Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saham yang Tergadai
Langit Sukabumi sore itu tidak lagi menampakkan warna jingga yang tenang. Awan kelabu menggantung rendah, menciptakan suasana pengap yang selaras dengan amarah yang mendidih di dada warga Desa Sukamaju. Suara gaduh langkah kaki dan teriakan parau membelah kesunyian rumah keluarga Nurdin.
"Keluar! Keluar kalian, pezina kota!" teriak seorang pemuda sambil memukul pagar kayu hingga patah.
Di dalam rumah, Nirmala Dizan meringkuk di pelukan Ibu Nurdin. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi daster murah yang ia kenakan. Ia bisa merasakan getaran dari dinding papan rumah itu saat massa mulai mendorong pintu depan.
"Neng, jangan takut... Ibu di sini," isak Ibu Nurdin, meski suaranya sendiri tidak lebih dari bisikan yang patah.
BRAK!
Pintu depan jebol. Sebelas pria dewasa merangsek masuk, dipimpin oleh seorang pria paruh baya dengan obor di tangan. Di belakang mereka, berdiri Bu Endang dengan mata yang berkilat penuh kemenangan. Selendang kumal yang ia kenakan tersampir sembarangan, kontras dengan wajahnya yang tampak haus akan penghakiman.
"Itu dia! Itu perempuan pembawa sialnya!" Bu Endang menunjuk dengan telunjuknya yang pendek ke arah Nirmala. "Seret dia! Jangan biarkan dia mengotori rumah ini lebih lama lagi!"
"Jangan! Tolong, jangan bawa dia!" Ibu Nurdin menjerit histeris, mencoba menghalangi langkah warga, namun ia didorong hingga terjatuh ke lantai tanah.
Nirmala tidak bisa melawan saat tangan-tangan kasar mencengkeram lengannya. Ia diseret keluar rumah, kakinya yang tanpa alas tergores bebatuan tajam di halaman. Di sepanjang jalan menuju balai desa, massa telah berbaris. Mereka melempar kata-kata kotor, meludah, bahkan beberapa anak kecil ikut melemparkan kerikil ke arah tubuh Nirmala yang lemas.
"Dasar pezina kota! Beraninya kamu mengotori desa kami dengan zina!" teriak Bu Endang dengan suara cemprengnya yang memekakkan telinga. Ia berjalan paling depan, seolah-olah dia adalah hakim agung yang baru saja memenangkan kasus terbesar dalam sejarah.
Nirmala tertunduk, rambutnya yang kusut menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Di dalam hatinya, ia hanya memanggil satu nama. Ale... Ale, tolong aku...
****
Di belahan dunia yang berbeda—sebuah ruangan kedap suara dengan aroma aroma terapi mahal di lantai 50 gedung Suteja Group—sebuah tragedi finansial sedang mencapai puncaknya. Januar Suteja duduk di balik meja eksekutifnya dengan bahu yang luruh. Di depannya, Elias Dizan duduk dengan kaku, memegang pena emas, sementara Rini Susilowati berdiri di belakang suaminya seperti bayangan maut yang cantik.
Hari ini, kedaulatan Suteja Group resmi berakhir.
"Tandatangani, Januar. Jangan biarkan egomu membakar sisa-sisa gedung ini," ucap Rini. Suaranya halus, namun mengandung ancaman yang tak terbantahkan.
Januar menatap dokumen di depannya. Perjanjian Penyelamatan Aset: Pengalihan 50% Saham Suteja Group kepada Dizan Holding. Sebagai imbalannya, Dizan Holding akan mengucurkan dana talangan sebesar 10 juta USD. Namun, ada catatan kaki yang mengerikan di sana: Bunga pinjaman 20% per tahun, jatuh tempo dalam 12 bulan. Jika gagal bayar, sisa 50% saham Suteja Group akan disita secara otomatis.
Ini bukan bantuan. Ini adalah hukuman gantung dengan tali yang terbuat dari dolar.
Dengan tangan gemetar, Januar menorehkan tanda tangannya. Elias menyusul, membubuhkan stempel resmi Dizan Holding di bawah pengawasan ketat istrinya.
Begitu prosesi itu selesai, Rini perlahan mengambil selendang sutra hitamnya. Ia menutup mulutnya, matanya menyipit hingga membentuk garis tipis yang mengerikan.
"Hmph... Mmph... Hahahahahaha!"
