"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELINDUNG
Suasana hutan menjadi sangat mencekam, kabut hitam pekat mulai mengepung mereka, tanda bahwa para penyihir vampir murni sedang menutup jalan keluar.
"Sial! Mereka licik," gumam Leo, mengepal kan tangan nya kuat.
Leo tahu suara itu bukan lolongan asli serigala.
"Kita harus pergi! Sekarang!" ucap Leo tegas.
"Aku bilang aku bi-"
Tanpa peringatan dan tanpa permisi, Leo melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.
Sebelum Aurora sempat bereaksi dengan pedangnya, tangan kekar Leo sudah menyusup ke bawah lutut dan punggung gadis itu.
WUUSSHHH
Dalam satu gerakan halus namun bertenaga, Leo mengangkat tubuh Aurora dalam gendongan bridal style.
"HEI! LEPASKAN AKU, SERIGALA KURANG AJAR!"
Teriak Aurora, wajahnya yang pucat seketika memerah karena marah sekaligus terkejut.
"Serigala gila, turunkan aku!" teriak Aurora,
memukul bahu Leo, namun rasanya seperti memukul batang pohon ek yang sangat keras.
"Diam lah, Tuan Putri, simpan tenagamu untuk mengomel nanti," jawab Leo pendek.
SRAKKK
SRAKKK
SRAKKK
Leo tidak membuang waktu, dengan kekuatan otot kakinya yang luar biasa, perpaduan kekuatan fisik Alpha dan kecepatan kilat Vampir, Leo melesat pergi masuk lebih dalam ke dalam hutan.
BUMM
DUARRR
Tanah tempat mereka berdiri tadi retak saat Leo menjejakkan kakinya untuk melompat tinggi, melewati kepala para prajurit musuh yang baru saja muncul dari balik semak.
Aurora terpaksa melingkarkan tangannya di leher Leo agar tidak terjatuh, dia bisa merasakan detak jantung Leo yang tenang namun kuat di balik kemeja hitamnya.
Bau hutan pinus dan salju yang dingin dari tubuh Leo merasuk ke indra penciumannya, entah mengapa, bau itu terasa sangat menenangkan di tengah situasi hidup dan mati ini.
"Kau terlalu cepat..." gumam Aurora tanpa sadar, saat melihat pepohonan di samping mereka hanya tampak seperti garis-garis kabur.
Leo tidak menjawab, dia terus melompati dahan-dahan pohon raksasa, menghindari anak panah yang meluncur di bawah mereka.
Setiap kali musuh mencoba mengunci posisi mereka dengan sihir, Leo bermanuver di udara dengan kelincahan yang mustahil dimiliki oleh vampir biasa ataupun serigala biasa.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Aurora lirih di sela deru angin.
"Kenapa kau datang?" tanya Aurora lagi.
Leo menoleh sedikit ke bawah, menatap wajah Aurora yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Karena ayahmu membayar nyawaku untuk hari ini, Aurora, dan karena, entah kenapa, hatiku terasa sangat sakit melihatmu terikat rantai tadi," jawab Leo, menatap mata dingin Aurora, yang entah mengapa membuat sesuatu dalam dirinya terusik.
Aurora tertegun, memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah yang semakin menjadi.
"Dasar pembual," ucap Aurora, kesal.
Meskipun mulutnya berkata begitu, Aurora perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Leo, membiarkan pria yang baru ditemuinya itu membawanya pergi menembus malam, menjauh dari kejaran maut.
Di balik pepohonan, musuh hanya bisa melihat kilatan cahaya perak yang bergerak secepat kilat, menghilang menuju pegunungan es yang tak terjamah.
Sementara di istana kerajaan Vampir, Arion dan Serena melihat semua nya, bagaimana Leo yang datang, menyelamatkan Aurora.
"Pria itu terlihat luar biasa, Arion," ucap Serena, melihat bayangan Leo yang sedang melesat, dengan menggendong Aurora.
Arion hanya tersenyum miring, melihat bagaimana Leo melindungi putri nya.
"Instingmu tidak pernah meleset, Arion," bisik Serena lembut.
