"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Silent Treatment (Hari 1)
"Ting."
Bunyi sendok beradu dengan piring porselen terdengar nyaring di ruang makan Mansion Alger.
Cayvion melangkah masuk ke ruangan itu dengan tubuh kaku. Lehernya sakit luar biasa akibat tidur di sofa ruang kerja yang pendek dan keras semalaman. Dia mengusap tengkuknya, berharap aroma kopi arabika favoritnya akan menyambut hidung seperti biasa.
Tapi pagi ini, udara di ruang makan itu hampa. Tidak ada wangi kopi. Hanya ada wangi susu vanila milik anak-anak dan aroma nasi goreng mentega yang menggugah selera.
Hara berdiri membelakangi pintu, sibuk menata bekal di kotak makan Iron Man milik Elio.
"Pagi," sapa Cayvion pelan, mencoba memecahkan es yang membekukan atmosfer rumahnya.
Hening.
Tidak ada jawaban. Hara bahkan tidak menoleh sedikit pun. Dia terus memasukkan potongan buah apel ke dalam kotak bekal dengan ketelitian seorang ahli bedah.
Cayvion menarik kursi kebesarannya di ujung meja. Biasanya, di atas meja itu sudah tersedia piring berisi sarapan lengkap—roti gandum, telur scrambled, dan buah potong—serta secangkir kopi hitam panas dan iPad yang sudah menyala menampilkan berita pasar saham.
Hari ini, meja di depannya kosong melompong. Bersih mengkilap.
Bu Marta, entah kemana.
Cayvion menatap Hara, lalu menatap anak-anaknya. Elio makan dengan kepala tertunduk, tidak mau melihat wajah ayahnya. Elia mengunyah pelan, sesekali melirik Cayvion dengan tatapan sedih, tapi tidak berani menyapa.
"Hara," panggil Cayvion lagi, suaranya sedikit lebih keras. "Sarapan saya mana?"
Hara bergerak. Dia mengambil piring nasi goreng dari wajan. Cayvion menegakkan punggung, siap menerima piring itu.
Namun, Hara berjalan melewatinya begitu saja.
Sret.
Piring itu diletakkan di depan Elio.
"Habiskan ya, Kak. Biar kuat di sekolah," ucap Hara lembut pada Elio, suaranya hangat dan penuh kasih sayang. Kontras sekali dengan sikap dinginnya pada Cayvion.
"Makasih, Mi," gumam Elio tanpa semangat.
Cayvion ternganga. Dia ditelantarkan? Di rumahnya sendiri?
"Hara, saya lapar," kata Cayvion, menekan egonya. "Saya belum makan dari kemarin siang."
Hara tidak bereaksi. Dia mengambil botol minum Elia, mengisinya dengan air mineral, lalu menutupnya rapat-rapat. Dia benar-benar menganggap Cayvion tidak ada. Seolah-olah pria setinggi 185 cm yang duduk di ujung meja itu hanyalah partikel debu tak kasat mata.
Cayvion menggeram frustrasi. Dia berdiri, berjalan menuju meja pantry tempat mesin kopi berada. Dia butuh kafein untuk menjernihkan otaknya yang kusut.
Kosong.
Mesin kopinya mati. Toples biji kopinya kosong.
"Kopinya habis?" tanya Cayvion, menoleh ke arah Hara. "Biasanya kamu isi ulang setiap malam."
Hara mengambil tas sekolah anak-anak, mengabaikan pertanyaan itu sepenuhnya.
"Ayo sayang, pakai sepatu. Nanti telat. Hari ini Mami yang antar," kata Hara pada si kembar, menuntun mereka turun dari kursi.
"Tunggu!" Cayvion menghadang langkah Hara di dekat kulkas.
Hara berhenti, tapi matanya tidak menatap Cayvion. Dia menatap tembok di sebelah telinga suaminya.
"Oke, kamu marah. Saya mengerti," ujar Cayvion cepat, berusaha menahan istrinya. "Tapi saya harus ke kantor. Ada rapat pasca penandatanganan kontrak. Dasiku mana? Dasi abu-abu yang biasa saya pakai kalau meeting besar. Saya cari di lemari tidak ada."
Biasanya, Hara sudah menyiapkan setelan lengkap Cayvion dari malam sebelumnya. Kemeja, celana, dasi, bahkan kaus kaki, semua sudah tersedia rapi di ujung kasur.
Hara tidak menjawab. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Dia menggeser tubuhnya ke kiri, menghindari hadangan Cayvion seolah dia sedang menghindari tiang listrik di jalan.
"Hara!" bentak Cayvion, kesabarannya habis.
Dia mencengkeram lengan Hara pelan.
"Jangan diam saja! Marahi saya! Teriak! Maki-maki saya kalau perlu! Bilang saya brengsek, bilang saya ayah yang buruk! Tapi jangan anggap saya tidak ada!"
Hara akhirnya menoleh. Matanya bertemu dengan mata Cayvion.
Cayvion berharap melihat api kemarahan di sana. Dia siap bertengkar. Dia siap berdebat. Setidaknya dalam pertengkaran, masih ada komunikasi.
Tapi yang dia lihat di mata Hara hanyalah kehampaan. Dingin. Beku.
Wanita itu menatap tangan Cayvion yang memegang lengannya, lalu menatap wajah Cayvion lagi dengan tatapan kosong. Dia tidak melepaskan tangannya dengan kasar. Dia hanya diam, membiarkan keheningan itu menyiksa Cayvion perlahan.
Tatapan itu berkata lebih keras daripada ribuan kata makian: Kamu tidak layak mendapatkan energiku, bahkan untuk sekadar marah.
Cayvion melepaskan pegangannya, mundur selangkah seolah tersengat listrik. Hatinya mencelos. Ini lebih sakit daripada dilempar bantal atau diinjak kakinya. Ini adalah penolakan total.
Hara membenarkan letak blazernya yang sedikit kusut bekas cengkeraman Cayvion, lalu berbalik badan.
"Elio, Elia, masuk mobil. Mami tunggu di depan," ucapnya tenang, lalu berjalan keluar pintu utama tanpa menoleh lagi ke belakang.
Suara pintu tertutup blam terdengar seperti vonis hakim.
Cayvion berdiri sendirian di ruang tengah yang sunyi. Perutnya berbunyi krucuk keras minta diisi. Kepalanya pening karena kurang kafein.
Dia berlari kembali ke kamar, mengobrak-abrik laci dasi. Dia menemukan satu dasi tua bermotif garis-garis yang norak, peninggalan zaman kuliah. Dia tidak bisa menemukan dasi sutra Armani-nya. Hara pasti menyembunyikannya, atau mungkin sudah membakarnya.
Dengan tangan gemetar karena emosi dan lapar, Cayvion mencoba menyimpul dasi itu di depan cermin.
Gagal.
Simpulnya miring ke kiri. Kepanjangannya tidak pas. Dia mencoba lagi. Miring ke kanan.
Selama ini dia tidak sadar betapa dia bergantung pada tangan cekatan Hara setiap pagi.
"Sialan," umpat Cayvion, menatap pantulannya di cermin.
Matanya merah, rambutnya kurang rapi karena gel rambutnya juga habis dan belum diisi ulang, dasinya miring seperti orang mabuk, dan perutnya kosong melompong.
Sang CEO Alger Corp yang biasanya tampil sempurna tanpa cela, pagi ini berangkat ke kantor dengan penampilan menyedihkan. Dia kalah telak. Dan yang paling parah, dia tahu dia pantas mendapatkannya.
Cayvion menyambar kunci mobil, melangkah keluar rumah dengan perut perih. Dia harus memimpin perusahaan hari ini dengan tenaga sisa dan hati yang remuk.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri