NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24 Dzaki Ramadan Bagaskara

Happy reading

Langit terhias lukisan tangan Illahi; jingga berpadu kuning keemasan. Sebagai pertanda bahwa mentari telah menunaikan tugasnya, mempersilakan para muazin mengumandangkan suara kerinduan Sang Maha Kasih.

Bagi Janu Abimanyu, senja kali ini terasa berbeda; seolah ada rindu yang tertinggal di balik cakrawala yang kian meredup. Sebuah rindu untuk kembali menunaikan panggilan suci; bersujud di atas hamparan sajadah yang telah lama ia lipat rapi dan menyimpannya di sudut lemari.

Hari ini, Janu tak ingin lagi lari. Ia hanya ingin pulang, meraih tenang yang sempat hilang dalam dekapan kasih Tuhan-nya.

"Ayah," suara Hawa memecah kaca lamun, memaksa Janu mengalihkan atensi pada putri bungsunya itu.

"Tadi, Hawa udah bertemu Rama," ucapnya pelan, "Rama bilang, dia mau mengajari Ayah mengaji."

Bibir Janu melengkung tipis. Binar matanya tak lagi menyendu seiring cahaya senja yang kian habis.

"Panggil dia sekarang, Hawa," pintanya lembut. "Selain ingin belajar mengaji, Ayah juga ingin dia mengajari Ayah menjadi imam salat."

Hati Hawa menghangat saat mendengar keinginan yang diutarakan oleh sang ayah. Ia merasa ayahnya telah kembali menjadi sosok berhati lembut yang mudah tersentuh. Bukan lagi pria dingin, kaku, dan perfeksionis--sosok yang selama ini terbelenggu gelar mentereng sebagai CEO Abimanyu Group. Pria yang hanya fokus memburu duniawi, hingga nyaris melupakan fitrahnya sebagai seorang hamba.

"Hawa akan segera menghubungi Rama, Yah. Memintanya untuk datang ke rumah sekarang juga!" balasnya disertai sebaris senyum. Rasa haru hadir berpadu dengan buncahan rasa bahagia, mencipta embun yang kini membingkai sepasang manik matanya.

Hawa lantas beranjak dari hadapan sang ayah. Langkahnya terasa ringan saat meninggalkan ruang keluarga.

Setibanya di kamar, ia menyambar ponsel yang tersimpan di atas meja belajar lalu segera menghubungi Rama--memintanya untuk datang ke rumah malam ini.

Hawa merasa lega sekaligus teramat berterima kasih pada Rama karena lelaki bermata teduh itu menyanggupi.

Sambungan telepon berakhir. Ia kembali meletakkan ponselnya dan bergegas membasuh diri dengan air wudhu sebelum menunaikan ibadah tiga rakaat di penghujung senja.

.

.

Ba’da Isya, Rama membelah kepadatan kota Jogja dengan Vespa Classic-nya, melaju menuju kediaman Abimanyu demi memenuhi permintaan wali dari gadis yang ia cinta.

Tepat pukul delapan malam, ia tiba di depan gerbang hunian mewah yang berdiri kokoh itu. Rupanya, Hawa sudah menunggu di sana, menyambutnya dengan senyuman dan binar mata yang berkilau indah.

"Masuk, Ram!" pinta Hawa setelah pintu gerbang terbuka.

Rama mengangguk samar, menyematkan senyum di bibir. Ia sengaja turun dari motor dan menuntunnya, agar langkahnya bisa sejajar dengan ayunan kaki Hawa.

Setelah menyetandarkan Vespa Classic di bawah naungan pohon tabebuya, Rama mengikuti langkah Hawa. Tak ada ekspresi berlebihan saat kakinya berpijak di atas lantai marmer ruang utama kediaman Abimanyu; seolah di balik kesederhanaannya itu, ia telah akrab dengan segala bentuk kemewahan.

Pembawaannya tenang. Tak ada gugup, pun tak ada rasa takut. Ia tampak siap menerima sambutan apa pun--entah itu keramahan yang hangat, atau keangkuhan yang mungkin akan diperlihatkan oleh Gistara, ibunda Hawa.

