NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan Realita

Pagi itu, suasana di depan teras rumah Arini kerasa sepi banget, beda dari biasanya yang selalu ada deru mesin motor sport hitam yang standby. Arini berkali-kali ngecek jam di ponselnya, tapi nggak ada satu pun notifikasi dari Rian.

"Rian kenapa belum jemput aku ya? Apa dia beneran marah gara-gara kemarin lihat Yusa ke rumah?" gumam Arini gelisah. Hatinya rasanya kayak lagi di-ghosting sama alam semesta.

Ibu Arini keluar sambil bawa segelas susu. "Sayang, kok belum berangkat? Oiya, Rian mana? Biasanya dia sudah standby jemput kamu, kan?" tanya Ibunya heran.

Arini nyoba buat masang muka biasa aja biar Mamanya nggak khawatir. "Rian lagi mau duluan, Ma, jalannya. Ada urusan katanya, jadi aku naik angkot dulu saja hari ini. Ya sudah, kalau gitu aku berangkat ya, Ma. Assalamualaikum," pamit Arini buru-buru.

"Hati-hati ya, Nak!" seru Ibunya dari teras.

Sesampainya di sekolah, Arini bener-bener ngerasa hampa. Dia langsung nyari sosok Rian di parkiran, tapi motornya nggak ada. Dia lari ke kelas Rian, hasilnya nihil. Dia cek ke kantin sampai ke pojokan sekolah yang biasanya jadi tempat Rian ngeramal, tapi tetap nggak ada.

"Duh, Rian kemana ya? Di mana-mana nggak ada. Apa dia nggak masuk sekolah ya hari ini?" Arini mulai panik, pikirannya sudah kemana-mana, takut Rian kenapa-napa gara-gara nyetir ugal-ugalan kemarin.

Siska yang baru aja mau masuk kelas ngelihat Arini yang udah kayak setrikaan, mundar-mandir nggak jelas.

"Lo kenapa sih, Rin? Dari tadi sibuk mundar-mandir terus, udah kayak lagi nyari sinyal di gunung aja," tegur Siska santai.

"Gue lagi nyari Rian, Sis," jawab Arini lemes.

Siska menaikkan alisnya. "Nyari Rian? Tumben. Biasanya kan lo nempel terus sama dia pas berangkat bareng,".

Arini menghela napas panjang, matanya kelihatan sembab. "Iya, Rian lagi marah sama gue gara-gara Yusa kemarin nekat ke rumah,".

"Yusa? Ngapain tuh anak ke rumah lo? Caper banget," Siska langsung bad mood denger nama itu.

"Ya pokoknya panjang ceritanya, Sis,".

Siska menarik napas panjang, dia sudah bisa nebak skenarionya. "Hmm... pasti Yusa maksa buat kerja kelompok, kan? Gue kenal banget vibe dia yang nggak mau kalah itu,".

"Iya, tepat banget,".

"Terus Rian tahu, makanya dia moody parah dan marah sama lo sekarang?" tebak Siska lagi.

"Iya, Siska. Dia liat gue pas udah rapi mau pergi bareng Yusa," Arini nunduk, ngerasa bersalah banget.

Siska nepuk-nepuk bahu Arini, nyoba buat nenangin. "Rin, udah lah. Dia mah marah bentaran doang kali, nggak usah lo cariin sampai segitunya. Palingan lagi pengen me-time atau ngeramal nasibnya sendiri. Nanti juga baik sendiri,".

"Tapi nggak bisa, Sis! Gue harus jelasin semuanya ke dia. Gue nggak mau dia salah paham terus ngerasa gue nggak nepatin janji. Udah ya, gue mau cari dia dulu!" Arini langsung lari lagi, nggak peduli sama Siska yang geleng-geleng kepala.

Pas Arini mau balik ke kelas, Yusa masuk ke koridor dengan gaya santainya. Dia menatap Arini, nyoba buat nyapa seolah nggak terjadi apa-apa kemarin. Tapi Arini bener-bener sudah muak. Dia langsung masang muka cuek, buang muka secara kasar, dan langsung pergi ngelewatin Yusa gitu aja tanpa ngomong sepatah kata pun.

Hati Arini cuma satu fokusnya sekarang: menemukan Rian dan bilang, "Maafin aku, Rian. Aku cuma mau sama kamu.".

