“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bridge - CH 29 : Mengantar Ibu
Sudah seminggu lebih berlalu sejak kedatangan ibu Bara ke ruko Bara's Kitchen.
"Lintang! Itu ngolesin kuning telurnya yang rata! Jangan kayak orang pelit gitu, nanti warna rotinya pas mateng jadi belang-belang! Kalau customer komplain lu mau ganti rugi?!"
Suara bariton Bara yang menggelegar kembali mendominasi area dapur lantai dua. Pria itu berdiri berkacak pinggang, menatap tajam ke arah Lintang yang sedang memegang kuas silikon.
Lintang memutar bola matanya malas, meski tangannya buru-buru meratakan olesan telur di atas adonan roti manis tersebut. "Iya, Bos! Ini udah rata, ya ampun. Mas Bara matanya aja yang terlalu HD ngeliat sehelai adonan belum keoles!"
"Banyak alasan lu. Potong—"
"Le... Bara... Jangan teriak-teriak terus atuh. Berisik, telinga Ibu sampai berdenging di bawah."
Kata ajaib "potong gaji" yang sudah berada di ujung lidah Bara, mendadak tertelan kembali ke tenggorokan.
Dari arah tangga, muncul sosok ibunya yang sedang berjalan pelan menaiki anak tangga menuju dapur produksi. Wajah wanita paruh baya itu sudah tidak sepucat seminggu yang lalu. Rona kemerahan sudah kembali ke pipinya. Obat masuk angin, vitamin mahal yang dicekokkan Bara setiap malam, dan istirahat total, sukses mengembalikan staminanya.
Melihat ibunya muncul, postur tubuh Bara yang tadinya tegap dan mengintimidasi ala komandan militer, seketika menciut layaknya kerupuk tersiram kuah seblak.
Bara buru-buru menghampiri ibunya, memapah lengannya meski sang ibu sudah bisa berjalan sendiri dengan tegak. "Ya ampun, Bu. Ngapain naik ke dapur lantai dua? Di sini panas, banyak debu terigu, bau gas lagi. Nanti ibu batuknya kumat."
"Udah sembuh apanya kumat, orang Ibu udah sehat walafiat dari dua hari lalu. Kamu aja yang lebay, Le," ibunya menepis tangan Bara pelan, tertawa kecil. "Ibu tuh bosen di kamar terus. Kerjaan Ibu cuma makan, tidur, nonton TV. Badan Ibu malah pada sakit kalau nggak dipakai gerak."
Lintang yang melihat interaksi itu dari meja stainless steel harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan tawa. Pemandangan Bos Bara yang takluk, bawel tapi tidak berdaya di depan ibunya, adalah hiburan paling premium di ruko ini.
Mang Ojak yang sedang memotong keju di sudut ruangan ikut menimpali. "Alhamdulillah atuh kalau Ibuk udah sehat mah. Emang Ibuk teh obatnya teh cuma butuh ngeliat Den Bara sukses di mari."
Ibu Bara tersenyum, berjalan mendekati meja kerja Lintang. Dia mengamati deretan adonan roti yang sudah tertata rapi di atas loyang. "Wah, rapi banget kerjaanmu, Neng Lintang. Bara tuh emang galak dari kecil, persis almarhum bapaknya kalau lagi ngurusin sawah. Neng Lintang yang sabar ya ngadepin bos modelan begini."
"Sabar banget, Bu. Lintang mah udah kebal diancam potong gaji tiap hari," Lintang melirik iseng ke arah Bara, memanasi suasana. "Mas Bara kalau ngomel panjangnya ngalahin gerbong kereta api, Bu."
Bara mendelik tajam ke arah Lintang, memberikan sinyal ancaman lewat mata. Namun Lintang hanya menjulurkan lidahnya sedikit, merasa di atas angin karena punya bekingan paling kuat sejagat raya: Ibunda sang Bos.
"Bar," panggil ibunya tiba-tiba, nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
"Iya, Bu? Ibu mau makan apa siang ini? Biar Bara order pake ojol. Sate ayam? Sop buntut?" tawar Bara cepat, mode anak berbakti unlocked.
Ibunya menggeleng pelan. "Ibu nggak mau sop buntut. Ibu mau pulang aja ke kampung, Le."
