17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toko Kaset Melodi
Bandung, Minggu Siang.
Lian memarkir motornya di depan toko kaset legendaris di Jalan Dago: "Melody Records".
Biasanya, tempat ini adalah surga bagi anak-anak muda galau. Tempat di mana mereka mencari kaset Dewa 19, Radiohead, atau Slank untuk menyuarakan pemberontakan masa remaja. Tempat di mana poster-poster musisi berambut gondrong dengan tatapan sendu ditempel sembarangan di kaca etalase.
Tapi hari ini, toko itu berbeda.
Poster Kurt Cobain yang biasanya menghiasi pintu masuk—dengan tatapan nihilistic-nya—sudah tidak ada. Digantikan oleh poster boyband luar negeri yang tersenyum lebar dengan gigi putih menyilaukan. Poster Britney Spears yang penuh warna-warni pastel.
Bahkan logo toko yang dulunya tulisan sambung sederhana, kini dicat ulang dengan warna neon yang menyakiti mata.
Lian masuk.
Ting-nong!
Udara AC yang sangat dingin menyambutnya. Aroma ruangan ini... aneh. Wangi jeruk sintetis yang terlalu kuat, seperti wangi pembersih lantai rumah sakit yang berusaha menutupi bau obat.
Musik yang diputar di speaker toko bukan lagu rock atau balada sendu. Melainkan instrumental upbeat—jenis musik lift atau musik latar supermarket yang dirancang supaya orang berbelanja tanpa berpikir.
"Selamat datang di Melody! Ada yang bisa kami bantu bikin hari Kakak cerah?"
Seorang pegawai berseragam rapi dengan dasi kupu-kupu menyapa Lian. Senyumnya dikunci mati di wajah.
Lian bergidik ngeri. "Gue cuma mau liat-liat."
"Silakan! Bagian pop ceria ada di kiri, motivasi ada di kanan. Jangan lupa senyum!"
Lian mengangguk kaku, lalu cepat-cepat kabur ke lorong rak kaset di belakang.
Tangannya menelusuri deretan kaset. Dia mencari "obat penawar" untuk kewarasan jiwanya.
Huruf N.
New Kids on The Block.
Naif (Versi Ceria).
Nicky Astria (Album Religi).
Mana Nirvana?
Mana album Nevermind? Mana lagu Smells Like Teen Spirit yang penuh amarah itu?
Lian mengobrak-abrik rak itu. Kosong.
Band itu tidak ada.
Seolah sejarah musik grunge yang depresif dihapus dari muka bumi ini. Di dunia yang sempurna, tidak ada tempat untuk lirik tentang kebencian pada diri sendiri.
"Mencari sesuatu yang hilang, Mas?"
Lian menoleh kaget.
Di ujung lorong, berdiri seorang cowok sebayanya. Mengenakan kemeja polo berkerah yang dimasukkan rapi ke celana chino krem. Rambutnya dipotong cepak tentara.
Lian butuh waktu tiga detik untuk mengenalinya.
"Riko?"
Cowok itu tertawa renyah. "Halo, Bapak Ketua OSIS. Tumben main ke sini. Nyari kaset pidato Bung Karno lagi?"
Itu Riko.
Tapi Riko yang ini tidak membawa kamera analog Nikon kesayangannya yang dekil. Riko yang ini tangannya bersih, tidak ada noda tinta cuci foto.
Riko yang ini berdiri tegak, bukan membungkuk santai.
"Rik... kamera lo mana?" tanya Lian to the point.
Di timeline asli, kamera adalah nyawa Riko. Dia tidak pernah melangkah keluar rumah tanpa benda itu.
Riko menyentuh dadanya, seolah bingung. "Kamera? Oh, benda berat itu. Udah gue jual minggu lalu, Yan."
"Dijual?" Mata Lian membelalak. "Lo gila? Itu kamera peninggalan bokap lo! Lo bilang cita-cita lo jadi fotografer jurnalistik!"
Riko mengibaskan tangan, seolah mengusir lalat.
"Ah, itu kan cita-cita anak kecil, Yan. Fotografi itu... terlalu jujur. Terlalu banyak nangkep hal jelek. Potret kemiskinan lah, orang nangis lah, demo lah. Bikin sedih."
Riko tersenyum lebar. Senyum yang tidak mencapai matanya.
"Gue sekarang fokus mau masuk STAN. Jadi pegawai pajak. Stabil. Aman. Bikin orang tua bangga. Hidup itu harus positif, Yan."
Positif.
Kata itu terdengar seperti vonis hukuman mati di telinga Lian.
Riko si seniman pemberontak sudah mati. Digantikan oleh Riko si robot birokrat.
Sistem telah "memperbaiki" Riko. Menghapus passion-nya yang berantakan, menggantinya dengan ambisi yang steril.
"Lo bohong," desis Lian. Dia maju selangkah, mencengkeram kerah polo Riko.
