Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengikuti Arga
Seminggu telah berlalu sejak ketegangan terakhir di rumah itu.
"Laras, besok Ibu minta uang lima juta. Rombongan arisan Ibu mau liburan ke Lombok, pokoknya kamu harus kasih." Ucap Bu Ajeng tanpa basa-basi, nadanya menuntut seolah Laras adalah tumpuan hidupnya.
Laras tidak bergeming. Ia tetap fokus menggerakkan setrika di atas papan, menghaluskan kemeja satu per satu. Baginya, suara mertuanya itu hanya seperti desis angin yang mengganggu.
"Kamu dengar Ibu bicara tidak, sih?" bentak Bu Ajeng, wajahnya memerah karena merasa diabaikan.
"Dengar, Bu. Sangat dengar." jawab Laras tenang tanpa mengalihkan pandangan. "Tapi apa Ibu pikir aku ini mesin ATM yang bisa mengeluarkan uang setiap saat? Minta saja pada anak Ibu. Aku bukan bank berjalan untuk kalian." tegasnya.
Bruk!
Belum sempat Bu Ajeng membalas, Tiara adik bungsu Arga datang dan langsung melemparkan seonggok pakaian ke arah Laras. "Sekalian setrikakan punyaku, Mbak. Aku sudah capek mencucinya sendiri, sekarang tugasmu menyetrikanya."
Laras menatap tumpukan baju itu, lalu beralih menatap Tiara dengan tajam. "Setrika sendiri. Kalau menumpang di sini, setidaknya tahu diri. Apa kamu pikir aku ini pembantu?"
Tiara berkacak pinggang, sementara Bu Ajeng langsung menyambar, "Menumpang? Sadar diri, Laras. Ini rumah anakku, hasil kerja keras Arga. Jadi di sini kamu yang menumpang, kamu yang seharusnya tahu diri. Kamu itu cuma orang luar."
Laras nyaris ingin tertawa terbahak-bahak mendengar klaim konyol itu. Ia teringat bagaimana ayahnya, Pak Harun, memberikan rumah ini sebagai hadiah ulang tahunnya. Sertifikatnya pun masih atas nama sang ayah. Namun, karena Arga terlalu gengsi dan berbohong kepada keluarganya bahwa rumah ini adalah hasil jerih payahnya di kantor, Bu Ajeng dan anak-anaknya merasa menjadi pemilik sah.
Laras selama ini diam karena malas berdebat, tapi melihat tingkah mereka, kesabarannya mulai menipis.
"Oh, begitu? Jadi aku hanya orang luar yang menumpang di sini?" Laras tersenyum sinis. "Menarik. Kalau begitu, mulai hari ini, mari kita urus keperluan masing-masing. Biar kalian tahu rasanya hidup tanpa orang luar ini." gumamnya dalam hati.
"Cepat setrika baju merahku itu. Siang ini aku mau nongkrong sama teman-temanku. Pokoknya dua puluh menit harus rapi. Aku mau mandi dulu. " perintah Tiara dengan gaya bak nyonya besar.
"Dengar itu? Tiara mau pakai bajunya. Cepat dikerjakan. Dan jangan lupa, besok uang lima jutanya harus ada. Kalau mau dilebihkan juga Ibu tidak keberatan." tambah Bu Ajeng dengan nada pongah sebelum melenggang pergi menuju ruang televisi.
Laras membiarkan pakaian Tiara teronggok begitu saja di lantai. Ia tidak menyentuhnya sedikit pun.
"Bu, Laras mana?" tanya Arga yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ada di ruang setrika. Kamu mau ke mana, Arga? Kok rapi sekali?" Bu Ajeng memperhatikan putranya yang sudah bersiap-siap.
"Mau jalan, Bu. Tapi baju di lemari habis semua. Entah apa yang dikerjakan Laras sampai baju-bajuku tidak ada yang siap." keluh Arga, selalu menjadikan istrinya kambing hitam.
Bu Ajeng mendekat, berbisik dengan nada kompor. "Makanya, cepat ceraikan Laras dan nikahi Angel. Kalau nanti kalian tinggal di sini, kita bisa sewa ART. Kita juga bisa kecipratan harta dari keluarga Angel. Kalau dia jauh dari orang tuanya, pasti lebih mudah kita kendalikan uangnya."
Arga segera menempelkan telunjuk di bibir, melirik waswas ke arah ruang setrika. "Jangan keras-keras, Bu. Bahaya kalau Laras dengar. Aku belum mau dia tahu soal ini."
