"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima belas
"Cukup!" potong seseorang dari arah pintu.
Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah pintu, begitupun dengan Rey dan Giani. Mereka dapat melihat Meira dan Anita berdiri di sana.
"Kamu gak usah nuduh orang sembarangan." Meira memperingati.
Rey mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang baru saja di katakan oleh Meira.
"Aku yang ngambil gelang itu."
Seisi kelas kompak menunjukkan keterkejutan setelah mendengar perkataan Meira. Apalagi Ayara, Hesty dan Lana. Mereka sampai membelalakkan mata karena terkejut.
"Mei, lo becanda, kan?" kata Ayara masih dalam keterkejutannya.
Meira menggeleng pelan. "Enggak, Ra." ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Aku mau minta maaf sama kalian semua..."
"Akhirnya lo ngaku juga. Dasar maling!" Risa kembali bersuara sambil berdecih keras.
"Sialan! Ternyata benaran dia malingnya." ucap Aldo, salah satu siswa yang tadi kursinya sempat Rey pakai.
"Gak nyangka, ya. Padahal kelihatannya kalem." sahut temannya.
"Bener kata pepatah, kita gak bisa nilai suatu buku dari cover-nya." timpal satu orang cewek di depannya.
"Gue tau lo pasti bohong, Mei. Lo nyembunyiin sesuatu, kan?" Ayara tetap tidak percaya.
Meira tersenyum, kemudian menyusul langkah Anita ke bangkunya yang berada di belakang Risa. Ia meletakkan kartu ATM miliknya di meja cewek berambut sebahu itu. "Aku mau ganti gelang itu. Uangnya ada disini, pin nya udah aku kirim ke Line kamu. Maaf gak bisa balikin gelangnya langsung, soalnya udah aku jual pulang sekolah kemarin."
"Meira! Becanda lo gak lucu! Lo kemarin bareng gue pas balik, gak ada kemana-mana dulu, apalagi pergi buat jual gelang yang lo bilang!" Lagi-lagi Ayara menampik ucapan Meira. Ayara merebut kartu ATM Meira dengan kasar. Perlakuan Ayara membuat Meira menatap cewek itu tajam.
"Apa sih, Ra? Balikin kartunya." Meira berusaha mengambil kembali kartu miliknya yang langsung Ayara sembunyikan di belakang punggungnya.
Ayara kesal setengah mati saat ini. Meira bisa-bisanya membuat suasana menjadi runyam seperti ini. "Stop, Mei. Gue gak mau lo kayak gini!"
"Dan, lo." kini Ayara menunjuk Rey yang hanya diam di tempatnya. "Kalau kemarin lo gak ngelempar bola ke dia, sekarang dia mungkin gak pernah terlibat masalah kayak gini. Ini semua salah, lo!" tuduhnya.
"Ra, kamu ini apa-apaan. Ini semua gak ada hubungannya sama Rey." Meira berusaha menenangkan Ayara yang sudah tak bisa mengendalikan amarahnya.
Meira buru-buru memberikan kartu ATM-nya pada Anita setelah berhasil merebutnya dari Ayara yang sempat lengah. "Ini kartunya." katanya cepat. Anita melihat ATM di tangannya dan Meira bergantian, lalu memasukkan kartu pipih itu ke dalam saku bajunya dengan acuh.
"Kalau benar lo yang ngambil gelang itu, harusnya lo pasti tau bentuk atau sekedar motif dari gelang yang udah lo ambil, kan?"
Meira membalikkan badannya. Matanya kini terkunci pada Rey yang berdiri tak jauh darinya. Drama yang tersaji di hadapan kelas XI IPA 1 terasa semakin mencekik.
Rey melangkah perlahan, mendekati Meira dengan tatapan mengintimidasi, seolah ingin menguliti setiap lapisan kebohongan yang baru saja Meira lontarkan. "Jawab, Mei." desak Rey lagi.
Meira terdiam. Bibirnya sedikit bergetar, namun ia berusaha mempertahankan ekspresi datarnya. Ia melirik Anita yang tampak tidak peduli, lalu beralih ke arah Giani yang masih mematung dengan wajah pucat di bangkunya.