Pegawai toko di kasur menoleh, tapi tetap tersenyum. Seolah konflik ini tidak terlihat.
"Rik, sadar! Kemarin lo dikejar-kejar di sekolah! Lo jadi zombie! Leher lo patah di lorong lab bahasa!" bisik Lian, mencoba memecahkan cangkang kepalsuan ini.
Wajah Riko tetap tenang. Senyumnya tidak luntur sedikitpun.
"Yan, kamu ngomong apa sih? Kemarin kan kita makan tumpeng bareng. Enak loh ayam bakarnya."
"Lian!" panggil Lian frustrasi. "Nama gue Lian! Bukan 'Yan' kayak bapak-bapak!"
Riko menepis tangan Lian dengan gerakan halus tapi kuat. Sangat kuat.
"Jangan kasar, Yan. Nanti energinya jadi negatif. Di sini kita semua bahagia."
Riko mengambil sebuah kaset dari rak di sebelahnya. Sampulnya bergambar pemandangan langit biru dengan tulisan: TERAPI GELOMBANG OTAK: ALPHA.
"Mending lo dengerin ini," Riko menyodorkan kaset itu. "Gue dengerin ini tiap malem. Bikin tidur nyenyak. Nggak ada mimpi buruk. Nggak ada pikiran aneh soal rooftop atau bunuh diri."
Deg.
Lian mundur selangkah.
Riko baru saja mengucapkan kata-kata terlarang itu dengan nada datar yang mengerikan.
Riko tahu.
"Lo..." Lian menunjuk wajah sahabatnya yang asing itu.
"Hust," Riko menempelkan telunjuk di bibir. "Udah, didengerin aja. Biar lupa."
Mata Riko berkedip satu kali. Kelopak matanya tertutup sedikit lebih lama dari kedipan normal. Sekitar 2 detik.
Seperti shutter kamera yang rusak.
Dan saat matanya terbuka lagi, pupil matanya sempat membesar hitam pekat, lalu kembali normal.
Lian berbalik badan. Dia harus keluar dari sini.
Tempat ini beracun. Oksigen di sini terasa tipis.
"Tunggu, Yan!"
Lian tidak menoleh. Dia berjalan cepat ke meja kasur.
"Saya mau beli Walkman," kata Lian pada penjaga toko, suaranya terburu-buru. "Yang paling murah. Yang ada jack-nya. Cepet."
"Oh, tentu! Kami punya model terbaru warna Pink dan Kuning!"
"Hitam. Ada warna hitam?"
"Waduh, warna hitam nggak ada, Kak. Kan warna gelap bikin aura mendung. Adanya Silver cerah."
"Terserah! Sini!"
Lian melempar uang lima puluh ribuan ke meja kasur. Dia menyambar Walkman perak baru itu (yang masih terbungkus plastik blister pack).
Ini bukan Walkman vintage miliknya yang dulu. Ini barang massal. Barang murah.
Tapi selama head-nya bisa membaca pita magnetik, itu cukup.
Lian berlari keluar toko.
Udara Bandung di luar terasa panas, tapi bagi Lian, rasanya dingin mencekam.
Dia melihat ke dalam toko lewat kaca etalase.
Riko masih berdiri di lorong kaset itu.
Riko tidak melihat ke arah pintu. Dia menghadap ke tembok kosong di belakang rak. Diam mematung.
Seperti karakter video game yang sedang loading atau kehilangan skrip.
Lian menyalakan motornya dengan tangan gemetar.
Rencana malam ini sudah bulat.
Dia akan ke rumah Kara.
Dia akan mengambil "Liontin" itu.
Dan dia akan memutar paksa memori busuk itu di telinga Kara.
Dia akan menghancurkan kebahagiaan palsu Kara.
Karena Lian sadar satu hal sekarang:
Kebahagiaan tanpa ingatan akan rasa sakit... itu bukan bahagia. Itu lobotomi.
"Maafin gue, Rik," bisik Lian saat motornya melaju menjauhi toko kaset itu. "Gue janji bakal balikin kamera lo suatu hari nanti."
Di saku celananya, Walkman baru itu berbenturan dengan kunci motor.
Persiapannya sudah 50%.
Alat pemutar: Ada.
Kaset (Isi): Ada di leher Kara.
Sekarang tinggal masalah eksekusi: Bagaimana cara mendekati Kara versi "Pacar Sempurna" dan membuatnya mendengarkan suara setan dari masa lalu tanpa dicurigai "Sistem"?
Saat Lian berbelok di lampu merah, dia melihat sebuah papan reklame besar bergambar dirinya dan Kara sedang berpelukan di depan bendera merah putih.
Tulisan di reklame itu: GENERASI BAHAGIA, MASA DEPAN CERAH.
Lian meludahi aspal.
"Persetan sama masa depan cerah."