Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Silver Table and Poisonous Smile
Malam menjatuhkan tirainya perlahan di Istana Araluen.
Lentera-lentera dinyalakan, memantulkan cahaya keemasan pada dinding marmer. Aula makan malam dipersiapkan dengan kemewahan yang disengaja—meja panjang berlapis kain perak, peralatan makan berkilau, dan kursi-kursi yang disusun dengan jarak terukur. Setiap tempat duduk adalah pernyataan.
Anthenia melangkah masuk dengan gaun hitam legam bersulam benang perak. Sederhana—namun tegas. Ia duduk di dekat Permaisuri, persis seperti saran William. Dari sudut matanya, ia menangkap reaksi berantai: Beatrice mengatupkan rahang, Adelaide menoleh dengan sinis, Alistair tersenyum… terlalu ramah.
Kaisar memasuki aula terakhir. Semua berdiri. Suara kursi bergeser menyatu dalam satu irama.
“Mari,” titah Kaisar.
Percakapan dimulai—ringan di permukaan. Tentang panen, tentang perbatasan, tentang pesta mendatang. Anthenia mendengar tanpa banyak bicara, mengamati siapa yang menyela, siapa yang menahan diri, dan siapa yang ingin dilihat.
Alistair membuka senyum pertamanya. “Putri Blackwood, kau tampak segar malam ini. Istana kami… memulihkan.”
*Atau menggerogoti,*batin Anthenia.
“Keramahan selalu membantu,” jawabnya sopan.
Beatrice tertawa kecil. “Keramahan istana punya harga.”
Anthenia menoleh perlahan. “Segalanya punya harga. Pertanyaannya—siapa yang membayar.”
Beatrice terdiam. Genevieve menyembunyikan senyum. Nelia menatap Anthenia dengan mata berbinar.
William meletakkan cangkirnya, suaranya pelan namun terdengar jelas. “Perbatasan utara membutuhkan laporan terbaru.”
Kaisar mengangguk. “Kau pimpin.”
“Dengan senang hati.”
Topik bergeser. Namun Alistair belum selesai.
“Permaisuri,” katanya manis, “aku mendengar Putri Blackwood gemar membaca. Mungkin ia tertarik pada arsip lama—tentang silsilah.”
Umpan, pikir Anthenia. Ia ingin melihat reaksiku.
Permaisuri menatap Anthenia. “Apakah begitu?”
Anthenia mengangguk kecil. “Sejarah mengajarkan satu hal—kesalahan jarang terjadi sekali.”
Keheningan singkat. William menatapnya—tajam, menilai. Kaisar menyipitkan mata, tertarik.
Makan malam berlanjut. Lalu, pelayan menyajikan anggur. Anthenia menyesap sedikit—cukup untuk menghormati, tidak cukup untuk lengah.
Ketika hidangan utama selesai, Permaisuri berdiri. “Aku ingin menunjukkan taman malam pada tamu kita.”
Isyarat halus. Para bangsawan bangkit. Di taman, udara lebih dingin. Jalan setapak diterangi lentera rendah. Anthenia berjalan beberapa langkah di belakang Permaisuri—posisi aman.
“Anthenia,” kata Permaisuri pelan. “Apa yang kau lihat malam ini?”
“Kebenaran kecil,” jawab Anthenia. “Dan niat besar.”
Permaisuri tersenyum tipis. “Kau cepat.”
“Terpaksa.”
Mereka berhenti di depan kolam. Bayangan lentera bergetar di air. Langkah kaki mendekat—Alistair.
“Permaisuri,” katanya sopan. “Bolehkah aku mencuri Putri Blackwood sebentar? Untuk berbincang.”
Permaisuri menoleh pada Anthenia. “Pergilah. Aku mengawasi.”
Alistair membawa Anthenia beberapa langkah menjauh. Senyumnya mengembang. “Kau mengesankan.”
“Terima kasih.”
“Namun istana tidak ramah pada yang… terlalu percaya diri.”
Anthenia menatapnya lurus. “Dan tidak adil pada yang terlalu ambisius.”
Senyum Alistair mengeras. “Berhati-hatilah dengan kata-kata.”
“Berhati-hatilah dengan niat.”
William muncul di sisi mereka—seolah dipanggil. “Ada masalah?”
“Tidak,” jawab Alistair cepat. “Kami hanya berbincang.”
William menatap Alistair lama—cukup lama. “Pastikan tetap begitu.”
Alistair mundur, menunduk. Saat ia pergi, Anthenia menghela napas pelan.
“Terima kasih,” katanya pada William.
“Jangan berterima kasih,” jawab William. “Belajarlah.”
“Dari siapa?”
“Dari semua,” katanya singkat. Lalu ia menambahkan, lebih pelan, “Dan jangan berjalan sendirian malam ini.”
Anthenia mengangguk.
Di kejauhan, Beatrice berbisik pada Adelaide. Frederick memperhatikan dengan mata penuh cemas. Leopold memalingkan wajah, enggan terlibat. Edmund tertawa terlalu keras, lalu terdiam saat William melirik.
