Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Tidur Seranjang
Suasana yang tadi hangat mendadak terpotong suara dering ponsel.
Gus Hafiz melirik layar.
“Umi telepon,” katanya pelan pada Anisa.
Kata itu seperti petir kecil yang menyambar dada Anisa.
"Umi."
Batinnya terasa getir.
Wajah Anisa mendadak pucat.
Semua percakapan beberapa hari lalu Antara Kiai Arsyad dan Umi Laila kembali terngiang, nada lembut yang terasa menekan, kalimat-kalimat halus yang menyiratkan batas, tentang nasab, tentang nama besar keluarga, tentang tanggung jawab seorang Gus.
Anisa buru-buru berdiri.
“Aku… ke dalam dulu, Gus.”
Ia berjalan cepat ke ruang tengah penginapan kecil itu, duduk di sofa kayu dengan tubuh terasa kaku.
Sementara di teras, Gus Hafiz mengangkat teleponnya.
Anisa tidak mendengar jelas percakapan mereka. Hanya suara rendah Gus Hafiz yang terdengar samar.
Dadanya makin sesak.
Ya Tuhan…
Ternyata aku lupa satu hal.
Ia memang baru saja mendengar pengakuan cinta. Ia memang tahu sekarang bahwa Gus Hafiz memilihnya.
Tapi, darah yang mengalir di tubuhku…
Anisa menggigit bibirnya sendiri.
Aku bukan dari keluarga pesantren. Bukan keturunan kiai. Bukan siapa-siapa, aku hanya seorang anak yang dilahirkan dari seorang LC.
Bagaimana mungkin aku layak menyandang gelar istri seorang Gus?
Air matanya jatuh lagi, tanpa suara.
Ia menunduk, menatap lantai kayu yang mulai samar karena pandangannya mengabur.
Di luar, percakapan telepon selesai.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki mendekat.
Anisa menatap jemarinya sendiri.
Tangan yang tadi digenggam dengan hangat oleh seorang Gus.
Apakah tangan ini pantas menggenggam tangan seorang Gus?
Air matanya jatuh pelan. Ia cepat-cepat menyekanya sebelum suara langkah semakin mendekat.
Pintu terbuka.
“Dek?”
Anisa langsung mengangkat wajah, memaksakan senyum kecil.
“Iya, Gus.”
“Kenapa, dingin?”
Anisa buru-buru mengangguk.
“Iya. Anginnya kencang.”
Jawaban yang sederhana. Terlalu sederhana.
Gus Hafiz menatapnya beberapa detik. Seolah membaca. Tapi Anisa sudah lebih dulu menunduk, pura-pura merapikan ujung kerudungnya.
“Tadi Umi cuma tanya kabar,” ujar Gus Hafiz santai.
Anisa mengangguk.
“Oh.”
Hanya itu.
Ia tak bertanya lebih jauh. Tak berani.
Gus Hafiz mendekat satu langkah.
Hening sesaat.
Gus Hafiz seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi melihat wajah istrinya yang sudah menutup rapat ekspresi, ia memilih diam.
“Capek ya?” tanyanya lembut.
“Sedikit.”
“Mas bikin teh hangat, mau?”
Anisa mengangguk kecil. “Boleh.”
Saat Gus Hafiz berbalik ke dapur kecil penginapan, Anisa menatap punggungnya.
Hangat. Tegap. Meyakinkan.
Dan justru itu yang membuat dadanya makin sesak.
Karena semakin baik ia diperlakukan, semakin ia merasa tak sepadan.
“Aku ndak boleh, membuat Gus Hafiz kepikiran,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia menarik napas panjang.
Mulai sejak itu, ia memutuskan satu hal,
perasaan rendah diri itu akan ia simpan sendiri.
Tak akan ia tambah beban lelaki itu dengan kegelisahannya.
Kalau memang ia merasa tak pantas,
maka ia akan memperbaiki diri diam-diam.
Menjadi lebih baik.
Lebih layak.
Tanpa perlu mengeluh.
Ketika Gus Hafiz kembali membawa dua cangkir teh hangat, Anisa sudah duduk rapi dengan wajah tenang.
“Ini,” ujar Gus Hafiz sambil menyerahkan cangkir.
“Maturnuwun, Gus.”
Mereka duduk berdampingan.
