NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

“Sayang sekali, Ki Martanu,” ujar ketua penghadang dengan suara dingin. “Kami tak akan pergi sebelum mendapatkan istrimu… dan bayimu.”

“Kurang ajar!” geram Ki Martanu. Urat di pelipisnya menegang.

Tanpa menunggu lebih lama, ia mengangkat tangan memberi aba-aba.

“Serang…!!”

Empat pengawal itu langsung menerjang dua penghadang di sisi kiri dan kanan. Pedang beradu dalam kilatan cahaya bulan. Denting baja memecah malam, memercikkan bunga api di udara gelap.

Sementara itu, Ki Martanu berdiri tegap menghadapi sang ketua.

Ia mengatur kuda-kuda silatnya dengan tenang namun penuh kesiapan. Kakinya bergeser perlahan ke samping, renggang dan kokoh. Tanah di bawahnya seperti ikut menahan tenaga yang mengendap di tubuhnya. Tangan kanannya telah menggenggam sebilah pedang pusaka, bilahnya berkilau redup diterpa cahaya rembulan.

Angin berputar kecil di sekitar mereka.

“Siapa sebenarnya kau, kisanak?” tanya Ki Martanu, suaranya berat namun terkendali. “Apakah kau yang menggunakan Aji Gelap Ngampar itu?”

Lelaki berjubah hitam itu terkekeh pelan.

“Hehe… akhirnya kau bertanya juga.”

Ia membuka tudungnya sepenuhnya. Wajahnya keras, rahangnya tajam, kumisnya tebal melintang. Sorot matanya liar namun penuh keyakinan.

“Benar. Akulah yang menggetarkan dadamu tadi, Ki Tumenggung. Seharusnya kau sudah sadar dan mengikuti kemauanku sejak awal.”

Aura hitam perlahan menyelimuti tubuhnya. Tanah di sekitarnya menghitam seperti terbakar bayangan.

“Ilmumu tak akan mampu menandingiku,” lanjutnya dingin. “Namaku Warok Gondosupit.”

Nama itu seakan menggema di antara pepohonan.

Beberapa pengawal yang masih bertarung sempat tertegun mendengarnya.

“Menyerahlah, Ki Tumenggung,” ancam Warok Gondosupit. “Serahkan istrimu… dan kau akan terbebas dari maut.”

Ki Martanu tersenyum tipis.

Senyum yang bukan lahir dari rasa gentar—melainkan dari keyakinan seorang ksatria.

“Warok atau bukan…,” ucapnya perlahan. “Tak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang bisa memaksaku menyerahkan darah dagingku.”

Pedangnya terangkat sejajar dada.

“Jika maut harus datang malam ini… biarlah ia datang setelah aku menghunuskan pedangku ke lehermu!”

Mata mereka saling mengunci.

Sepersekian detik kemudian—

Angin berhenti.

“Sringgg—!”

Sebuah golok besar berwarna perak meluncur keluar dari sarungnya. Bilahnya lebar dan berat, memantulkan cahaya bulan dengan kilau dingin. Dalam sekejap, senjata itu telah tergenggam kokoh di tangan Warok Gondosupit.

“Aku sudah memperingatkanmu, Ki Tumenggung,” desisnya. “Jangan menyesal!”

“Heiyaaahhh—!”

Tubuhnya melesat maju. Golok perak itu menyilang ke atas dalam tebasan ganas, membelah angin dengan suara siulan tajam.

Ki Martanu tak bergeming. Dengan sigap ia mengangkat pedangnya, mengerahkan tenaga dalam ke kedua lengannya.

“Trangggg—!!”

Golok dan pedang beradu keras.

Dentangannya memekakkan telinga. Gelombang tenaga dari benturan itu memancar liar, menggoyangkan ranting dan semak belukar di sekitar mereka. Debu berhamburan. Tanah bergetar.

Itu bukan sekadar adu senjata—itu benturan dua tenaga dalam yang sama-sama matang.

Ki Martanu terdorong setengah langkah ke belakang. Tatapannya mengeras. Ia tak menyangka Warok Gondosupit memiliki tenaga sebesar ini.

Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Ki Martanu telah mendengar desas-desus yang beredar di wilayahnya.

Konon, bayi yang dikandung istrinya akan menjadi rebutan para jago silat. Entah dari aliran putih yang mengaku menegakkan kebenaran… atau dari aliran hitam yang haus kekuatan.

Namun kabar itu menyebutkan bahwa perebutan akan terjadi setelah sang bayi lahir.

Ternyata ia keliru.

Bahkan sebelum jabang bayi itu melihat dunia, sudah ada tangan-tangan licik yang ingin merebutnya.

Warok Gondosupit hanyalah pelaksana.

Di balik semua ini, ada sosok lain yang lebih berbahaya.

Seorang pertapa aliran hitam yang terkenal akan kelicikan dan tipu dayanya.

Namanya… Ki Respada.

Dialah yang mengincar bayi malam satu Suro itu.

Dialah yang ingin mendahului para tokoh silat lainnya.

