Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyanyi didepan leo
Leo duduk di meja kantin ditemani oleh ketiga sahabatnya sambil menikmati enaknya makanan yang mereka pesan.
"Ah...ini bakso terbaik dikantin dan nggak ada tandingannya." ucap sony sambil menghirup kuah bakso.
"Gua dengar hari jum'at, ada beberapa anak baru yang bakal gabung di klub basket." kata digo sambil menyerup teh manis nya.
"Gua juga dengar! gua mau liat skill mereka dan kita bisa rekrut yang terbaik buat masuk ke tim." timbal dani.
"Gimana menurut lo kapten?" tanya digo kepada leo.
"Terserah! kemarin coach juga ngomong, kita butuh enam pemain cadangan dan satu pemain inti." kata leo.
"Why?" tanya sony.
"Bego banget lo! si gorila roby sama krucil-krucilnya udah larat dari tim basket kita." jawab digo
"Dua pemain inti dan lima pemain cadangan kita udah lulus! kita butuh pemain baru buat gantiin mereka." jawab leo dengan wajah batunya, datar tanpa emosi.
"Gua gimana?" tanya sony menunjuk dirinya.
"Lo jadi pemain inti." ucap leo.
"Serius le?"
Leo menganggukkan kepala sembari melahap somay favoritnya.
"Selamat bro! sekarang lo jadi tulang punggung tim basket kita."kata digo sambil tertawa cengengesan.
"Gua bakal bawa tim kita ke puncak." ujar sony sambil mengepal tangan dan mengangkatnya dengan tinggi.
"Mau ngapain lo ngajak tim kepuncak segala?" tanya digo.
"Lo pikir gua bakal bawa tim basket ke puncak everest gitu? nggak lah kocak! gua mau mengharumkan nama tim basket kita."
"Sekarang lo udah jadi pemain inti son, selamat ya!" kata dani.
"Thanks bro! sekarang gua bukan lagi pemain cadangan! nggak ada lagi duduk di bangku cadangan buat gua!" ujar sony sambil tersenyum bangga.
****
Zea melihat leo yang sedang duduk santai bersama teman-teman nya di meja dekat stand bude ayu, sambil menikmati somay hangat dengan saus kacang yang kelihatannya enak.
"Kak leo!"
Leo tiba-tiba tersedak dan mencoba menelannya dengan cepat ketika mendengar suara familiar ditelinganya, tapi ia tetap cuek dan tidak langsung menoleh ke arah zea.
Para murid, khususnya para siswi, menatap dengan penuh rasa penasaran. Beberapa di antaranya berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah zea. Ada pula yang menatapnya dengan tajam, seolah-olah menyalahkan zea atas reaksi leo yang baru saja terjadi.
Mereka tampak heran melihat zea yang terlihat begitu dekat dengan leo, kedekatan itu membuat sebagian dari mereka merasa kesal. Raut wajah mereka jelas memperlihatkan ketidakpuasan dan rasa tidak suka terhadap zea.
Sementara itu, zea sama sekali tidak memedulikan tatapan tersebut. Ia tetap menatap leo dengan senyum lebar yang tak pudar dari wajahnya.
"Kak leo, zea boleh duduk disini nggak?" tanya zea, sambil menunjuk ke kursi yang diduduki oleh digo dan sony, yang berhadapan dengan leo dan dani.
Leo menoleh ke arah zea dengan wajah datar.
"Nggak." tidak ada penjelasan lebih lanjut, hanya sekedar jawaban singkat yang menunjukkan ketidakmauannya.
Namun digo dan sony berpindah duduk disampingnya, kedua sahabatnya itu tampak mengerti apa tujuan terselubung gadis tersebut.
Zea mengabaikan jawaban leo lalu duduk dikursi kosong yang telah ditinggalkan oleh digo dan juga sony.
"Makasih kak." kata zea dengan senang.
leo menghela nafas dan melanjutkan makanannya tanpa berkomentar lebih lanjut. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran gadis mungil didepannya, dan dengan cepat leo memakan somaynya tanpa menatap zea sedikitpun.
"Cha, ngel, duduk sini!" pinta zea sambil menunjuk kursi kosong disampingnya.
"Ze, ngapain duduk disini sih! kan banyak kursi lain yang lebih nyaman." ujar chacha dengan kesal.
"Udah, duduk disini aja." kata zea.
Chacha dan angel terpaksa menghampirinya dan duduk dikursi yang ditunjuk oleh dirinya tadi.
"Somay ze! nggak mau cobain? atau mau disuapin sama aa leo?" ujar digo.
"Iya kak makasih, kita pesen sendiri aja." jawab zea.
"Gue pesen bakso dulu, lo mau?" tanya chacha.
"Iya cha."
"Lo ngel?" tanya chacha.
"Gue ikut sama lo."
Angel tidak ingin berada disitu, apalagi ada leo disana! ia tidak mau terulang lagi seperti di perpustakaan sebelumnya, dan itu membuatnya sangat malu melihat tingkah gila zea kepada kakak sepupunya tersebut.
Angel dan chacha berjalan ke stand bude ayu.
"Kak leo kok diam aja?" tanya zea.
"Tuh le, ditanyain kok diam aja." nimbrung sony.
"Gua denger! nggak budek." leo memasang wajah datarnya.
"Kak leo suka somay ya?" tanya zea sambil menumpu kan tangannya kedagu.
"Iya! leo suka somay sama batagor." timbal digo.
Zea tersenyum dan mengeluarkan ponselnya, lalu ia membuka aplikasi notes.
