Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU TAK DI UNDANG
Ruang tamu itu masih terasa dingin oleh embusan AC, kontras dengan sisa peluh yang menempel di kemeja kerja Surya. Ia baru saja menyandarkan punggungnya di sofa, melepas lelah setelah seharian berjibaku dengan kemacetan kota, saat tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar—keras dan beruntun.
Surya tersentak. Alisnya bertaut. "Ma... ada tamu!" serunya, suaranya menggema seisi rumahnya.
Di dapur yang harum oleh aroma tumisan, Maudi yang sedang sibuk membantu Bik Minah menata piring-piring porselen untuk makan malam. Mendengar panggilan suaminya, ia segera meletakkan serbet yang dipegangnya.
"Bik, tolong urus sisanya sendiri dulu ya. Saya lihat ke depan sebentar," ujar Maudi terburu-buru.
Bik Minah hanya mengangguk patuh sambil tersenyum tipis. "Baik, Bu. Biar saya saja yang teruskan."
Maudi mengangguk. Ia mulai melangkah masuk ke ruang tamu, merapikan sedikit tatanan rambutnya. "Mungkin Dea sudah pulang, Pah," ucapnya setelah menerobos ruang tengah dan kini tiba di ruang tamu sambil melirik ke arah pintu.
Surya menggeleng mantap. Ia sangat mengenal ritme rumah ini. "Tamu, Ma. Ketukan Dea tidak seperti itu. Anak itu mana pernah mengetuk? Biasanya juga langsung nyelonong masuk sambil teriak salam."
Maudi terkekeh pelan, menyadari kebenaran ucapan suaminya. "Iya juga, sih. Ya udah, Mama coba buka pintu dulu ya."
Surya mengangguk, membiarkan istrinya melangkah menuju daun pintu kayu jati yang kokoh itu lebih dulu.
Begitu pintu terbuka, Maudi tersentak kecil. Di ambang pintu berdiri seorang wanita muda yang kecantikannya kembali sanggup mencuri perhatian siapa pun.
Malam ini, Luna tampak sangat anggun modis, dan kali ini nampak profesional dan dewasa. Ia mengenakan blazer berwarna emerald green yang dipadukan dengan celana kulot berwarna krem. Sementara, rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai sempurna, membingkai wajahnya yang dipoles riasan natural namun berkelas.
"Halo, Tante," sapa Luna dengan senyum manis yang sedikit mengejutkan Maudi.
"Lu-Luna? Kamu sendiri, Nak?" Tanya Maudi, masih berusaha menguasai rasa terkejutnya.
Mendengar nama Luna disebut, Surya segera bangkit dari sofa dan mendekat ke ambang pintu. Matanya membelalak. "Luna? Kamu ke sini sama siapa?"
"Halo, Om," Jawab Luna sopan. "Aku sendiri, Om. Tadi kebetulan sepulang kerja aku mampir ke kantor Vhirel. Tapi... kata karyawannya, Vhirel hari ini tidak masuk."
Seketika, suasana hangat itu berubah menjadi tegang. Maudi dan Surya saling berpandangan dengan raut wajah yang berubah drastis.
"Tunggu. Nggak masuk kantor? Bagaimana maksudnya?" Tanya Surya dengan nada bicara yang mulai meninggi. "Tadi pagi dia pamit berangkat seperti biasa. Apalagi dia bilang jadwalnya hari ini sangat padat."
Maudi memegang lengan suaminya, mencoba menenangkan, namun matanya sendiri menyiratkan kecemasan yang mendalam. Di mana Vhirel sebenarnya jika dia tidak berada di kantor?
Sementara itu, Luna yang mematung di hadapan mereka, hanya mampu menggeleng pelan, seolah tubuhnya kehilangan pondasi untuk melakukan lebih dari sekadar gerakan sederhana itu.
Sore tadi, Luna hanya ingin bertemu dengan Vhirel—sekadar menyapa, menanyakan bagaimana kerjaannya hari ini, namun pria itu tak ada di tempat kerjanya. Di hadapan Surya dan Maudi, pandangannya beralih perlahan, berhenti pada raut wajah Maudi yang terlihat cemas, lalu ke Surya yang kini nampak berbeda—raut ketegasannya kini diselimuti tegang.
"Hm. Nak Luna... lebih baik kita masuk dulu, yuk." Ajak Maudi kemudian. Tangannya meraih lengan gadis itu menuntunnya masuk ke dalam rumah.