Malam berakhir tanpa darah—namun pisau sudah dikeluarkan.
Saat Anthenia kembali ke kamarnya, ia menemukan secarik kertas di bawah pintu. Tanpa segel.
“Besok pagi. Aula latihan. Datanglah.”
Tidak ada nama.
Anthenia tersenyum dingin.
“Baik,” gumamnya. “Kita naikkan taruhannya.”
Di balik pintu tertutup, permainan bergerak ke fase baru.
Dan kali ini—Anthenia tidak berniat hanya bertahan.
Ia berniat menang.
...
.
Istana Araluen
Pagi datang terlalu tenang.
Kabut tipis menyelimuti Istana Araluen, menyusup di antara pilar-pilar batu dan taman simetris yang tampak jinak—namun Anthenia tahu, tempat ini sama berbahayanya dengan medan perang.
Ia berdiri di depan cermin, mengikat rambutnya sederhana. Tidak ada perhiasan. Tidak ada hiasan berlebihan.
Aula latihan, pikirnya.
Undangan tanpa nama. Tantangan terbuka.
Langkahnya mantap saat memasuki lorong. Beberapa pelayan menunduk—namun tatapan mereka mengikuti. Kabar menyebar cepat di istana. Terlalu cepat.
Pintu aula latihan terbuka.
Udara di dalamnya dingin, bercampur aroma besi dan kayu. Senjata latihan tersusun rapi di dinding. Beberapa pangeran sudah hadir.
Frederick berdiri kaku di sudut. Leopold menyilangkan tangan, mengamati. Edmund duduk di bangku, menguap—lalu langsung tegap saat melihat siapa yang datang berikutnya.
William Whiston.
Ia berdiri di tengah aula, mengenakan pakaian latihan hitam. Tanpa zirah. Tanpa pedang terhunus. Namun auranya saja cukup membuat ruangan terasa lebih sempit.
“Kau datang,” katanya, datar.
“Aku diundang,” jawab Anthenia.
William mengangguk. “Ini bukan ujian resmi.” Tatapannya menyapu ruangan. “Tapi istana menilai segalanya.”
Alistair masuk terakhir. Senyum ramahnya kembali terpasang. “Aku tak menyangka Putri Blackwood tertarik pada latihan.”
Anthenia meliriknya sekilas. “Aku tertarik pada bertahan hidup.”
Beberapa orang tersenyum tipis. Frederick menelan ludah.
William mengambil pedang latihan dan melemparkannya ke arah Anthenia—tidak keras, namun cepat.
Ia menangkapnya refleks.
Keheningan jatuh.
Gerakan itu terlalu bersih. Terlalu terlatih.
William menyipitkan mata. “Siapa yang mengajarkanmu?”
“Banyak hal bisa dipelajari tanpa guru,” jawab Anthenia.
William mengangkat pedang latihannya sendiri. “Tunjukkan.”
Mereka saling berhadapan.
Tidak ada sorakan. Tidak ada aba-aba resmi.
William menyerang lebih dulu—cepat, lurus, tanpa hiasan. Tebasan yang seharusnya memaksa mundur siapa pun.
Namun Anthenia menggeser kaki, memutar pergelangan, dan menangkis dengan sudut yang salah menurut teknik istana—namun efektif.
Logam beradu.
Satu langkah. Dua. Serangan berikutnya datang beruntun. William menekan, menguji batas.
Anthenia tidak membalas dengan kekuatan—ia membaca. Menghindar setipis rambut, memanfaatkan jarak, menyerang celah kecil yang muncul sesaat.
Leopold mengerutkan kening. “Itu… bukan gaya kerajaan.”
“Bukan gaya mana pun,” gumam Genevieve yang baru datang di ambang pintu. “Itu insting.”
William menghentikan serangannya mendadak. Ujung pedangnya berada tepat di bahu Anthenia.
Namun pedang Anthenia… sudah menempel di sisi lehernya.
Saling diam.
William menurunkan pedangnya lebih dulu.
“Cukup.”
Ruangan meledak dalam bisik-bisik tertahan.
Alistair tersenyum—kali ini kaku. Frederick menatap Anthenia seolah melihat monster baru. Edmund menutup mulutnya sendiri.
William menatap Anthenia lama. “Kau menyembunyikan ini.”
“Aku tidak diminta menunjukkannya,” jawabnya tenang.
William berbalik pada yang lain. “Latihan selesai.”
Satu per satu mereka keluar. Alistair berhenti di depan Anthenia, suaranya rendah. “Kau membuat kesalahan, menunjukkan taring.”
Anthenia mendekat setengah langkah. “Kesalahan adalah membiarkan orang mengira aku mangsa.”
Alistair pergi tanpa menoleh.
William mendekat. “Mulai hari ini,” katanya pelan, “istana akan melihatmu berbeda.”
“Masalah?”
“Bagi yang berniat jahat—ya.”
Ia melangkah pergi, lalu berhenti. “Dan Anthenia.”
Ia menoleh.
“Araluen tidak memaafkan yang setengah-setengah.”
