kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Suasana siang itu sangat terik di pesantren Al-Hidayah. Patricia, yang sebenarnya sudah tahu bahwa sosok di balik kumis miring itu adalah suaminya, duduk di selasar asrama sambil mengusap perutnya yang mulai ada gerakan halus. Di samping asrama, pohon rambutan milik pesantren sedang berbuah lebat, merah merona dan sangat menggoda.
Patricia menatap rambutan merah-merah sampai meneguk ludahnya sendiri, Gus Azmi sempat menawarkan tapi saat itu ia sedang tidak ingin.
"Aduh, Dek... sepertinya kamu mau rambutan ya?" gumam Patricia sengaja dikeraskan agar suaminya yang sedang menyapu daun kering di bawah pohon itu mendengar.
Mendengar kata "rambutan", telinga Alendra langsung tegak. Tanpa diperintah dua kali, ia segera mendekat.
"Mbak Cia mengidam rambutan? Tenang, Mbak! Jangankan rambutan, kalau Mbak minta bintang di langit, Kang Asep carikan tangga yang paling panjang!" seru Alendra dengan suara cemprengnya yang khas.
Patricia terkekeh,ia menggelengkan kepalanya lucu melihat tingkah suaminya.
Alendra segera memanjat. Padahal, Alendra aslinya takut ketinggian dan tangannya biasa memegang kemudi mobil mewah, bukan batang pohon kasar.
Sret! Sret!
Celana komprangnya sempat tersangkut dahan, membuatnya tergantung sejenak dengan posisi yang sangat konyol seperti kura-kura terbalik. Patricia harus sekuat tenaga menahan tawa agar tidak membongkar sandiwara mereka.
"Asep kuat! Asep perkasa!" gumam Alendra menyemangati diri sendiri sambil meraih dahan paling merah.
Tak lama kemudian, Alendra turun dengan membawa dua ikat besar rambutan manis. Patricia menerimanya dengan binar mata yang jujur.
"masyaallah... merah-merah, terimakasih kang Asep , pasti tidak mudah untuk menaikinya"ucap Patricia dengan gembira....
"apapun untuk Mbak Cia dan dedek bayi" jawab Alendra tersenyum.
"apa perlu saya kupaskan Mbak?".
"tidak usah kang Asep, Terima kasih atas tawarannya"
Namun, saat ia baru saja mengupas satu buah, suara sinis memecah suasana.
"Wah, asyik ya. Istri bukan, saudara bukan, tapi sudah berani minta-minta hasil kebun pesantren pada kuli," sindir Zulaikha yang datang bersama rombongannya. "Sudah menumpang, sekarang malah mengajari kuli untuk mencuri."
Wajah Patricia memucat. "Saya tidak mencuri, Zulaikha. Kang Asep hanya membantu..."
"Membantu?" potong Zulaikha tajam. "Rambutan ini milik pesantren, hanya boleh diambil atas izin Gus Azmi untuk acara santri."
Zulaikha menoleh ke arah Alendra "Heh, Kuli! Kamu sudah izin belum? Atau kamu sengaja mau cari muka di depan wanita ini?"
Alendra merasakan darahnya mendidih. Ia ingin sekali membanting ikat rambutannya dan berteriak, "AKU BISA BELI SELURUH POHON INI KALAU MAU!" Tapi ia harus menahan diri.
"Astagfirullah, Neng Zulaikha... mulutnya pedas sekali, apa tadi pagi sarapan bon cabe?" ucap Alendra sambil berdiri di depan Patricia, menghalangi pandangan Zulaikha. "Saya ini sudah izin sama Gus Azmi tadi subuh saat lagi masak bubur. Kata Gus, kalau Mbak Cia mau, ambil saja satu pohonnya sekalian!"
"Bohong! Mana buktinya?" bentak Zulaikha. "Kamu maling! Maling rambutan demi perempuan tidak jelas ini!"
Patricia menunduk, air matanya jatuh mengenai rambutan di tangannya. Hinaan "wanita tidak jelas" selalu berhasil menghancurkan pertahanannya.