Diam.Tampak damai dari luar.
Tapi di balik ketenangan itu, hati Anisa sedang belajar menyembunyikan badai,
dengan senyum yang terlihat baik-baik saja.
Uap teh hangat mengepul pelan di antara mereka.
Kabut di luar makin tebal. Malam terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
Anisa menatap cairan cokelat keemasan di dalam cangkirnya. Jemarinya memutar perlahan gagangnya, seolah sedang mengumpulkan keberanian.
Lalu tiba-tiba ia bertanya pada lelaki di sebelahnya.
“Kalau suatu saat nanti aku pergi… apa yang akan Gus lakukan?”
Pertanyaan itu terdengar ringan.
Tapi ada sesuatu yang berat tersembunyi di dalamnya.
Gus Hafiz menoleh pelan.
“Pergi ke mana?”
“Ya… pergi saja.” Anisa mengangkat bahu kecil. “Misalnya aku ndak ada lagi di samping panjenengan.”
Gus Hafiz menatapnya beberapa detik. Lama.
Bukan bingung.Tapi seperti menimbang mengapa pertanyaan itu muncul.
“Kamu ndak akan pergi dari Mas.”
Jawabannya tenang.
Anisa tersenyum kecil. Senyum yang manis, tapi getir. Jemarinya meremas cangkir lebih erat, sampai hangatnya terasa menekan kulitnya.
“Kenapa Mas yakin?”
“Karena Mas tahu hati kamu,” jawabnya sederhana. “Kamu mungkin lari sebentar. Ngambek. Menutup diri. Tapi kamu ndak akan benar-benar pergi dari Mas.”
Anisa menunduk.
“Andai aku yang memilih pergi?” Ujarnya lagi.
“Mas kejar.”Jawaban Gus Hafiz cepat.
Tanpa jeda.
Anisa mendongak, menatap Gus Hafiz dengan tatapan sendu.
Seolah kemungkinan perpisahan itu bahkan tak masuk dalam kamus pria itu.
“Ndak akan ada perpisahan,” lanjutnya pelan. “Ndak akan ada yang pergi.”
Kalimat itu terdengar begitu pasti.
Begitu yakin.
Begitu penuh keyakinan pada cintanya sendiri. Anisa mengangguk pelan.
“Iya.”
Hanya itu.Tak ada bantahan, tak ada tanya lagi. Tapi di dalam hatinya, sesuatu berbisik pelan.
Mas terlalu yakin.
Padahal hidup kadang memaksa orang pergi bukan karena tak cinta…
Ia menatap langit gelap di luar jendela.
Ia ingin percaya sepenuhnya.
Ingin bersandar pada keyakinan lelaki di sampingnya.
Namun ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa, perpisahan bukan soal mau atau tidak. Kadang perpisahan datang karena keadaan.
Dan entah kenapa, Anisa merasa ia sedang berjalan menuju sesuatu yang tak bisa ia hentikan.
Teh di tangannya mulai mendingin.
Seperti senyumnya yang tetap manis,
namun menyimpan firasat yang tak ia bagi pada siapa pun.
Anisa menutup mulutnya sambil menguap kecil.
“Ngantuk?” tanya Gus Hafiz pelan.
“Em…” gumamnya malu-malu. Matanya memang sudah berat sejak tadi.
“Ayo. Istirahat.”
Gus Hafiz berdiri lebih dulu lalu menarik tangan Anisa dengan lembut. Bukan menggenggam erat, hanya menuntun.
Mereka masuk ke kamar penginapan yang sederhana itu.
Begitu lampu dinyalakan, Anisa langsung terpaku.
“Gus…” Ia menunjuk pelan. “Kok tempat tidurnya…?”
Di tengah kamar hanya ada satu ranjang besar dengan selimut putih tebal.
Ia sempat mengira akan ada dua ranjang terpisah.
“Kenapa?” Gus Hafiz terlihat tenang. “Kita kan cuma tidur.”
Anisa mendelik seketika. Rasa kantuknya hilang dalam hitungan detik.
“Gus! Umi melarang kita tidur bareng. Panjenengan ndak lupa itu to?”
Gus Hafiz mengangkat alis sedikit.
“Kamu tahu makna ‘tidur bareng’ yang Umi maksud?”