Tangan Bara yang sedang merapikan lap meja langsung terhenti. Dia menatap ibunya dengan dahi berkerut. "Pulang? Kok mendadak banget? Ibu kan baru seminggu di sini. Di sini aja dulu, Bu. Biar Bara gampang ngerawatnya. Kalau di kampung, Ibu sendirian, nanti kalau sakit lagi masuk angin siapa yang ngerokin?"
"Ibu udah sehat, Bara," ibunya menghela napas panjang. Matanya menatap sekeliling dapur yang penuh sesak dengan peralatan baking. "Ibu sumpek di sini. Ruko kamu ini kecil, udaranya pengap biarpun ada exhaust fan. Ibu kangen rumah. Kangen nyapu halaman, kangen ngobrol sama Bude Sumi di warung sayur."
"Tapi, Bu..."
"Lagian, Ibu di sini malah ngerepotin kamu," sela ibunya dengan lembut namun tegas. "Kamu jadi bolak-balik ngecek Ibu di kamar padahal lagi sibuk nerima pesanan. Neng Lintang sama Mang Ojak juga jadi sering sungkan kalau mau istirahat karena ada Ibu. Ibu nggak mau ganggu bisnis kamu, Le."
Bara mengusap wajahnya kasar. "Ibu nggak pernah ngerepotin. Siapa yang berani bilang Ibu ngerepotin? Lintang? Mang Ojak?" Bara menoleh garang ke arah dua karyawannya.
Lintang dan Mang Ojak langsung menggeleng heboh dengan mata melotot, takut kena fitnah. "Ya Allah, Bos! Suudzon amat! Lintang mah malah seneng ada Ibu, berasa ada temen curhat!" sahut Lintang panik.
"Abah juga, Den! Sumpah ketiban rejeki ruko ada Ibuk mah!" tambah Mang Ojak sambil mengangkat dua jari membentuk huruf V.
"Tuh kan, Bu. Mereka aja seneng. Udah, Ibu di sini aja ya?" bujuk Bara lagi, kali ini suaranya memelas.
Ibunya tersenyum, lalu menepuk pipi Bara dengan sayang. "Ibu tahu kamu khawatir, Le. Tapi rumah Ibu di kampung. Hati Ibu di sana. Besok Ibu pulang ya? Kalau kamu sibuk, biar Ibu naik travel aja nanti pesenin dari HP Neng Lintang."
Mendengar kata 'travel', ego protektif Bara langsung meradang. Mana mungkin dia membiarkan ibunya yang baru sembuh naik mobil travel yang supirnya ugal-ugalan dan AC-nya bau pewangi jeruk murah? Itu pelanggaran berat dalam kamus Bara Mahendra.
Bara terdiam sejenak. Otak kapitalisnya berputar cepat, menghitung potensi kerugian jika ruko tutup sehari, melawan rasa khawatirnya melepaskan sang ibu pulang sendirian. Tentu saja, ibunya menang telak.
"Oke. Ibu boleh pulang," ucap Bara akhirnya, mengalah.
Ibunya tersenyum lega. "Nah gitu dong."
"Tapi Ibu nggak boleh naik travel," Bara menoleh ke arah dua karyawannya yang sedang menyimak drama keluarga ini dengan khusyuk. "Lintang, Mang Ojak."
"Siap, Bos!" sahut mereka serempak.
"Besok Bara's Kitchen kita tutup."
Pengumuman dadakan itu membuat Lintang dan Mang Ojak saling bertatapan tak percaya. Bara? Menutup ruko di hari biasa? Mengorbankan omset jutaan rupiah demi libur? Ini adalah keajaiban dunia ke-delapan!
"Serius, Mas?! Libur nih kita?!" mata Lintang langsung berbinar-binar seperti melihat diskonan skincare.
"Iya, libur jualan," jawab Bara datar. "Tapi kalian berdua wajib ikut gue ke kampung besok."
Binar di mata Lintang seketika padam. "Lah? Ikut ngapain, Bos? Kan Bos cuma nganterin Ibu? Kita nunggu ruko aja lah di sini jagain brankas."
Bara mendengus sinis. "Enak aja lu mau santai-santai main TikTok di ruko. Rumah di kampung itu udah kotor karena seminggu ditinggal Ibu. Lu berdua ikut buat bantu bersihin rumah, nyapu pekarangan, nguras bak mandi, sama beresin dapur sana. Anggap aja ini retret karyawan divisi cleaning service."
Mang Ojak menepuk jidatnya pelan. "Gusti nu Agung... Abah kira teh beneran libur rebahan, taunya disuruh kerja bakti antar kota."
Ibunya hanya tertawa kecil melihat tingkah anak dan dua karyawannya itu. "Udah, nggak apa-apa. Besok di kampung, Ibu masakin sayur lodeh spesial sama ikan asin peda buat Neng Lintang sama Mang Ojak ya."
Mendengar janji makanan enak dari ibunya Bara, mood Lintang dan Mang Ojak langsung kembali naik.
"Siap, meluncur, Bu! Kapan lagi bisa makan masakan legend ibunda Bos!" seru Lintang semangat.
Keesokan paginya, suasana di depan ruko Bara's Kitchen terlihat sangat berbeda. Pintu rolling door dibiarkan tertutup rapat dengan sebuah karton kuning tertempel di depannya: "TUTUP SEHARI. BESOK BUKA LAGI, JANGAN KANGEN." Tulisan tangan Lintang yang sengaja dibiarkan oleh Bara.
Di pelataran semen, Si Putih sudah dipanaskan mesinnya sejak lima belas menit yang lalu. Suara mesinnya menderu kasar, siap menghadapi medan jalan kabupaten yang berlubang.
Bara sedang memastikan tas pakaian ibunya sudah masuk ke bagasi belakang. Sementara Lintang dan Mang Ojak sibuk berebut posisi duduk di barisan tengah.
"Mang, Abah duduknya pinggir aja dong deket pintu, Lintang mau di tengah biar AC bayangannya kerasa!" protes Lintang, mendorong lengan Mang Ojak.
"Heh, Neng! Abah teh udah tua, gampang encok kalau duduknya nyempil! Lagian AC mobil Den Bara mah mana ada rasanya, mau di tengah mau di pinggir tetep aja mandi keringat!" balas Mang Ojak tak mau kalah.
Bara yang baru saja menutup pintu bagasi menatap dua karyawannya dengan tatapan membunuh. "Lu berdua bisa diam nggak? Kalau masih berisik, lu berdua gue suruh duduk di atap mobil."
Ancaman itu sukses membuat Lintang dan Mang Ojak langsung mingkem, duduk rapi di kursi tengah seperti anak TK yang mau ikut karyawisata.
Bara membuka pintu depan, membantu ibunya naik dan duduk dengan nyaman di kursi penumpang, memakaikan sabuk pengamannya. Setelah memastikan semuanya aman, Bara berjalan memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi.
"Siap, Bu?" tanya Bara lembut.
"Siap, Le. Bismillah," jawab ibunya sambil tersenyum.
Bara menarik tuas persneling yang berderak keras, menurunkan rem tangan, dan menginjak pedal gas. Si Putih perlahan bergerak meninggalkan area ruko, bergabung dengan kepadatan lalu lintas pagi Kota X.
"Bos, mampir minimarket depan bentar dong! Lintang lupa beli permen antimo, ntar mabok darat muntah di mobil lu repot urusannya!" seru Lintang dari jok belakang.
"Banyak gaya lu," omel Bara, tapi anehnya, tangannya tetap memutar kemudi untuk menepi ke sebuah minimarket. "Turun sana, buruan. Lama gue tinggal."
Perjalanan dari kota menuju kampung pinggiran kabupaten itu memakan waktu nyaris empat jam. Suasana di dalam mobil dipenuhi celotehan receh Lintang, nyanyian sumbang Mang Ojak yang menyetel radio dangdut pantura, dan sesekali tawa renyah dari ibunya Bara.
Bara sendiri lebih banyak diam, fokus menyetir. Namun, setiap kali dia melirik ke arah ibunya dari sudut mata, ada perasaan lega yang hangat mengalir di dadanya. Setidaknya untuk hari ini, dia bisa melupakan sejenak tentang segala hal yang membuat kepalanya berisik.
Si Putih terus melaju membelah jalanan cor beton yang diapit oleh area persawahan hijau. Udara kota yang pekat oleh polusi perlahan tergantikan oleh udara pedesaan yang lebih segar.
Mereka hampir tiba di desa.
Namun, baik Bara, Lintang, maupun Mang Ojak, tidak ada yang menyadari bahwa kepulangan mereka ke kampung hari itu, akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan.