NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinamika cawan emas

Dubai di bulan keenam terasa sangat berbeda bagi Bagas. Ia sudah tidak lagi melongo melihat Lamborghini yang terparkir di depan minimarket, dan telinganya sudah mulai terbiasa dengan campuran aksen dari berbagai belahan dunia. Kulitnya sedikit lebih gelap karena sering berada di lapangan pelabuhan Jebel Ali, namun sorot matanya kini lebih tajam dan penuh percaya diri.

Prestasi Bagas dalam menekan angka keterlambatan pengiriman hingga 15% dalam satu kuartal menarik perhatian manajemen puncak. Suatu sore, Rajesh menghampiri meja kerja Bagas yang penuh dengan manifes kargo.

"Bagas, Mr. Khan wants to see you. Now. Bring your notebook," ujar Rajesh dengan nada yang tidak biasa ada sedikit rasa iri sekaligus kagum di suaranya.

Bagas berjalan menuju ruangan Mr. Khan yang berada di lantai atas dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan pelabuhan yang sibuk. Di dalam, Mr. Khan sedang menatap layar monitor besar yang menampilkan grafik logistik global.

"Sit down, Bagas," Mr. Khan memutar kursinya. "You've been doing a great job in the field. But I think you're wasted just being a coordinator in the warehouse. I want to promote you to Regional Operation Analyst."

Jantung Bagas berdegup kencang. Itu adalah posisi strategis. Gajinya? Jangan ditanya. Ada kenaikan hampir 40% ditambah fasilitas apartemen pribadi yang lebih layak, bukan lagi kamar asrama berbagi.

"But," lanjut Mr. Khan, "this position is in the Main Office, Downtown. You will work with people from many countries, and the pressure is different. It's not physical anymore, Bagas. It's mental. Are you ready?"

Bagas mengangguk mantap. "I am ready, Sir. As long as I can still send my parents to Mecca, I will take any challenge."

Minggu depannya, Bagas resmi pindah ke kantor pusat di Downtown Dubai, dekat dengan kemegahan Burj Khalifa. Lingkungan kerjanya sangat berbeda.

 Jika di gudang orang bicara dengan berteriak karena bising mesin, di sini orang bicara dengan nada rendah, sangat sopan, namun setiap kata mengandung maksud tertentu. Bagas mulai merasakan apa yang disebut "Politik Kantor Internasional". Ia satu tim dengan seorang pria asal Eropa bernama Marco yang sudah lama di posisi itu, dan seorang wanita ambisius bernama Sarah dari Singapura.

Di minggu pertama, Marco mengajaknya makan siang di restoran mewah yang harga satu porsi saladnya saja setara dengan gaji Bagas seminggu saat di yayasan Pak Danu.

"Listen, Bagas. You are new, and you are good. But here, we help each other to 'look good' in front of the board," ujar Marco sambil memotong steaknya perlahan. "Sometimes, we need to 'adjust' the data. A little bit of delay here and there is fine, as long as it's not our fault. You understand?"

Bagas mengerutkan kening. "Adjust data? Maksudnya memanipulasi laporan?"

Marco tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Bagas teringat pada manajer di PT. Sumber Makmur Sejahtera dulu. "Bukan manipulasi, Bagas. Kita sebut saja 'optimasi presentasi'. Jika ada vendor yang memberikan kita keuntungan ekstra , kenapa kita harus mempersulit mereka dengan audit yang ketat?"

Bagas terdiam. Ia paham maksud Marco. Ini adalah tawaran untuk bermain kotor. Ada uang tambahan di bawah meja jika Bagas mau meloloskan vendor-vendor tertentu yang sebenarnya kinerjanya buruk.

Malam itu, Bagas duduk di balkon apartemen barunya. Pemandangan lampu kota Dubai sangat indah, tapi pikirannya kacau. Ia teringat Bapaknya yang selalu bilang, "Rezeki itu kayak kucing, kalau dikejar lari, kalau dikasih umpan datang sendiri. Tapi pastikan umpannya halal, Gas, biar berkahnya nggak hilang."