"Gelang emas dengan bandul bulan dan hati." ucap Meira tenang. Ia mengulang ciri-ciri dari gelang itu yang sempat disebutkan Anita saat di ruangan Kepala Sekolah tadi.
Pengakuan itu membuat suasana di kelas semakin ramai. Bisikan-bisikan dari beberapa siswa mulai terdengar.
"Gue gak ikutan, deh." celetuk Lana.
Hal itu membuat Hesty refleks menyikut lengan cewek itu. "Lan!"
"Apa? Gue gak mau ikut-ikutan masalah ginian. Dia udah ngaku, Hes. Kalau lo masih belain dia, yang ada lo ikutan kena imbasnya. Lo mau dihukum?" kata Lana. Perbincangan mereka berdua jelas terdengar oleh yang lain karena suara Lana yang memang keras.
Ayara yang mendengar kata 'hukum' dari mulut Lana langsung tersadar. Tak sengaja matanya beralih pada amplop cokelat di tangan kiri Meira, kemudian mengambilnya kasar. Ayara menatap Meira sekilas. Dengan gerakan cepat, ia membuka isi dari amplop tersebut.
Ayara membaca satu persatu dari dua lembar kertas di dalam amplop. Ekspresinya seketika berubah kaget sekaligus tak percaya dengan isi kertas itu.
"Gue gak habis pikir sama lo, Mei!" ucap Ayara dingin sambil menempelkan amplop beserta isinya tepat di dada Meira, yang akhirnya terjatuh ke lantai. Setelahnya, Ayara menyambar tas nya, kemudian keluar dari kelas sebelum ia benar-benar habis kesabaran.
Sementara itu, Rey meraih dua lembar kertas yang jatuh berserakan di atas lantai. Rey membaca dalam diam tulisan di kertas itu. Matanya terbelalak dan mulai menggelengkan kepala seraya menatap Meira. "Gue gak percaya lo rela di skors dan ngorbanin nilai lo kosong satu semester cuma buat belain orang yang bahkan tega ngebuat lo kayak gini."
Meira menghela napas berat melihat sikap Rey. "Harusnya kamu seneng, Rey. Usaha kamu buat ngalahin nilaiku udah berhasil. Sekarang kamu bisa lebih bebas dapat nilai sempurna tanpa perlu susah payah ngalahin aku." ujar Meira.
"Lo udah gila!" Rey memberikan isi amplop itu kembali pada Meira.
Drama di ruang kelas XI IPA 1 seolah mencapai titik didih. Keheningan yang mencekam menyelimuti setiap sudut ruangan setelah ucapan Meira yang menyerang ambisi Rey. Meira menerima kembali kertas-kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, namun dagunya tetap terangkat tinggi.
"Mungkin aku emang gila di mata kamu." bisik Meira, cukup keras untuk didengar oleh teman-temannya yang masih mematung. "Tapi ada hal-hal yang jauh lebih berharga daripada sekadar angka di atas kertas transkrip nilai."
"Tapi cara lo salah, Meira!" suara Rey meninggi. "Lo pikir dengan ngorbanin diri kayak gini, semuanya bakal beres? Lo nggak cuma ngebahayain masa depan lo di sekolah ini, tapi lo juga ngerusak reputasi lo sendiri!" Rey menatap Meira dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara marah, bingung, dan kekecewaan yang mendalam.
Sementara itu, mata Meira sudah berkaca-kaca sedari tadi. Satu bulir air mata keluar dari kelopak matanya ketika ia berkedip. Meira menatap kepergian Rey dengan perasaan campur aduk.
Benar apa yang dikatakan Rey. Seharusnya Meira tidak menyerahkan dirinya begitu saja alih-alih ia mengaku sebagai pelaku. Kalaupun ia ingin membantu Giani, ia bisa menjelaskan semuanya. Memberikan penjelasan pada kepala sekolah bahwa ialah pencuri tidak akan membuat semuanya membaik. Nyatanya, Meira malah menarik dirinya pada masalah baru.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