NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Pengembara

Pendekar Pedang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Romantis / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.

Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Bakpao Perak

​Malam itu, Sekte Daun Perak terasa begitu tenang.

Tetua Han memberikan salah satu paviliun terbaik untuk Jian Yi dan Lu Feng.

Namun, Lu Feng sudah mendengkur keras di ruang tengah setelah menenggak tiga kendi arak madu sendirian, menyisakan Jian Yi di kamar dalam yang lebih tenang.

​Jian Yi duduk bersila di atas ranjang kayu yang empuk, mencoba bermeditasi.

Namun, konsentrasinya buyar setiap kali ia mendengar suara gesekan kain dari sudut ruangan.

​"Kenapa kau tidak kembali ke dalam pedang saja?" tanya Jian Yi tanpa membuka mata.

​Ling'er berdiri di sana, memeluk raga fisiknya sendiri yang masih terasa asing.

Karena raga ini baru terbentuk dari logam cair surgawi, ia belum bisa mengatur suhu tubuhnya dengan baik.

Kulitnya yang seputih pualam tampak pucat, dan ia terus menggigil.

​"Dingin..." gumam Ling'er. Suaranya yang mungil terdengar sangat menyedihkan. "Gua itu dingin, tapi aku tidak punya saraf. Sekarang... rasanya seperti disiram air es terus-menerus."

​Jian Yi membuka mata dan menatap gadis mungil itu.

Ling'er mengenakan jubah tidur yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang pendek, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang tenggelam dalam pakaian orang dewasa.

Pipi bakpaonya tampak merah karena kedinginan.

​"Kemarilah." ujar Jian Yi sambil menepuk sisi ranjang di sebelahnya.

​"A-apa?! Kau mau mengambil kesempatan ya, Bocah Mesum?" Ling'er memelotot, namun giginya bergemeletuk karena kedinginan.

​"Cepat atau kau akan membeku jadi patung merkuri." potong Jian Yi datar.

​Dengan langkah ragu, Ling'er naik ke atas ranjang dan duduk di pojok, sejauh mungkin dari Jian Yi.

Namun, hanya butuh waktu satu menit sampai rasa dingin mengalahkannya.

Perlahan tapi pasti, ia merangkak mendekat ke arah sumber panas—tubuh Jian Yi yang dialiri Qi Grand Master yang hangat.

​Jian Yi menoleh dan melihat Ling'er sudah meringkuk di samping lengannya.

Melihat wajah imut yang sedang cemberut itu, rasa gemas Jian Yi kembali memuncak.

Tanpa aba-aba, Jian Yi menarik tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya.

​"E-eh?! Apa yang kau lakukan?!" Ling'er meronta, namun tangannya yang pendek tidak bisa berbuat banyak.

​"Kau berisik sekali," gumam Jian Yi. Ia memposisikan Ling'er di depan dadanya, melingkarkan lengannya yang kuat di sekitar tubuh mungil itu, dan menjadikan kepala Ling'er sebagai tumpuan dagunya. "Kau sangat empuk, seperti bantal bulu yang baru dijemur."

​Ling'er awalnya membeku. Jantungnya—yang sekarang berdetak secara fisik—berpacu sangat kencang.

Wajahnya memerah padam. Ia bisa merasakan aroma napas Jian Yi dan kehangatan Qi yang mengalir ke tubuhnya, mengusir rasa dingin dalam sekejap.

​"Kau... kau benar-benar menjadikanku bantal peluk?" bisik Ling'er. Suaranya tidak lagi marah, melainkan malu-malu.

​"Diamlah. Tidur." balas Jian Yi. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya di rambut Ling'er yang wangi.

​Jian Yi menyadari sesuatu. Tubuh Ling'er memang pendek, tapi sangat proporsional di tempat-tempat tertentu.

Tekanan lembut dari "aset" Ling'er yang lumayan berisi di dadanya membuat Jian Yi sedikit berdehem canggung, namun rasa gemasnya jauh lebih besar.

Ia mulai memainkan pipi Ling'er, mencubitnya pelan sambil memejamkan mata.

​"Pipi ini... benar-benar seperti bakpao." gumam Jian Yi setengah mengantuk.

​"Jian Yi... kau orang paling menyebalkan di dunia..." Ling'er bergumam pelan, namun ia tidak lagi meronta.

Sebaliknya, ia menyandarkan kepalanya di dada Jian Yi, mencari posisi paling nyaman di pelukan pendekar yang selama tujuh tahun ini hanya bisa ia ajak bicara lewat batin.

​Di luar paviliun, salju tipis mulai turun, namun di dalam kamar itu, suhu terasa begitu hangat. Jian Yi tertidur sambil memeluk "pedangnya" dengan sangat erat, sementara Ling'er terlelap dengan senyum tipis di bibir mungilnya.

​"Sialan... kalau begini terus, aku tidak mau tumbuh dewasa cepat-cepat." batin Ling'er sebelum akhirnya jatuh ke alam mimpi.

1
Dadan Purwandi
mantapppp 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
gaspolll thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap thorrrrr🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap 🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
mantap ceritanya 🔥🔥🔥🔥🔥
Dadan Purwandi
hancurkannnnn🔥🔥🔥🔥
angin kelana
dah 7 tahun lg yah...
Agen One: time skip aja/Pray/
total 1 replies
Adibhamad Alshunaybir
mantap author semangat up nya☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!