Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Danau Bunga Teratai Darah
Kawasan vila 'Taman Bunga Teratai Darah' terletak jauh di pinggiran utara Kota Jinghai. Tempat ini tidak tercantum di brosur properti mana pun. Dikelilingi oleh hutan pinus buatan dan sebuah danau gelap yang tenang, kawasan ini lebih terlihat seperti benteng militer berkedok perumahan elit.
Tepat pukul dua dini hari, kabut tipis mulai turun menyelimuti permukaan danau.
Di tepi hutan pinus, sesosok bayangan berjubah hitam berjongkok di atas dahan pohon yang tebal. Ye Xuan menatap ke arah bangunan terbesar di tengah danau buatan tersebut. Matanya yang gelap memindai setiap pergerakan di bawah sana.
Sebagai pria yang di masa lalunya hanya masyarakat kelas bawah, Ye Xuan sama sekali tidak tahu seluk-beluk tempat ini. Dia tidak punya peta, tidak tahu di mana letak ruang kendali keamanan, dan tidak tahu berapa banyak ahli bela diri yang disembunyikan di dalam kegelapan. Pengetahuannya tentang dunia persilatan modern hanya sebatas rumor jalanan dan berita kematian tokoh-tokoh besar yang dulu sering tayang di televisi.
"Dua penjaga patroli di gerbang utama. Tiga anjing penjaga. Ada riak kecil di permukaan air danau... kemungkinan ada sensor gerak atau jaring tenaga dalam di bawah sana," batin Ye Xuan menganalisis dengan tenang.
Dia tidak memiliki rencana yang rumit. Rencananya murni didasarkan pada efisiensi, temukan pemimpinnya, lumpuhkan, dan tanamkan Segel Darah Perbudakan Mutlak.
Ye Xuan menarik napas dalam-dalam, menekan detak jantungnya hingga ritme paling lambat menggunakan teknik pernapasan Tabib Dewa. Suhu tubuhnya turun, menyatu sempurna dengan udara malam yang dingin.
Wush!
Ye Xuan melompat dari dahan pohon, mendarat di atas tanah berlapis rumput tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Dia tidak melewati jembatan utama, melainkan bergerak menyusuri bayangan tepian danau.
Di depan pos penjagaan timur, dua pria berjas hitam sedang berdiri sambil merokok. Keduanya memancarkan aura tenaga dalam tingkat dasar. Bagi orang awam, preman berjas ini sudah cukup untuk mematahkan leher atlet profesional.
"Kudengar Nona Wuyue sedang sangat sensitif malam ini. Tim Kuang hilang tanpa jejak," bisik salah satu penjaga sambil membuang puntung rokoknya.
"Jangan banyak bicara. Jaga saja matamu!"
Syuuu! Syuuu!
Kata-kata dari penjaga kedua terputus selamanya.
Dari balik kegelapan di sudut pos, dua batang jarum perak melesat menembus udara dan menancap akurat tepat di titik meridian Yamen di belakang leher kedua pria itu.
Mata mereka langsung membelalak kosong. Saraf motorik mereka putus seketika. Sebelum tubuh kaku mereka sempat jatuh dan menimbulkan suara berdebum, sosok Ye Xuan melesat maju layaknya macan kumbang. Dia menangkap kerah jas kedua pria itu bersamaan, lalu menurunkannya ke tanah secara perlahan.
Ye Xuan tidak membuang mayat mereka ke dalam Inventory. Dia membiarkan mereka dalam posisi duduk bersandar di dinding pos, terlihat seperti sedang tertidur jika dilihat dari kejauhan. Mengubah rutinitas terlalu drastis akan memicu kecurigaan patroli lainnya.
Pria itu terus bergerak. Masuk ke halaman dalam vila.
Setiap kali dia menemui penjaga yang menghalangi jalannya, Ye Xuan menggunakan kombinasi mematikan antara jarum perak dan pukulan jarak dekat Seni Pemutus Meridian. Jika jaraknya kurang dari satu meter, dia menutupi mulut target dan menghantamkan dua jarinya ke titik saraf jantung, melumpuhkan mereka tanpa setetes darah pun.