Dan benar saja, Gistara menyambut dengan sikapnya yang jemawa. Ia berdiri angkuh di depan lemari kaca, melipat tangan di dada dengan sorot mata yang menghunus tajam; gestur yang sengaja dipasang untuk menunjukkan rasa tidak suka.

Rama tetap tenang. Ia menyapa Gistara dengan senyum teduh, sedikit membungkukkan tubuh sebagai bentuk penghormatan yang tulus. Tak ada setitik pun keraguan di wajahnya, seolah keangkuhan di depannya hanyalah angin lalu yang tak mampu menggoyahkan pijakan.

Sebelum lisan Gistara sempat melontarkan kata-kata tajam, Janu tiba di waktu yang sangat tepat.

Ia menyambut tamunya dengan tangan terbuka; seutas senyum ramah tersungging tulus saat ia menjabat tangan Rama.

Janu seolah tak memedulikan tatapan tak setuju dari istrinya, ia justru langsung mempersilakan Rama untuk duduk di atas sofa beludru ruang tamu.

Tanpa diminta, Ijah datang membawa nampan berisi empat cangkir teh khas racikannya. Ia meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja, mempersilakan Janu, Gistara, Hawa, dan Rama untuk menikmatinya selagi hangat.

"Terima kasih, Bi," ucap Rama sopan, tetap menjaga kesan ramahnya.

"Sama-sama, Mas Rama." Ijah mengangguk kecil, menyuguhkan senyum hangat untuk lelaki yang telah menunjukkan jalan cahaya bagi sang nona, dan mungkin--sebentar lagi--juga bagi tuannya.

Mata Janu tak lepas dari pahatan wajah Rama ketika pemuda berparas rupawan itu mengenalkan diri. Ia merasa tak asing. Hidung, mata, bentuk bibir, dan perawakannya mirip dengan seseorang yang sangat dikenal; sahabat yang sudah lama tidak bersua, Arya Bagaskara--putra bangsa yang pernah dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk PBB.

Sebagai Duta Besar atau Wakil Tetap di New York, tugas Arya bukan memikat hati seorang penguasa, melainkan menggalang suara dari ratusan negara demi satu baris kalimat dalam resolusi PBB.

Selain piawai beretorika, Arya juga dianugerahi ketajaman berpikir. Ia tidak mengejar tepuk tangan, tapi mengejar solusi.

Baginya, diplomasi adalah permainan catur tingkat tinggi di mana setiap langkahnya dihitung berdasarkan nasib jutaan manusia yang menggantungkan harapan pada keberaniannya mengubah kebuntuan menjadi kesepakatan.

Dan kini, ketajaman insting serta kemuliaan visi itu telah mengalir deras ke dalam nadi putra bungsunya--Dzaki Ramadan Bagaskara.

Sebagai mahasiswa Humaniora, Dzaki memahami bahwa ketidakadilan sering kali bersembunyi di balik tumpukan aturan yang kaku. Melalui akun anonimnya, ia menjadi suara bagi mereka yang dibungkam, meluncurkan kritik tajam dan kebenaran yang tak berani diucapkan orang lain di ruang publik.

Namun, Dzaki tahu bahwa kata-kata di media sosial tidak cukup untuk mengenyangkan perut yang lapar atau memberi atap bagi mereka yang kedinginan.

Dengan restu penuh dari Abi dan Umi, ia membangun sebuah yayasan--oase bagi anak-anak yatim piatu yang terlantar. Di sana, ia tidak hanya memberikan perlindungan, tapi juga martabat.

Jika ayahnya berjuang demi 'satu baris kalimat' di New York, Dzaki berjuang demi 'satu senyuman' di wajah anak-anak yang hampir dilupakan oleh dunia. Ia bergerak dalam senyap, memastikan bahwa keadilan bukan sekadar teori di ruang kelas, melainkan aksi nyata yang menyentuh nadi kehidupan.

