Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Jarum Penembus Aura
Debu tebal masih berterbangan di udara akibat hantaman pendaratan Kuang.
Area pabrik terbengkalai itu kini terasa sangat sesak oleh tekanan energi Qi berwarna merah redup yang memancar dari tubuh pria botak raksasa tersebut. Urat-urat di leher dan lengan Kuang menonjol keluar, berdenyut seiring dengan setiap tarikan napasnya.
Di seberangnya, Ye Xuan berdiri dengan tenang. Postur tubuhnya sedikit merendah, kedua kakinya terbuka selebar bahu, dan kedua tangannya berada di depan dada dalam kuda-kuda longgar khas Seni Pemutus Meridian. Matanya yang gelap menatap setiap inci pergerakan otot Kuang.
"Bocah, kau punya nyali juga tidak lari," seringai Kuang, memperlihatkan gigi kuningnya. "Mari kita lihat apakah lehermu sekeras nyalimu!"
BUM!
Kuang melesat ke depan. Lantai beton tempatnya berpijak langsung retak. Kecepatannya sangat tidak masuk akal untuk pria seberat seratus dua puluh kilogram. Dalam kedipan mata, dia sudah berada tepat di hadapan Ye Xuan, mengayunkan tinju kanannya yang diselimuti Qi merah tebal langsung ke arah wajah Ye Xuan.
"Terlalu lurus. Pusat gravitasinya berpusat pada bahu," batin Ye Xuan menganalisis dalam seperseribu detik.
Ye Xuan tidak menangkis pukulan itu. Tubuh remajanya akan hancur jika beradu fisik langsung dengan Qi tingkat menengah. Dia menunduk tajam, membiarkan tinju raksasa itu lewat hanya satu milimeter di atas rambutnya.
WUSHHH!
Angin dari pukulan Kuang begitu kuat hingga merobek ujung kerah jaket Ye Xuan dan menghancurkan pilar beton di belakang Ye Xuan menjadi puing-puing.
Memanfaatkan momentum tarikan napas Kuang setelah pukulan meleset, Ye Xuan memutar pinggulnya, menyalurkan tenaga dari tumit hingga ke ujung jarinya. Tangan kirinya melesat menusuk ke arah tulang rusuk Kuang, menargetkan titik meridian Jimen.
Bugh!
Ujung jari Ye Xuan menghantam rusuk Kuang dengan kekuatan ledakan yang mampu menembus pelat baja.
Namun...
"Hahaha! Geli sekali, Bocah!" tawa Kuang menggelegar.
Mata Ye Xuan sedikit melebar. Serangannya terasa seperti menghantam ban truk yang sangat tebal. Energi Qi merah milik Kuang berfungsi sebagai pelindung armor absolut di bawah kulitnya, menetralkan efek Pukulan Pemutus Meridian sebelum bisa mencapai saraf.
Belum sempat Ye Xuan menarik tangannya, Kuang memutar tubuh bagian atasnya dan menghantamkan siku kirinya dengan sangat brutal ke arah dada Ye Xuan.
Brakkk!
Ye Xuan menyilangkan kedua lengannya untuk menangkis. Benturan itu terdengar seperti dua mobil yang bertabrakan.
Tubuh Ye Xuan terpelanting ke belakang sejauh lima meter. Sepatunya terseret kasar di atas tanah berdebu, menciptakan dua garis panjang sebelum dia berhasil menyeimbangkan diri. Lengan bajunya robek, dan ada sedikit rasa kebas di tulang lengannya.
"Armor Qi tingkat menengah," batin Ye Xuan. Matanya menyipit tajam. "Kekuatan fisik murni dari Pil Pembersih Sumsum tidak akan bisa menembusnya secara langsung. Aku harus mencari titik lemahnya."
Kuang tidak memberikan waktu istirahat. Dia kembali menerjang maju seperti banteng gila, kali ini melepaskan rentetan pukulan beruntun.
Bam! Bam! Bam!
Pertarungan jarak dekat tingkat tinggi meledak. Ye Xuan menggunakan kelincahannya untuk menghindari setiap serangan fatal. Gerakannya meliuk-liuk di udara, menggunakan puing-puing beton sebagai pijakan untuk memantul dan mengubah arah secara tak terduga.
Setiap kali pukulan Kuang meleset, lantai pabrik hancur berkeping-keping. Udara dipenuhi oleh suara benturan, debu, dan kerikil yang beterbangan.
"Kau hanya bisa berlari seperti tikus, hah?!" raung Kuang yang mulai frustrasi karena serangannya selalu meleset di detik terakhir.
"Yah, tapi tikus yang akan menggerogoti lehermu," balas Ye Xuan dengan suara dingin.
Ye Xuan berlari mundur mendekati sebuah mesin pabrik yang sudah berkarat. Saat Kuang menerjang ke arahnya dengan pukulan lurus mematikan, Ye Xuan sengaja menendang segenggam debu dan kerikil ke udara, tepat ke arah wajah Kuang.
Taktik kotor dan murahan, tapi sangat efektif di jalanan.
Kuang secara refleks menyipitkan matanya selama sepersekian detik.
Itu adalah celah yang ditunggu Ye Xuan. Blind spot sesaat.
Ye Xuan menunduk sangat rendah, menghindari pukulan buta Kuang, lalu meluncur di antara kedua kaki raksasa itu. Tangan kanan Ye Xuan merogoh saku jaketnya.
Syuuu!
Sebuah jarum perak melesat di antara jari-jari Ye Xuan. Di saat dia meluncur melewati bawah Kuang, Ye Xuan menancapkan jarum itu tepat di bagian lipatan lutut belakang kaki kanan Kuang, titik akupunktur Weizhong.
Jleb!
Ini bukan pukulan fisik, melainkan jarum tajam yang menembus celah pori-pori terkecil dari armor Qi.
Kuang mendengus keras. Aliran Qi di kaki kanannya tiba-tiba terputus karena jarum perak itu memblokir meridiannya. Armor Qi merah di sekitar dada kanannya seketika menipis karena energi tubuhnya sibuk mencoba menyembuhkan kebocoran di kakinya.
Ye Xuan tidak membuang momentum. Begitu dia meluncur ke belakang Kuang, dia menendang dinding mesin di belakangnya untuk memantul kembali dengan kecepatan penuh.
Kuang yang kehilangan keseimbangan pada kaki kanannya mencoba memutar tubuh untuk menangkis.
Tapi terlambat.
"Seni Pemutus Meridian: Pukulan Pembelah Jantung," gumam Ye Xuan dengan dingin.
Dengan seluruh tenaga yang dia miliki, Ye Xuan menghantamkan telapak tangan kanannya yang kaku tepat di tengah punggung Kuang, di area di mana armor Qi-nya sedang menipis akibat efek jarum perak.
KRAKKK!!!
Suara tulang belakang yang remuk terdengar sangat mengerikan dan nyaring.
Energi Pukulan Pemutus Meridian menembus kulit, menghancurkan tulang rusuk belakang, dan meledak langsung ke dalam jaringan jantung dan paru-paru Kuang.
"U-Ughhk...!"
Mata Kuang melotot hingga urat kemerahannya hampir pecah. Tubuh raksasanya membeku di tempat. Energi Qi merahnya langsung padam layaknya lilin yang ditiup angin kencang.
Bruk!
Kuang jatuh berlutut dengan keras. Dia memuntahkan darah segar dalam jumlah masif ke atas tanah beton. Napasnya terdengar seperti peluit rusak. Dia mencoba menoleh ke belakang, menatap remaja SMA yang baru saja menghancurkan organ dalamnya hanya dengan satu serangan telapak tangan.
"K-Kau... monster apa kau sebenarnya... Nona Wuyue... akan..." suara Kuang keluar bersama dengan gelembung darah sebelum akhirnya tubuh besarnya ambruk ke depan, mencium debu pabrik, dan tak bergerak lagi. Mati.
Ye Xuan berdiri tegak di belakang mayat Kuang. Dia mengibaskan tangan kanannya dengan santai, menghilangkan rasa kebas akibat benturan barusan. Jaket kasualnya robek di beberapa bagian, dan napasnya sedikit memburu, tapi wajahnya tetap sedingin es.
"Pertarungan yang cukup bagus untuk pemanasan," batin Ye Xuan. "Seni Pemutus Meridian dan Jarum Perak adalah kombinasi membunuh yang absolut."
Ye Xuan menatap mayat Kuang di tanah. Dia berjalan mendekat, menempelkan tangannya ke punggung mayat itu.
Sringgg!
Mayat Kuang seberat seratus dua puluh kilogram itu lenyap tak berbekas, tersedot ke dalam [ Inventory ] tanpa menyisakan jejak darah sedikit pun. Jika dia menyisakan mayat kultivator tingkat menengah di sini, faksi kepolisian pasti akan turun tangan.
Kini, hanya tersisa satu orang yang bernapas di area itu.
Kak Long, sang preman jalanan, kebetulan baru saja tersadar dari pingsannya. Saat dia membuka mata, dia melihat Ye Xuan berdiri di tengah pabrik yang hancur. Anak buahnya terkapar patah tulang di mana-mana, tapi sosok pria monster botak (Kuang) yang tadi melompat dari atap menghilang bagai ditelan bumi.
Kak Long menatap mata Ye Xuan yang segelap jurang tak berdasar. Tiba-tiba, cairan hangat mengalir di selangkangan preman bertato itu. Dia mengompol karena teror mutlak.
"Ampun... Tuan... ampun! Jangan bunuh aku! Aku tidak melihat apa-apa! Aku bersumpah!" Kak Long merangkak mundur, menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil.
Ye Xuan berjalan mendekat dengan langkah santai.
"Membunuhmu akan membuat polisi mengendus ke arah SMA Jinghai," ucap Ye Xuan pelan. "Tapi membiarkan otak kotormu menyimpan ingatanku juga bukan pilihan yang bijak."
Ye Xuan berjongkok di depan Kak Long yang gemetar ketakutan. Tangan kanannya mengeluarkan sebuah jarum perak yang sangat tipis dan lentur.
"Jangan bergerak. Ini tidak akan terasa sakit," bisik Ye Xuan.
Sebelum Kak Long sempat bereaksi, Ye Xuan menusukkan jarum perak itu ke titik meridian di belakang telinga Kak Long. Dia memutar jarum itu sedikit, menekan saraf memori jangka pendek dan pusat bahasa di otak pria itu dengan presisi seorang Tabib Dewa tingkat tinggi.
Syuuu.
Kak Long menegang sesaat, lalu matanya langsung kehilangan fokus. Mulutnya terbuka, air liur menetes turun. Otaknya tidak mati, tapi bagian logikanya baru saja dihancurkan secara permanen. Mulai detik ini, preman kejam ini hanya akan menjadi pria idiot yang tidak bisa berbicara atau mengingat apapun.
Ye Xuan mencabut jarumnya, berdiri, dan merapikan sisa jaketnya.
Dia melangkah keluar dari pabrik terbengkalai itu, membelakangi arena pertarungan yang hancur berantakan. Tidak ada mayat. Tidak ada bukti keterlibatannya. Zhao Wei dan Keluarga Ji harus memutar otak mereka sampai gila untuk mencari tahu iblis macam apa yang mereka usik hari ini.