NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Ruang Bawah Tanah Seperti Rumah

Ren berdiri di tengah ruang bawah tanah itu, menatap Yuki, kedua orang tua Kai, serta para asisten yang berkumpul dengan wajah tegang namun berusaha tenang.

“Untuk sementara… kemungkinan besar kita akan tinggal di bawah sini sekitar sebulan,” ucap Ren dengan nada serius tapi tetap menenangkan. “Sampai keadaan di luar benar-benar aman dan kita yakin tidak ada lagi pergerakan dari pihak Viktor.”

Yuki mengangguk pelan, tangannya memeluk Ai yang masih tertidur nyenyak di dadanya. “Kalau ini demi keselamatan semua orang… aku tidak keberatan,” katanya lirih, meski di dalam hatinya masih ada rasa cemas yang belum sepenuhnya hilang.

Ibu dan ayah Kai saling pandang, lalu ayah Kai berbicara dengan suara tenang, penuh wibawa. “Kai sudah memikirkan tempat ini sejak lama. Dia selalu bilang, kalau suatu hari keadaan memaksa, keluarga harus punya tempat yang benar-benar aman.”

Ren mengangguk. “Benar, Tuan. Ruang ini dirancang bukan hanya untuk bersembunyi, tapi untuk bertahan hidup dengan nyaman. Semua sistem di sini berdiri sendiri. Listrik, air, sirkulasi udara, semuanya terpisah dari sistem utama di atas.”

Yuki menatap sekeliling dengan lebih saksama. Awalnya ia mengira ruang bawah tanah ini hanya seperti bunker sempit, tapi kenyataannya jauh dari bayangannya. Ruangan itu luas, dindingnya kokoh, pencahayaannya hangat dan tidak menyilaukan. Udara terasa segar, tidak pengap atau lembap seperti ruang bawah tanah pada umumnya.

“Ada jalur khusus untuk cahaya matahari dan sirkulasi udara,” lanjut Ren sambil menunjuk ke arah langit-langit yang tampak seperti panel-panel modern. “Jadi meskipun kita di bawah tanah, tetap terasa seperti di permukaan. Kai tidak mau orang-orang yang dia sayangi merasa terkurung.”

Salah satu asisten tersenyum kecil. “Tuan Kai memang selalu memikirkan detail seperti ini.”

Mereka mulai berjalan menyusuri ruangan-ruangan di sana. Ada area tempat tinggal dengan kamar-kamar yang tertata rapi, ruang makan, dapur lengkap, ruang medis kecil, hingga ruang kontrol tempat Niko berjaga di depan layar-layar CCTV.

“Di sisi sana ada kebun mini,” kata Ren lagi sambil menunjuk ke sebuah area yang dipenuhi tanaman hijau. “Kita bisa menanam sayur sendiri kalau memang harus tinggal lama. Sistem lampu dan airnya sudah diatur otomatis.”

Yuki mendekat, matanya sedikit berbinar melihat tanaman-tanaman kecil yang tertata rapi. “Seperti… dunia kecil di bawah tanah,” gumamnya pelan.

“Dan di ujung sana ada kolam renang,” tambah Ren. “Untuk olahraga atau sekadar melepas penat. Kai ingin tempat ini bukan cuma aman, tapi juga menjaga kesehatan fisik dan mental semua orang.”

Ibu Kai tersenyum tipis. “Dia memang selalu begitu. Keras di luar, tapi terlalu memikirkan orang-orang di sekitarnya.”

Yuki menunduk sedikit, hatinya terasa hangat mendengar itu. Ia memeluk Ai lebih erat, lalu berkata pelan, “Aku… baru benar-benar mengerti sekarang, kenapa dia begitu protektif.”

Ren menatap Yuki dengan sopan. “Tuan Kai tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri kalau sampai Nyonya dan bayi ini terluka. Karena itu, semua ini sudah dia siapkan jauh-jauh hari.”

Mereka kembali ke ruang utama. Beberapa asisten mulai mengatur barang-barang, menata logistik, memastikan semuanya berada di tempat yang mudah dijangkau. Suasana tidak lagi sepenuhnya tegang, meski rasa waspada tetap terasa di udara.

Yuki duduk di sofa sambil mengayun-ayun Ai perlahan. Bayi itu bergerak kecil, lalu kembali tenang. Yuki menghela napas panjang.

“Sebulan…” gumamnya. “Semoga semuanya segera selesai.”

Ibu Kai duduk di sampingnya, meletakkan tangan di bahu Yuki dengan lembut. “Anggap saja ini waktu untuk beristirahat dan menenangkan diri. Kau sudah melalui terlalu banyak hal, Nak. Di sini, kau aman.”

