"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Harga Sebuah Kesetiaan
[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 08.30 AM]
[Lokasi: Lantai Utama Yan Technology, Distrik Nanshan, Shenzhen]
Suasana haru yang baru saja menyelimuti Jingshen dan Yanran seketika buyar saat suara langkah sepatu pantofel yang berat menggema di lorong. Pintu ruang kerja Yanran yang sudah terbuka lebar kini menampakkan sosok pria paling berkuasa di keluarga tersebut: Tuan Besar Gu.
Beliau berdiri dengan tongkat kayu hitam berkepala perak, dikelilingi oleh empat pria berbadan tegap dengan seragam keamanan hitam yang rapi. Aura otoritasnya begitu menekan hingga para karyawan yang tadinya berbisik-bisik langsung menunduk dan pura-pura sibuk.
Mata Tuan Besar Gu menyapu ruangan dengan tajam. Namun, tatapannya terhenti—bukan pada anak kandungnya yang membangkang, melainkan pada Lin Xia yang berdiri di tengah-tengah kedua putranya.
"Jingshen," suara Tuan Besar Gu terdengar berat dan sangat dingin. "Apakah ancamanku bagimu kemarin tidak ada gunanya sama sekali?"
Gu Jingshen berdiri tegak, mencoba menutupi Lin Xia dengan tubuhnya, namun Tuan Besar Gu melangkah maju dengan tatapan yang menghakimi.
"Mengapa masih ada wanita ini di sini?" tanya Tuan Besar Gu lagi. "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memecatnya dari Gu Corp? Aku memerintahkanmu untuk memastikan dia menghilang dari pandanganmu. Tapi sekarang, kenapa dia malah ada di perusahaan adikmu? Apakah kau sengaja memindahkannya ke sini untuk menantang otoritas Papa?"
Lin Xia mematung. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik. Ia menatap punggung Gu Jingshen dengan tangan yang mulai gemetar.
"Ancaman? Memecat?" bisik Lin Xia, suaranya parau. "Tuan Gu... apa maksud semua ini?"
Lin Xia melangkah keluar dari balik punggung Jingshen, menatap pria itu dengan mata yang menuntut jawaban. "Jadi, alasan Anda memaki naskah saya kemarin... alasan Anda mengusir saya di depan semua karyawan dan membuang karya saya ke tempat sampah... itu karena ancaman ayah Anda?"
Gu Jingshen tetap diam, rahangnya mengeras. Ia tidak sanggup menatap mata Lin Xia yang penuh luka.
"Jawab saya, Jingshen!" seru Lin Xia, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kenapa Anda tidak mengatakannya? Kenapa Anda membiarkan saya merasa seperti sampah yang tidak berguna seharian kemarin?!"
"Karena dia ingin melindungimu, Nona Lin," potong Tuan Besar Gu dengan nada sinis. "Jingshen tahu benar apa yang bisa kulakukan jika dia bersikeras mempertahankanmu. Dia memilih untuk menghancurkan perasaanmu daripada melihatku menghancurkan hidupmu secara total. Sebuah pengorbanan yang cukup heroik untuk seorang anak tiri, bukan?"
"Pa, cukup!" bentak Gu Jingshen, akhirnya ia menoleh ke arah ayahnya. "Jangan bawa dia ke dalam masalah internal keluarga kita lagi!"
"Masalah internal?" Tuan Besar Gu tertawa dingin. "Wanita ini adalah sumber masalahnya! Dia membangkitkan ingatan yang seharusnya terkubur! Dia membuat kalian berdua menjadi emosional dan melupakan tanggung jawab bisnis!"
Yanran, yang sejak tadi terdiam melihat ayahnya, tiba-tiba melangkah maju. "Pa, yang Papa lakukan ini keterlaluan. Papa memanipulasi kami sejak kecil, membuatku membenci Kak Jingshen hanya demi 'persaingan sehat'? Dan sekarang Papa mengancam Lin Xia?"
"Diam, Yanran! Kau masih terlalu muda untuk mengerti cara mempertahankan sebuah dinasti!" Tuan Besar Gu menunjuk Lin Xia dengan tongkatnya. "Nona Lin, aku memberimu waktu satu jam untuk mengepak barang-barangmu dan meninggalkan kota ini. Jika tidak, jangan salahkan aku jika cafe kecilmu di Bao'an harus ditutup secara permanen malam ini."
"Jangan berani-berani menyentuh cafenya!" teriak Gu Jingshen. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan ayahnya, menantang pria yang selama ini ia patuhi tanpa syarat.
"Oh? Kau berani melawanku demi dia, Jingshen?" Tuan Besar Gu menyipitkan mata. "Ingat siapa yang membawamu dan ibumu keluar dari kemiskinan. Tanpa nama Gu di belakang namamu, kau bukan siapa-siapa."