"Halah. Lebih cepat dia tahu, lebih baik. Ibu sudah muak. Dia itu sudah miskin, kurang ajar pula. Kalau bukan karena gajinya di kantor yang lumayan itu, Ibu tidak akan sudi merestui kalian dulu. Pokoknya, cepat bereskan dia." desak Bu Ajeng.
Arga hanya berdehem pelan, lalu melangkah menuju ruang setrika.
"Laras, kemeja biruku mana?"
"Itu, baru selesai aku setrika," jawab Laras pendek. "Mau ke mana, Mas? Ini hari Minggu. Seharusnya kamu di rumah, luangkan waktu untuk istri, atau bantu aku menyetrika. Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu selalu pergi setiap hari libur."
Arga mendengus, "Jangan seperti remaja, deh. Kita sudah tidak muda lagi untuk urusan berdua-duaan begitu. Aku ada urusan dengan teman-teman. Sudah, jangan banyak tanya. Lebih baik selesaikan setrikaan itu, lihat tumpukan bajuku sudah menggunung."
Setelah Arga pergi, Laras langsung mencabut kabel setrika. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres. Ia harus bergerak cepat.
"Aku harus mengikuti Mas Arga. Aku harus keluar lebih dulu supaya dia tidak curiga." gumam Laras. Ia mengambil ponsel, dompet, dan kunci mobilnya di lemari pribadi.
"Mau ke mana?" tanya Arga saat berpapasan di depan kamar.
"Mau keluar sebentar, beli setrika baru. Yang di dalam sepertinya rusak, tidak panas. Mungkin kabelnya putus." dalih Laras tenang.
"Ya sudah, sana. Aku juga mau berangkat."
"Jangan pulang malam, ya. Sebelum makan malam sudah harus di rumah." ucap Laras, pura-pura memberikan perhatian manis yang palsu.
Laras memacu mobilnya, namun berhenti di depan sebuah minimarket yang tak jauh dari komplek. Ia tahu, untuk keluar dari area ini, Arga pasti akan melewati jalan ini agar tidak melawan arus.
Benar saja, lima menit kemudian, mobil Arga melintas. Dengan jantung berdebar, Laras tancap gas dan menjaga jarak aman.
"Mau ke mana dia?" gumam Laras saat melihat mobil suaminya terus melaju lurus.
Arga di dalam mobilnya tampak berseri-seri, bersiul kecil sambil membayangkan pertemuannya dengan Angel. Baginya, ritual hari Minggu tidak lengkap tanpa kunjungan ke hotel bersama selingkuhannya itu.
Mobil Arga tiba-tiba berbelok ke arah perumahan elit yang sangat dikenali Laras.
"Ini kan jalan menuju rumah Bapak?" Laras mengernyit bingung. Namun, Arga berhenti di gang kedua. Di sana, seorang wanita cantik sudah menunggu dengan senyum merekah.
Laras membelalak saat melihat Arga turun dari mobil, langsung memeluk wanita itu, dan memberikan kecupan mesra di pipi sebelum membukakan pintu mobil untuknya.
"Siapa perempuan itu? Jadi benar... Mas Arga berkhianat." bisik Laras, tangannya gemetar memegang kemudi. "Sabar, Laras. Jangan gegabah. Ikuti terus."
Di dalam mobil depan, Arga menggenggam tangan Angel erat. "Sayang, Mas baru dapat bonus besar. Kamu mau belanja apa saja, katakan saja."
Padahal, itu bohong besar. Uang itu adalah hasil pinjaman kantor (kasbon) yang ia paksakan demi menyenangkan selingkuhannya.
"Iya, Mas. Tapi aku bingung mau beli apa, koleksiku sudah banyak. Mungkin kita jalan-jalan ke mal saja dulu ya?" jawab Angel pura-pura jual mahal, padahal hatinya bersorak kegirangan.
"Apapun untukmu." sahut Arga manis.
Mobil itu akhirnya berhenti di sebuah mal megah. Laras memarkirkan mobilnya agak jauh, matanya terus mengawasi saat Arga turun dan dengan santainya merangkul pinggang Angel masuk ke dalam gedung.
"Kurang ajar!" Laras mencengkeram kemudi, air matanya mulai menggenang. "Kamu benar-benar sudah mengkhianatiku, Mas. Di atas rumah yang ayahku berikan, kamu membangun kebohongan sesakit ini."