Yuki menoleh, matanya sedikit berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu… untuk semuanya.”

Ibu Kai tersenyum hangat. “Kau bukan sendirian lagi.”

Di ruang kontrol, Niko berbicara tanpa menoleh dari layar. “Area luar masih bersih. Tidak ada pergerakan mencurigakan untuk saat ini.”

Ren mengangguk. “Kita tetap siaga. Tapi setidaknya, malam ini semua bisa tidur dengan tenang.”

Yuki memandang sekeliling, merasakan untuk pertama kalinya sejak lama, dadanya tidak lagi sesak oleh ketakutan. Tempat ini mungkin tersembunyi di bawah tanah, tapi justru di sinilah ia merasa sedikit lebih aman bersama orang-orang yang kini menjadi pelindungnya, sambil menunggu hari ketika Kai kembali dan badai di luar benar-benar mereda.

Ruang bawah tanah itu memang dirancang bukan sekadar tempat persembunyian darurat. Ukurannya luar biasa luas, bahkan bisa menampung hingga seratus orang dengan nyaman. Ada sekitar lima puluh kamar yang tersusun rapi di beberapa koridor panjang, masing-masing dilengkapi tempat tidur, lemari, kamar mandi, dan sistem ventilasi sendiri. Semua terasa lebih seperti kompleks hunian rahasia daripada bunker.

Ren menjelaskan semuanya sambil berjalan di depan rombongan. “Tempat ini dibuat untuk jangka panjang, bukan cuma buat beberapa hari. Kalau keadaan memaksa, seratus orang pun masih bisa hidup normal di sini tanpa saling berdesakan.”

Yuki memperhatikan setiap detail dengan kagum. Dindingnya kokoh, lantainya bersih, lampu-lampu menyala dengan pencahayaan hangat. Tidak ada kesan suram seperti ruang bawah tanah pada umumnya. Justru terasa aman dan tertata.

“Selain Niko yang menjaga ruang kontrol dan sistem keamanan,” lanjut Ren, “biasanya ada sekitar sepuluh asisten yang bergantian bertugas di sini. Mereka membersihkan ruangan, mengecek logistik, memastikan dapur, kebun mini, dan fasilitas lain tetap berjalan dengan baik. Dan tentu saja, mereka juga berjaga.”

Seolah menguatkan perkataannya, beberapa asisten terlihat sedang bekerja. Ada yang mengepel lantai koridor, ada yang memeriksa panel listrik, ada pula yang menata persediaan makanan di gudang. Semua bergerak tenang dan teratur, seperti sudah sangat terbiasa dengan situasi darurat semacam ini.

Ibu Kai menatap sekeliling, lalu berujar pelan, “Ayahmu dan Kai benar-benar memikirkan semuanya sampai sedetail ini.”

Ren mengangguk. “Tuan Kai tidak pernah mau mengambil risiko kalau menyangkut keselamatan keluarga dan orang-orang penting baginya. Karena itu, tempat ini selalu dirawat, meski jarang dipakai.”

Yuki memeluk Ai yang terbangun sebentar lalu kembali tertidur. Hatinya terasa sedikit lebih ringan. Mengetahui ada banyak orang yang berjaga, membersihkan, dan memastikan tempat ini tetap aman membuat rasa cemasnya berkurang.

“Jadi… meskipun kita di bawah tanah, kita tidak sendirian,” kata Yuki lirih.

“Tidak, Nyonya,” jawab Ren dengan sopan. “Di sini selalu ada orang yang siap membantu. Keamanan dijaga dua puluh empat jam, dan semua akses dikontrol penuh. Tidak ada yang bisa masuk tanpa izin.”

Mereka melewati salah satu koridor panjang yang dipenuhi pintu-pintu kamar. Ren menunjuk ke beberapa arah. “Kamar-kamar di sisi timur biasanya dipakai untuk keluarga dan tamu penting. Yang di barat untuk para asisten dan pengawal. Ruang medis ada di dekat pusat kontrol, jadi kalau ada apa-apa bisa cepat ditangani.”

Yuki mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang. Tempat ini bukan hanya aman, tapi juga hidup—ada orang-orang yang bekerja, menjaga, dan memastikan semuanya tetap berjalan. Bukan sekadar tempat bersembunyi, melainkan benteng perlindungan yang benar-benar dipersiapkan untuk menghadapi situasi terburuk.

Ia menatap Ai yang tertidur di pelukannya, lalu berbisik pelan, “Di sini kita aman dulu, ya, Nak.”

Dan untuk pertama kalinya sejak ancaman itu muncul, Yuki benar-benar merasa bahwa mereka berada di tempat yang tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga penuh dengan orang-orang yang siap melindungi mereka kapan pun dibutuhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!