“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#23
“Neng bukan adik kandung pak Elang ya ternyata?”
“Bukan, Bi. Aku—“
“Oh, cuma numpang ya berarti.”
Ayunda sedikit syok mendengar ucapan Bi Jumirah barusan. Dengan entengnya perempuan itu berkata dan berlalu begitu saja.
Gadis itu ingin marah, tapi sadar jika apa yang dikatakan Bi Jumirah adalah benar adanya.
Semenjak hari itu, Bi Jumirah nampak berbeda pada Ayunda. Bahkan, untuk mencuci piring bekas makan Ayunda saja dia tidak mau. Pembantu itu hanya akan bersikap normal saat Elang ada di rumah.
Ayunda merasa kesal, tapi dia sadar dia pun bukan pemilik rumah itu.
Hanya sekedar cuci piring bekas makan saja, bukan masalah bagi Ayunda. Dia bisa melakukan itu.
Jika dulu Bi Jumirah mencuci dan menyetrika pakaian Ayunda, sekarang tidak lagi. Ayunda harus mencuci dan mengurus pakaian nya sendiri.
Hal itu sudah berlangsung selama dua bulan lamanya. Ayunda memilih untuk diam karena baginya tidak ada hak untuk mengadu pada Elang.
Sampai suatu hari ayunda kepergok Alex sedang mengangkat jemuran pakainya.
“Dari mana?”
“Angkat baju.”
“Kan ada bibi.”
“Gak apa-apa sesekali lakuin sendiri.”
“Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.”
“Aku mau gosok baju tapi. Kalau nanti aja, gimana?”
“Gosok baju?”
“Iya, kenapa memangnya?”
“Angkat jemuran sendiri, gosok baju juga sendiri? Kamu tau kenapa Bi Jumirah ada di sini?”
“Buat ngurus rumah dan Mas Elang.”
“Salah.”
“Terus? Buat ngurus aku gitu? Ngapain aku di urus? Aku kan cuma numpang di sini. Lagi pula melakukan perkejaan rumah itu bukan hal yang sulit. Aku sering bantu mama di rumah. Apalgi ini cuma ngurus barang sendiri. Apa susahnya?”
“Elang bayar mahal pembantu untuk apa?”
Ayunda diam.
“Jujur saja, aku sering melihat kamu masak mie sendiri, kadang masak tumis daging atau apapun sendiri saat malam. Bi jumirah gak masak?”
“Kan itu kalau aku laper malem-malem. Ya masa harus bangunin orang sih?”
Alex tidak percaya dengan apa yang dikatakan ayunda. Gadis itu terlalu polos untuk menyingkron kan ucapan dan raut wajah.
“Aku gak ikut pokoknya. Lain kali aja.”
Ayunda segera naik ke kamarnya meninggalkan Alex agar dia tidak terlalu banyak bertanya.
Gadis itu duduk di tepi ranjang. Dia masih ingat bagaimana Bi Jumirah marah saat dia menumpahkan sabun cuci piring. Bahkan pembantu itu segera mengepal lantainya dengan kasar hingga mengenai kaki Ayunda sampai merah.
Bahkan untuk sampah cemilan bekas ayunda, Bi Jumirah tidak mau membuangnya.
Meski merasa sedih, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam. Ayunda takut jika dia mengadu pada Elang, Bi Jumirah akan dipecat.
“Dia pasti punya tanggungan banyak. Kasian kalau sampai kehilangan penghasilan.”
Satu per satu, selembar demi selembar ayunda menyetrika pakainya.
...***...
“Lo sadar sesuatu gak di rumah?”
“Tentang apa?”
“Ayunda.”
“Kenapa dia?”
Alex terdiam sejenak.
“Wei, malah bengong. Adik gue kanapa?”
“Entahlah.”
“Jangan ngomong kalau cuma bikin penasaran. Serius, ada apa sama ayunda?”
“Kemarin gue lihat dia angkat jemuran. Terus dia bilang mau gosok baju.”
“Mungkin karena dia lagi pengen.”
“Tapi tiap gue pulang, gue lihat dia lagi masak sendiri. Kadang masak mie, atau cuma oseng beef.”
“Ya elah, dia laper kali. Apa salahnya?”
“Emang pembantu lo gak masak?”
Elang yang sedang memeriksa dokumen, langsung terhenti.