"Hahhhhh..." Ye Xuan menghela napas tanpa suara di balik dinding pilar marmer.
Dia sudah melumpuhkan delapan orang. Kini dia berdiri tepat di depan pintu kayu mahoni besar yang menuju ke ruang utama vila.
Di masa lalunya, masuk ke tempat seperti ini berarti mengantar nyawa. Tapi sekarang, darah Ye Xuan terasa berdesir oleh adrenalin. Dia mengeluarkan pistol Desert Eagle perak dari dalam saku dimensinya. Moncong peredamnya terasa dingin di tangannya. Tangan kirinya memegang tiga batang jarum perak.
Sementara itu, di dalam ruangan utama vila.
Suasana ruangan itu didominasi oleh warna merah dan hitam. Karpet bulu tebal menutupi seluruh lantai. Di tengah ruangan, Ji Wuyue sedang duduk bersandar dengan malas di atas sofa kulit yang mewah.
Gaun cheongsam merahnya yang berbahan sutra tipis mengekspos paha jenjangnya dengan sangat provokatif. Tangan kirinya memegang sebuah gelas kristal berisi anggur merah tua yang warnanya menyerupai darah.
Di belakangnya, dua orang ahli bela diri tingkat menengah berdiri tegap dengan pedang panjang tersarung di pinggang.
"Nona, apakah Anda yakin Tabib Tanpa Nama itu akan datang malam ini?" tanya salah satu penjaganya dengan nada ragu. "Tempat ini adalah markas utama cabang kita. Bahkan kepolisian pun tidak berani mendekat."
Bibir merah Ji Wuyue melengkung membentuk senyuman tipis yang sangat berbahaya. Dia menyesap anggurnya dengan perlahan, membiarkan cairan merah itu membasahi bibirnya yang menggoda.
"Orang yang bisa membunuh Kuang tanpa meninggalkan jejak bukanlah pengecut yang akan bersembunyi," suara mendayu Wuyue bergema di ruangan yang luas itu. "Jika dia pintar, dia akan mencari tahu siapa yang memburunya. Dan jika dia cukup gila, dia akan memotong kepala ular ini sebelum ular ini menemukan sarangnya."
Tiba-tiba, kelopak mata Ji Wuyue sedikit berkedut. Ujung jarinya yang lentik mengetuk pelan tepi gelas kristal.
Keheningan malam terasa sedikit berubah. Suara jangkrik di luar jendela mendadak berhenti secara serempak. Hawa dingin yang tidak wajar merembes masuk dari celah bawah pintu utama.
Mata rubah Ji Wuyue memancarkan kilatan predator.
"Dia sudah berada di sini," bisik Ji Wuyue pelan, nadanya bercampur antara antisipasi dan gairah membunuh.
Kedua penjaga di belakangnya langsung menghunus pedang mereka. Suara gesekan logam terdengar tajam. Tenaga dalam mereka meledak, menyelimuti bilah pedang dengan aura putih yang bisa membelah pelat besi.
Kriettt...
Pintu mahoni setinggi tiga meter itu terbuka secara perlahan, berderit panjang menembus kesunyian ruangan.
Semua mata tertuju ke ambang pintu.
Di sana, berdirilah sosok tinggi yang diselimuti jubah hitam pekat. Tudungnya ditarik sangat rendah, hanya memperlihatkan ujung hidung dan bibir yang terukir dengan senyuman datar nan dingin. Tangan kanan sosok itu tersembunyi di balik jubah, sementara tangan kirinya tergantung santai di sisi tubuh.
"Permisi. Sepertinya aku masuk tanpa mengetuk," suara parau Ye Xuan memecah ketegangan.
Ji Wuyue tidak berdiri. Dia menyilangkan kakinya dengan anggun, menatap lekat-lekat sosok di ambang pintu itu. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena tertarik. Hawa kehadiran pria di depannya ini sangat tipis, nyaris seperti orang mati, namun insting bela dirinya menjerit bahwa sosok ini adalah bahaya mutlak.
