NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampa

...****************...

Terasa seperti lahir kembali, dengan versi diri yang berbeda. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai host live streaming. Padahal sebelumnya, di akun pribadiku aku hanya bermain gitar dan bernyanyi. Sekarang aku harus menjual sesuatu hal yang bahkan belum pernah kulakukan sebelumnya.

Setelah rapi cukup dengan celana jeans dan kemeja sederhana aku berangkat kerja menggunakan ojek online.

Sesampainya di toko yang dimaksud, aku melangkah masuk.Di dalam sudah ada lima orang.

Dari jumlah itu, pemilik toko tampaknya sudah lebih dulu datang.

Apa aku telat?

Pikiran itu langsung muncul.

“Hai, Raka ya?”

Suara seorang pria menyapaku.

Ia mengenakan kemeja batik dengan celana bahan.

Tubuhnya terlihat tegap berisi, rapi, dan berwibawa.

“Iya, Pak. Maaf telat,” kataku sambil tersenyum tipis, agak kikuk.

“Oh, enggak kok. Belum jam delapan,” ujarnya santai.

“Yuk, ikut saya. Ini ruangan live-nya.”

Aku mengikutinya masuk.

Sebelumnya, aku sempat berkenalan dengan empat karyawan lain. Ada editor, kameramen konten, talent konten, dan satu host yang sudah lebih dulu bekerja di sana. Hari pertamaku berjalan cukup menyenangkan. Mereka semua ramah, sabar, dan mau mengajariku yang benar-benar masih nol pengalaman. Sedikit demi sedikit, rasa gugup itu mulai berkurang.

Malam datang lebih cepat dari yang kurasa.

Aku sudah kembali ke kost. Merebahkan tubuh, menatap langit-langit kamar. Aku melamun.

Entah apa yang kupikirkan. Mungkin aku hanya lelah.

Hari-hariku kini terasa sederhana.

Kerja, makan, pulang, tidur.

Berulang, tanpa jeda.

Hingga hari Minggu Malam tiba.

Karena bosan, teman sebelah kamarku menyapaku.

“Ka, jalan yuk. Lo belum pernah ke alun-alun, kan?”

“Oh iya, mau. Kebetulan gue juga bosan. Yuk sekarang?”

“Hayuk. Di sana kita nongkrong sambil kuliner.”

“Ah, gas.”

Akhirnya kami berangkat ke alun-alun menggunakan motor milik temanku itu.

Namanya Rayyan.

“Yan, lo enggak jalan sama cewek lo?” tanyaku di jalan.

“engga, kemarin udah ketemu. hari ini dia bilang mau mager di rumah,” jawabnya santai.

Sesampainya di alun-alun, kami memilih-milih tempat makan. Langkah kami berhenti di sebuah warung bebek goreng sambal ijo. Aku tersenyum kecil. Wah, mantap nih.

Aku baru saja menyendok nasi. Uap hangat dari piring bebek goreng mengepul pelan. Rayyan sibuk dengan ponselnya, entah membalas pesan siapa. Lalu tanpa aba-aba, dadaku menegang.

Aku mengenali langkah itu. Bukan karena suaranya, tapi karena ingatan yang terlalu akrab.

Aku menoleh.

Hana.

Ia berjalan melewati warung itu, tepat di depanku.

Di sampingnya, seorang anak laki-laki remaja, tinggi, hampir sejajar dengannya.

Wajahnya mirip Hana.

Mereka berjalan berdampingan. Tak bergandengan tangan, tapi jarak mereka begitu dekat,

seperti dua orang yang saling memahami tanpa perlu banyak kata. Hana mengenakan hijab sederhana. Wajahnya tampak tenang, sedikit lelah, namun ada keteduhan yang tak pernah berubah.

Dadaku mendadak sesak. Sendok di tanganku terhenti. Aku tak bergerak. Tak bernapas dengan benar.

Ini nyata…

Ia lewat begitu dekat. Terlalu dekat untuk sekadar kebetulan. Namun Hana tak menoleh. Matanya lurus ke depan. Seolah aku hanyalah bagian dari keramaian alun-alun. Aku menunduk pelan.

Ada sesuatu yang luruh di dalam diriku.

Bukan tangis. Bukan juga marah. Hanya kesadaran pahit bahwa hidupnya benar-benar telah berjalan jauh tanpa aku.

Rayyan melirikku.

“Ka… lo kenapa?”

Aku tersenyum tipis, memaksa.

“Nggak apa-apa,” jawabku.

“Mendadak capek aja.”

Padahal yang lelah bukan tubuhku.

Melainkan hatiku yang baru saja dipaksa menerima kenyataan, di kota asing yang perlahan terasa semakin sempit.

Kami menghabiskan makan malam itu dengan obrolan ringan. Rayyan banyak bercanda, sesekali mengeluh soal kerjaan dan pacarnya. Aku menimpali seperlunya, lebih sering mendengar.

Tawa kecil sempat keluar. Bukan karena benar-benar lucu, tapi karena aku ingin suasana kembali normal.

Setelah piring-piring kosong, kami bangkit dari kursi. Malam di alun-alun masih ramai, lampu-lampu berpendar di kejauhan. Aku menarik napas panjang. Perjalanan pulang terasa lebih sunyi.

Angin malam menerpa wajahku saat motor melaju perlahan. Aku menatap jalan tanpa banyak pikiran

atau mungkin terlalu banyak, sampai tak satu pun ingin kupikirkan.

Sesampainya di kost, aku mengucap salam singkat pada Rayyan. Langkah kakiku menaiki tangga terasa berat, namun kepalaku justru terasa lebih ringan.

Di kamar, aku merebahkan tubuh.

Menatap langit-langit tanpa tujuan.

Hari ini aku belajar satu hal tidak semua pertemuan perlu disapa, dan tidak semua kenangan harus dihidupkan kembali.

Biarkan semua berjalan sendiri, tanpa harus aku yang atur, biarkan semua terasa netral.

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!