Melihat air mata Patricia, pertahanan Alendra runtuh. Ia melangkah maju, menatap Zulaikha dengan tatapan yang sangat tajam, tatapan seorang Alendra Suhadi yang sanggup meruntuhkan perusahaan lawan dalam semalam.
"Neng Zulaikha," suara Alendra mendadak berat dan dingin, membuat Zulaikha merinding tanpa tahu sebabnya. "Hati-hati bicara. Mbak Cia ini sedang mengandung. Setiap tetes air mata yang jatuh karena mulutmu, akan dihitung oleh Gusti Allah. Dan soal mencuri... saya tidak akan pernah membiarkan Mbak Cia memakan barang haram."
Zulaikha tertegun sejenak, terintimidasi oleh wibawa "Kang Asep" yang tiba-tiba muncul. Namun ia tetap keras kepala. "Halah! Paling cuma modus kuli rendahan!"
"Ada apa ini ribut-ribut?" Gus Azmi muncul dari balik lorong.
Zulaikha langsung mengadu, "Gus! Kang Asep mencuri rambutan untuk diberikan ke Patricia!"
Gus Azmi menatap Alendra yang kembali bergaya konyol, pura-pura sibuk membetulkan kumis palsunya yang hampir lepas sebelah karena emosi tadi.
"Zulaikha," ucap Gus Azmi tenang. "Kang Asep memang benar. Tadi pagi dia sudah meminta izin, saya sudah memberinya hak untuk memetiknya kalau dia menginginkannya asal buah itu tidak untuk diperjualbelikan".
Zulaikha melongo. Teman-temannya langsung terdiam malu dan menarik Zulaikha pergi dari sana.
"mohon maaf atas kelakuan mereka Patricia... saya akan memberikan sanksi bagi mereka" ucap Gus Azmi yang merasa tidak enak karena santrinya bersikap seperti tidak memiliki adab.
"Terima kasih Gus, tidak apa-apa, tidak usah di berikan sanksi kasihan..." ucap Patricia sopan.
"baik kalau begitu saya permisi dulu... Assalamualaikum ".
" Waalaikumsalam... Terima kasih Gus"jawab Alendra dan Patricia serempak.
Setelah suasana sepi, Alendra kembali berjongkok di samping Patricia. Ia mengambil sapu tangan kusam dari sakunya , yang sebenarnya adalah sutra mahal yang sengaja ia kotori.
"Mbak... jangan nangis ya. Nanti bayinya jadi rasa rambutan kecut kalau ibunya sedih," ucap Alendra kembali dengan gaya konyolnya. Ia mulai mengupas rambutan dengan sangat telaten, memisahkan bijinya, dan menaruh daging buahnya di piring Patricia.
Patricia menatap suaminya yang penuh lumpur dan keringat itu. Ia tahu Alendra sangat benci kotor, tapi sekarang Alendra terlihat sangat menikmati perannya sebagai kuli kebun.
"Terima kasih ya, Kang Asep. Akang baik sekali," ucap Patricia lembut, sengaja menekankan kata "Kang Asep".
Alendra tersenyum lebar hingga tahi lalat spidolnya bergoyang. "Sama-sama, Mbak. Apapun untuk Mbak... eh, apapun untuk keadilan di pesantren ini!"
Patricia tertawa kecil. Mas Alen... sampai kapan kamu mau bertahan dengan kumis aneh itu? batinnya sambil mengunyah rambutan yang terasa sangat manis, semanis perjuangan suaminya.
tapi aku sebagai istri sah yg gak mau dimadu,,gak setuju sama sikap alendra.. dia lebih mikirken hilangnya istri muda,padahal istri pertama sdg koma...
kasian juga ya...
contoh najwa patuh sm suami tetap sederhana.
greget sama karakter patricia.
sudah terlalu lama dia kabur tanpa ijin suami.
di saat suami sudah berubah terima maafnya,agama islam melarang istri keluar tanpa ijin suami,apa lg kabur ke pesantren,ada rukayya ada gus azmi yg bsa memberi nasehat memaafkan.
kiran tdk pernah memiliki cinta alen.
Masyaa Allah patricia benar" hijrah/Rose/