"Tabib Tanpa Nama," ucap Ji Wuyue dengan nada menggoda. Dia memutar gelas anggurnya santai. "Kau benar-benar punya nyali yang besar. Berdiri di ruangan ini sama saja dengan memesan peti mati emas untuk dirimu sendiri."
"Aku lebih suka peti mati dari kayu jati. Emas terlalu mencolok untuk seleraku," balas Ye Xuan santai, melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Bunuh dia! Cincang dagingnya!" perintah Ji Wuyue, nada manjanya seketika berubah menjadi perintah absolut yang kejam.
Kedua penjaga elit itu menerjang maju layaknya anak panah yang lepas dari busurnya.
"Mati kau, Keparat!" raung penjaga pertama, menebaskan pedangnya dengan kekuatan penuh ke arah leher Ye Xuan.
Wush!
Tebasan itu begitu cepat hingga membelah udara. Namun, saat bilah pedang itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari leher Ye Xuan, langkah Ye Xuan tiba-tiba memudar layaknya kabut putih.
Seni Pemutus Meridian tidak hanya mengajarkan cara memukul, tapi juga cara membaca pergerakan otot musuh. Ye Xuan memutar pinggulnya secara ekstrem, membiarkan bilah pedang itu lewat di samping telinganya.
Di saat yang bersamaan, tangan kanan Ye Xuan yang sejak tadi tersembunyi melesat keluar.
Bukan memegang jarum perak. Melainkan moncong pistol Desert Eagle yang langsung menempel di bawah dagu penjaga pertama.
PFT!
Suara tembakan peredam terdengar tumpul.
Penjaga elit itu bahkan tidak sempat menyadari apa yang terjadi. Peluru khusus penembus tenaga dalam itu menghancurkan rahang bawahnya dan bersarang langsung di otaknya. Tubuhnya ambruk ke lantai karpet dengan suara gedebuk yang berat. Mati seketika.
Penjaga kedua yang berada di belakangnya terbelalak kaget melihat senjata api modern di tangan seorang ahli bela diri. Di dunia persilatan, menggunakan pistol dianggap tindakan pengecut, tapi senjata ini jelas bukan pistol biasa!
"Sialan!" penjaga kedua mengubah arah tebasannya secara horizontal, berniat membelah perut Ye Xuan.
Ye Xuan tidak membuang waktu. Pria berusia 35 tahun ini tidak peduli pada harga diri pertarungan tradisional. Dia merunduk, menghindari tebasan horizontal itu, dan menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk menghantam lutut penjaga kedua dari samping.
Krakk!
Tulang lutut penjaga itu patah. Saat tubuh penjaga itu kehilangan keseimbangan dan merosot turun, Ye Xuan memukulkan gagang pistolnya dengan kekuatan penuh ke pelipis pria itu.
Bugh!
Penjaga kedua pingsan dengan tengkorak yang retak sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
Dua ahli bela diri tingkat menengah, ditaklukkan dalam waktu kurang dari lima detik.
Ye Xuan berdiri tegak di tengah ruangan. Dia meniup pelan asap tipis yang keluar dari moncong pistol peredamnya, lalu menatap lurus ke arah Ji Wuyue yang masih duduk di atas sofa.
"Pengawalmu terlalu berisik, Nona Wuyue," ucap Ye Xuan dengan nada datar, menodongkan moncong pistolnya tepat ke arah dahi wanita cantik itu. "Sekarang, hanya tinggal kita berdua. Mari kita bicarakan tentang siapa yang akan masuk ke dalam peti mati malam ini."
Senyum di bibir merah Ji Wuyue perlahan menghilang. Wajah cantiknya kini diselimuti oleh aura membunuh yang sangat pekat. Gelas kristal di tangannya retak perlahan.
KREK!
Malam ini, Ratu Ular dari Keluarga Ji akhirnya menyadari bahwa dia telah mengundang seekor naga ke dalam sarangnya.