Anthenia menatap punggungnya, ekspresinya tenang—namun matanya dingin dan penuh perhitungan.
“Bagus,” gumamnya. “Aku juga tidak.”
Di atas menara Istana Araluen, lonceng pagi berdentang.
Babak baru dimulai.
Dan kini, semua tahu—
Putri Duke Blackwood bukan sekadar hiasan istana.
.....
Istana Araluen
Kabar itu menyebar sebelum matahari mencapai puncaknya.
Bukan lewat bisik pelayan.
Bukan lewat gosip dayang.
Melainkan lewat tatapan orang-orang yang biasanya tak berani menatap.
Di aula audiensi kecil, Duke Kaelen Blackwood berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung. Wajahnya dingin seperti biasa—namun denyut di rahangnya mengeras saat seorang pengawal istana berlutut di hadapannya.
“Ulangi,” ucap Duke, suaranya rendah.
Pengawal itu menelan ludah. “Putri Anda, Yang Mulia Duke… berlatih di aula latihan pagi ini.”
“Berlatih,” ulang Duke datar. “Dengan siapa.”
“Dengan—Putra Mahkota.”
Ruangan membeku.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Kaelen Blackwood kehilangan kata—meski hanya sesaat.
“Sejak kapan,” ucapnya perlahan, tiap kata terukir tajam,
“Anthenia bisa mengayunkan pedang?”
Pengawal itu menunduk lebih dalam. “Dan… duel itu tidak sepihak.”
Jari Duke mengepal.
Bukan marah.
Bukan takut.
Terkejut.
Anthenia—putrinya yang dulu bahkan gemetar saat suara besi beradu. Anthenia yang selalu bersembunyi di balik jubahnya. Anthenia yang ia lindungi dari dunia, dari istana, dari pedang.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Ada beberapa pertukaran serangan, Yang Mulia. Putra Mahkota menghentikannya sendiri.”
Duke menutup mata sesaat.
Delapan belas tahun, pikirnya.
Dan aku tidak tahu apa-apa.
“Siapa yang menyaksikan.”
“Hampir semua pangeran. Beberapa putri. Dan… kabarnya, Permaisuri sudah tahu.”
Napas Duke mengeras.
“Keluar.”
Pengawal itu segera pergi.
Kaelen berdiri sendirian. Tangannya bertumpu pada meja kayu berat—meja yang pernah ia gunakan untuk memetakan perang. Dan kini, perang itu terasa lebih dekat dari yang ia kira.
“Seraphina…” gumamnya lirih, menyebut nama istrinya yang telah tiada. “Apa yang terjadi pada putri kita?”
Di sayap timur Istana Araluen, Anthenia duduk tenang di kamarnya. Pedang latihan telah ia kembalikan. Tangannya bersih—tidak ada getar.
Dayang yang masuk membungkuk. “Nona… Duke Blackwood meminta bertemu.”
Anthenia sudah menduganya.
“Sekarang?”
“Ya.”
Ia berdiri. Menyelaraskan napas. Wajahnya netral—namun matanya siap.
Di ruang pertemuan kecil, Duke Kaelen berdiri menghadap jendela. Saat Anthenia masuk, ia tidak langsung menoleh.
“Sejak kapan,” ucapnya, suaranya tertahan,
“kau bisa bertarung?”
Anthenia tidak menunduk.
“Sejak aku berhenti takut,” jawabnya jujur.
Duke berbalik. Tatapannya menembus—mencari celah, mencari kebohongan.
“Kau delapan belas tahun,” katanya. “Aku mengenal setiap tahun hidupmu.”
“Ayah mengenal Anthenia yang dulu,” balasnya tenang. “Yang sekarang… belajar.”
Keheningan berat menggantung.
“Kau menghadapi Panglima Perang Kekaisaran,” lanjut Duke. “Putra Mahkota Araluen. Tanpa izinku.”
“Aku tidak menantangnya,” ucap Anthenia. “Aku diundang.”
Duke terdiam. Lama.
Akhirnya ia menghela napas—perlahan, berat. “Kau berubah.”
“Ya.”
“Berbahaya.”
“Di istana ini,” kata Anthenia pelan, “yang tidak berbahaya justru yang pertama mati.”
Tatapan Duke mengeras—lalu melembut, nyaris tak terlihat.
“Jika kau memilih jalan ini,” ucapnya, “aku tidak akan bisa selalu melindungimu.”
Anthenia menatapnya lurus. “Aku tahu.”
Duke melangkah mendekat, meletakkan tangannya di bahu putrinya—gerakan yang jarang ia lakukan.
“Maka pastikan,” katanya rendah, “tidak ada yang berani menjadikanmu sasaran.”
Anthenia mengangguk. “Aku akan memastikan mereka berpikir dua kali.”
Duke tersenyum tipis—senyum seorang pria yang menyadari putrinya bukan lagi anak kecil.
Di luar, lonceng Araluen berdentang pelan.
Permainan telah berubah.
Dan kini—
Bukan hanya istana yang melihat Anthenia dengan mata berbeda.
Ayahnya pun demikian.