Anisa langsung salah tingkah. “Ya… ya pokoknya ndak boleh sekamar kan…”
Gus Hafiz menahan senyum. Ia tahu istrinya mulai berpikir ke mana-mana lagi.
Ia menghela napas kecil, lalu mengusap tengkuknya sendiri.
“Mas ngerti maksud Umi. Beliau cuma mau kita jaga batas. Apalagi kamu masih sekolah.”
Anisa menatapnya, menunggu penjelasan lebih lanjut.
“Tapi Mas juga ndak mau kamu merasa ndak aman,” lanjutnya tenang. “Ya sudah. Kamu tidur di ranjang. Mas di sofa.”
Tanpa drama. Tanpa perdebatan.
Anisa berkedip.
“Beneran?”
“Hem.” Gumamnya.
Anisa hampir tersenyum.
Akhirnya Anisa mengangguk.
“Ya sudah…”
Ia masuk lebih dulu ke kamar mandi, lalu keluar dengan wajah segar dan rambut yang sudah tertutup rapi. Tanpa banyak bicara, ia langsung naik ke ranjang dan membaringkan diri.
Ranjang itu empuk sekali.
Selimutnya hangat.
Ia sempat melirik ke arah sofa di dekat jendela. Gus Hafiz benar-benar sudah berbaring di sana, satu tangan di bawah kepala.
Lampu dimatikan.
Hening. Hanya suara angin gunung di luar.
Anisa memejamkan mata.
Entah karena lelah, atau karena hatinya yang akhirnya lebih ringan, ia tertidur lebih cepat dari biasanya.
Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyelinap dari sela tirai.
Anisa bergerak sedikit.
Ia mengernyit dalam keadaan setengah sadar.
Seolah ada sesuatu yang melingkari pinggangnya. Pelan-pelan, ia membuka mata.
Dan hampir saja ia menjerit dengan mata membulat. Saat Anisa mendapati kepalanya berbantal cantik di atas dada Gus Hafiz. Tak hanya itu, kakinya pun melilit manja di atas paha Gus Hafiz.
Tak hanya itu, Satu lengan Gus Hafiz pun, melingkar di pinggangnya dengan longgar. Bukan erat. Tapi cukup untuk membuatnya jantungnya nyaris melompat.
Anisa menelan ludahnya, menatap wajah lelaki itu tampak tenang dalam tidur.
Jambag tipisnya terlihat jelas dalam cahaya pagi. Anisa membeku total.
Ia mencoba mengingat.
Bukannya semalam jelas ia melihat Gus Hafiz berbaring di sofa.
Apa mungkin tengah malam ia pindah?
Atau…
Ia menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, tapi anehnya bukan karena takut.
Melainkan karena perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Perlahan, ia mencoba menggeser sedikit.
Tapi justru membuat Gus Hafiz bergumam pelan dalam tidurnya dan tanpa sadar mendekapnya sedikit lebih dekat.
Anisa langsung membeku lagi.
Ya Allah…
Untuk beberapa detik, ia hanya diam.
Merasakan hangatnya pelukan suami solehnya.
Merasakan detak jantung yang bukan sebentar lagi tak lagi menjadi miliknya.
Namun begitu kesadaran penuh datang, pipinya langsung memanas.
“Gus…” bisiknya pelan, mencoba membangunkannya.
Mata Gus Hafiz terbuka perlahan.
Beberapa detik ia terlihat menyipitkan matanya. Sepertinya Gus Hafiz mulai menyadari posisi mereka.
Ia langsung menarik lengannya dengan cepat dan duduk tegak.
“Mas… ketiduran,” katanya serak.
Anisa menatapnya dengan mata membulat.
“Katanya tidur di sofa?”
Gus Hafiz mengusap wajahnya.
“Mas memang di sofa. Tapi tengah malam kamu manggil nama Mas.”
Anisa tercekat.
“A-aku?”
“Kamu gelisah. Mas kira kamu mimpi buruk.” Ia terdiam sejenak. “Mas cuma pindah sebentar… takut kamu kenapa-kenapa.”
Padahal itu hanya Alasan Gus Hafiz saja, lelaki itu sengaja pindah setelah Anisa terlelap.
Anisa terdiam.
Ia tak ingat apa-apa, tentang yang Gus Hafiz ceritakan.