Dan jika Ki Martanu tak mampu menghentikan Warok Gondosupit malam ini…

Maka tak hanya keluarganya yang terancam.

Seluruh tanah Karangwilis bisa saja terseret dalam pusaran kekacauan.

Ki Martanu sadar, ia tak bisa berlama-lama.

Di dalam pedati, istrinya tengah berjuang antara hidup dan mati. Setiap detik yang terbuang bisa menjadi penyesalan seumur hidup.

Maka tanpa ragu, ia mengerahkan tenaga dalamnya hingga ke tingkat tertinggi.

Urat-urat di lengannya menegang. Nafasnya berubah dalam dan berat. Aura tipis berpendar di sekeliling tubuhnya, membuat dedaunan di tanah bergetar pelan seolah terseret arus tak kasatmata.

Sesaat setelah benturan dahsyat itu, Ki Martanu memutar tubuhnya secepat kilat.

Gerakannya nyaris tak tertangkap mata.

Pedangnya menyambar dalam lintasan melengkung, langsung mengarah ke leher Warok Gondosupit.

Sebuah tebasan bersih.

Cepat. Tajam. Tanpa ampun.

Warok Gondosupit terkejut. Ia tak menyangka Ki Martanu mampu meningkatkan tenaga dan kecepatan sedemikian rupa dalam waktu sesingkat itu.

Namun warok itu bukan petarung sembarangan.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang telah diasah bertahun-tahun, ia menghentakkan ujung kakinya ke tanah dan melesat mundur dalam satu gerakan ringan.

Tebasan pedang Ki Martanu hanya lewat segaris tipis dari lehernya.

Begitu tipis… hingga helaian rambut di tengkuk Warok terpotong dan melayang jatuh.

Warok terperangah.

Untuk pertama kalinya sejak duel dimulai, matanya membesar oleh keterkejutan.

Sedikit saja ia terlambat.

Seujung kuku saja.

Maka lehernya sudah tertebas dan kepalanya telah menggelinding di tanah hutan Tambak Baya.

Angin malam kembali berdesir.

Kini bukan hanya Ki Martanu yang memancarkan aura membunuh.

Warok Gondosupit pun mulai menyadari—

Ia tidak sedang menghadapi senopati biasa.

Ia sedang berhadapan dengan seorang pendekar sejati yang bertarung demi darah dagingnya.

Dan pertarungan ini… tak akan berakhir dengan mudah.

Warok Gondosupit tak tinggal diam.

Melihat serangan Ki Martanu yang nyaris merenggut nyawanya, ia pun meningkatkan kecepatan serta tenaga dalamnya. Otot-ototnya menegang, napasnya memburu, dan aura kelam di sekeliling tubuhnya semakin pekat.

Begitu menghindar, ia langsung melesat ke depan.

Tubuhnya seperti bayangan hitam yang diterjang angin malam.

Golok peraknya berdesing lurus ke arah dada Ki Martanu—sebuah tusukan cepat yang mematikan.

Ki Martanu sigap. Pedangnya terangkat dalam gerakan pendek namun presisi.

“Trang!”

Serangan itu tertangkis. Arah golok berbelok dan hanya membelah angin kosong.

Tak memberi kesempatan, keduanya langsung terlibat dalam jual beli serangan yang sengit.

Pedang Ki Martanu menari cepat, menyambar dari kanan, kiri, atas, dan bawah. Gerakannya sistematis, rapat, dan menekan. Ia bagai seekor elang yang mengepakkan sayapnya tinggi, lalu menyambar mangsa dengan cakar mematikan.

Namun Warok Gondosupit bukan kelinci yang mudah dicengkeram.

Ia adalah macan rimba.

Dengan kelincahan luar biasa, ia meloncat, berputar, dan menghindar dalam gerakan-gerakan pendek yang efisien. Setiap elakan dilakukan pada jarak yang nyaris tak masuk akal—selalu segaris dari maut.

Goloknya sesekali membalas dengan tebasan brutal, memaksa Ki Martanu menjaga jarak.

Di sisi lain, pertarungan empat pengawal melawan dua penghadang tak kalah sengit.

Meski jumlah mereka lebih banyak, para pengawal tidak sepenuhnya unggul. Dua penghadang itu rupanya bukan petarung biasa. Golok mereka menyambar ke segala penjuru dengan kecepatan mengerikan.

Kilatan bilah perak mereka bagai maut yang menari dalam gelap.

“Ahhh—!”

Sebuah rintihan perih memecah udara.

Salah satu pengawal terhuyung mundur. Lengannya tergores golok lawan. Sayatan itu tidak dalam, namun cukup membuat darah mengalir deras membasahi lengan bajunya.

Bau darah mulai tercium di udara malam.

Dan bau itu… membuat pertarungan semakin buas.

Ki Martanu melirik sekilas ke arah pengawalnya yang terluka.

Hatinya makin membara.

Ia tak bisa membiarkan ini berlarut-larut.

Karena semakin lama pertarungan berlangsung…

Semakin besar kemungkinan Nyai Raras di dalam pedati berada dalam bahaya.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!