Langkah Arini terasa berat saat menyusuri koridor, sampai matanya menangkap sosok Gery yang lagi jalan sendirian di pinggir lapangan basket. Tanpa pikir panjang, Arini langsung lari mengejar cowok itu.

"Gery! Gery, tunggu!" teriak Arini dengan suara serak.

Gery menoleh dengan malas, raut wajahnya kelihatan nggak bersahabat sama sekali. "Kenapa lo manggil gue?"

"Dimana Rian, Ger? Please, kasih tahu gue dia ada di mana sekarang," tanya Arini dengan tatapan memohon.

Gery mendengus kasar, dia melipat tangannya di dada. "Gue nggak tahu. Lagian kenapa sih? Puas lo kan udah nyakitin sahabat gue? Dia kecewa banget sama lo kemarin, Rin. Gila ya, lo berduaan sama Yusa tepat di hari kalian baru aja jadian, dan yang lebih parah itu di rumah lo sendiri!"

Air mata Arini makin deras mengalir. "Gue mau jelasin itu sama Rian, Ger! Dia salah paham. Yusa yang maksa datang ke rumah gue. Gue bener-bener nggak tahu dia bakal senekat itu. Gue udah bilang berkali-kali kalau gue mau kerjain tugas itu sendiri, tapi dia tiba-tiba muncul!"

"Alasan lo basi," sahut Gery dingin. "Gue nggak tahu Rian di mana, jadi mending nggak usah nanya-nanya gue lagi."

Arini nggak mau menyerah gitu aja. Dia langsung menarik tangan Gery dengan paksa, seolah Gery adalah satu-satunya kunci untuk nemuin Rian. "Ger, cepet kasih tahu gue dimana Rian! Gue mohon banget, Ger! Kasih tahu gue!" Arini menarik-narik tangan Gery dengan emosi yang nggak terkontrol.

"Gue bilang gue nggak tahu! Lepasin nggak!" Gery mencoba melepaskan cengkeraman Arini, tapi Arini justru makin nekat dengan menarik baju Gery sampai kusut.

Situasi jadi makin chaos. Karena merasa risih dan terdesak oleh tarikan Arini yang makin kencang, Gery secara refleks mengibaskan tangannya dengan keras.

PLAK!

Suara tamparan itu menggema di pinggir lapangan yang sepi. Arini terdiam mematung. Pipinya terasa panas dan perih seketika.

"Aw... lo... lo nampar gue, Ger?" lirih Arini sambil memegang pipinya yang mulai memerah.

Gery langsung tersentak, matanya membelalak kaget melihat apa yang baru saja dia lakukan. "Rin... sori, Rin. Gue... gue bener-bener nggak sengaja. Sori banget, gue tadi refleks karena lo narik-narik gue terus,".

Arini nggak menjawab. Rasa sakit di pipinya nggak sebanding dengan rasa sakit di hatinya karena kehilangan jejak Rian. Tanpa ngomong sepatah kata pun, Arini langsung balik badan dan lari pergi dari sana sambil menangis sejadi-jadinya. Dia cuma pengen ketemu Rian, cuma pengen bilang, "Aku cuma sayang kamu, Rian. Tolong dengerin aku sekali saja.".

Di sisi lain sekolah, di balik gudang tua yang jarang dilewati orang, Rian duduk sendirian dengan tatapan kosong. Tiba-tiba, dadanya terasa sesak dan perih, sebuah "firasat" buruk kembali menghantam kepalanya. Dia memegang dadanya sendiri, merasakan getaran emosi yang sangat kuat dari arah lapangan.

"Arini... kamu kenapa?" bisik Rian lirih, meskipun matanya masih dipenuhi amarah yang belum reda.

Arini berlari menyusuri koridor dengan pandangan yang kabur karena air mata yang terus merebak. Pipinya masih terasa berdenyut panas bekas tamparan Gery tadi, tapi rasa sesak di dadanya jauh lebih menyakitkan. Begitu sampai di kelas, dia langsung menuju mejanya, menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat di atas meja, dan menangis sejadi-jadinya.

Siska dan Yusa yang sedang berbincang di depan kelas langsung panik melihat keadaan Arini yang bener-bener hancur.

"Rin! Lo kenapa? Kok nangis parah begini?" seru Siska sambil berlari mendekat dan mengusap punggung sahabatnya itu. "Siapa yang berani bikin lo begini? Spill ke gue sekarang!"

1
Jade Meamoure
mampir thor ☺️
Niarmdhn: tengcu say😍
total 1 replies
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!