Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 : Perburuan
Pagi itu, udara di belakang istana terasa begitu tajam, seolah-olah pepohonan di sana tahu bahwa tanah mereka akan segera meminum darah. Permaisuri duduk di tenda kebesaran, matanya yang dingin mengawasi Wan Long yang sedang asyik mematahkan ranting kayu dan Bai Hua yang duduk di kursi roda peraknya.
"Ujian berburu ini sederhana," suara Permaisuri bergema. "Siapa yang membawa telinga serigala paling banyak sebelum matahari terbenam, dia yang menang. Dan karena Wan Long sedikit istimewa , maka Bai Hua, kau harus mendampinginya. Jika suamimu gagal, kau yang akan menerima hukumannya."
Wan Jin berdiri di samping ibunya, memberikan senyum meremehkan. Ia sudah mengatur agar para pemburu bayaran terbaik bersembunyi di rimbunnya hutan, dengan perintah satu ; Pastikan mereka tidak kembali.
Begitu mereka memasuki batas hutan yang tidak terjangkau mata publik, Wan Long berhenti melompat. Ia berbalik, menatap Bai Hua dengan pandangan yang penuh kebencian yang tertahan.
"Dua belas serigala? Permaisuri tidak ingin kita berburu hewan, Mei Lin. Dia mengirim kita ke tempat pembantaian," desis Wan Long. Ia mencengkeram bahu Bai Hua, menekannya hingga gadis itu meringis. "Dengar, aku tidak peduli jika kau mati di sini, tapi jangan sampai kau menghambat gerakanku."
Bai Hua menepis tangan Wan Long dengan kasar. "Jangan mengaturku, Jenderal Gadungan. Kau pikir aku butuh perlindunganmu? Urus saja nyawamu sendiri yang hanya tinggal sehelai rambut itu."
Bai Hua menyentak roda kursinya, bergerak maju mendahului Wan Long. Namun, ia berhenti saat merasakan getaran di tanah. "Sepuluh meter di depan, arah jam dua. Ada bau besi tua dan keringat manusia."
"Aku tahu!" sahut Wan Long ketas. Ia mengeluarkan busur mini dari balik lengannya. "Tetap di belakangku atau kau akan tertusuk panah nyasar."
"Coba saja kalau berani," tantang Bai Hua.
Tiba-tiba, lima anak panah melesat dari balik semak-semak. Wan Long melompat, melakukan salto di udara sambil melepaskan dua jarum besi yang menjatuhkan dua penembak jitu dari atas pohon. Namun, dua anak panah lainnya mengarah tepat ke kepala Bai Hua.
Sret! Sret!
Bai Hua tidak menghindar. Ia menekan tombol di sandaran tangan kursi rodanya. Sebuah pelat perak tipis mencuat dari sisi kursi, memantulkan anak panah itu hingga tertancap di batang pohon. Tak berhenti di situ, Bai Hua memutar roda kursinya 180 derajat, dan dari bagian belakang kursi roda, meluncur tiga jarum beracun yang langsung mengenai dada penyerang yang mencoba mendekat.
Wan Long mendarat di sampingnya, nafasnya memburu. Ia menatap kursi roda Bai Hua dengan kesal. "Kau memasang jebakan lebih banyak lagi di benda itu?"
"Tentu saja. Aku tidak sebodoh dirimu.," balas Bai Hua sinis.
Pertempuran menjadi semakin intens. Mereka terus bergerak masuk ke dalam hutan, saling memunggungi namun tetap saling melempar kata-kata tajam. Setiap kali Wan Long menyelamatkan Bai Hua dari tebasan pedang, ia akan mengejek kelemahan fisik gadis itu. Sebaliknya, setiap kali Bai Hua menjatuhkan lawan yang luput dari pandangan Wan Long, ia akan menghina insting sang Jenderal yang mulai tumpul.
"Kau melambat, Wang Yu! Apa udara kuno ini membuat paru-parumu berkarat?" ejek Bai Hua saat Wan Long nyaris terkena sabetan di lengan.
"Tutup mulutmu! Setidaknya aku punya kaki untuk berlari, tidak seperti kau yang hanya bisa berputar-putar di kursi mahalmu!" balas Wan Long pedas.
Saat seorang pembunuh mencoba menusuk punggung Wan Long dengan tombak, Bai Hua justru hanya diam menonton selama satu detik sebelum akhirnya melepaskan jarum pelumpuhnya.
"Kau sengaja membiarkannya hampir menusukku, ya?!" teriak Wan Long setelah menjatuhkan lawan terakhirnya. Ia menoleh ke arah Bai Hua dengan mata merah penuh amarah.
"Aku hanya ingin melihat seberapa hebat Jenderal kebanggaan negara kita saat terdesak," sahut Bai Hua dingin sambil mengusap noda darah yang menciprat ke pipinya. "Ternyata kau hampir saja mati jika aku tidak kasihan padamu."
"Aku tidak butuh belas kasihanmu!" Wan Long berjalan mendekat, ia menarik kerah baju Bai Hua hingga gadis itu terangkat sedikit dari kursi rodanya. "Sekali lagi kau bermain-main dengan nyawaku demi egomu, aku akan melemparmu ke jurang di ujung hutan ini!"
"Lakukan saja! Setidaknya aku akan mati tanpa harus melihat wajah menyebalkanmu setiap hari!" balas Bai Hua, ia meludahi tanah di depan sepatu Wan Long.
Namun, di tengah perdebatan itu, sebuah terompet kebesaran berbunyi dari arah gerbang istana. Suaranya begitu berat dan berwibawa, membuat semua orang di hutan itu, termasuk para pembunuh, berhenti bergerak.
"Kaisar..." gumam Wan Long, matanya menyipit. "Dia kembali lebih cepat. Ini tidak ada dalam skenario."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa