," kata Su Qingxue memecah keheningan, suaranya merdu namun dipenuhi racun provokasi. "Sudah tiga hari dia tidak sadar. Napasnya semakin pendek. Kau tahu apa artinya itu di dunia kultivasi, bukan?"
Long Tian tidak menjawab. Rahangnya mengeras.
Su Qingxue berdiri perlahan, melangkah mendekat dengan gerakan gemulai seperti kucing yang mengintai mangsa.
"Dia sekarat," lanjut Su Qingxue, berhenti tiga langkah dari Long Tian. "Logam kotor yang kutancapkan di bahunya itu sudah meracuni darahnya. Tanpa tabib tingkat tinggi, dia akan membusuk dari dalam. Dan jujur saja... itu akhir yang pantas untuk pria gila sepertinya."
"Tutup mulutmu," geram Long Tian rendah.
"Aku hanya realistis," Su Qingxue tersenyum miring. Dia melirik ke arah pintu kabin. "Di dalam sana, di jarinya, ada Cincin Penyimpanan yang berisi Mata Iblis Es, harta Jenderal Wu. Jika dia mati, formasi pelindung kapal ini akan runtuh. Armada Kekaisaran Pusat pasti sudah memburu kita sekarang. Kita harus bersiap."
"Mempersiapkan apa?"
"Membagi harta dan berpisah, tentu saja," Su Qingxue mengulurkan tangannya yang putih mulus. "Kau ambil kapalnya. Aku ambil cincinnya. Kau bisa kembali ke Selatan menjadi pahlawan, dan aku akan mengurus urusanku sendiri. Bukankah itu penawaran yang adil? Untuk apa kau melindungi mayat yang pernah memperalatmu?"
Tangan Long Tian mencengkeram gagang pedangnya lebih erat. Buku-buku jarinya memutih.
Kata-kata Su Qingxue menusuk tepat di keraguannya. Tuan Mo memang memperalatnya. Tuan Mo adalah iblis.
Tapi...
"Dia tidak meninggalkanku di Reruntuhan," kata Long Tian, suaranya kini mantap, menolak racun manipulasi gadis itu. "Dia kehilangan lengannya karena memancing monster itu menjauh dariku. Jika bukan karena dia, aku yang akan menjadi patung es di bawah sana."
"Itu karena dia butuh kuli panggul untuk membawanya keluar!" bantah Su Qingxue, nada suaranya mulai meninggi. "Kau benar-benar bodoh jika mengira dia peduli padamu!"
"Mungkin," Long Tian mencabut pedangnya setengah inci. Suara logam bergesekan mengancam di udara malam. "Tapi hutang nyawa tetaplah hutang nyawa. Selama aku bernapas, kau tidak akan menyentuh pintu ini."
Su Qingxue mendecih. Kesabarannya habis. Aura hitam keunguan mulai merembes dari bawah kakinya, merayap di lantai kayu geladak.
"Kau pikir kau bisa menghentikanku dalam kondisimu yang hancur itu? Aku akan memotong kakimu dan mengambil cincin itu sendiri."
"Coba saja."
Tepat saat Su Qingxue hendak melesat maju, sebuah dengungan bernada tinggi memenuhi udara.
ZIIING!
Pola-pola merah darah menyala di seluruh lantai geladak kapal, membentuk jaring energi yang mengunci posisi Su Qingxue.
Di anjungan, Xiao Ling telah memutar kristal kendalinya. Gadis buta itu mengarahkan wajahnya ke bawah, ke arah Su Qingxue. Meskipun dia tidak bisa bicara, ancamannya sangat jelas: Bergerak, dan kapal ini akan meledakkanmu.
Su Qingxue membeku. Dia mengumpat dalam hati. Dia lupa bahwa kapal ini terhubung dengan indra gadis buta itu. Melawan Long Tian yang terluka adalah satu hal, tapi melawan formasi pertahanan kapal tingkat tinggi adalah bunuh diri.
"Kalian berdua benar-benar anjing yang setia," desis Su Qingxue, perlahan menarik kembali aura iblisnya.
KRIET.
Suara engsel pintu yang berkarat menghentikan pertikaian itu seketika.
Long Tian dan Su Qingxue serentak menoleh.
Pintu kabin kapten terbuka pelan.
Dari dalam kegelapan kabin, sesosok tubuh melangkah keluar.
Han Luo.
Kondisinya mengerikan. Dia tidak mengenakan topeng emasnya, menampakkan wajah aslinya yang sepucat mayat dan dipenuhi keringat dingin. Matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat. Dia bertelanjang dada; perban kotor yang melilit dada dan bahu kirinya telah basah oleh darah segar dan nanah kekuningan.
Dan yang paling menakutkan adalah bahu kirinya. Bilah pedang berkarat yang ditanamkan di sana tampak bergeser dengan setiap tarikan napasnya, merobek jahitan daging yang belum kering.
Han Luo berjalan gontai. Dia tidak bisa berdiri tegak. Posturnya miring ke kanan, dan dia harus berpegangan pada kusen pintu agar tidak ambruk.
Namun, matanya...
Mata Han Luo menatap Su Qingxue dengan kedinginan yang membuat darah gadis iblis itu berhenti mengalir. Itu bukan tatapan orang sekarat. Itu adalah tatapan iblis yang kelaparan.
"Kau... sudah bangun," kata Su Qingxue, mundur selangkah tanpa sadar.
Han Luo terbatuk hebat, menyemburkan cipratan darah ke lantai kayu di depannya. Dia mengusap dagunya dengan punggung tangan kanannya.
"Suaramu... terlalu berisik, Nona Suci," suara Han Luo sangat serak dan pelan, seperti suara daun kering yang diremukkan.
Dia memaksa dirinya melangkah keluar dari pintu. Setiap langkahnya terlihat sangat menyakitkan, tapi dia menolak bantuan Long Tian yang hendak memapahnya.
Han Luo mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, berputar sebuah bola es hitam kecil yang memancarkan aura kehancuran yang ekstrem. Itu adalah sisa energi dari Jantung Naga yang Tertidur yang dia padatkan secara paksa.
"Kau ingin cincinku?" Han Luo menyeringai, sebuah senyuman yang lebih terlihat seperti seringai tengkorak. "Ambillah. Tapi jika kau menyentuhnya... aku akan meledakkan bola ini. Menghancurkan kapal ini, diriku, dirimu, dan Darah Esensi Iblis yang kau curi itu menjadi debu."
Su Qingxue menelan ludah. Dia tahu Han Luo tidak menggertak. Pria ini sudah membuktikan di Reruntuhan Keempat bahwa dia bersedia menghancurkan dirinya sendiri hanya untuk memastikan musuhnya ikut mati.
Konsep Kehancuran yang Dijamin Bersama. Senjata psikologis terbaik untuk menghadapi orang yang rasional dan serakah seperti Su Qingxue.
"Kita sedang berada di kapal yang sama, Tuan Mo," Su Qingxue memaksakan tawa kecil, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Aku hanya menguji kewaspadaan pengawalmu. Lautan ini berbahaya, bukan?"
Han Luo menatapnya selama sepuluh detik penuh, memastikan dominasinya mutlak, sebelum akhirnya memadamkan bola es di tangannya.
"Xiao Ling," panggil Han Luo dengan suara bergetar menahan sakit. "Buka jalur pelayaran. Kecepatan maksimal."
Gadis di anjungan itu mengangguk cepat.
Han Luo berbalik menatap Long Tian.
"Hei Long. Bawa gadis ular ini ke lambung bawah. Jika dia naik ke geladak tanpa izinku, potong kakinya."
Long Tian menunduk hormat. "Siap, Tuan."
Han Luo tidak menunggu jawaban. Dia menyeret tubuhnya kembali ke dalam kabin dan membanting pintu hingga tertutup.
Begitu pintu terkunci, lutut Han Luo akhirnya menyerah. Dia ambruk ke lantai kabin, menggigit bibirnya keras-keras untuk menahan teriakan penderitaan saat pedang di bahunya membentur papan kayu.
"Sialan..." erangnya tertahan di lantai yang gelap.
Pemberontakan telah ditunda. Tapi Han Luo tahu, jika dia tidak segera menemukan cara untuk menstabilkan luka amputasi dan mengendalikan besi rongsokan di bahunya ini, Su Qingxue tidak perlu membunuhnya. Tubuhnya sendiri yang akan mengakhiri hidupnya sebelum mereka mencapai markas.
tpi gw demen....