“Gue sih gak mau buruk sangka. Lebih baik cari tau sendiri aja.”
“Pembantu gue bermasalah?”
“Cek sendiri aja nanti.”
Elang melepaskan kacamatanya, lalu menatap dalam pada Alex. Terlihat jelas di wajahnya kalau dia merasa cemas dan kesal.
...***...
“Bi, tolong beliin daun pisang ya kalau ke pasar. Mas elang minta dibuatin pepes ikan.”
Bi Jumirah tidak menjawab. Dia melengos sambil meninggal rumah dan pergi ke pasar.
Ayunda takut pembantu itu tidak akan membelikan apa yang dia minta, namun ternyata salah. Jumirah membelikannya daun pisang.
“Makasih, ya, Bi.”
Siang itu ayunda ingin membuat pepes ikan kesukaan Elang. Dia membersihkan sendiri ikan mas nya, membumbuinya, lalu membungkusnya dengan rapi.
Saat sedang memasukan ikan ke dalam kukusan, bel berbunyi. Berkali-kali. Ayunda pikir Jumirah akan membuka pintu, namun tidak.
“Maaf mba, ada paket untuk pak Elang. Bener ini rumahnya?”
“Iya, Mas. Dia kakak saya. Biar saya terima.”
“Tolong tanda tangan dulu.”
“Iya.”
“Makasih ya, Mba.”
“Sama-sama.”
Ayunda membolak balik amplop berwarna putih itu. Lalu menyimpan nya di kamar Elang.
Gadis itu kembali pada kegiatannya semula. Memasak pepes.
Selain pepes, ayunda juga membuat sambal, sayur asam dan tempe goreng.
Hari ini elang sudah berjanji akan pulang cepat agar bisa makan masakan Ayunda. Pun dengan Alex.
“Wah, enak nih. Jadi gak sabar mau makan.” Elang datang.
“Mas, kakak. Mandi dulu baru makan. Lagi pula aku belum selesai goreng tempe nya.”
“Oke.”
Elang dan Alex pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Mereka betiga pun duduk. Ayunda dengan telaten mengambilkan makan untuk kedua pria dewasa itu.
“Mari makan.” Elang sangat antusias melihat pepes ikan kesukaannya. Wajahnya sangat sumringah. Namun ….
“Kenapa lo?” Tanya Alex tidak suka saat Elang memuntahkan makanannya.
“Asin banget.” Ucap Elang sambil mengusap lidahnya. Dia segera minum air sebanyak mungkin.
Ayunda yang melihat kejadian itu sangat terkejut dan juga heran. Dia mencicipi bumbu sebelum dia mencampurkan nya dengan ikan.
“Maaf, Dek. Tapi beneran asin. Mas gak bisa makan pepes nya.”
“Tapi, Mas. Pas aku cobain beneran gak asin kok.”
Ayunda segera mengambil pepes ikan itu lalu mencobanya. Jangankan Elang, dia sendiri bahkan tidak sudi memakan ikan tersebut.
“Kok bisa gini sih? Aku beneran icip dulu kok.”
Ayunda merasa sangat bersalah pada Elang dan Alex. Bagaimana pun juga mereka sengaja pulang lebih awal untuk makan masakan nya. Namun, ternyata mereka harus kecewa oleh cita rasanya.
“Kak, beneran deh. Aku icip dan rasanya gak se asin ini.”
“Gak apa-apa, Dek. Mas gak apa-apa. Mungkin kamu lupa. Tapi its oke, kita masih bisa makan yang lain.”
“Jangan!”
Alex dan Elang terdiam.
Wajah ayunda terlihat sangat sedih dan juga marah pada diri nya sendiri. Dia mengambil semua masakan nya, lalu membuangnya ke tong sampah.
“Dek, gak semua masakan nya asin kok.”
“Mas udah coba? Belum kan? Daripada keracunan garam, mending buang saja semuanya.”
“Belum pernah aku denger ada orang keracunan garam.”
“Udah lah, biarin aja.” Ayunda mulai merajuk.
Dia bukan marah pada elang yang tidak memakan masakan nya. Dia hanya kecewa pada dirinya sendiri. Malu dan juga marah bersatu campur aduk.
“Biarin aja dulu,” sergah Alex saat Elang hendak mengejar Ayunda ke kamarnya.