"Putra Lucas Alistair itu, dia tidak hanya memiliki kekuatan, tapi dia memiliki tekad yang melampaui logika makhluk abadi. Lihat cara dia mendekap Aurora, dia melindunginya seolah Aurora adalah jantungnya sendiri," lanjut Serena, tidak mengalihkan pandangan nya dari bayangan Leo dan Aurora.
Arion tidak langsung menjawab, matanya yang tajam tetap terkunci pada bayangan Leo yang kini melompati jurang es yang curam.
"Dia adalah satu-satunya keberhasilan dari sebuah tragedi, Serena," jawab Arion dengan suara baritonnya yang tenang.
"Darahku yang mengalir di nadinya mengenalinya sebagai pemilik, tapi jiwanya, jiwa serigala Alistair itulah yang membuatnya berani melawan maut demi putri kita," lanjut Arion, dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sekarang, biarkan mereka menemukan jalan masing-masing, Aurora tidak akan mudah ditaklukkan hanya dengan perlindungan, dia putri dari garis keturunan Wallece, dia akan menguji Leo sampai batas terakhirnya," ucap Arion menghela napas, sedikit rasa bangga namun juga waspada terlihat di raut wajahnya yang pucat.
Sementara itu di luar sana, suara deru angin musim dingin menerjang tebing-tebing batu.
Leo masih terus berlari, napasnya terlihat sebagai uap putih di udara yang membeku.
Meskipun beban di lengannya adalah seorang gadis dewasa, Leo tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikit pun, otot kakinya yang diperkuat energi Alpha berdenyut dengan ritme yang konstan.
"Turunkan aku," bisik Aurora tiba-tiba, suaranya hampir hilang ditelan angin, namun telinga tajam Leo mendengarnya.
"Belum aman, Putri, mereka masih melacak bau darah dari luka di pergelangan tanganmu," jawab Leo tanpa mengurangi kecepatan.
"Aku bilang turunkan! Aku bisa berjalan sendiri sekarang!" ucap Aurora mulai memberontak kecil, wajahnya memanas bukan karena suhu, tapi karena posisi mereka yang terlalu intim.
Leo mendengus pelan, dia melihat sebuah celah di balik air terjun yang membeku, sebuah gua tersembunyi yang ditutupi oleh kristal-kristal es raksasa.
Dengan satu gerakan tajam, Leo mendarat di depan celah tersebut.
SRAKK
Leo menurunkan Aurora dengan perlahan, memastikan kaki gadis itu menapak dengan stabil di atas lantai gua yang dingin.
Begitu dilepaskan, Aurora segera mengambil jarak, dan merapikan jubahnya yang berantakan, mencoba mengembalikan martabatnya sebagai seorang putri kerajaan yang baru saja digendong paksa.
"Kau! Kau beraninya kau melakukan itu," desis Aurora, matanya berkilat marah meski napasnya masih sedikit tersengal.
"Aku adalah calon penguasa kerajaan ini, bukan barang bawaan yang bisa kau jinjing sesukamu!" ucap Aurora, mendengus, menutupi rasa malunya.
Leo tidak membalas provokasi itu, dia justru sibuk mengamati keadaan di luar gua, memastikan tidak ada pengejar yang mendekat.
Walaupun Leo tidak pernah dekat dengan seorang wanita, tapi mengahadapi adik bungsunya dan juga ibunya saja, sudah membuat Leo paham betul seperti apa sifat para perempuan itu.
Setelah melihat merasa aman, Leo berbalik dan mendekati Aurora.
"Duduklah," perintah Leo singkat.
"Apa?!"
"Duduk, Aurora Zuhaimi," ulang Leo, kali ini dengan nada yang lebih dalam dan mengintimidasi.
"Pergelangan tanganmu membiru karena racun sihir darah tadi, jika tidak dibersihkan sekarang, racun itu akan membusuk ke jantungmu," ucap Leo, menghela nafas sabar, menghadapi Putri keras kepala ini.
Aurora hendak membantah, namun rasa nyeri yang tajam tiba-tiba menusuk pergelangan tangannya, membuatnya sedikit meringis.
Bruk
Tanpa bisa menahan nya lagi, Aurora jatuh terduduk di atas sebuah batu datar di dalam gua.
Leo berlutut di depan Aurora, meraih tangan gadis itu dengan gerakan yang jauh lebih lembut dari cara bertarungnya tadi.