Lin Xia menatap Jingshen. Ia melihat pergulatan batin yang luar biasa di wajah pria itu. Ia melihat ketakutan, amarah, dan cinta yang bersatu. Pada saat itu, Lin Xia sadar bahwa kejahatan terbesar bukanlah naskah yang rusak, melainkan rantai emas yang mengikat leher Jingshen selama bertahun-tahun.
Lin Xia menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia berjalan mendekati Tuan Besar Gu, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Tuan Besar Gu," ucap Lin Xia dengan nada tenang namun tegas. "Anda mungkin bisa menutup cafe saya. Anda mungkin bisa mengusir saya dari Shenzhen. Tapi Anda tidak akan pernah bisa menghapus apa yang sudah tertulis di hati putra-putra Anda."
Lin Xia menoleh ke arah Jingshen dan Yanran. "Anda pikir dengan menghapus ingatan mereka tentang kecelakaan itu, Anda bisa mengontrol mereka selamanya? Anda salah. Jiwa memiliki ingatannya sendiri. Buktinya, Jingshen tetap merasa ingin melindungi saya meski dia lupa, dan Yanran tetap merindukan sosok kakak meski dia benci."
"Lancang sekali kau!" Tuan Besar Gu mengangkat tongkatnya, namun Yanran segera menangkap tongkat itu sebelum sempat diayunkan.
"Pa, sudah cukup," kata Yanran dengan suara yang tenang namun berwibawa—sebuah sisi CEO yang baru pertama kali muncul. "Ini adalah perusahaanku. 'Yan Technology'. Di sini, aku yang memegang kendali. Dan di sini, Lin Xia adalah tamu kehormatanku. Papa tidak punya hak untuk mengusirnya dari sini."
Yanran menoleh ke arah Jingshen. "Kak, selama ini aku selalu ingin melampauimu. Tapi hari ini, aku ingin kita berdiri sejajar. Mari kita selesaikan ini."
Gu Jingshen menatap adiknya, lalu beralih ke Lin Xia. Ia merasa sebuah beban besar terangkat dari bahunya. Ancaman ayahnya kini terasa kecil dibandingkan dengan keberanian wanita yang berdiri di depannya.
"Lin Xia," panggil Jingshen. Ia melangkah mendekat dan, di depan ayahnya, di depan semua tim keamanan dan karyawan, ia menggenggam tangan Lin Xia erat-erat. "Maafkan aku karena menjadi pengecut kemarin. Aku berjanji, mulai detik ini, tidak akan ada lagi rahasia. Dan tidak akan ada lagi orang yang bisa memisahkan kita, termasuk ayahku sendiri."
Tuan Besar Gu tertegun. Ia melihat kedua putranya yang selama ini berhasil ia adu domba, kini berdiri bersatu melindunginya. Wajahnya yang tua tampak memerah karena amarah yang tertahan.
"Kalian... kalian akan menyesali ini," desis Tuan Besar Gu. Beliau berbalik dan berjalan keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru, diikuti oleh tim keamanannya.
Begitu pintu tertutup, suasana yang menegang itu mencair. Lin Xia hampir saja terjatuh jika Jingshen tidak segera merangkul pinggangnya.
"Jadi... kau memecatku karena ingin melindungiku?" tanya Lin Xia, menatap Jingshen dengan sisa-sisa air mata.
"Aku takut dia benar-benar menyakitimu, Xia," bisik Jingshen, menyandarkan keningnya di kening Lin Xia. "Aku lebih baik kau membenciku seumur hidup tapi kau tetap aman, daripada melihatmu menderita karena kesalahanku."
"Bodoh," gumam Lin Xia sambil memukul pelan dada Jingshen. "Kau benar-benar Marsekal yang bodoh."
Yanran berdehem keras di belakang mereka, memecah momen romantis tersebut. "Ehem! Halo? Aku masih di sini, lho. Dan ngomong-ngomong, aku baru saja menyelamatkan kalian berdua. Mana ucapan terima kasihnya?"
Lin Xia tertawa kecil sambil menyeka air matanya. "Terima kasih, Yanran. Kau ternyata jauh lebih dewasa daripada kakakmu."
"Hei!" protes Jingshen, namun ia tersenyum.
Drama pagi itu berakhir dengan kemenangan kecil bagi mereka, namun Lin Xia tahu bahwa ini hanyalah awal. Tuan Besar Gu tidak akan tinggal diam. Namun kali ini, ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki sang Marsekal dan sang Jenius Teknologi di sisinya.
"Sekarang," ucap Lin Xia sambil menatap monitor Yanran. "Mari kita buka sisa data itu. Aku ingin tahu apa lagi yang disembunyikan ayah kalian dalam 'Script of Love' yang asli."
...****************...