Luna menurut tanpa banyak reaksi. Langkahnya ringan namun kosong, seolah tubuhnya bergerak lebih dulu sebelum pikirannya sempat mengejar. Begitu melewati ambang pintu, hawa hangat rumah justru terasa kontras dengan dingin yang masih menetap di dadanya. Sementara itu, Surya masih mematung di ambang pintu dengan cemas.
Tanpa berhenti di ruang tamu yang mereka lewati begitu saja, Maudi langsung mengarahkan langkah ke ruang makan. "Kebetulan ini sudah jam makan malam kami. Sambil nunggu Vhirel pulang, kamu sekalian makan malam disini bersama, ya?"
Luna tersenyum—senyum kecil yang muncul dengan ragu, namun tulus. Setidaknya, ia diterima. Setidaknya, kehadirannya tidak ditolak. "Makasih lho, Tante. Aku kesini malah jadi ngerepotin."
“Enggak kok, Nak, Luna.” Ucap Maudi menggeleng sambil menarik salah satu kursi makan yang masih kosong, lalu mempersilakan gadis itu duduk lebih nyaman.
“Darimana kalian?!”
Suara keras itu menggelegar dari arah ruang tamu, mengejutkan Maudi dan Luna bersamaan. Luna refleks menoleh, sementara bahu Maudi menegang seketika mendengar suara tegas suaminya.
Detik berikutnya, suara langkah kaki terdengar tergesa, semakin dekat—membelah keheningan rumah yang sejak tadi terasa hangat sekaligus rapuh.
Surya muncul. Kali ini raut wajahnya tidak lagi menampakkan cemas, ada kekesalan saat mereka pulang—Vhirel menyusul masuk, disampingnya Dea yang memegangi lengan kakakaknya
Sontak, tatapan Luna langsung terkunci pada satu sosok. “Mas Vhirel…” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.
Dea yang menyadari tatapan Maudi, segera melepas lengan kakaknya. Gadis itu melangkah satu tapak ke belakang, menunduk singkat—seolah paham bahwa kehadirannya barusan terlalu banyak mengisi ruang yang seharusnya hening.
Maudi menarik napas dalam, lalu menegakkan tubuh. Tatapannya bergeser dari Vhirel ke Dea, kemudian berhenti lebih lama di Vhirel. "Kamu gak masuk kantor ternyata?" Tanyanya.
Vhirel menelan ludah. Ia melirik Luna sekilas—gadis itu mengapa ada disini dan duduk di ruang makan malam ini, batinnya tak berkedip.
"Vhirel sudah membohongi Papa." Kata Surya. Suaranya terdengar datar, namun berat. Ia menarik kursi makanannya lalu duduk di samping Maudi, gerakannya tenang namun jelas menahan emosi yang mengendap. Satu kalimat itu saja cukup membuat udara di ruang makan terasa menebal.
Vhirel membeku Matanya melebar tipis, rahangnya mengeras. Ia menatap Surya sejenak, lalu beralih ke arah Luna.
Wanita itu hanya menunduk, seolah tak berdosa bahwa apa yang baru saja dilakukannya telah menampar kesadaran Vhirel dengan keras.
“Duduk dulu,” ujar Maudi menyusul, menatap Vhirel dan Dea bergantian. Nada suaranya lembut, tapi tak memberi ruang untuk dibantah.
Dea menarik napas pelan dan lebih dulu menurut, menarik kursi dan duduk dengan sikap tertib.
Sedangkan, Vhirel masih terdiam beberapa detik, jemarinya mengepal di sisi tubuh, sebelum akhirnya ikut menarik kursi dan duduk perlahan di antara Dea dan Luna. "Aku tadi sempat menelpon sekretarisku..." katanya pelan. "... tapi Tomi bilang kalau schedule hari ini di batalkan karena klien mendadak re-schedule. Jadi... seharian ini aku nemenin Dea aja di butik buat ngawasin mandor."
Surya menggeleng sambil meneguk air putih yang Maudi tuangkan untuknya.
"Kenapa kamu gak bilang sama Mama dan Papa kalau akhirnya nemenin adikmu seharian?" Tanya Maudi. "Jangan buat khawatir Papa dan Mama dong, Vhirel."
"Kalau begitu... kenapa kamu gak datang ke kantor dan makan siang sesuai ajakan Papa tadi pagi?" Tambah Surya.
"Lupa." Jawab Surya, datar. Tanpa sedikitpun rasa berdosa, dengan santai, ia meneguk minumannya setengah habis lalu melahap makanannya.
"Dea bangun butik?" Celetuk Luna hangat, seolah memecah situasi tegang di antara mereka.
Dea hanya mengangguk tanpa suara.
"Waaaaah hebat!" Tanggap Luna dengan penuh antusias. "Wajar aja... Mas Vhirel jadi sering ke sana, ya. Namanya juga bantu adik sendiri.”
Mas Vhirel? Batin Dea bergaung pelan di kepalanya.
Sapaan itu seketika membuatnya menegang tanpa alasan yang benar-benar bisa ia jelaskan. Ada denyut kecil di dadanya, cepat lalu menghilang, meninggalkan rasa asing yang tak nyaman—seolah sesuatu yang seharusnya netral mendadak terasa terlalu dekat.
Jemarinya meremas pelan ujung bajunya. Ia menunduk lebih dalam, menyembunyikan ekspresi yang nyaris berubah.
Kenapa cuma sapaan bisa bikin begini? batinnya menyela, kesal pada dirinya sendiri.
Dea mengatur napas, memaksa bahunya kembali rileks. Detik berikutnya, Ia berdeham panjang, menarik semua mata kini tersedot padanya. "Ma... Pa... boleh gak, aku panggil Kak Vhirel dengan sebutan Mas Vhirel juga?"
"Uhuuuuk! Uhuk!"
Vhirel tersedak tiba-tiba, batuknya pecah di tengah keheningan ruang makan. Ia menunduk cepat, menepuk-nepuk dadanya beberapa kali, mencoba menahan rasa sesak yang membuat suaranya tercekat.
Dea dan Luna menoleh bersamaan, mata mereka terpaku padanya. Di saat yang sama, keduanya sigap menuangkan air putih untuk Vhirel.
Namun, Vhirel segera menyambar gelas yang disodorkan Dea, tangannya sedikit gemetar. Ia meneguk perlahan, merasakan hawa dingin air itu menenangkan tenggorokannya yang masih perih. Perlahan, batuknya mereda, ia pun menepuk dadanya beberapa kali untuk menenangkan napasnya. “Ah… makasih,” ucapnya pelan, suaranya masih serak tapi lebih stabil.
Dea melempar senyum. "Sama-sama Mas Vhirel..."
Surya dan Maudi saling menatap. Pandangan mereka kini penuh arti. Tapi kali ini bukan hangat atau lega. Ada kecurigaan yang samar, tersembunyi di balik keduanya yang tampak tenang dihadapan tamunya, Luna. Sekaligus, tegang dengan sikap putri bungsunya, Dea.
Vhirel yang menyadari “apaan Mas Vhirel?!” Celetuknya spontan, hampir seperti mencoba menutupi sesuatu. Suaranya terdengar sedikit tegas, bahkan agak keras, seolah ingin mengusir semua rasa yang barusan muncul di ruang makan—momen hangat yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Padahal dalam hati, sebutan itu… sangat menyentuhnya lebih dalam daripada yang ia duga. Setiap kata yang keluar dari bibir Dea itu menempel lembut di hatinya, membuat dadanya terasa hangat sekaligus aneh. Ada getar halus yang tak bisa ia akui—bahwa sapaan itu membuatnya merasa dihargai, dekat, dan… penting. Amat penting!
Vhirel menelan ludah, "Aku belum terlalu tua untuk di panggil dengan sebutan itu!" Tambahnya penuh protes.
"Dewasa!" Dea menjentikkan ibu jari. "Itu yang paling tepat. Iya kan, Ma... Pa?"
Surya dan Maudi masih membisu heran.
"Mbak Luna aja panggil Kak Vhirel dengan sebutan, Mas... masa aku gak bisa." Sambung Dea, nadanya terdengar ringan—nyaris bercanda.
Namun Di balik senyum tipis yang ia pasang, ada rasa panas yang mengendap di dadanya. Tipis, tapi nyata. Perasaan yang tak ia undang, tak pula ia pahami sepenuhnya. Dea menahan diri agar suaranya tetap stabil, seolah yang ia ucapkan barusan hanyalah logika sederhana, bukan dorongan emosi yang bergejolak.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,