"Ohh okay, gue catat dulu!" ujar zea sambil mengetik diponselnya.
"Terus apa lagi yang kak leo suka? makanan, film, hobi, atau musik?" tanya zea dengan rasa penasaran.
"Bayar dulu dong! setidaknya, gua dibayar sama gorengan atau nggak somay, somay juga enak!"
"Gue kan cuman mau tau tentang kak leo aja." sarkas zea.
Digo tertawa cekikikan diikuti oleh sony disampingnya.
"Okay! gua aja yang kasih tau." ujar sony.
"Leo suka sama film action dan petualangan, dia juga suka main game dan olahraga basket!" jelas sony.
"Okay! jadi kak leo suka film action, game, dan basket! terus apa lagi?"
"Leo juga suk-
"Stop! nggak usah dilanjutin." ujar leo, ia menatap tajam ke arah sony.
Sony melirik leo yang terlihat menatapnya dengan nyalang. Mati! bisa dicabik-cabik dirinya oleh singa jantan di sampingnya. Pikir sony dengan rasa takut, lalu ia mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah dan minta maaf.
"Okay, sorry! gua nggak bakal cerita lagi." kata sony.
Leo beranjak dari duduknya tanpa menanggapi ucapan sony.
"Gua duluan." pamit leo.
Zea dangan cepat langsung mencegat pergelangan tangan leo.
"Kak leo jangan pergi dulu! zea kan masih mau duduk bareng kak leo." ujar zea.
Leo menarik nafas dalam-dalan sembari menutup kedua matanya, lalu menghembuskannya perlahan-lahan dengan sabar, terlihat jelas di wajahnya ekspresi kesal yang melanda, meskipun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Sebenarnya mau lo apa sih?" tanya leo tegas namun terlihat kesal.
"Gue ingin kak leo jadi milik gue!"
"Setres." ujar leo.
"~Kuingin kau jadi milikku, temani diriku seumur hidupku, dan kuberjanji tak akan sakiti kau yang kucinta sepenuh hati biarkan semua manusia jadi saksi nyata, bahwa memilikimu adalah anugerah terindah untuk diriku~"
Tiba-tiba zea menyanyi dengan ekspresi penuh perasaan, tidak lupa dengan gaya dan gerakan yang centil kepada leo, suaranya juga terdengar lembut dan merdu.
"Suara lo gokil banget." ujar digo dengan mantap.
"Keren! lo cocok jadi pacarnya leo! sama-sama pintar nyanyi." timbal sony.
"Jangan asal bicara." sarkas leo.
Leo berbalik badan dan akan pergi dari sana, namun zea kembali mencegatnya.
"JANGAN PERGI DULU KAK! ZEA KAN MASIH MAU NGOBROL SAMA KAK LEO." Teriak zea dengan sedikit kesal.
"Gua sibuk! nggak usah ganggu gua terus." sarkas leo dengan nada tegas, menunjukkan rasa kesal yang semakin memuncak.
Leo berjalan pergi meninggalkan zea, diikuti oleh dani tanpa menoleh kebelakang, dia berjalan dengan cepat.
"Sabar ze, leo emang berhati batu." ujar digo.
"Tutor dong kak, cara ngancurin hati batunya gimana?" tanya zea.
"Kita juga nggak tau, tuh anak susah banget ditebak." timbal sony.
"Lo harus berusaha terus." ucap digo.
"Jiayou...." sarkas sony.
"Jiayou apaan?" tanya zea.
"Dalam bahasa china, artinya semangat!" jawab sony.
"Oh....iya koko."
"Huahahaha....baru kali ini gua dengar lo dipanggil koko, ternyata ada yang sadar juga." ucap digo dengan tertawa mengejek.
"Kok koko?" tanya sony.
"Kak sony chindo kan?" tanya zea.
"Iya, tapi nggak usah panggil koko segala." jawab sony malu.
"Iya kak."
"Kita cabut dulu ze." pamit sony.
Kedua cowok itu pergi menyusul leo dan dani yang sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.
Chacha dan angel berjalan mendekati zea sembil membawa mangkok bakso dan piring nasi goreng.
"Kenapa lagi?" tanya chacha.
"Kak leo nyebelin." ucap zea dengan nada kesal.
"Kan udah di bilangin dari kemarin, kalo dia itu kulkas! tapi lo masih aja ngebet buat deketin dia." kata chacha.
"Apa gue pelet aja ya? temenin gue cari dukun yuk, tapi dukun syar'i!"
"Gila lo, istighfar ze! ngucap! ASTAGFIRULLAHAL'ADZIM!!" ucap angel sambil mengelus punggung belakang zea dengan lembut.
"Angel, gue tadi kan bilang, cari dukun nya yang syar'i biar nggak dosa!"
"Sama aja zea! yang namanya pelet per-peletan itu hukumnya dosa! dan itu bukan cinta murni."
"Terus gue harus gimana dong?" tanya zea prustasi.
"Kita makan dulu, biar otak lo encer lagi." timbal chacha.
"Tapi janji ya, nanti bantuin gue dekat sama kak leo."
"Mau lo minta bantu jadi istri nya sekalipun bakal kita bantu! tapi makan dulu, gue udah laper banget!" perintah angel.
"Okay!"
"Sini! duduk disini aja." ajak chacha, ia berjalan lebih dulu ke meja leo dan teman-temannya tadi.
"Makasih ya, gue beruntung banget punya lo berdua."
"Iya, nanti kita bahas soal itu lagi." ujar chacha.
Bersambung