"Maaf, Om. Kapan saya bisa mulai mengajari Om mengaji?" Rama memecah atmosfer hening yang sejenak menyelimuti seisi ruang. Menyadarkan Janu dari lamun.

Janu menghela napas panjang, seolah sedang membuang sisa-sisa memori yang menyesakkan dada. "Sekarang, bagaimana?" ia ganti bertanya. Mencoba menguasai diri dengan suara yang kembali tenang.

Rama mengulas senyum, lantas mengangguk. "Siap, Om," jawabnya tanpa ragu.

Malam ini menjadi titik balik bagi Janu. Ia memutuskan untuk berikhtiar menemukan jalan pulang, merundukkan hati yang selama ini mendongak, demi kembali bersujud kepada Tuhannya.

Di sudut ruang yang sama, Gistara masih membentengi diri dengan keangkuhan yang tebal. Baginya, Rama hanyalah sebutir debu--seorang 'pelayan Warung Merapi' yang tak layak duduk sejajar di ruang tamu mereka.

Gistara belum tahu bahwa pemuda yang ia pandang rendah itu adalah putra dari pria yang kata-katanya mampu menggetarkan gedung PBB di New York beberapa tahun lalu.

Di balik celemek warung dan kesantunannya mengajar mengaji, Rama atau Dzaki--sedang menjalankan misi kemanusiaan yang jauh lebih besar daripada sekadar gengsi yang dipuja oleh Gistara.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
ren_iren
bakal malu setengah hidup itu nanti emaknya hawa😂😂😂
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
ren_iren
pelayan warung merapi tp aslinya mas Rama itu pewaris lo... jgn underestimate dulu mas Damar🤭😁😂
Ayuwidia: Tau aja, Kak 😄
total 1 replies
Mila Mulitasari
gimana reaksi bu gistara kalau tahu pemuda yg diremehkan adalah anak sahabatnya sendiri
Ayuwidia: Mungkin syok berat, Kak 😄
total 1 replies
Najwa Aini
uangmu banyak sekali Rama, aslinya...
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
Ayuwidia: Bukan cuma pembaca yg dikasih, tapi othornya juga 😆
total 1 replies
Najwa Aini
sok kenal pada owner kafe..padahal ya emang kenal banget...
Ayuwidia: Betoel
total 1 replies
Najwa Aini
Nah si Rama kalau udah mode khotbah..Bi .Ijah pun pasti meleyott
Ayuwidia: Penulisnya pun mleyot
total 1 replies
Najwa Aini
Itu sih mobil bapaknya sendiri
Ayuwidia: Tahu ajah
total 1 replies
Najwa Aini
Semuanya nyaman dibaca kok...
upps..belum apa² dah komen
Ayuwidia: Saking nyamannya, yg baca cuma singgah. Nggak mau kenalan sama othornya 😆
total 1 replies
Ririn Rira
Bener kata Rama nggak ada yang nama nya membawa sial.
Ayuwidia: Betoel, Kak
total 1 replies
Nofi Kahza
kapan lagi bisa dicintai cowok keren kayak Rama coba. terima aja cintanya ya Hawa. aku restuin😆
Ayuwidia: Iya, Mak 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
setuju sih aku..
Nofi Kahza
mending sudahin semuanya skrg, Damar.
Nofi Kahza
Nah betul. Bi Ijah kok gaul sih cara pikirnya. Nggak kolot kayak ortunya Hawa yg jelas2 lebih berpendidikan👍
Ayuwidia: dipaksa gaul sama othornya 😎
total 1 replies
Nofi Kahza
Bi Ijah tauuuuk aja😆
Nofi Kahza
beeeugh! badas si Rama. sukakkk
Nofi Kahza
ini baru jantan..👍
Nofi Kahza
Rama, aku padamu🥰
Ayuwidia: Aku bilangin Bang Jae
total 1 replies
Nofi Kahza
pengorbanan apa sih??
Nofi Kahza
keren nih🥰
Nofi Kahza
nggak ada tawar menawar katanya, tapi situ sendiri baru aja nawar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!