Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 - jejak yang tidak bisa dicuci
Qing Lin terbangun sebelum fajar.
Bukan karena suara ayam, bukan karena mimpi buruk. Ia terbangun karena dadanya terasa berat—bukan sesak, melainkan penuh, seperti ada sesuatu yang mengendap terlalu lama dan belum menemukan tempatnya.
Ia duduk perlahan.
Di dalam gubuk, udara dingin bercampur bau obat kering dan tanah lembap. Bibinya masih tidur, napasnya teratur meski lemah.
Qing Lin menunduk menatap kedua tangannya.
Kulitnya sudah bersih. Darah semalam telah ia cuci berkali-kali di sungai sampai jarinya mati rasa.
Namun sensasi itu masih ada.
Bukan di kulit.
Di dalam.
Ia mengepalkan tangan.
Qi tipis di tubuhnya merespons—lebih lambat dari biasanya, namun juga… lebih berat. Seperti kabut yang mulai bercampur embun merah, tidak terlihat, tapi terasa.
Qing Lin menarik napas.
Siklus itu terbentuk hampir dengan sendirinya sekarang.
Tarik.
Tahan.
Hembuskan.
Qi bergerak mengikuti jalur kasar yang sama. Tidak rapi. Tidak mulus. Namun tidak lagi tercerai seperti sebelumnya.
Dan di setiap putaran—
ada rasa asing yang ikut berputar.
Hangat.
Pekat.
Qing Lin membuka mata.
“Ini bukan qi murni…” gumamnya.
Ia tidak tahu istilahnya. Tapi tubuhnya tahu: apa yang masuk semalam bukan sekadar energi langit dan bumi.
Itu adalah sesuatu yang membawa jejak.
Jejak hidup yang diputus.
Ia berdiri, mengenakan pakaian, lalu keluar rumah dengan tenang. Langit masih gelap, namun garis tipis cahaya sudah muncul di ufuk timur.
Ia menuju sungai.
Air mengalir pelan, memantulkan warna kelabu pagi. Qing Lin berlutut dan mencelupkan tangan kembali, menggosoknya seakan berharap sesuatu benar-benar hilang kali ini.
Air menjadi keruh sesaat.
Lalu jernih lagi.
Namun rasa berat di dadanya tidak berkurang.
“Sudah cukup,” katanya pelan pada dirinya sendiri.
Ia berdiri dan berbalik—
lalu membeku.
Di tanah basah dekat sungai, terdapat jejak kaki.
Besar.
Bukan manusia.
Jejak serigala.
Lebih dari satu.
Qing Lin berjongkok, menelusuri tanah dengan pandangan tajam. Jejak itu tidak acak. Mereka berkumpul, berputar, lalu mengarah ke satu titik—tempat serigala yang ia bunuh semalam seharusnya dikubur.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia mengikuti jejak itu dengan langkah hati-hati.
Tidak lama kemudian, ia sampai.
Tanah yang ia gali semalam… terbuka.
Tidak sepenuhnya. Namun cukup untuk menunjukkan satu hal yang jelas—
bangkai itu hilang.
Qing Lin berdiri diam.
Angin pagi berhembus, membawa bau darah samar yang belum sepenuhnya hilang.
Serigala lain telah datang.
Dan mereka tidak sekadar lewat.
Mereka mencari.
Qing Lin merasakan qi di tubuhnya bergetar kecil, bukan karena takut, melainkan karena peringatan naluriah yang baru terbentuk.
Ia mundur perlahan.
Tanpa suara.
Hari itu, Qing Lin tidak pergi ke hutan.
Ia tinggal di desa, membantu warga memperbaiki atap bocor dan mengantar air. Wajahnya tetap tenang, sikapnya sama seperti biasa.
Namun matanya lebih waspada.
Dan napasnya—selalu setengah sadar.
Menjelang sore, kereta Sekte Awan Biru akhirnya bergerak meninggalkan desa. Murid-murid baru berdiri di atasnya, menatap Qinghe dengan campuran bangga dan haru.
Seorang tetua sekte berdiri di depan, matanya menyapu desa sekali terakhir.
Tatapannya berhenti sesaat pada Qing Lin.
Bukan lama.
Namun cukup.
Alis tetua itu berkerut tipis.
“Hm?”
Ia tidak melihat qi yang jelas.
Namun ada rasa tidak selaras—seperti melihat air tenang yang terlalu dalam untuk ukuran kolam kecil.
Kereta bergerak lagi.
Qing Lin menunduk, berpura-pura sibuk.
Malam tiba.
Desa kembali sunyi.
Qing Lin memastikan pintu terkunci, lalu duduk bersila seperti biasa. Kali ini, saat ia mengatur napas, qi di tubuhnya tidak hanya mengikuti—
ia menekan.
Bukan menyakitkan.
Namun menuntut.
Seolah sesuatu di dalam dirinya mulai meminta arah.
Di kedalaman yang lebih dalam lagi, Sutra Darah Sunyi bergetar lemah.
Tidak membuka diri.
Tidak memberi petunjuk.
Namun meninggalkan satu kesan samar di benak Qing Lin—
Darah yang telah masuk… tidak bisa dikeluarkan.
Tapi bisa dikendalikan.
Qing Lin membuka mata, napasnya stabil namun dahi basah oleh keringat.
Ia menatap kegelapan di depannya.
“Aku tidak ingin menjadi monster,” katanya pelan.
Jawaban tidak datang.
Namun di luar gubuk, jauh di balik pepohonan—
lolongan serigala kembali terdengar.
Lebih banyak.
Lebih dekat.
Dan Qing Lin tahu—
jejak yang ia tinggalkan di dunia ini
sudah mulai diikuti.