Bagas teringat bagaimana susahnya ia mencari kerja dulu. Bagaimana ia ditolak karena tidak punya orang dalam. Dan sekarang, ia ditawari menjadi "Orang Dalam" yang korup.

Keesokan harinya, tekanan mulai datang. Sarah mendekati meja Bagas dan meletakkan sebuah berkas vendor logistik baru.

"Bagas, Mr. Khan asked me to review this, but I think you should sign it off. This vendor is a friend of Marco's. Everything is clear, don't worry." Bagas memeriksa berkas itu. Secara administrasi memang tampak rapi, tapi insting teknisnya yang terasah sejak SMK dan saat bekerja di lapangan mencium sesuatu yang tidak beres. Biaya pengirimannya terlalu rendah untuk rute yang sulit, dan asuransinya mencurigakan. Jika vendor ini gagal, seluruh rantai pasok perusahaan bisa hancur.

"I need to audit this vendor directly, Sarah. I will go to their site tomorrow," kata Bagas tenang.

Wajah Sarah berubah tegang. "Bagas, don't be a hero. Just sign it. It's better for your career here."

Bagas tidak bergeming. Keesokan harinya, ia benar-benar melakukan inspeksi mendadak ke gudang vendor tersebut di pinggiran kota. Benar saja, ia menemukan bahwa vendor itu hanya perusahaan cangkang dengan fasilitas minimalis yang tidak layak menangani kargo besar.

Saat kembali ke kantor, Marco sudah menunggunya dengan wajah merah padam. "What are you doing, Bagas?! You are making us look bad! Do you want to stay in this position or go back to the warehouse?!"

Bagas berdiri dari kursinya. Ia tidak takut. Ia sudah pernah menghadapi Pak Baron yang lebih galak, ia sudah pernah menghadapi kemiskinan yang lebih menakutkan daripada ancaman Marco.

"I choose to do my job, Marco. My job is to protect this company's operations. If I sign this, I am lying to Mr. Khan, and I am lying to myself," jawab Bagas dalam bahasa Inggris yang kini sudah jauh lebih lancar.

Konflik itu memuncak. Marco mencoba menyudutkan Bagas dalam rapat mingguan, menuduh Bagas tidak kooperatif dan menghambat kerja tim. Namun, Bagas sudah menyiapkan presentasi tandingan lengkap dengan bukti foto dan data valid hasil audit lapangannya.

Mr. Khan mendengarkan dengan seksama. Ruangan rapat itu menjadi sunyi senyap saat Bagas menunjukkan risiko kerugian jutaan dolar jika vendor tersebut digunakan.

Setelah rapat selesai, Mr. Khan memanggil Bagas secara pribadi. "Marco and Sarah will be moved to another department for further investigation. You did well, Bagas. In this city, many people lose their soul for gold. I am glad you didn't."

Bagas keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega. Sore itu, ia menerima kabar dari biro umroh di Jakarta. Jadwal keberangkatan Ibu dan Bapak sudah keluar bulan depan.

Bagas segera menelepon Ibunya. "Bu, Pak, bulan depan kita berangkat. Bagas sudah urus semuanya dari sini. Dan ada kabar lagi, Bagas baru saja 'menang' lawan naga-naga di sini tanpa harus jadi jahat."

Ibu menangis bahagia di ujung telepon. "Alhamdulillah, Gas. Uang itu bisa dicari, tapi kejujuran itu modal kamu sampai mati."

Bagas menutup teleponnya sambil menatap matahari terbenam di balik Burj Khalifa. Ia sadar, tantangan di dunia kerja akan selalu ada baik itu bos yang galak, gaji yang kecil, atau godaan uang haram. Tapi selama ia memegang teguh restu orang tua dan kejujuran, ia tidak akan pernah benar-benar tersesat.

Bagas Pratama merasa ia telah menjadi pemenang yang sesungguhnya.

selanjutnya, Bagas akan pulang ke Indonesia untuk menemani orang tuanya berangkat umroh, namun di bandara ia justru bertemu kembali dengan salah satu orang dari masa lalunya yang dulu pernah menolaknya bekerja. Pertemuan yang akan sangat ironis!

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!