Tawa itu pecah, tertahan oleh kain sutra namun getarannya terasa hingga ke ujung ruangan. Rini tertawa sampai bahunya berguncang, air matanya mulai mengalir menyeka bedak tebal di pipinya. Ia menyeka hidungnya yang mulai beringus dengan ujung selendang mahal itu, sama sekali tidak peduli pada martabat di depan Januar.
"Kau tahu apa artinya ini, Januar?" Rini bertanya di sela tawanya yang gila. "Kau baru saja menjual jiwamu padaku. Sepuluh juta dolar itu tidak akan cukup untuk menambal lubang yang kubuat di perusahaanmu. Dalam setahun, gedung ini akan menyandang nama Dizan, dan kau... kau akan menjadi pengemis di jalanan!"
"Kau iblis, Rini!" geram Januar.
"Iblis yang menang, Sayang," jawab Rini sambil mengibaskan selendangnya ke udara. "Elias, ayo pergi. Kita punya pesta kemenangan yang harus dihadiri. Oh, dan Januar... jangan harap bisa menemukan Nirmala. Dia sedang menjalani 'sidang' yang jauh lebih jujur daripada rapat pemegang saham ini."
****
Balai desa Sukamaju kini dipenuhi oleh warga yang haus akan tontonan. Nirmala dipaksa duduk di tengah lantai semen yang dingin, dikelilingi oleh para sesepuh desa dan warga yang menatapnya dengan jijik. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip membuat wajah Nirmala yang pucat tampak seperti mayat hidup.
Bu Endang berdiri di depan mimbar kayu, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Nirmala.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu! Kita tidak butuh bukti lagi! Perempuan ini datang tanpa identitas, bersembunyi di rumah Ale, dan tiap malam mereka kedengaran berbisik-bisik! Apa lagi kalau bukan zina?!"
"Fitnah... itu fitnah..." suara Nirmala keluar dengan sangat lemah.
"Bicara yang keras, Pezina!" gertak salah satu warga sambil memukul meja.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria tua yang menjadi ketua adat mengangkat tangannya. "Nirmala, jika kau tidak bisa membuktikan bahwa kau adalah istri sah Ale, maka hukum desa berlaku. Kau akan diarak keliling desa tanpa pakaian atas dan diusir secara tidak hormat malam ini juga!"
Histeris. Nirmala ingin berteriak bahwa dia adalah pewaris Dizan Holding, bahwa dia adalah tunangan seorang miliarder, namun di tempat ini, semua gelar itu tidak berarti apa-apa. Ia hanyalah mangsa bagi kebencian warga yang terhasut.
Di saat yang sama, di Jakarta, Rini Susilowati kembali masuk ke dalam mobil limosinnya. Ia melihat ke luar jendela, menatap lampu-lampu kota yang gemerlap. Ia mengeluarkan tisu, menyeka sisa ingus dan air mata bahagianya yang belum berhenti tumpah.
"Hanya tinggal satu langkah lagi," bisiknya pada diri sendiri. "Nirmala dihancurkan oleh penduduk desa, Januar dihancurkan oleh hutang... dan aku, Rini Susilowati, akan menjadi satu-satunya nama yang tersisa di atas reruntuhan ini."
Ia kembali tertawa, sebuah tawa yang merambat di antara deru mesin mobil mewah, sementara jauh di Sukabumi, tangan-tangan warga mulai meraih kerah baju Nirmala untuk memulai hukuman yang mengerikan itu.
****
Suara raungan motor tua Aleandra Nurdin membelah keheningan mencekam di depan Balai Desa Sukamaju. Ban motornya berdecit keras di atas tanah berbatu, menciptakan kepulan debu yang menyatu dengan kabut senja. Ale melompat turun bahkan sebelum mesin motornya benar-benar mati. Napasnya memburu, matanya memerah karena debu jalanan dan amarah yang nyaris meledak.
Di tengah balai desa, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya: Nirmala Dizan, wanita yang ia selamatkan dari maut, kini sedang tersungkur di lantai semen dengan pakaian yang koyak di beberapa bagian dan wajah yang sembab oleh air mata.
"BERHENTI!" teriak Ale dengan suara yang menggelegar, membuat warga yang sedang mengerubungi Nirmala tersentak mundur.
Ale menerobos kerumunan itu, pasang badan di depan Nirmala. Ia menatap tajam satu per satu warga desanya sendiri. "Apa yang kalian lakukan?! Apa kalian sudah kehilangan akal sehat?!"